KOMPAS.com | Senin, 19 Juli 2010 | Kebanyakan pasutri (pasangan suami
istri) tentunya menginginkan kehadiran anak dalam keluarga. Namun
memiliki anak membutuhkan perencanaan finansial yang matang, sesuai
prioritas kebutuhan sejak merencanakan memilili anak.

Ligwina Hananto, perencana keuangan, menegaskan sudah waktunya bagi
para calon orangtua untuk membuat perencanaan keuangan saat memutuskan
memiliki anak. Kesadaran ini perlu dibangun sejak awal, bahkan lebih
baik lagi jika disiapkan atau dibicarakan sebelum menikah.

"Kecenderungannya persiapan pernikahan lebih diutamakan daripada
kehidupan pasangan setelah perayaan pernikahan. Dengan mengalokasikan
banyak uang untuk pesta pernikahan, namun tak merencanakan atau
mempersiapkan dana untuk kehamilan dan anak," Ligwina mengkritisi
persoalan keuangan keluarga dalam seminar seputar kehamilan beberapa
waktu lalu.

Perencanaan keuangan untuk anak sebaiknya dimulai saat masa kehamilan,
dilanjutkan dengan persiapan melahirkan, hingga pendidikan anak kelak.
Akan lebih baik lagi jika biaya untuk anak ini sudah dipersiapkan sejak
awal dengan perhitungan untuk jangka panjang, bukan keputusan emosional.

"Seringkali, orangtua menjadi emosional pada kehamilan anak pertama
dengan menyiapkan setiap kebutuhan bayi dengan kualitas terbaik, dan
tentunya harga yang mahal," jelas Ligwina.

Masa Kehamilan

Mulailah menyiapkan biaya masa kehamilan dengan merencanakan keuangan
jauh hari sebelum hamil. Dengan merencanakan biaya kehamilan, Anda dan
pasangan bisa menyiapkan kehamilan lebih baik, termasuk kesehatan
kandungan.

Sebelum memasuki masa kehamilan, Anda dan pasangan tentunya perlu
melakukan pemeriksaan kesehatan. Apalagi jika pasutri termasuk pasangan
yang sulit punya anak setelah usia pernikahan di atas satu atau dua
tahun. Anda tentu memerlukan pemeriksaan kesehatan reproduksi lebih
lengkap lagi.

Kebutuhan yang Anda dan pasangan perlukan dalam masa kehamilan di
antaranya memeriksakan diri ke dokter minimal satu bulan sekali, USG
(minimal satu bulan sekali), dan vitamin. Di luar faktor kesehatan,
sebagai bagian keluarga Anda dan suami juga menjalani tradisi seperti
syukuran, dan aktivitas ini memerlukan biaya tentunya. Belum lagi
mempersiapkan baju hamil, senam hamil sebagai pendukung kesiapan mental
dan kesehatan calon ibu, juga berbagai kebutuhan informasi seputar
kehamilan dari buku atau majalah.

Masa melahirkan

Dana melahirkan akan selalu naik seiring laju inflasi. Artinya, saat
mempersiapkan dana kelahiran, pasutri perlu memperhitungkan inflasi.
Beruntung bagi pasangan bekerja yang mendapat pembiayaan melahirkan
dari tempat Anda atau suami bekerja. Jika kantor tidak menyediakan dana
melahirkan untuk karyawannya, Anda dan suami perlu memperhitungkan
setiap pengeluaran dengan terinci.

"Persiapkan dana melahirkan dengan worst case, yakni skema caesar. Jika
pun ternyata melahirkan normal, kelebihan dana dapat digunakan untuk
keperluan lain, seperti dana pendidikan anak," tutur Ligwina.

Bahkan setelah melahirkan pun masih ada biaya lain yang diperlukan.
Misalnya syukuran, dokter anak, imunisasi, jasa baby sitter, diapers,
vitamin, dan makanan bayi.

Cukupkah tabungan di bank memenuhi semua kebutuhan ini? Jika tidak,
saatnya memikirkan investasi. Sebelum menjatuhkan pilihan investasi,
buatlah prioritas perencanaan keuangan sesuai kebutuhan. Komunikasikan
dengan pasangan untuk menentukan prioritas keluarga. Jika merasa perlu,
konsultasikan masalah keuangan keluarga atau pasangan dengan pakarnya.

Finance.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to FINANCIAL PLANNER at 7/19/2010 01:16:00 PM

Kirim email ke