TEMPOInteraktif.com | Jum'at, 23 Juli 2010 | Semuanya bermula ketika
Febriana Kuscahyadi menemani ibunya belanja di pasar pagi. Gadis 16
tahun yang bersekolah di SMA Negeri 2 Kandangan, Kalimantan Selatan,
ini melihat tumpukan limbah perut ikan tauman. "Apa yang kira-kira bisa
dimanfaatkan dari ikan tauman ini," begitu pikirnya.

Di sekolah, ia merundingkan banyaknya limbah perut ikan tauman kepada
dua temannya, Aulia Gusrina dan Ermita Izmi Ariana, serta guru
pembimbing mereka. Limbah perut ikan tauman ini bisa dimanfaatkan
menjadi minyak goreng nonkolesterol. "Kami berencana mengikuti
kompetisi L'Oreal Girls Science Camp," kata Aulia.

Ikan tauman (Ophiocephalus micropeltes CV) kini menjadi ikan yang
sering dikonsumsi masyarakat Kalimantan Selatan setelah ikan gabus kian
langka dan harganya semakin mahal. Produksi ikan tauman di Kalimantan
mencapai 46,7 ton pada 2008. "Jadi banyak ibu rumah tangga beralih ke
ikan tauman, yang lebih mudah ditemukan dan harganya lebih murah,"
katanya.

Untuk membuat minyak nonkolesterol dari limbah perut ikan tauman, Aulia
dan teman-temannya mengumpulkan limbah itu. Isi perut ikan itu
dipanaskan hingga keluar minyaknya. "Setelah dingin, minyak disaring
dan dipanaskan untuk kedua kali," katanya.

Pemanasan kedua ini berfungsi memisahkan minyak dari air. "Kemudian
tambahkan sedikit kunyit, lengkuas, serta pandan untuk menghilangkan
bau amis ikan, dan minyak goreng nonkolesterol siap digunakan," ujarnya.

Cara pembuatan yang mudah, tanpa mengeluarkan biaya karena limbah perut
ikan tauman diambil secara gratis di pasar, membuat tim dari Kalimantan
ini menjadi pemenang ketiga dalam kompetisi tersebut.

Untuk melengkapi penelitian mereka, ketiga siswi itu melakukan uji
proksimat guna menganalisis kadar protein dalam minyak. "Kandungan
protein terbukti ada," kata Aulia. "Ini dibuktikan dari perubahan
warna, yang menjadi ungu muda. Untuk menguji kandungan lemak, minyak
dioleskan ke kertas buram guna membuktikan adanya lemak.

Endapan lemak yang muncul bila minyak dalam keadaan dingin, menurut
ketiganya, merupakan tanda adanya lemak baik (lemak esensial) atau
nonkolesterol. "Ini berdasarkan literatur yang kami baca," katanya. Uji
vitamin yang mereka lakukan juga membuktikan adanya vitamin A, vitamin
D, dan omega-3.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to BISNIS ONLINE at 7/26/2010 05:48:00 PM

Kirim email ke