DetikFinance.com | Taufik Gumulya | Rabu, 10 Februari 2010 | Pembaca
yang bijaksana, dalam artikel kali ini ingin saya sampaikan bahwa
setelah kita melakukan evaluasi penghasilan langkah selanjutnya adalah
melakukan perencanaan keuangan untuk memenuhi kebutuhan finansial
dikemudian hari.

Sebelum kami membahasnya, ingin kami menjawab beberapa pertanyaan yang
terkait dengan artikel yang lampau. Banyak yang menyatakan bahwa contoh
pada artikel yang lalu jumlah penghasilannya cukup besar, dapat kami
jelaskan bahwa yang terpenting bukan melihat angkanya namun lihatlah
formulasinya, kunci utama bukan besarnya penghasilan tetapi terapkan
formulasi perhitungan penghasilan sehingga masuk dalam kondisi
penghasilan yang wajar.

Jadi jika formulasi (pada artikel yang lampau) diterapkan maka hasil
akhir adalah potensi peningkatan aset. Sekali lagi bahwa potensi
peningkatan aset tidak bergantung kepada besar kecilnya penghasilan
namun tempatkan posisi income anda pada kisaran koridor pengahasilan
wajar hingga ideal, untuk menghitungnya silahkan menggunakan formula
yang dapat dibaca pada artikel yang lalu.

Pertanyaan berikut dari pembaca adalah bagaimana caranya kita melakukan
penghematan?

Ada kiat sederhana yang mudah namun memerlukan kedisiplinan yaitu
buatlah dafttar kebutuhan dan bukan keinginan. Misal kebutuhan
pendidikan anak, sangat berlebihan jika orang tua memaksakan diri
dengan membayar biaya yang tinggi di sebuah sekolah swasta sementara
jumlah penghasilan sangat pas-pasan, lebih bijaksana jika menyekolahkan
anak disekolah negeri.

Dalam kasus ini sekolah swasta merupakan keinginan bukan kebutuhan
orang tua, sebaliknya sekolah negeri adalah sebuah kebutuhan bukan
keinginan. Demikian selanjutnya buatlah skala prioritas kebutuhan dan
keinginan sehingga dapat bermuara pada penghematan.

Nah sekarang marilah kita memasuki tahap selanjutnya, setelah melakukan
evaluasi atas penghasilan dan membuat daftar prioritas kebutuhan dan
keinginan maka tahapan berikut adalah membuat perhitungan atas besaran
kebutuhan tersebut. Langkah pertama sebelum melakukan perhitungan
adalah kelompokan kebutuhan anda menjadi 3 (tiga) kategori:
1.Kebutuhan jangka pendek, sasaran pencapaian 5tahun.

Setelah melakukan pengelompokan maka selanjutnya adalah menghitung
besar dana yang dibutuhkan pada saat nanti, gunakan metode
perhitungan 'Nilai Waktu Uang' atau 'Time Value of Money', contoh
sederhana perhitungan dana pendidikan, misalkan dana untuk masuk
universitas diperlukan dana saat ini (tahun 2010) sebesar Rp
80.000.000,-. Dana harus tersedia di tahun 2025, maka waktu yang
tersedia untuk menyiapkan dana tersebut adalah 15 tahun dihitung dari
saat ini.

Jangan lupa untuk menghitung kenaikan dana setiap tahunnya gunakan
besaran inflasi rata-rata di Indonesia (data didapat dari Biro Pusat
Statistik) dikalikan dengan 1,5. Mengapa demikian karena berdasarkan
penelitian kami, kenaikan biaya pendidikan melebihi inflasi negara
tersebut dimanapun berada.

Berikut adalah contoh sederhana, jika rata-rata inflasi di Indonesia
adalah 9% maka untuk menghitung biaya pendidikan kelak faktor inflasi
menjadi 9% x 1,5 = 13,5%. Jadi untuk mendapatkan dana pendidikan kelak
selama 15 tahun gunakan formulasi nilai yang akan datang atau dikenal
dengan nama 'Future Value' berikut rumusnya: FV = PVx (1+inflasi)
dengan demikian dana pendidikan kelak adalah: FV = Rp
80.000.000x(1+13,5%) atau sama dengan Rp 534.598.714,- dan jika dana
tersebut dipersiapkan dari sekarang serta ditempatkan pada investasi
dengan tingkat pengembalian 18% maka jumlah dana yang di investasikan
setiap akhir bulan (pada saat terima gaji) adalah sebesar Rp 590.310,-.

Lalu dimana saya harus menempatkan dana investasi untuk pendidikan
tersebut?, alangkah bijaksana jika anda dapat melakukan investasi
dengan tepat serta hindari spekulasi. Langkah pertama yang harus
dilakukan adalah melakukan proteksi kekayaan (wealth protection)
terlebih dahulu gunakan asuransi jiwa tradisional dengan jenis Yearly
Renewable Term (YRT) untuk memproteksi keluarga anda jika ternyata usia
anda (mohon maaf) ternyata tidak cukup panjang.

Berapa besar uang pertanggungan asuransi jiwa yang harus diterima oleh
keluarga anda dalam rangka pemenuhan biaya pendidikan?

Kami menyarankan kisaran uang pertanggungan asuransi jiwa sebesar 60%
s/d 100% dari nilai dana pendidikan kelak yaitu sebesar Rp 321 juta
hingga Rp 535 juta, dengan kisaran premi asuransi jiwa untuk seorang
tertanggung (dengan contoh usia 35 tahun) yaitu sebesar Rp 700.000,-
hingga Rp 2.000.000,- pertahunnya.

Jadi jika anda memiliki usia 35 tahun (sesuai contoh) dan ditawarkan
asuransi jiwa dengan uang pertanggungan sebesar Rp 535 juta lalu anda
harus membayar premi diatas Rp 2.000.000 setiap tahunnya maka sudah
dipastikan bahwa asuransi tersebut tidak tepat, silahkan anda cari
produk asuransi lain yang memiliki kisaran premi pada kisaran jumlah
diatas, karena bagaimanapun produk asuransi jiwa sangat beraneka macam.

Berikutnya adalah penempatan investasi dana pendidikan, saran kami
adalah tempatkan dana tersebut pada reksa dana saham dengan jumlah
sebesar Rp 590.500,- per bulannya dan disertai target pencapaian
keuntungan sebesar minimal 18 % setiap tahunnya.

Mengapa ditempatkan pada reksa dana? Ini wajib dilakukan bagi mereka
yang sibuk serta tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk melakukan
perdagangan saham secara langsung. Keunggulan penempatan dana di reksa
dana adalah anda tidak perlu berusah payah melakukan pemantauan
investasi setiap harinya karena reksa dana dikelola oleh Manajer
Investasi yang telah lulus uji kompetensi di bidangnya, dialah bertugas
untuk melakukan pemantauan tersebut hari demi hari. Ibarat seorang
sopir yang bersangkutan telah memiliki SIM (Surat Ijin Mengemudi) yang
tepat dengan kendaraan yang cukup canggih sehingga faktor resiko
menjadi lebih kecil.

Ada masukan yang patut anda pertimbangkan sebelum anda memutuskan ingin
membeli reksa dana yaitu demi keamanan belilah reksa dana yang memiliki
dasar hukum 'Kontrak Investasi Kolekti'’ atau dikenal dengan reksa dana
KIK, hindari investasi yang mengaku reksa dana tetapi sebenarnya
adalah 'Kontrak Pengelolaan Dana' atau KPD, ini
merupakan 'Discretionary Fund'. Mengapa demikian? Karena pada reksa
dana KIK seluruh portfolio atau 'isi perut' investasi tercatat pada
suatu badan yang bernama 'Bank Kustodian', sehingga seluruh pergerakan
reksa dana tersebut mudah dideteksi baik oleh Bank Kustodian dan
diawasi oleh Bapepam sebagai lembaga otoritas pengawas di pasar modal.

Namun bagi mereka yang sangat suka untuk melakukan investasi di saham
secara langsung, tidak terlalu tertarik dengan reksa dana, untuk
kelompok ini adalah mutlak untuk melakukan pelatihan di bidang
perdagangan saham terlebih dahulu, sehingga mereka dapat melakukan
analisa saham baik secara fundamental maupun teknikal dengan tujuan
agar dapat menekan faktor resiko yang ada. Jangan pernah melakukan
trading saham tanpa pelatihan yang baik karena anda akan terjerumus
dalam spekulasi dan bukan investasi.

Batasan antara spekulasi dan investasi sangat tipis. Untuk menghindari
spekulasi anda mutlak dan harus memiliki kompetensi yang memadai. Hal
ini juga sesuai dengan masukan dari partner ahli analisa saham pada
bidang Wealth Acceleration bernama Anton Seloaji yang menyatakan bahwa
pelatihan yang baik akan membawa anda menjadi seorang investor yang
berkualitas, sehingga resiko dapat dikelola dengan baik serta mampu
ditekan semaksimal mungkin.

Saran kami untuk mereka yang melakukan investasi saham secara langsung
sebaiknya tidak serta merta menempatkan 100% porsi investasi tersebut
kedalam portfolio investasi saham, melainkan dapat dilakukan secara
berkala dan meningkat secara bertahap. Karena bagaimanapun kesuksesan
memerlukan pengalaman dan pengalaman adalah pembelajaran.

Jadi kesuksesan yang sejati adalah hasil dari pembelajaran. Tanpa
pembelajaran kesuksesan menjadi kebetulan dan kebetulan adalah bagian
terbesar dari spekulasi. Demikian pembaca yang bijaksana selamat
melakukan investasi bukan spekulasi.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to FINANCIAL PLANNER at 7/18/2010 02:00:00 AM

Kirim email ke