Jawa Pos | Jum'at 28 Mei 2010 | Nama Septinus George Saa meroket pada
2004. Saat berusia 18 tahun, dia menyabet penghargaan First Step to
Nobel Prize in Physics 2004. Penghargaan itu mengharumkan nama
Indonesia di dunia internasional. Kini, dia telah lulus kuliah di
Amerika.

KETIKA ditemui di kompleks studio Trans TV di Jakarta, Rabu malam lalu,
Septinus George Saa tampak lelah. Pria itu memang baru saja ''digilir''
beberapa studio televisi. Dalam seminggu ini, dua stasiun televisi
mengundang dia. Yakni, Global TV dalam acara talk show Rossy dan Trans
7 untuk acara Bukan Empat Mata. ''Capek sih, tapi menyenangkan,''
katanya.

Penampilan George sudah berbeda jika dibanding saat berusia belasan
tahun dulu. Dia lebih gemuk dan cool. Penampilannya juga layaknya
eksekutif muda, berkemeja lengan panjang dan celana licin. George kini
mirip rapper asal Kanada, Aubrey Graham aka (also known as) Drake, yang
populer dengan lagu Forever.

''Ah, enggak juga. Waktu kuliah di Amerika dulu malah ada yang mengira
saya berasal dari Karibia dan Brazil. Tidak ada yang mengira dari
Indonesia,'' ujarnya lantas terkekeh.

George kini memang lebih klimis dan trendi. Maklum, pria murah senyum
itu kini bekerja di sebuah perusahaan migas asing yang beroperasi di
Teluk Bintuni, Papua Barat, Papua. ''Aku menikmati pekerjaanku,''
katanya lantas membisikkan gaji dolar yang dia terima tiap tiga minggu.

Kini, dia juga enggan dipanggil Oge, nama kecilnya, yang populer saat
masih tinggal di Kotaraja, Jayapura. ''George saja lah. Oge itu
panggilan kecil saya,'' ujarnya.

Penampilannya yang modis tersebut sempat menjadi sasaran kelakar
Rosiana Silalahi dalam talk show Rossy. ''Ini kalau kita ketemu di
jalanan New York, nggak tahu kalau dia orang Indonesia. Orang nyangka
dia rapper yang kesasar,'' kata Rosi -panggilan Rosiana- lantas
tertawa. George pun membalas. ''Yeah, wazzup dude,'' ungkapnya.

Nasib George memang mujur. Pada 2004, dia mendapat First Step to Nobel
Prize in Physics setelah mengikuti lomba fisika internasional itu di
Polandia. Dalam kompetisi yang diikuti pelajar tingkat sekolah menengah
di seluruh dunia tersebut, George menjagokan tesis berjudul Infinite
Triangle and Hexagonal Latice Network of Identical.

Dia menemukan rumus yang diberi namanya sendiri, George Saa Formula
(Jawa Pos, 21 Mei 2004). Tesis itu merupakan hasil risetnya selama
setahun. Dia menyisihkan ratusan peserta dari 73 negara setelah melalui
penjurian yang sangat ketat.

First Step to Nobel Prize in Physics merupakan kompetisi bergengsi bagi
pelajar sekolah tingkat menengah dari seluruh dunia. Waktu itu, dewan
juri kompetisi yang berlangsung sejak 1993 tersebut terdiri atas 30
fisikawan yang berasal lebih dari 25 negara.

Setelah menerima penghargaan itu, George diganjar banyak fasilitas.
Menteri pendidikan saat itu, Malik Fadjar, meminta George memilih
perguruan tinggi mana pun di Indonesia tanpa tes. Kampus tempat dia
kuliah juga diwajibkan memberikan fasilitas belajar.

George sempat bingung memilih kampus sebelum utusan Direktur Eksekutif
Freedom Institute Rizal Mallarangeng mendatangi dirinya. ''Saya diminta
menemui Pak Aburizal Bakrie,'' ungkap pria kelahiran 22 September 1986
tersebut.

Freedom Institute menawari George kuliah di luar negeri. Memilih negara
mana pun akan dikabulkan. Mau di benua Amerika, Eropa, bahkan Afrika
sekali pun, terserah George. Beasiswa tersebut bukan hanya uang kuliah,
tapi juga uang saku serta biaya hidup.

Pria penghobi basket itu sempat bingung memilih negara. Rizal
Mallarangeng mengusulkan agar dirinya memilih Amerika. Sebab, negara
pimpinan Barack Obama tersebut bagus untuk belajar dan melakukan
penelitian. George lantas mendaftar ke jurusan aerospace engineering di
Florida Institute of Technology. Kampus di pesisir timur Amerika di
Brevard County. Kampus itu berdekatan dengan Kennedy Space Center dan
tempat peluncuran pesawat NASA (National Aeronautics and Space
Administration).

Di jurusan aerospace engineering alias teknik dirgantara itu, George
mempelajari semua hal tentang pesawat terbang, baik pesawat terbang di
angkasa maupun luar angkasa. Dia juga mempelajari ilmu yang supersulit
di jagat aerospace, yakni rocket science.

''Saking sulitnya, orang Amerika sering bilang, you don't need rocket
science to figure it out,'' katanya lantas terkekeh. Di antara 200-an
mahasiswa seangkatan, hanya 40 orang yang lulus.

George mempelajari semua hal tentang pesawat terbang. Mulai struktur
pesawat, aerodinamika, daya angkat, hingga efisiensi berat dalam
teknologi pembuatan burung besi itu.

Ada alasan khusus dirinya suka pesawat terbang. Selain memang mengagumi
presiden ketiga Indonesia B.J. Habibie yang gandrung pesawat itu,
lelaki bertubuh gempal tersebut semula ingin menjadi pilot. Namun,
karena kedua matanya minus 3,25, dia harus mengalihkan
impiannya. ''Kalau nggak bisa menerbangkan pesawat, saya harus bisa
membuat pesawat. Setidaknya, memahami teknologi pesawat terbang,''
tegasnya.

Tahun pertama di Amerika sangat sulit bagi George. Sebab, dia belum
fasih berbahasa Inggris. Pernah, dia tertahan sejam di bagian
imigrasi. ''Saya hanya duduk dan diam selama sejam gara-gara tidak bisa
bahasa Inggris,'' tuturnya.

Karena itu, tahun pertama, George tak langsung kuliah. Dia belajar
bahasa di sekolah bahasa Inggris English Language Service di Cleveland,
negara bagian Ohio, AS. Selama setahun dia ngebut belajar bahasa. Mulai
pukul 08.00 hingga pukul 17.00, dia melahap materi-materi bahasa
Inggris. ''Saya mempelajari lagi grammar dan kosakata,'' jelas anak
bungsu pasangan Silas Saa dan Nelly Wafom itu.

George lulus pada akhir 2009. Kini, dia bekerja di perusahaan
internasional yang bergerak di bidang migas sembari bantu-bantu di
lembaga yang memberinya beasiswa, Freedom Institute. ''Tiga minggu ini
aku di Jakarta. Nanti ke laut lagi,'' katanya.

Pembaca bisa mendownload tulisan Bapak Fisika Indonesia, Profesor
Yohanes Surya dengan mengklik link berikut: The First Step to Nobel
Prize in Physics Competition

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 8/17/2010 02:00:00 AM

Kirim email ke