Tribunnews.com | Minggu, 1 Agustus 2010 | Berbicara Alexandria
mengingatkan kita pada sebuah film Indonesia yang sempat booming tahun
2005 lalu yang diperankan oleh Marchel Chandrawinata, Fachri Albar dan
Julia Estele. Film tersebut diambil dari album Peterpan dengan single
hitsnya yang berjudul Tak Bisakah.

Kita juga diingatkan dengan film hollywood dari sutradara Oliver Stone
yang berjudul Alexander yang dibintangi oleh Collin Farrel sebagai
Alexander dan Angelina Jolie sebagai ibunya.



Alexandria merupakan kota terbesar kedua di Mesir setelah Kairo. Kota
ini menjadi salah satu kawasan wisata favorit rakyat Mesir dan
mahasiswa Indonesia. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Kairo
menjadi alasan mereka sering berkujung.


Perjalanan dari Kairo ke Alexandria sendiri memakan waktu 3 jam dengan
berkendara mobil kecepatan 70 km perjam. Sarana transportasi umum juga
banyak ditemukan seperti kereta api dari stasiun Ramsis Kairo menuju
stasiun Alexandria dengan biaya yang ekonomis cuma 25 Le. (sekitar Rp
50.000) untuk gerbong ekonomi.


Berwisata ke Alexandria tidak saja keindahan pantainya yang menjadi
tujuan, namun akan banyak kita temukan tempat-tempat bersejarah yang
sangat bernilai mulai dari benteng Qeitbey, perpustakaan Alexandria,
universitas Alexandria, cafe-cafe pinggir pantai, hotel berbintang dan
makam orang-orang besar.


Film Indonesia "Ketika Cinta Bertasbih" pertama yang sempat
menggegerkan panggung perfilman nasional juga digarap di kawasan ini.


Alexandria sendiri diambil dari nama seorang raja yang sangat dikenal
oleh dunia. Seorang yang lahir dan dibesarkan di Makedonia. Dia adalah
Alexander dengan julukannya The Great.

Alexander dilahirkan pada tanggal 20 Juni 356 SM dari seorang raja yang
bernama Fillipus II. Sejak umur 13 tahun ia belajar keilmuan kepada
Aristotales dan memasuki umur 16 tahun sudah menjadi panglima perang.

Setelah ayahnya meninggal, Alexander melanjutkan ekspedisi militer
bersama pasukannya hingga menaklukkan wilayah hampir sepertiga dunia.
Dalam kamus bebas ensiklopia Wikipedia dijelaskan, Alexander telah
memperluas wilayah kekuasaan ayahnya hingga 50 kali lipat lebih besar
dari wilayah kekuasaan yang diwariskan kepadanya.

Meskipun Alexander hanya memerintah selama 13 tahun, dunia mengakui
kebesarannya. Dalam setiap ekspedisi peperangan ia selalu menyertakan
seorang ilmuwan untuk mengabadikan segala sesuatu yang ia lakukan.

Diketahui dalam sejarah salah satu ilmuwan yang ikut bernama
Callisthenes dari Yunani. Alexander juga sering mengganti nama wilayah
yang ditaklukkan dengan namanya. Tercatat saat ini ada sekitar 13
wilayah di dunia yang bernama Alexandria termasuk diantaranya berada di
kawasan Mesir.

Memasuki kota Alexandria kita akan disuguhi pemandangan seperti
layaknya di negara Yunani dan Perancis. Di sana akan banyak sekali kita
temukan bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur kedua negara tersebut.
Keindahan pantai laut Mediterania juga menjadi pemandangan yang
menyejukkan mata. Apalagi ditambah suasana belajar dan pendidikan yang
kondusif dengan adanya perpustakaan dan Universitas Alexandria.

Menurut sejarah yang penulis baca di Wikipedia, perpustakaan Alexandria
didirikan pada abad ke 3 SM pada masa pemerintahan Ptolemeus II dari
Mesir. Perpustakaan ini juga pernah menjadi perpustakaan terlengkap di
dunia pada waktu itu dengan jumlah perbendaharaan bukunya yang mencapai
400.000.

Namun pada abad ke 3 hingga abad ke 6 Masehi perpustakaan ini musnah
akibat pertikaian dalam negeri antar umat Yahudi, Kristen dan
agama-agama lain. Diduga ekspansi yang dilakukan oleh Julius Caesar
dari Yunani terhadap Mesir ikut berpengaruh terhadap musnahnya
perpustakaan. Keadaan ini hampir sama dengan kondisi Baghdad yang
diserbu oleh Jengis Khan dari Mongolia pada masa kekhilafahan
Abbasiyyah dan penjarahan besar-besaran terhadap khazanah keilmuan
Baghdad pada tahun 2003 lalu oleh Amerika.

Perpustakaan Alexandria dibuka kembali oleh pemerintah Mesir pada bulan
Oktober 2002 lalu dengan arsitertur bangunan yang sangat menarik. Di
dalamnya juga dilengkapi dengan banyaknya komputer dan jaringan
internet yang telah dihubungkan dengan perpustakaan-perpustakaan besar
di dunia. Kita juga akan dimanjakan dengan peninggalan-peninggalan kuno
Mesir dan kawasan Mediterania. Biaya masuknyapun cukup murah, hanya 3
Le. (sekitar Rp. 6000) untuk turis dan bisa mendapatkan kartu
perpustakaan untuk pelajar dan mahasiswa yang sekolah di Mesir.

Di Alexandria kita juga akan menyaksikan kemegahan benteng Qeitbey
yakni benteng saksi bisu peperangan bangsa arab dan Israel pada kurun
tahun 60an silam. Keindahannya bisa kita lihat dengan posisi benteng
yang menjorok ke laut mediterania.

Tidak hanya kawasan wisata, makam seorang ulama yang sangat dikenal
oleh kalangan pesantren salaf di Indonesia juga ada disini. Salah
satunya adalah Imam al Bushairi sebagai pengarang kitab Burdah
dimakamkan di dekat kawasan perpustakaan Alexandria, sekitar 10 menit
perjalanan dari perpustakaan.

Pesantren di Indonesia banyak sekali menggunakan kitab ini pada bulan
robi’ul awwal untuk menghormati lahirnya Rasulullah Nabi Muhamad. Kitab
Burdah memang berisi pujian kepada beliau. Ada satu bait syair yang
penulis ingat dalam kitab ini yang berbunyi “annafsu kattifli in
tuhmilhu syabba ‘ala hubbir rodlo’ wa in taftimhu yanfatimi” yang
artinya “Nafsu dalam diri manusia itu ibarat anak kecil yang menyusu,
jika dia tidak kau sapih maka ia akan menyusu selamanya”.

Sebelum Islam masuk ke Mesir pada abad ke 6 Masehi, Alexandria masih
menjadi ibu kota negara Mesir, namun ketika Islam menaklukkan Mesir
yang dipimpin oleh sahabat nabi yang bernama Amr bin ‘Ash, ibu kota
Mesir berpindah ke Kairo. Sejak saat itulah nama Alexandria mulai
meredup. Bagainamapun juga dengan namanya yang besar, Alexandria akan
tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi turis lokal maupun
internasional karena banyaknya sejarah yang ada di dalamnya. Sebagai
kata penutup, berwisata ke Alexandria yuk !

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 9/07/2010 02:00:00 AM

Kirim email ke