*"Endangnya" Poligami*
Buat kaum perempuan di seantero Nusantara, maaf, tulisan di bawah ini
mungkin bikin emosi Anda memuncak, lalu marah-marah. Tapi itulah 
kenyataan hidup. Masih banyak di antara kita yang menganggap poligami 
itu sah-sah saja. Tak heran muncul istilah: hati mendua, hati meniga, 
hati mengempat, hati menglima dan seterusnya.
Poligami memang sangat menyakitkan bagi wanita, tapi begitulah adanya.

Apa komentar Anda?
=====================================================
"Endangnya" Poligami
oleh: Muhammad Abdalah
e: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Semua lelaki memiliki naluri berpoligami. Dalam hal "semua lelaki" ini
mengartilulasikannya jangan sampai terjebak dalam paradigma beragama.
Memang dalam agama sendiri, kasus poligami mendapat tempat yang khusus.
Walaupun sebenarnya kekhususan itu karena faktor para pemeluknya
sendiri. Sedang agama tidak melulu ngomongin masalah perempuan, kawin,
poligami, monogami atau stereogami.
Marilah kita sebentar keluar dari kerangka agama. Meninjau segi-segi
kejadian dunia lelaki, baik dia itu muslim, yahudi, kristen, katolik,
ateis dll. Baik dia itu berprofesi sebagai presiden, buruh bangunan,
operator mesin, sopir, astronot dll. Kita juga tidak bisa
inklusif-nasionalis dalam hal ini. Sebab kita tidak membicarakan satu 
jenis bangsa saja, tapi segala jenis bangsa dan negara kita hilangkan 
dulu sekat-sekat
pemisahnya. Lebih jauh lagi meninjau dunia lelaki dari kalangan makhluk
lain, baik itu binatang, ikan, tumbuhan, dan dalam kapasitas yang lebih
luas lagi, melongok para lelaki dari kalangan makhluk halus, yaitu
jin.
Kalau kita membicarakan poligami, berarti membicarakan perkawinan.
Kalau kita membicarakan perkawinan, berarti pembicaraan kita membahas sifat
suatu gender. Nah, setelah kita lihat berbagai kehidupan makhluk
hidup, baik secara empirik kita jumpai, atau melalui lektur tidak langsung
ataupun langsung, kita jumpai bahwa gender lelaki selalu lebih dominan
dibandingkan gender perempuan atau "lady-woman" alias bencong (benci
aku… u!).
Secara empirik kita sudah super-super kenyang menyaksikan bahwa manusia
yang berjenis kelamin lelaki memiliki kuasa lebih dibanding wanita.
Melalui pengamatan-pengamatan dan observasi, kita lihat, misalnya acara di
National Geographic, Discovery Channel, yang sering menayangkan dunia
flora dan fauna, kita lihat bahwa gender lelaki dari jenis binatang pun
memiliki dominasi yang demikian kuat atas gender lainnya.
Bahkan dalam dunia mistis, jagading lelembut, banyak literatur tentang
jin yang suka usil mengerjai kaum wanita dari jenis manusia. Bahkan
seandainya jika ada suami istri yang melakukan "ritual" tanpa mengucap
nama Allah, sang jin bisa ikut nimbrung di antara keduanya. Hih, serem.

Lelaki, secara naluri, selalu ingin diakui lebih powerful di segala
bidang. Bukan hanya di medan perang, jalanan, atau perkantoran. Bahkan
dalam urusan "ritual suami-istri" pun lelaki selalu merasa tidak
terpuaskan. Walaupun istri di rumah sudah cantik, seksi, bahenol, penyabar,
penyayang, pandai masak, cuci baju dan pinter nyetrika, ada-ada saja alasan
untuk "mencicipi" model baru wanita lain.
Sejarah mencatat bahwa sejak dulu lagi, kaum lelaki sangat homogenus
dalam urusan syahwat. Psikolog Singapura, yang saya lupa namanya, dalam
suatu dialog di Channel News Asia, mengatakan: "Sex is animal
instinc".
Sex adalah instink hewani. Ketika instink itu datang, naluri
hewan kita mengendus-endus, seperti kucing, seperti ayam, seperti kuda. Dan
kita tak akan bisa mencegah instink itu, selagi belum tersalurkan.
Dan hillarious-nya, instink hewani itu bukannya berhenti ketika si
lelaki sudah menyalurkannya. Ketika dilihatnya ada "barang" yang lebih 
elok,
lebih mulus, lebih bahenol dibanding pasangannya, instink hewaninya
kembali muncul. Barangkali di sinilah salah satu hikmahnya, mengapa wanita
diharuskan menutup aurat, menutup lekuk-lekuk tubuhnya. Supaya lelaki
tidak melupakan "ikan asin" di rumahnya.
Sejarah mencatat, poligami alias beristri banyak, bukan hanya monopoli
pemeluk suatu agama tertentu sahaja. Bukan pula hak istimewa suatu
bangsa atau ras tertentu saja. Para pemeluk Yahudi diperkenankan 
memiliki istri dalam jumlah yang tidak terbatas. Bahkan Nabi Yakub, Nabi 
Daud, Nabi Sulaiman memiliki istri yang tak cukup dihitung dengan jari. 
Nabi Muhammad masih bisa dihitung dengan jari. Pada tahun 1650, pemeluk 
Kristen di Perancis pernah mendapatkan fatwa, boleh memiliki 2 istri.
Bahkan dewan tertinggi gereja Inggris, sampai abad 11 boleh 
memperlakukan wanita
sebagai barang dagangan. Boleh dijual, dipinjam, digadaikan. Kalau baru
dimadu sih masih urusan kecil. Kebiasaan ini terhapus, setelah kaum
salibis pulang dari perang Salib.
Menjelang abad 20 dan sekarang, praktek beristri banyak masih tetap
ada. Tak pandang agama, suku, dan bangsa. Tentu istilah "istri" di sini
bisa berarti istri dalam arti yang sesungguhnya dan bisa pula berarti
yang tidak sesungguhnya. Dalam istilah kerajaan tanah air, wanita-wanita
yang jadi istri raja, dinamakan selir. Dahulu di Jepang, para Samurai
juga biasanya punya banyak selir. Di Amerika, penduduk aslinya, Indian,
para lelakinya lazim membagi cinta dengan beberapa wanita, selama si
lelaki punya kemampuan finansial dan fisik yang memadai. Bagi para
istrinya, berarti tugas makin ringan. Memasak dan mencuci bisa dibagi-bagi
tugasnya. Walaupun, yah, bajunya orang Indian berapa lembar sih....
Nah, di zaman kini, para lelaki yang banyak duit tetap mempraktekkan
poligami. Walaupun harus main kucing-kucingan dengan istri pertama.
Kenapa musti kucing-kucingan? Karena sejak lahir kita sudah dicekoki makna
kesetiaan cinta, "one man, one love". Ditambah lagi lagu-lagu cengeng
yang mengagung-agungkan cinta pada seorang saja. Semoderen apa pun 'live
style' seorang lelaki, tetap saja naluri hewaninya tetap berjalan, yaitu
mencintai lebih dari satu wanita.
Memang sangat menyakitkan bagi wanita, tapi begitulah adanya. Di Jepang
yang tak diragukan lagi kemoderenannya, kecanggihan teknologinya,
kekayaan finansialnya, para lelakinya selalu mencari dan mencari "geisha"
alias wanita penghibur. Karena di rumah, "geisha" nya nyebelin dan
mbosenin.
Sedang lelaki Singapura lebih suka mencari daun-daun muda dari
Indonesia untuk dijadikan wanita simpanan. Wanita muda Indonesia lebih 
diminati
karena harganya yang murah dan "rasanya" yang gurih. (Ini kata mereka,
jangan sewot gitu loh).
Di negara yang mengaku sebagai bapak moyangnya demokrasi, Amerika,
poligami tetap ada. Tom Green adalah tokoh poligami yang berani mendobrak
tradisi Amerika yang amat patriartical dalam memperlakukan gender.

Kini kita coba kembali ke ajaran agama, dalam hal ini agama Islam.
Sebab agama-agama lainnya terkesan "ogah" membicarakan poligami. Kalau
zaman sebelum datangnya agama Islam (dalam hal ini Islam yang dibawa Nabi
Muhammad saw), para lelaki bebas memiliki wanita tanpa batas. Bebas
memperlakukan wanita seperti benda mati, kini fungsi agama mengingatkan
kembali para lelaki agar tidak sembarangan memelihara gundik yang diikat
tanpa tali pernikahan.
Merujuk pada ide para liberalis (islib) bahwa mengartikan Al Qur'an dan
Sunnah tidak boleh secara tekstual, 'letterlujk', tapi harus sesuai dengan
kondisi suatu zaman, maka adalah suatu keharusan bagi setiap lelaki
untuk berpoligami. Why? Why? Why? Karena dewasa ini kaum lelaki selalu
disuguhi aurat-aurat wanita, di mana pun dia berada. Coba tengok ke luar
sebentar, pasti ada wanita melenggang bercelana jeans ketat. Coba
menengok ke kiri, ada wanita ber-tank top. Ke kanan, pantat yang 
merangsang.
Ditambah lagi media-media elektronik, seperti televisi, selalu
menyuguhkan wajah-wajah cantik yang menggoda hasrat lelaki normal.
Nah, hal-hal seperti itulah yang membuat instink lelaki mengalami
gejala "ndut-ndutan". Dalam fase-fase itulah, seluruh energi, intelegensi,
materi, bahkan wibawa sekalipun tiba-tiba menjadi sesuatu yang murah.
Untuk menghindari itu, peranan agama berfungsi agar menghalalkan itu
semua.

Kalau para liberalis, mengartikan budaya pluralisme perkawinan (plural
marriage) itu hanya budaya Arab, yang katanya libidonya lebih tinggi
dari pada bangsa lain, maka saya berani katakan bahwa pluralisme juga
berlaku pada perkawinan. Dalilnya, ya, meminjam istilah liberalis, bahwa
mengartikan kitab suci tidak boleh secara harfiah. Nah, ternyata gejala
sosial menyatakan bahwa lelaki sekarang, baik yang libidonya tinggi,
maupun yang libidonya rendah, atau yang tak punya libido, sama-sama
"ndut-ndutan" menyaksikan wanita-wanita yang secara umum mengumbar aurat.
Jadi solusinya, salah satunya, adalah melegalkan poligami, baik secara
konstitusional maupun inkonstitusional. Supaya gejala "dut-ndutan" yang
diderita kaum lelaki berkurang. Dengan begitu energi, intelegensi,
materi dan wibawanya tidak terganggu, karena sudah mendapat payung hukum
secara SYAH dan MEYAKINKAN. So berpoligami, hidup jadi makin "ENDANG",
makin "ENDAH", dan makin "NENDANG".
Wassalam :
Emabdulah
Masih menerima beberapa wanita lagi… ihik… ihik…

endang = enak
endah = indah
nendang = nikmat sampai puncak

Sponsored by www.x-tronik.com <http://www.x-tronik.com>


Ungkapkan opini Anda di:

http://mediacare.blogspot.com

http://indonesiana.multiply.com

-- 
------------------------------------------------------------------------
 http://aboen.atekbl.com - BSD051246 
 Cintailah saudaramu secara proporsional, 
 mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kau benci. 
 Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, 
 mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai.
------------------------------------------------------------------------



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/9.ZgmA/FpQLAA/HwKMAA/1MXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Hapus Line di bawah ini sebelum me-Reply
-----------------------------------------
http://atekbl.com
----------------------------------------- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/atekbl/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke