Note: forwarded message attached.


Yahoo! Photos
Got holiday prints? See all the ways to get quality prints in your hands ASAP.

Hapus Line di bawah ini sebelum me-Reply
----------------------------------------------
Web site :
http://atekbl.com
Isi dan lihat profile anak Atek :
http://groups.yahoo.com/group/atekbl/database
Link website lain :
http://groups.yahoo.com/group/atekbl/links
Lihat & Upload Photo :
http://ph.groups.yahoo.com/group/atekbl/photos
File/Ebook mau di share :
http://groups.yahoo.com/group/atekbl/files
----------------------------------------------




YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message --- From:      "maria margaretha" <[EMAIL PROTECTED]> 
Date:      Wed, 11 Jan 2006 00:16:44 -0800 (PST)     
Subject:      [Batak_Gaul] Bahaya dibalik piring-piring
cantik!     

Subject:FW: [ChoicersJakarta] Bahaya Dibalik
Piring-piring Cantik!

Date:

Mon, 9 Jan 2006 13:52:04 +0700





Bahaya Dibalik Piring-piring Cantik!




Anda suka pakai peralatan makan dari melamin?


Hati-hati lho, karena dibalik sosoknya yang cantik


serta harganya yang murah meriah, ada bahaya


mengintai. Banyak yang mengandung formalin berkadar


tinggi yang membahayakan kesehatan.




Bagaimana menyiasatinya agar aman?




Beberapa waktu lalu, Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI)


melansir hasil penelitian mengenai kandungan formalin


dalam wadah-wadah melamin. Penelitian yang dilakukan


bulan September 2004 lalu itu membuahkan hasil yang
mengejutkan.


Peralatan makan dari melamin yang kini amat mudah
ditemui di pasaran,


banyak yang mengandung formalin dalam konsentrasi
tinggi.




Ilyani S. Andang, peneliti YLKI, menegaskan,


penelitian dilakukan terhadap 10 merek produk melamin.


"Enam merek diantaranya adalah produk impor, sedangkan


sisanya adalah produk lokal," ujarnya.




Produk yang diambil contoh adalah peralatan makan yang


dijual di pasar-pasar tradisional serta pertokoan yang


dijual dengan harga murah. "Ada yang Rp 10.000 dapat


tiga buah."




Ilyani dan tim-nya sengaja memilih produk-produk yang


beragam. "Ada yang dengan jelas mencantumkan 
merek,


ada pula yang tidak," imbuhnya. Dari yang tidak ada


mereknya ini, banyak yang hanya mencantumkan


nomor-nomor.




"Enggak tahu juga apa artinya nomor-nomor tersebut.


Tapi yang jelas produk-produk tersebut tidak bisa


diketahui
   siapa yang memproduksi."




Formalin Tinggi




Contoh-contoh produk yang akan diteliti kemudian


disiram dengan air panas.




"Tetapi ternyata tidak cukup hanya
   disiram dengan air


panas, karena formalin sifatnya cepat menguap,


sehingga tidak bisa diteliti," urai Ilyani mengenai


mekanisme penelitian yang dilakukannya. Akhirnya,


Ilyani memutuskan untuk merebus wadah-wadah tersebut,


dengan pertimbangan, "Para ibu rumahtangga suka


merebus peralatan makannya untuk sterilisasi, 
bukan?"




Dari hasil air rebusan yang kemudian dibawa ke


Laboratorium Kimia Universitas Indonesia, ini


didapatkan hasil, bahwa kandungan formalin pada hampir


semua produk yang diteliti, ternyata sangat tinggi.




"Nilainya beragam, antara 4,76  9,22 miligram per


liter," ungkap Ilyani. Tingginya kandungan formalin


ini sangat berbahaya jika sampai terkonsumsi.


"Akumulasi formalin yang tinggi di dalam tubuh bisa


menyebabkan beragam penyakit. Bahkan penyakit kanker


yang mematikan."




Dari kenyataan tersebut, Ilyani khawatir, jika para


konsumen tidak tahu cara yang tepat menggunakan


piranti melamin tersebut, akan terkena dampak negatif


dari tingginya kadar formalin yang terdapat di sana.




"Sebetulnya, asal tidak dipakai untuk makanan atau


minuman panas, sih, aman-aman saja. Yang bahaya, kan,


jika wadah-wadah ini dipakai untuk menaruh bahan


makanan panas," paparnya, sembari mencontohkan,


perangkat melamin kerap digunakan untuk membuat


minuman teh, kopi, atau makanan berkuah panas.




Di Sekitar Kita




Apa itu formalin? Menurut Drs. Bambang Wispriyono,


Apt, PhD, formalin adalah nama dagang larutan


formaldehid dalam air dengan kandungan 30-40 persen.




Di pasaran, formalin bisa ditemukan dalam bentuk yang


sudah diencerkan, dengan kandungan formaldehid 10-40


persen. "Formalin sudah sangat umum digunakan dalam


kehidupan seharihari. Di industri makanan, misalnya,


formalin dipakai untuk membuat makanan lebih awet.


Misalnya saja untuk tahu, mi, atau bakso."




Di industri kecantikan formalin biasa dipakai di


produk cat kuku. "Di perikanan, formalin digunakan


untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik


ikan," ungkap Wakil Dekan I Fakultas Kesehatan


Masyarakat Universitas Indonesia ini.




Menurut Bambang, formaldehid memiliki banyak fungsi,
diantaranya


sebagai


pengawet, serta anti bakteri. "Formaldehid juga
dipakai untuk reaksi


kimia yang bisa membentuk ikatan polimer, dimana salah
satu hasilnya


adalah menimbulkan warna produk menjadi lebih
"muncul". Itu sebabnya


formaldehid dipakai di industri plastik."




Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua


jalan, yaitu mulut dan pernapasan. "Sebetulnya,


sehari-hari kita menghirup formalin dari lingkungan


sekitar." Kata Bambang, polusi yang dihasilkan 
oleh


asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang mau


tidak mau kita hirup, kemudian masuk ke dalam tubuh.
"Begitupula dari


asap rokok," tandasnya. Bahkan, air hujan yang jatuh
ke bumi pun


sebetulnya mengandung formalin.




Sebabkan Kanker




Di dalam tubuh, jika terakumulasi dalam jumlah besar,


formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi


kesehatan manusia.




Jika kandungan dalam tubuh tinggi, akan bereaksi


secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel,


sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian


sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh.




Bambang menegaskan, akumulasi formalin yang tinggi di


dalam tubuh akan menyebabkan berbagai keluhan,


misalnya iritasi lambung dan kulit, muntah, diare,


serta alergi. "Bahkan bisa menyebabkan kanker, karena


formalin bersifat karsinogenik."




Khusus mengenai sifatnya yang karsinogenik, Bambang
mengingatkan,


formalin termasuk ke dalam karsinogenik golongan IIA.
"Golongan I


adalah


yang sudah pasti menyebabkan kanker, berdasarkan uji
lengkap. Sedangkan


golongan IIA baru taraf diduga, karena data hasil uji
pada manusia


masih


kurang lengkap."




Bambang menekankan, dalam jumlah sedikit, formalin


akan larut dalam air, serta akan 
dibuang ke luar


bersama cairan tubuh. "Itu sebabnya formalin sulit


dideteksi keberadaannya di dalam darah."




Tetapi, Bambang mengingatkan, imunitas tubuh sangat


berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam


tubuh. "Jika imunitas tubuh rendah, sangat mungkin


formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk


terhadap kesehatan," cetusnya.




Menanggapi hasil penelitian YLKI, Bambang sedikit ragu


melihat angkanya yang dinilainya sangat tinggi. "Apa


betul, ya, angkanya segitu? Jika betul, itu berarti


tinggi sekali, lo. Menurut IPCS (International


Programme on Chemical Safety), secara umum ambang


batas aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per


liter," tandasnya. Perlu diketahui, IPCS adalah


lembaga khusus dari tiga organisasi di PBB, yaitu ILO,


UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada keselamatan


penggunaan bahan kimiawi.




Meskipun diakui berbahaya jika terakumulasi di dalam


tubuh, namun Bambang melihat, sangatlah tidak


bijaksana jika melarang penggunaan formalin.


"Bagaimanapun, industri memerlukan formalin," katanya.


"Yang penting, kita harus bijaksana dalam


menggunakannya, misalnya dengan cara tidak


menggunakannya pada makanan."




BAGAIMANA MENYIKAPINYA?




1. Tenang




Meskipun harus waspada, hendaknya jangan lantas


menjadi paranoid, alias curigaan. "Tidak perlu lah


sampai harus emoh memakai perangkat melamin sama


sekali. Itu namanya paranoid. Lagipula, tidak semua


wadah melamin mengandung formalin berlebihan, bukan?"


kata Bambang. Yang penting, menurutnya, konsumen harus


jeli dengan memperhatikan kualitas barang serta


harganya. "Kalau produknya mudah sekali pudar atau


kusam, itu berarti bahannya banyak yang terkikis.


Produk seperti ini perlu dihindari."




2. Dingin




Jika tidak yakin akan kualitas produk melamin yang


Anda punya, sebaiknya jangan gunakan 
piranti makan


tersebut untuk makanan serta minuman panas. "Untuk


makanan dingin, sih, aman-aman saja, karena formalin


yang sudah membentuk polimer sulit untuk terurai.


Kalaupun terurai, pasti tidak 100 persen," papar


Bambang.




3. Cermat




Dalam mengonsumsi bahan makanan, pilihlah yang tidak


mengandung formalin. "Kalau tahu tahan sampai


berhari-hari, diduga keras mengandung formalin," ujar


Bambang. Menurut situs WHO (lembaga PBB yang khusus


menangani kesehatan), sebetulnya, makanan yang


mengandung formalin memiliki bau yang khas, sehingga


bisa dideteksi oleh orang awam sekalipun.




4. Pengawet Lain




Sebisanya, hindari penggunaan formalin sebagai bahan


pengawet. "Jika bisa diganti dengan pengawet lain, itu


lebih baik," saran Bambang.   (Tabloid Nova)




Melamin, Piring Cantik yang Menyimpan Racun




Di banyak toko yang menjual perabot rumah tangga,


peralatan makan dan minum yang disebut melamin relatif


mudah ditemukan.




Kalau sekitar tahun 1970-1980-an melamin masih


terbatas warna maupun coraknya, maka kini desain


melamin bisa bersaing dengan barang pecah belah


lainnya.




Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga


barang ini tak hanya bisa dibeli di toko tertentu,


tetapi juga di pasar tradisional sampai di pedagang


kaki lima.




Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907 ketika ilmuwan


kimia asal Belgia, Leo Hendrik Baekeland, berhasil


menemukan plastik sintesis pertama yang disebut


bakelite. Penemuan itu merupakan salah satu peristiwa
bersejarah


keberhasilan teknologi kimia awal abad ke-20.




Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan


dasar pembuatan telepon generasi pertama. Namun, pada
perkembangannya


kemudian, hasil penemuan Baekeland dikembangkan dan
dimanfaatkan 
pula


dalam industri peralatan rumah tangga. Salah satunya
adalah sebagai


bahan dasar peralatan makan, seperti sendok, garpu,
piring, gelas,


cangkir, mangkuk, sendok sup, dan tempayan, seperti
yang dihasilkan


dari


melamin.




Peralatan makan yang terbuat dari melamin di satu sisi
menawarkan


banyak


kelebihan. Selain desain warna yang beragam dan
menarik, fungsinya juga


lebih unggul dibanding peralatan makan lain yang
terbuat dari keramik,


logam, atau kaca. Melamin lebih lebih ringan, kuat,
dan tak mudah


pecah.


Harga peralatan melamin pun relatif lebih murah
dibanding yang terbuat


dari keramik misalnya.




Potensi formalin




Dengan segala 
kelebihan melamin, tak heran kalau


sebagian orang tidak menyadari bahwa melamin menyimpan


potensi membahayakan bagi kesehatan manusia.




Menurut pengajar pada Fakultas Matematika dan Ilmu


Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, Bambang
Ariwahjoedi PhD,


MSc, melamin berpotensi menghasilkan 
monomer beracun yang disebut


formaldehid (formalin).




Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, formaldehid


juga digunakan untuk bahan baku melamin. Menurut


Ariwahjoedi, melamin merupakan suatu polimer, yaitu


hasil persenyawaan kimia (polimerisasi) antara monomer
formaldehid dan


fenol. Apabila kedua monomer itu bergabung, maka sifat
toxic dari


formaldehid akan hilang karena telah terlebur menjadi
satu senyawa,


yakni melamin.




Berdasarkan kerja sama penelitian antara Universitas


Indonesia dan Yayasan Lembaga Konsumen 
Indonesia


(YLKI), diketahui kandungan formaldehid dalam perkakas


melamin mencapai 4,76?9,22 miligram per liter.




"Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang


sempurna dapat terjadi residu, yaitu sisa monomer


formaldehid atau fenol yang tidak bersenyawa sehingga


terjebak di dalam materi melamin. Sisa monomer


formaldehid inilah yang berbahaya bagi kesehatan


apabila masuk dalam tubuh manusia", ujar Ariwahjoedi.




Dalam sistem produksi melamin yang tidak terkontrol,


bahan formaldehid yang digunakan cenderung tidak


sebanding dengan jumlah fenol. Maka, kerap terjadi


residu.




Ini bukan berarti proses produksi yang sudah


menerapkan well controlled dan tidak menghasilkan


residu terbebas dari potensi mengeluarkan racun.


Menurut Ariwahjoedi, formaldehid di dalam senyawa


melamin dapat muncul kembali karena adanya peristiwa


yang dinamakan depolimerisasi (degradasi). Dalam


peristiwa itu, partikel-partikel formaldehid kembali


muncul sebagai monomer, dan otomatis menghasilkan


racun.




Ariwahjoedi menjelaskan, senyawa melamin sangat rentan


terhadap panas dan sinar ultraviolet. Keduanya sangat
berpotensi memicu


terjadinya depolimerisasi. Selain itu, gesekangesekan
dan abrasi


terhadap 
permukaan melamin juga berpotensi mengakibatkan
lepasnya


partikel formaldehid.




Ariwahjoedi menambahkan, formaldehid sangat mudah


masuk ke tubuh manusia, terutama secara oral (mulut).
Formaldehid juga


dapat masuk melalui saluran pernapasan dan cairan
tubuh.




Monomer formaldehid yang masuk ke tubuh manusia


berpotensi membahayakan kesehatan. "Formalin kan


berfungsi untuk membunuh bakteri. Kalau bakteri saja


tidak bisa hidup, berarti tinggal selangkah lagi


meracuni makhluk yang lain,' ungkapnya 
berilustrasi.




Formaldehid yang masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu


fungsi sel, bahkan dapat pula mengakibatkan kematian


sel.




Dalam jangka pendek, hal ini bisa mengakibatkan 
gejala


berupa muntah, diare, dan kencing bercampur darah.


Sementara untuk jangka panjang, akumulasi formaldehid


yang berlebih dapat mengakibatkan iritasi lambung,


gangguan fungsi otak dan sumsum tulang belakang.


Bahkan, fatalnya dapat mengakibatkan kanker


(karsinogenik). (d10)




Perabotan Impor: Berbahaya, Kandung Formalin!




Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menilai sejumlah


produk perabotan rumah tangga yang terbuat dan melamin
mengandung


formalin 
(formaldehid).




Kandungan formalin dalam perabotan impor itu mencapai


4,76 - 9,22 miligram per liter.




"Ironisnya, perabotan itu digunakan sebagai wadah


makanan dan minuman, terutama anakanak. 
Kalau


tercampur air panas, zat kimia pada peralatan itu akan


bereaksi dan menyebabkan konsumen yang menggunakannya


dapat menderita sakit kepala, gangguan pernapasan, dan


memicu kanker", kata peneliti YLKI Ilyani S Andang di


Jakarta, Selasa 
(28/6/2005).




Ilyani menyebutkan, kandungan unsur berbahaya itu


diketahui YLKI dari hasil kerja samanya dengan


peneliti dari laboratorium Universitas Indonesia.


Faktor keamanan dan penggunaan perabotan itu tidak


pernah diinformasikan secara jelas. Pengawasan


pemerintah terhadap asalmuasal dan dampak negatif


produk itu pun tidak ketat.




Perabotan rumah tangga itu semakin membanjiri pasar


tradisional dan swalayan. Produknya, antara lain,


berupa sendok, garpu, gelas, 
piring, dan mangkuk.


Penawaran harganya pun sangat menggiurkan.




Di Pasar Pagi Glodok, Jakarta Barat, misalnya, mangkok


melamin dijual seharga Rp 24.000 per lusin, gelas


lengkap dengan tutupnya Rp 80.000 - Rp 90.000 per


lusin. Ada juga yang menjual secara eceran.




Tanpa peduli bahayanya bagi kesehatan, pedagang tetap
menawarkan bahwa


perabotan itu tahan air panas. (OSA)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

--- End Message ---

Kirim email ke