Jakarta,
9/5 (ANTARA) - Bahan bakar solar bercampur biodiesel segera dijual di
Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) Jakarta dengan nama B5
(campuran biodiesel lima persen) atau B10 (campuran biodiesel 10
persen) dengan volume 2.000 kilo liter (Kl) per hari.
"Pada pertemuan terakhir kami, Pertamina dan Pemda DKI sudah
sepakat untuk menyediakan biodiesel di semua SPBU Jakarta yang menjual
solar, tanggalnya mungkin bersamaan mulainya dengan Hari Kebangkitan
Nasional 20 Mei 2006," kata Menristek Kusmayanto Kadiman, kepada
pers di Jakarta, Selasa.
Dengan mengganti lima persen dari tiap liter konsumsi solar
nasional dengan minyak nabati, Indonesia diharapkan mampu mengurangi
impor solar yang selama ini sebagian besar diimpor, ujarnya, usai
Peluncuran Pemakaian Bahan Bakar Nabati secara langsung (Pure Plant
Oil/PPO) sebagai Bahan Bakar Alternatif oleh Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT).
Saat ini harga minyak mentah mencapai 70 dolar AS per barrel dan
konsumsi minyak bumi sekitar 66 juta kilo liter pada 2006. "Bisa
dibayangkan berapa besar pemerintah memberi subsidi bagi 14,5 juta kilo
liter solar, 17 juta kilo liter premium dan 10 juta kilo liter minyak
tanah yang dikonsumsi masyarakat," katanya.
Namun demikian, ujarnya, pihaknya pesimis pasokan itu dapat
dipenuhi, karena sejauh ini belum ada pabrik penghasil biodiesel yang
berkapasitas besar dan mampu memenuhi permintaan tersebut.
"Yang ada baru pencanangan penanaman pohon penghasil biodiesel atau
pencanangan pembangunan pabrik biodiesel, tapi seberapa cepat prosesnya
sehingga dapat memenuhi permintaan itu yang masih diragukan," katanya.
Berkaitan dengan itu pula Deperin telah menyatakan sanggup
menyediakan dana Rp60 milyar untuk membangun empat pabrik biodiesel dan
mulai mempersiapkan tendernya, bahkan akan juga menawarkan Pemda-pemda
untuk turut serta menyediakan dana, lahan dan juga peluang pembangunan
pabriknya di daerah-daerah, kata Kusmayanto.
Ditanya soal harga solar B5 atau B10, Menteri mengatakan, masih
belum menguntungkan jika dibandingkan harga solar bersubsidi, berhubung
harga biodiesel yang berasal dari CPO (crude palm oil atau minyak sawit
mentah) masih Rp6.000 per liter.
"Jadi jika lima persen dari seliter solar diganti minyak sawit,
ternyata harga solar campuran ini masih di atas harga solar bersubsidi
di pasar yang Rp4.300. Meskipun demikian harga B5 di SPBU seharusnya
sama dengan harga solar tanpa campuran itu, biar upaya ini bisa
berjalan," katanya.
Namun demikian, ujar Kusmayanto, pihaknya optimis penggantian BBM
dengan minyak nabati tetap menguntungkan karena mayoritas pasokan solar
Indonesia itu diimpor, sementara harga minyak dunia terus melonjak.
"Apalagi jika pohon jarak pagar sudah ditanam secara besar-besaran,
karena harga jual biodiesel yang berasal dari pohon jarak jauh lebih
murah yakni Rp3.800 per liter," kata Menteri yang baru saja melepas
jabatan rangkapnya sebagai Kepala BPPT itu.
Biodiesel, ujarnya, tidak akan merusak mesin kendaraan dengan
demikian tak ada lagi yang dikhawatirkan masyarakat untuk mulai
mengkonsumsi solar bercampur minyak nabati itu.
(T.D009/B/F004/F004)
--
------------------------------------------------------------------------
http://aboen.or.id - BSD051246
gtalk : aboenx
ym : aboenc
------------------------------------------------------------------------
Hapus Line di bawah ini sebelum me-Reply
----------------------------------------------
Web site :
http://atekbl.com
Isi dan lihat profile anak Atek :
http://groups.yahoo.com/group/atekbl/database
Link website lain :
http://groups.yahoo.com/group/atekbl/links
Lihat & Upload Photo :
http://ph.groups.yahoo.com/group/atekbl/photos
File/Ebook mau di share :
http://groups.yahoo.com/group/atekbl/files
----------------------------------------------
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS