Testimonial atau bualan di bawah ini merupakan suatu kajian terhadap manajemen keuangan yang islami.
(maaf saya soalnya kurang tertarik dengan cara2 sosialisasi ekonomi syariah yang ada di indonesia khususnya, yang hanya melahirkan kapitalis2 baru dibungkus dengan baju islam). uang menjadi sensitif bukan untuk dicari sebanyak-bayaknya, tetapi menjadi sensitif untuk di kelola seadil-adilnya oleh si pemilik uang itu sendiri.... silahkan dikaji Al-Baqarah 282-283 ------------ --------- Pada akhirnya kita harus bicara tentang uang. Penting. hehehehe Coba lihat di infotainment bagaimana para seleb cewek menceraikan suaminya karena alasan duit, meski dengan menggunakan peristilahan yang lebih halus. "Dia tidak pernah menafkahi saya dan anak-anak!", "Dia tidak punya pekerjaan tetap sementara saya bekerja sampai larut malam!", dan sejenisnya. Matre? Jangan gitu dong. Duit kan bukan hanya berkonotasi dengan materi, tapi juga berkait dengan kerja keras dan pengelolaan serta harga diri. Saya pernah baca, pernikahan lebih banyak amblas karena uang, bukan karena seks. Uang memang masalah yang lebih sensitif ketimbang seks. Kita berani bicara tentang seks dengan orang asing sekalipun, paling tidak kalau lagi chatting kan? Posisi favorit, bagian tubuh favorit, dan sebagainya dan selanjutnya dan seterusnya. Ayo ngakuuuuuuu. ;) Tapi soal berapa besar gaji kita, mungkin cuma kita sendiri dan bos di kantor yang tahu serta pejabat yang mengurus aplikasi kartu kredit kita. Orangtua dan pasangan kita pun belum tentu berani bertanya dan belum tentu kita mau kasih tahu. Saya termasuk yang percaya bahwa "watak seseorang ditunjukkan dengan cara seseorang mengelola keuangannya" . You are what you spend, baby. Agak menggelikan bagi saya kalau seorang pria berumur 35 tahun belum punya rumah. Bagi saya, dia tidak punya wawasan ke depan. Seharusnya sejak umur 20 tahunan dia sudah menetapkan mau diapakan duit hasil kerja kerasnya. Beli rumah haruslah menjadi salah satu prioritas utama. Masak dia mau terus-menerus mengajak anak dan istrinya pindah kontrakan? Makanya saya sangat menghormati laki-laki sederhana yang rajin menabung, berhemat, dan mengumpulkan satu per satu aset ketimbang yang bergaya tinggi dan suka pesta tapi tidak punya apa-apa. Seorang pakar keuangan mengatakan, watak seseorang sangat direfleksikan oleh caranya mengelola kartu kredit. Orang yang tak bertanggung jawab dengan kartu kredit pastilah orang juga tak bertanggung jawab dalam membina hubungan. Dan sebaliknya. Orang yang suka ngemplang utang, hampir pasti juga tidak baik dalam memperlakukan pasangan. Dan sebaliknya. Saya sudah melihat banyak bukti bagaimana orang yang tak bertanggung jawab dengan keuangan juga buruk dalam relationships. Seorang bekas teman kantor begitu gampang berbelanja dengan kartu kredit dan tak mau repot membayar tagihan. Dia rajin ngutang di mana-mana, berbohong di mana-mana, menipu di mana-mana. Pacarnya juga di mana-mana, bahkan ketika sudah menikah dengan seorang wanita yang baik. Di manakah dia sekarang? Saya dengar perkawinannya nyaris bubar dan pekerjaannya gak jelas. Mungkin juga dia sedang bersembunyi dari debt collector. Menarik sekali bagi saya untuk mengamati bagaimana staf saya yang berumuran 20 tahunan mengelola keuangan mereka. Ada yang suka belanja, ada yang sangat berhemat. Ada yang suka ngutang setiap akhir bulan, ada yang pelit gak ketulungan. Tahulah saya siapa dari mereka yang akan kaya dan mana yang hidupnya kelak akan begitu-begitu saja. Dan saya pernah mendapat masukan berharga dari salah seorang mereka. Melihat saya pulang pergi kantor pakai taksi, dia berkata, "Sayang loh Pak. Mending uangnya untuk yang kepentingan lain saja." Wah, terima kasih sekali atas peringatannya. Pada waktu itu saya memang boros sekali sehingga tabungan saya berhenti di angka tertentu tanpa pernah bertambah. Dibanding teman-teman lain saya masih termasuk hemat. Tapi saya sadar masih banyak hal yang bisa saya hemat. Dan harus. Di zaman perekonomian susah seperti sekarang, sungguh tidak bijaksana bila saya terus menghambur-hamburka n uang. Harus bisa berinvestasi lah. Maka saya mengucapkan selamat tinggal pada kopi-kopi lezat di Starbucks yang harganya sudah tidak masuk akal. Sudah gak perlu lah. Menurut situs Slate.com (a great site. visit!), kopi di Starbucks adalah yang paling mahal di dunia dengan kandungan kafein paling tinggi pula. Dalam catatan The Wall Street Journal, dalam minuman Starbucks terkandung rata-rata 320 mg kafein. Bandingkanlah dengan kopi-kopi di Dunkin' Donuts yang cuma mengandung 174 mg kafein dan 7-Eleven yang memakai hanya 141 mg kafein dalam kopi racikannya. Dosis kafein setinggi Starbucks bisa membuat kita ketagihan. Menurut Slate.com pula, dan seperti sudah kita ketahui bersama, banyak orang ngopi di Starbucks "not for the coffee itself, but among other thing, to show the world that they can afford Starbucks coffee". Ah, masa-masa borju itu sudah lewatlah. Mending ngopi di rumah dengan cangkir kesayangan dan kopi tubruk yang gak kalah enak. Tapi kalau ada yang mau traktir di Starbucks sih, hayuk aja. Udah tau kan nomor HP saya? ;) Tradisi belanja buku juga mesti dibatasi. Buku memang penting tapi banyak juga buku yang gak penting. Waktu pindahan rumah dulu saya syok beratmengetahui harta terbanyak saya cuma buku dan buku lagi. Jumlahnya sampai berkardus-kardus. Dan dengan malu saya harus mengakui banyak dari koleksi buku saya yang belum tersentuh. Sebagian dibeli karena gaya-gayaan saja kok. To impress people that I'm an intelletual? Such a snob. Zaman sekarang buku sangat mahal dan jarang yang ditulis dengan orisinalitas. Jadi saya mau absen belanja buku untuk jangka waktu yang lama sekali. Dan gak perlu takut ketinggalan ilmu. Di Internet segala macam subyek tersedia gratisan kok. Sekali lagi ya, uang itu penting. Orang yang bilang uang tidak bisa membeli kebahagiaan itu salah. Duit bisa membuat kita bahagia loh, sepanjang kita tau cara membelanjakannya. Oke, mungkin ada benarnya juga duit itu tak bisa membelikan kita kebahagiaan, tapi bukankah kemiskinan juga tidak akan membuat kita bahagia? Paling tidak kalau kita kaya dan tidak berbahagia, kita kan bisa membayar terapis yang berbobot? Iya gak? Nah waktu itu di situs Time.com saya menemukan wawancara dengan Dr. Daniel Gilbert, penulis buku "Stumbling on Happiness".Menurut beliau, uang membuat kita berbahagia ketika jumlahnya cukup signifikan untuk mengeluarkan kita dari kemiskinan. "Ada perbedaan besar dalam derajat kebahagiaan kalau kita berpenghasilan 10 ribu dollar atau 50 ribu dollar. Uang 50 ribu dollar sanggup membebaskan kita dari penyakit, kemiskinan, kekurangan, kecemasan mengenai apa yang bisa dimakan, kecemasan tentang masa depan dan keselamatan anak-anak kita," kata Gilbert. Tapi begitu seseorang mempunyai penghasilan tertentu yang menempatkannya sebagai kelas menengah, uang yang lebih banyak lagi tidak akan membuatnya lebih berbahagia. Jadi perbedaan antara 10 ribu dollar dan 50 ribu dollar lebih besar dibandingkan antara 100 ribu dollar dan 1 juta dollar. Julia Roberts pasti lebih berbahagia dibanding anak-anak di Afrika yang menderita busung lapar. Tapi dia belum tentu berbahagia dibanding saya dan Anda meski tarif main filmnya sudah mencapai angka 25 juta dollar. Satu rumah mewah lagi di kawasan paling eksotis dan satu pasang sepatu lagi dari Manolo Blahnik tidak akan membuat senyumnya lebih lebar. Hapus Line di bawah ini sebelum me-Reply ---------------------------------------------- Web site : http://atekbl.com Isi dan lihat profile anak Atek : http://groups.yahoo.com/group/atekbl/database Link website lain : http://groups.yahoo.com/group/atekbl/links Lihat & Upload Photo : http://ph.groups.yahoo.com/group/atekbl/photos File/Ebook mau di share : http://groups.yahoo.com/group/atekbl/files ---------------------------------------------- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/atekbl/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/atekbl/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
