بسم الله الرحمن الرحيم

BERSIKAP KERAS TERHADAP AHLUL BIDA’ DI ANTARANYA HIZBIYYUN BUKANLAH
PENYELISIHAN WAHAI SALAFIYYUN

Di tulis oleh:
Abu ‘Abdirrohman Shiddiq bin Muhammad Al-Bugisi
di Darul Hadits Dammaj -harasahallah-

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله, أما بعد

Bahkan hal itu adalah manqobah (keutamaan) di sisi ahlus sunnah yang
sejati, mari kita simak ucapan Al-Akh Yusuf Al-Jazairi -hafidzohulloh-
sebagaimana pada artikel beliau yang telah dibaca dan diijinkan
penyebarannya oleh Syaikhuna Yahya bin ‘Ali Al-Hajuri hafidzahullah
yang berjudul “Jinayah Abdirrohman wa hizbihi …” hal. 42-52:[1]

Beliau berkata:

[Termasuk Kejahatan Mereka (yaitu para hizbiyyun baru) Terhadap Manhaj
Ahlus Sunnah Dalam Jarh dan Ta'dil Adalah: MEREKA MENGANGGAP BAHWA
SIKAP KERAS TERHADAP AHLUL BIDA' ADALAH PENYELISIHAN]

Di mana mereka menyebutkan pada makalah mereka dari apa-apa yang
mereka benci dari Syaikh Yahya hafidzahullah:
“Celaannya yang keras terhadap para penyelisih manhaj salaf!!!!”

Dan ini termasuk rintihan mereka (hizbi baru) yang bertujuan
melembekkan manhaj salaf, tanpa mereka sadari membongkar kebobrokan
manhaj mereka yang jauh (dari kebenaran –pent), di mana tidaklah
diketahui seorang Alim salafipun yang memiliki wawasan dan pemahaman
terhadap manhaj salaf dari dulu sampai sekarang yang berpendapat bahwa
sikap keras terhadap Ahlul Ahwa adalah kekurangan yang dibenci
karenanya!! Bahkan yang diketahui adalah sorakan seperti ini hanyalah
timbul dari Ahlul Bida’ dan Ahwa yang terpuruk, dan menuduh Ahlus
Sunnah dengan tuduhan (miring) semacam ini merupakan tanda kesesatan
pada si penuduh yang paling jelas pada dewasa ini.

Al-Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata: (Sesungguhnya Ahlul
ahwa dewasa ini berdalih dengan kalimat “FULAN SANGAT KERAS” yang mana
mereka mengatakan itu guna melarikan manusia dari kitab-kitab orang
tadi. Apakah para salaf dulunya apabila mengatakan bahwa Fulan
memiliki sikap keras terhadap Ahlul bida’ itu adalah celaan baginya?!
Ataukah mereka menginginkan dengan ucapan itu untuk menghalang-halangi
dari jalan Allah sebagaimana yang dilakukan oleh para pengekor hawa
nafsu sekarang ini?! [Al-Ajwibah As-Salafiyyah 'ala Asilah Abi
Rawahahah, hal. 19]

Dulunya sikap keras terhadap Ahlul Bida’ itu merupakan ciri khas Ahlus
Sunnah wal Jama’ah yang paling menonjol dan merupakan hal yang
terpuji, keutamaan yang besar bagi mereka serta teranggap sebagai
karunia Allah dan juga termasuk bekal yang besar di hari kiamat kelak,
yang mana dengan sikap keras tersebut Alloh menghinakan Ahlul Ahwa dan
memenangkan Ahlus sunnah atas mereka.

Ibnu Abdil Hadi : mengisahkan Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah: (Beliau
dahulunya bagaikan pedang yang terhunus terhadap para penyelisih dan
duri di leher-leher ahlul ahwa para pelaku bid’ah) [Al-'Uqudud
Durriyyah hal 7)

Dan Badrud Dien Al-'Aini menyifati Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah ::
(Beliau bagaikan Pedang yang terhunus terhadap para pelaku bid'ah,
sebagaimana pada "Ar-Roddul Wafir" hal. 262

Adz-Dzahabi berkata dalam biografi Abil Mudzfir As-Sam'ani: (Dan
beliau dahulunya adalah duri di mata para penyelisih akan tetapi
hujjah bagi ahlis sunnah) "As-Siyar 19/116".

Demikian pula Imam Ibnul Qoyyim mehikayatkan manhaj para sohabat dalam
menghadapi Ahlul Ahwa, beliau mengatakan: (Ibnu Abbas dahulunya keras
terhadap pelaku bid'ah qodariyyah dan demikian juga shohabat lainnya)
"Syifaul 'Alil" hal. 60, dan ungkapan-ungkapan mereka dalam bab ini
banyak, sulit untuk menghitungnya.

[Apakah setelah semua ini boleh bagi seseorang untuk mencerca
seorangpun dari kalangan ahlus sunnah disebabkan memiliki sifat
salafiyyah semacam ini?!! Apabila ia tetap mencelanya berarti si
miskin ini tidak sadar bahwa dia dengan celaannya itu, telah mencela
para salaf terutama Shohabat sebagaimana telah lewat penukilan kami
tentang mereka!! Maka hendaknya orang-orang yang mengaku ahlus sunnah
itu bertakwa kepada Alloh sementara mereka tidak menolong dan membela
pengembannya dengan al-haq dan ilmu, di sisi lain mereka malah
melindungi dan loyal terhadap ahlul bida' dan memancangkan permusuhan
hanya karena (ahlus sunnah bersikap keras terhadap) mereka..]!![2]

[Teriakan Tamyi'iyyah ( yang Bertujuan untuk Melembekkan Manhaj Salaf)
Berikutnya Dan Seruan Untuk Bersikap Lemah Lembut Terhadap Ahlul
Bid'ah Dan Ahwa]!!

Ini juga termasuk rintihan dan kesakitan mereka terhadap manhaj ahlus
sunnah ketika membantah Ahlul bida’ dan sikap keras mereka terhadap
ahlul bida’ serta tidak ridhonya mereka dengan metode ini.

Hizbi yang terpuruk berkata di hal. 18:
(الجرح  ينبغي أن يقتصر فيه على ما تدعو الحاجة إليه ولا يجوز في الجرح
لدرجة التهكم والتشفي وذكر ما لاداعي من ذكره كما بين ذلك العلماء في
كتبهم، قال السخاوي في (الإعلان والتوبيخ) ص(125): (وإذا أمكنه بالإشارة
المفهمة أو بأدنى تصريح، لا تجوز الزيادة على ذلك فالأمور المرخص فيها
للحاجة لا يرتقي فيها إلى زائد على ما يحصل به الغرض)  [ثم ذكروا كلامًا
للباجي يأتي التعليق عليه] والشيخ يحيى أصلحه الله لربما لم ينضبط بهذا
الضابط العلمي فجعل لسانه تخوض فيما لا داعي من ذكره أو بيان وصفه كل ذلك
بحجة أن المخالفين من الحزبيين)!!

“Celaan itu seyogyanya hanya sekedar hajat dan tidak boleh dalam
menjarh sampai ke tingkat mengolok-ngolok dan memuaskan diri lalu
akhirnya menyebutkan suatu yang tidak perlu untuk disebutkan
sebagaimana ulama telah menjelaskan hal itu pada kitab-kitab mereka,
As-Sakhowi pada (Al-’Ilan wa At-Taubikh) hal 125: (Dan jika
memungkinkannya hanya dengan isyarat yang difahami atau dengan
penjelasan ringkas, maka tidak boleh menambah dari itu, jadi yang
dibolehkan adalah sesuai dengan kebutuhan tidak lebih dari itu yang
penting dengannya tercapai maksud) [kemudian mereka menyebutkan ucapan
Al Bajiy akan datang sanggahannya] dan Syaikh Yahya –Ashlahahullôh-
terkadang tidak komitmen dengan kaidah ilmiyyah ini, akhirnya lisannya
melontarkan apa yang tidak perlu untuk disebutkan atau dijelaskan
sifatnya, semua itu dengan alasan bahwasanya para penyelisih itu dari
kalangan hizbiyyin”!!

Pada ucapan ini terdapat beberapa hal yang menyelisihi kebenaran di
antaranya:

1-    Penyamarataan antara posisi membantah dan posisi menjelaskan
perihal terbuktinya orang yang dijarh dan posisi kapan seseorang itu
boleh disebutkan kejelekannya setiap saat. Dan posisi mana yang tidak
seyogyanya hal itu dilakukan?!! dan kebodohan mereka terhadap manhaj
salaf pada perkara ini!! di mana metode salaf dan para imam setelahnya
sangatlah jelas dalam posisi membantah ahlul ahwa di mana mereka
menulis pada permasalahan ini kitab-kitab tersendiri dalam kritikan-
kritikan mereka terhadap ahlul bida’, mereka tidak mencukupkan dengan
isyarat yang dapat difahami dan sedikit penjelasan (saja)!!
sebagaimana yang diinginkan oleh hizbiyyah baru ini, bahkan engkau
dapati mereka mendatangkan berpuluh-puluh kritikan yang diiringi
dengan banyak ungkapan jarh dan hal ini tidaklah asing lagi bagi kita
semua karena begitu jelasnya hal ini.

Dan Syaikh Robi’ telah ditanya sebagaimana pada (Ajwibah ala Asilah
Abi Rowahah) hal (28-29): (Apakah termasuk dari manhaj salaf
mengumpulkan kesalahan seseorang dan menulisnya dalam kitab untuk
dibaca oleh manusia!! jawabannya: Subhanalloh ucapan ini hanyalah
diucapkan oleh orang-orang sesat untuk melindungi kebid’ahan-
kebid’ahan, kitab-kitab dan manhaj mereka serta melindungi orang-orang
yang dikultuskan oleh mereka, na’am Alloh dan RosulNya ص telah
menyebutkan sekian banyak dari kesesatan-kesesatan mereka, (Alloh)
mengumpulkan perkataan-perkataan orang-orang Yahudi dan Nashoro dan
mengkritik mereka pada sekian banyak ayat-ayat Al-Qur’an demikian juga
ahlus sunnah sejak awal sejarah mereka sampai dewasa ini, mereka
menjarh Jahm bin Shofwan dan Bisyr Al Murisiy dan mengumpulkan bid’ah-
bid’ah dan kesesatan-kesesatan mereka…), dan sisi pendalilan dari
ucapan ini adalah bahwasanya perkara jarh itu tak henti-hentinya
terdapat dalam kitab dan sunnah serta ucapan para imam, di mana Alloh
Ta’ala mengumpulkan ucapan-ucapan orang Yahudi dan Nashoro disertai
dengan kritikannya, dan telah diketahui bersama bahwa dengan metode
seperti ini tercapailah tujuan jarh untuk mereka dan penjelasan hal
mereka, tidak mencukupkan hanya dengan isyarat yang difahami dan
penjelasan yang paling sedikit!! sebagaimana yang diinginkan oleh
hizbi Abdirrohman (Al Adeni) untuk ditempuh oleh Ahlus sunnah!!

Amatilah perkataan Alloh Ta’ala:
ولا تطع كل حلاف مهين هماز مشاء بنميم مناع للخير معتد أثيم عتل بعد ذلك
زنيم﴾ الآيات

“Dan janganlah engkau menaati/ikuti semua orang yang banyak bersumpah
lagi hina, suka mencela dan berjalan dengan  menghambur namimah
(ghibah/fitnah) serta enggan berlaku kebaikan, melampaui batas lagi
sering melakukan dosa, yang kasar selain dari itu dikenal sangat
jahat.” al ayaat.

Inilah sepuluh ibarat jarh yang ditujukan terhadap satu orang, di mana
telah datang (hadits) di Shohih Al-Bukhori nomor (4917) dari hadits
Ibnu Abbas ط bahwasanya ayat tersebut diturunkan untuk menerangkan
keadaan seorang laki-laki asal Quroisy yang dikenal sangat jahat dan
suka mencela, sebagaimana dikenalnya kambing yang digantungkan kalung
dilehernya.

Hadits ini juga memiliki jalan di sisi At-Thobary (pada tafsirnya)
(17/29) yang menjelaskannya dari ibni Abbas pada perkataan Alloh
Ta’ala: بعد ذلك زنيم
“selain dari itu sangat jahat.” beliau berkata: Ayat ini diturunkan
kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam:
ولا تطع كل حلاف مهين هماز مشاء بنميم

“Dan janganlah engkau menaati/ikuti semua orang yang banyak bersumpah
lagi hina, suka mencela dan berjalan dengan  mengumbar namimah (ghibah/
fitnah).”

Namun kami tidak mengetahui siapa orang yang dimaksud ayat ini hingga
diturunkan kepada Nabi ص: ﴿بعد ذلك زنيم﴾“selain dari itu dikenal
sangat jahat.” akhirnya kamipun tahu siapa yang dikenal dengan
kejahatannya yang sangat sebagaimana dikenalnya seekor kambing yang
dikalungi.” Dan isnadnya hasan dengan sebelumnya, lihat (Al Istiy’aab
fi bayanil Asbab) (3/453-454).

Dan begitu juga perkataan Alloh Ta’ala:
﴿واتلُ عليهم نبأ الذي آتيناه آياتنا فانسلخ منها فأتبعه الشيطان فكان من
الغاوين ولو شئنا لرفعناه بها ولكنه أخلد إلى الأرض واتبع هواه فمثله
كمثل الكلب إن تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث ساء مثل القوم الذين كذبوا
بآياتنا﴾

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami beri ayat-
ayat kami kemudian dia meninggalkannya, lalu dia diikuti oleh Syaithon
maka jadilah dia termasuk dari orang-orang yang sesat. dan kalau kami
menghendaki sungguh kami akan mengangkat (derajat)nya dengan ayat-ayat
tersebut, namun ia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa
nafsunya, maka jadilah perumpamaannya bagaikan anjing jika kamu
menguasainya ia menjulurkan lidahnya dan apabila kamu membiarkannya
dia (juga) menjulurkan lidahnya, demikian itulah permisalan orang-
orang yang mendustakan ayat-ayat kami.”

Di ayat ini terdapat kurang lebih tujuh ibarat jarh secara berurutan
dalam menjarh orang yang disifati juga, telah datang di sisi An Nasa’i
di (tafsirnya) (212,214), dan Ath Thobary (9/83) dan selain keduanya
dari hadits Abdillah bin Amr bin Ash م bahwasanya ayat ini diturunkan
untuk menerangkan keadaan Umayyah bin Abish Sholt Ats Tsaqofi, dan
dishohihkan oleh Ibnu Katsir pada (Tafsirnya).

Dan telah datang juga di sisi An Nasa’i (213) dan Ath Thobari (9/82)
dan selain keduanya dari hadits Ibnu Mas’ud ط, beliau berkata dia
adalah Bal’am bin Abarr seorang laki-laki asal Yaman, dan sanadnya
juga shohih dan lihat (Al Istiy’aab) (2/169).

dan seperti ini banyak dalam Al-Qur’an dan Sunnah dan juga pada
ungkapan para imam sejak masa salafunash sholeh sampai masa sekarang
ini, Berkata Imam Asad bin Musa rahimahullah dalam suratnya kepada
Asad bin Al-Furat ::
اعلم أي أخي إنما حملني على الكتابة إلي ما ذكره أهل بلدك من صالح ما
أعطاك الله من إنصافك على الناس وحسن حالك مما أظهرت من السنة وعيبك لأهل
البدعة وكثرة ذكرك لهم وطعنك عليهم..).

“Ketahuilah  hai saudaraku, sesungguhnya yang mendorong aku untuk
menulis surat buatmu adalah apa yang telah disebutkan oleh penduduk
negerimu tentang kebaikan yang telah Allah karuniakan untukmu berupa
sikap adilmu terhadap manusia dan baiknya keadaanmu yang senantiasa
mencerminkan sunnah dan selalu mengkritik (ahlul bid’ah), menyebut-
nyebut mereka dengan kejelekan dan mencela mereka..).

Dan ini adalah nash dari Imam ini bahwasanya mereka menganggap banyak
mencela ahlul bida’ termasuk keutamaan!! maka di mana kelompok
Abdirrohman dari manhaj salaf?!!

Adapun yang disebutkan oleh para imam pada kitab-kitab Jarh wat Ta’dil
apabila ditanya tentang hal sebagian perawi dari ahlul bida’ atau
selain mereka karena sesungguhnya mereka menyebutkan intisari keadaan
mereka yang diketahui di sisi mereka, lalu mereka menyebutkannya
dengan ibarat yang paling ringkas karena setiap posisi ada ucapan yang
sesuai dengan porsinya,  di samping itu engkau terkadang mendapati
dalam kitab-kitab Jarh wat Ta’dil bahwa mereka beruntun menyebutkan
lafadz-lafadz jarh, terutama terhadap ahlul bida’ sebagai bentuk
penghinaan dan peremehan terhadap mereka, dan akan datang pembahasan
mengenai hal itu dan faktor-faktor hizbi baru ini mencampur-baur pada
bab ini adalah terlalainya mereka dari target syar’i ini.

Adapun ucapan Al Bajiy -rohimahulloh- yang dinukil oleh orang yang
sangat majhul ini (Abdulloh bin Robi’ Syaikhnya Abu Umar) pada kitab
beliau (At Ta’dil wat Tajrih):(dan demikian pelaku bid’ah disebutkan
dengan bid’ahnya agar manusia tidak tertipu dengannya sebagai
penjagaan dan pembelaan terhadap syari’ah, dengan tidak menyebutkan
‘aib-’aib mereka yang lain karena itu termasuk dari bab ghibah, Sufyan
At Tsaury berkata tentang pelaku bid’ah: disebutkan dengan bid’ahnya
dan tidak perlu disebutkan selain itu).

Karena maksud dari kalam ini adalah untuk menjarh Ahlul bida’. jadi
dicukupkan dengan menyebutkan sebab apa dia dijarh dengannya, dengan
(menyebut) bid’ahnya dan yang dijarh adalah yang berkaitan dengan
keadilannya bukan yang berkaitan dengan aib dan cacat anggota
badannya. Adapun aib-aib selain itu maka tidak perlu digubris,
misalnya seorang yang menjarh mengatakan: Fulan Hizbi dan pendek, dan
selain itu dari aib-aib, karena hal itu tidak seyogyanya untuk disebut
–kecuali aib tersebut merupakan qorinah (faktor pendukung/penyerta)
penyimpangannya sebagaimana ucapan mereka Fulan buta mata dan hatinya-
dan si majhul ini tidak menyebutkan satu misalpun dari ucapan Syaikh -
hafidzohulloh- tentang hal ini sehingga kami bisa menerapkan ucapan Al
Bajiy terhadap ucapan Syaikh Yahya -hafidzohulloh-, dia menyebutkan
ucapan ini hanya untuk membuat kerancuan terhadap pembaca!! Adapun
jikalau aib-aib tersebut terkait dengan keadilan pembawa bid’ah itu
dan merupakan suatu hal yang menjatuhkan kredibilitasnya maka tidak
mengapa menyebutkannya seperti penjarh mengatakan: Fulan hizby pencuri
atau zalim atau semisalnya,

Imam Ibnu Rajab : berkata di (Al Farq bainan Nashihah wat Ta’yir):
“Adapun ahlul bida’ dan dholal (pelaku kesesatan), dan siapa yang
menyerupai ulama sedang ia bukan dari golongan mereka, maka boleh
menjelaskan kebodohan mereka, dan menampakkan aib-aib mereka sebagai
bentuk peringatan bagi siapa yang mengikuti mereka), dan nash ini
jelas untuk membuktikan apa yang telah lewat penyebutannya, bahkan
para imam (salaf) dahulu menganggap mencari-cari kejelekan ahlul
bid’ah merupakan keutamaan sebagaimana akan datang pada biografi
sebagian dari mereka.”

2- Para hizbiyyin ini pura-pura bodoh atau mereka benar-benar bodoh
dengan tujuan salaf dalam mencela dan bersikap keras terhadap ahlul
ahwa yang di antaranya untuk menghinakan dan memperingatkan manusia
agar tidak mengikuti (meneladani) mereka. dan untuk menghinakan dan
menjauhkan manusia darinya, penjarh butuh –dan bukan disetiap waktu-
menggunakan lafadz-lafadz (ungkapan) yang keras untuk mencapai tujuan
itu, Al ‘Allamah Robi’ bin Hadi Al Madkholi -hafidzohulloh- berkata:
(Akan tetapi kita membedakan antara ahlus sunnah dan ahlul bid’ah, dan
sebagaimana Ibnu Hajar dan selainnya berkata: Mubtadi’ (haknya/
layaknya) untuk dihinakan tanpa adanya penghormatan, dihinakan karena
niatnya jelek, mubtadi’ pengekor hawa nafsu sebagaimana Alloh Tabaroka
wa Ta’ala berkata:
﴿ هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ
هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي
قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ
الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا
اللَّهُ ﴾

“Dia-lah (Alloh) yang menurunkan kepada engkau kitab (Al Qur’an) di
antara (isi)nya ayat-ayat muhkamaat itulah ummul (pokok-pokok isi)
kitab dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat adapun orang-orang yang
di hati mereka kecondongan kepada kesesatan, mereka akan mengikuti
sebagian dari ayat-ayat yang mutasyabih untuk menimbulkan/mencari
fitnah dan mencari-cari ta’wilnya, padahal tiada yang mengetahui
ta’wilnya melainkan Alloh.” [QS. Ali 'Imron: 7]

Rosululloh ص berkata:
(( فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله
فاحذروهم ))

“Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti/mencari-cari
sebagian dari ayat-ayat yang mutasyabih maka merekalah yang Alloh
sebutkan dan hendaknya engkau berhati-hati dari mereka!”…mereka layak
untuk diusir dan dihinakan …).(Al Ajwibatis Salafiyyah ‘ala Asilati
Abi Rowahah Al Manhajiyyah) hal.(17-18).

Seandainya engkau mencermati wahai saudaraku pembaca -waffaqokalloh-
biografi-biografi para imam (salaf, pent) niscaya engkau akan dapati
sesuatu yang dapat menentramkan hatimu dari perihal itu mengenai jalan
dan metode meraka dalam menyikapi ahlul bida’, di antaranya adalah
biografi Imam Ahmad bin ‘Aunilloh Abi Ja’far Al Andalusi (378H) dari
(Tarikh ibni ‘Asakir)(5/118)disebutkan di situ:
(كان أبو جعفر أحمد بن عون الله محتسبًا على أهل البدع غليظًا عليهم
مذلاً لهم طالبًا لمساوئهم مسارعًا في مضارهم شديد الوطئة عليهم مشردًا
لهم إذا تمكن منهم غير مبقٍ عليهم وكان كل من كان منهم خافيًا منه على
نفسه متوقيًا لا يداهن أحدًا منهم على حال ولا يسالمهم وإن عثر على منكر
وشهد عليه عنده بانحراف عن السنة نابذه وفضحه وأعلن بذكره والبراءة منه
وعيّره بذكر السوء في المحافل وأغرى به حتى يهلكه أو ينزع عن قبيح مذهبه
وسوء معتقده ولم يزل دؤوبًا على هذا جاهدًا فيه ابتغاء وجه الله إلى أن
لقي الله عز وجل).

(Dahulu Abu Ja’far Ahmad bin ‘Aunilloh adalah orang yang senantiasa
mengharapkan pahala dengan bersikap keras terhadap ahlul bida’ dan
menghinakan mereka, mencari-cari kejelekan-kejelekan mereka, bersegera
untuk memudharatkan mereka, sangat keras dalam menekan (memerangi)
mereka, jika ia memiliki kemampuan untuk mengusir mereka ia tidak akan
segan-segan untuk mengusir mereka, sehingga dahulu siapa saja yang
termasuk dari mereka (ahlul bida’) menyembunyikan dan menyelamatkan
dirinya (karena takut –pent) darinya, ia tidak pernah bersikap lunak
kepada siapapun di antara mereka, tidak mau berdamai dengan mereka,
dan apabila ia mendapati suatu kemungkaran dan menyaksikan (pada
seseorang -pent) padanya penyimpangan dari sunnah ia menetangnya dan
membongkar aibnya dan terang-terangan menyebut namanya, berlepas diri
darinya, mencercanya dengan sebutan kejelekan di halayak ramai dan
memusuhinya sampai ia celaka/meninggal atau meninggalkan pendapatnya
yang buruk serta aqidahnya yang jelek, dan terus hal ini menjadi
kebiasaan beliau dengan gigih beliau melakukannya hanya mengharap
wajah Alloh sampai bertemu dengan-Nya ‘Azza wa Jalla).

Maka lihatlah semoga Alloh membimbing engkau!! dan bandingkanlah
dengan apa yang dituduhkan oleh ‘hizbi baru’ ini kepada Syaikh Yahya
dengan syiddah (keras/golongan garis keras, pent) padahal keberadaan
sikap keras beliau terhadap ahlul bida’ itu belum sampai ke tingkat
sikap keras para salaf, baru segitu saja engkau mendapati mereka murka
dengan jalan beliau!! hal ini kusebutkan supaya engkau mengetahui
bahwa mereka akan lebih tidak ridho lagi dengan manhaj salaf!!
Wallohul musta’an.

Dan di antara penyelisihan yang terdapat pada ucapan mereka adalah:

3-    menuduh Syaikh Yahya -hafidzohulloh- bahwasanya tujuan beliau
dengan sikap keras tersebut adalah untuk memuaskan diri ketika menjarh
ahlul bida’!! sebagaimana pada ucapan mereka hal. 18: (Dan tidak boleh
dalam menjarh sampai ke tingkat mengolok-ngolok dan untuk memuaskan
diri)!!, apa yang telah lewat penyebutannya cukup untuk mematahkan
ucapan ini, bahwasanya tidak seorangpun dari ahlus sunnah menilai
miring siapa saja di antara mereka yang memperlakukan ahlul bida’
dengan keras, bahkan tidaklah mengucapkan ucapan ini melainkan ahlul
ahwa, karena ahlus sunnah sebagaimana ucapan yang dikatakan oleh
Syaikhul Islam: (mereka adalah) orang yang paling mengetahui al-haq
dan dan paling merahmati makhluk), dan termasuk rahmat terhadap ahlul
bida’ adalah dengan bersikap keras terhadap mereka –jika kondisi
menuntut untuk itu- supaya manusia berhati-hati dari mereka, agar dosa-
dosa mereka tidak makin menumpuk karena manusia yang mengikuti
(bid’ah) mereka juga barangkali mereka mau ruju’ dari kebid’ahannya
(disebabkan sikap keras itu, pent), bahkan juga termasuk rahmat
terhadap orang yang terjerumus dalam kesalahan dari ahlus sunnah
adalah dijelaskan kesalahannya agar kesalahannya tidak diikuti oleh
orang lain, Abu Sholeh Al Farro’ berkata:
(حكيت ليوسف بن أسباط عن وكيع شيئًا من أمر الفتن فقال: ذاك يشبه أستاذه
-يعني الحسن بن حي- فقلت ليوسف: ما تخاف أن تكون هذه غيبة؟ فقال لم يا
أحمق!! أنا خير لهؤلاء من آباءهم وأمهاتهم أنا أنهى الناس أن يعملوا بما
أحدثوا فتتبعهم أوزارهم، ومن أطراهم كان أضر عليهم). (السير) (7/364).

(Aku mengisahkan sesuatu kepada Yusuf bin Asbaath tentang Waki’ dari
prihal fitnah maka ia berkata: itu menyerupai ustadznya –dia
memaksudkan Hasan bin hay- kukatakan kepada Yusuf: Apakah engkau tidak
takut bahwa ucapanmu ini adalah ghibah? ia menjawab tidak ya ahmaq
(wahai dungu)!! Saya (pada hakikatnya itu) lebih baik bagi mereka
daripada ayah-ayah dan ibu-ibu mereka, (karena) aku mencegah manusia
dari mengamalkan apa yang mereka buat-buat (muhdats) yang akan
mengakibatkan dosa-dosa mereka (yang mengikuti krsalahan tersebut)
kembali kepada mereka (yang diikuti), karena yang (berlebihan dalam)
memuji mereka itulah yang akan membahayakan mereka). (As-Siyar)
(7/364).

Dan inilah yang sering kami dengar dari Syaikh kami -hafidzohulloh-
mengucapkannya:
(نحن بتحذيرنا من أهل البدع إنما نريد لهم بذلك الخير فكم من الأوزار
التي يجنونها باتباع الناس لهم، وبالتحذير منهم نقلل عليهم من ذلك
الكثير). أو كما كان يقول حفظه الله.

(Kami dengan mentahdzir ahlul bida’ hanyalah menginginkan dengannya
kebaikan bagi mereka, betapa banyak dosa-dosa yang ia petik akibat
manusia mengikuti mereka, sementara dengan kami mentahdzir mereka akan
mengurangi banyak dari dosa-dosa yang akan mereka pikul). atau
sebagaimana yang beliau -hafidzohulloh- katakan.

Adapun berdasarkan tolak ukur kelompok Abdurrohman berarti para salaf
ن adalah orang yang suka memuaskan dirinya ketika menjarh ahlul
bida’!! Karena mereka (para salaf) dahulunya bersikap keras terhadap
ahlul ahwa dengan memperbanyak menjarh dan bersikap keras terhadap
mereka!!
﴿فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ
الَّتِي فِي الصُّدُورِ﴾  [الحج/46]

“Karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi yang buta adalah hati
yang ada di dalam dada.”

Padahal majhul ini pada hal (18) telah meruntuhkan sendiri kebanyakan
sisi intiqod (kritikan) mereka terhadap Syaikh Yahya pada masalah ini
dengan ucapannya: (dan Syaikh Yahya –Ashlahahullôh- terkadang tidak
komitmen dengan kaidah ilmiyyah ini!!..) di mana mereka terang-
terangan mengakui bahwa hal itu yakni berlarut-larut dalam menjarh
ahlul bida’ hanya timbul sedikit dari Asy-Syaikh dan hal itu
menyelisihi kaidah di sisinya dengan ucapannya: (terkadang)[3]!!, Maka
mereka sendiri menerangkan betulnya manhaj (metode) Syaikh dalam hal
itu walhamdulillah.

Dan sekarang kita akan menyebutkan untuk anda wahai para pembaca
beberapa contoh dari jarh Imam Al-Wadi’i -rohimahulloh- terhadap ahlul
bathil dari kitab (Al-Majruhun ‘Inda Al Imam Al-Wadi’i), dan
bandingkanlah dengannya apa yang dinukilkan oleh hizbil maftun itu
dari jarh Asy-Syaikh (Yahya) dan akan jelas bagimu dalam penjabaran
ini siapa sebenarnya yang mengikuti manhaj para Imam (salaf) dan siapa
yang mumayyi’ (tidak tegas dalam memegang) manhaj salaf ini:

-Beliau : berkata hal (47) ketika menjarh Abdillah bin Mahfudz Al-
Haddad mufti Hadhromaut:
(دجال الضال الصوفي المبتدع الزائغ المنحرف).

(Dajjal Ad-Dhool (yang sesat), As-Shufy, Al-Mubtadi’, Az-Za’igh
(condong kepada kebatilan), Al Munharif (menyimpang).

-Dan beliau berkata hal.(58-59) ketika menjarh Abdul Karim Zaidan:
(فويسق, حالق اللحية, لابس البنطلون والكرفته, لا تميز  بينه وبين
النصراني، وقد أنكر علي هذا القول ولكن سأقوله رغم أنفك أيها المنكر ولا
أقصد أنه نصراني ولكن أقصد أن شكله شكل نصراني)

(Fuwaisiq (fasik kelas rendah), Haliqul lihyah (memotong jenggotnya),
memakai bantholun (celana pantalon) dan dasi, kamu tak dapat
membedakan antara dia dengan nashroni, dan ada yang mengingkari
ucapanku ini, akan tetapi aku katakan rogima anfuk (celaka/merugi/
walaupun kamu benci) wahai para pengingkar aku tidak memaksudkan bahwa
dia adalah nashoro akan tetapi aku maksudkan bahwa kelakuan seperti
ini adalah model nashroni), dan beliau menegaskan:
(هو قمامة أتي به إلى اليمن).

(dia adalah sampah yang dibuang ke Yaman).

-Dan beliau berkata hal. (163) ketika menjarh Muhammad bin Ahmad Al-
Hasan:
(كان ظالمًا غشومًا سفاحًا بطاشًا).

(dia adalah pelaku kezaliman, penipu, penumpah darah dan lalim).

-Dan beliau berkata hal (68):
(ضال, ملحد, ملبس, لا يعتمد عليه, انحرف عن علم…).

(Sesat, menyimpang, pembuat kerancuan, tidak bisa dijadikan sandaran,
menyimpang dari ilmu…)

-Dan beliau berkata hal. (167) ketika menjarh As-Sayyid Yusuf Al-
A’jamy:
(وليس من السيادة في شيء بل رافضي زائغ نخشى أن يكون يهوديًا)

(Dan bukan dari golongan sayyid (keturunan Nabiص ) sama sekali, bahkan
dia adalah Rofidhi (pengikut golongan Rofidhoh) Zaigh (terpelanting
dari kebenaran) kami khawatir dia akan menjadi seorang Yahudi), dan
beliau berkata:
(هو ذلك الرافضي بل الشيطان الرجيم).

(Dia itu Rofidhiy bahkan dia Syaithon yang terkutuk).

-Dan beliau berkata hal. (162) ketika menjarh Husain bin Muhammad Al-
Mahdi:
(دجال من الدجاجلة).

(Dajjal dari Dajjal-Dajjal yang ada)

-Dan beliau -rohimahulloh- juga berkata ketika menjarh Abdul Husain Al
Muwsiy hal. (165):
(إمام من أئمة الضلال قطع الله دابره).

(Pemimpin dari pemimpin-pemimpin kesesatan, semoga Alloh musnahkan
tipu dayanya).

Dan ungkapan-ungkapan (jarh) Al-Imam Al-Wadi’i : terhadap Ahlul bathil
yang sejenis ini banyak sekali.

Maka kami katakan kepada Abdurrohman dan kelompoknya: (Maka kelompok
manakah dari kedua kelompok yang telah merubah dan berubah dari jalan
Al-Imam Al-Wadi’i –rohmatullohi ‘alaih-??!!.

Kemudian kami sebutkan juga untuk anda wahai para pembaca sebagian
jarh salafush sholeh terhadap ahlul bida’ dan selain mereka, yang
tertera pada kitab-kitab mereka –rohimahumulloh Ta’ala-:
أكذب من روثة حمار الدجال، لو كان في مطبخ امتلئ ذبابًا، كأنه جرو كلب ،
مثل الحمار،

Dia lebih pendusta daripada tahi keledai Dajjal, seandainya dia di
dapur niscaya akan dikerumuni dengan lalat, dia seperti anak anjing,
seperti keledai,
أظن أن الشيطان تبدى على صورته،كان صاحب حمام، طبل، طفل، إذا مررت به
فارجمه أو اصفعه، فلان يستأهل أن يحفر له بئر فيلقى فيه، ما كان عندنا
إلا عرة، أكذب من حماري،

Aku mengira Syaithon menjelma menjadi dia, pemelihara burung merpati
(suka/disibukkan dengan bermain burung), gendang, anak kecil, kalau
kamu melewatinya maka lempar atau tamparlah dia, Fulan pantasnya untuk
digalikan sumur lalu dilempar ke dalamnya, dia di sisi kami tidak lain
kecuali tahi binatang (celenthong), dia lebih pendusta daripada
keledaiku,
شيطان يقص، أخزى الله فلانًا ومن يسأل عنه، بالت على حديثه السنور، مغفل
لا يحسن قبيله من دبيره، كان يلعب به الصبيان، حيوان متهم، لا يساوي
دستجة بقل، بعرة أحب إلي منه…

Syaithon yang bercerita, semoga Alloh menghinakan Fulan dan siapa yang
menanyakannya, kucing telah mengencingi haditsnya, orang linglung
tidak bisa membedakan depannya dari belakangnya, anak-anak kecil dulu
mempermainkannya, hewan yang tertuduh, dia tidak senilai dengan
bungkusan sayur, kotoran hewan lebih aku sukai daripada dia…

Dan ungkapan-ungkapan para imam pada bab ini sangatlah banyak!![4]
Maka bandingkanlah ungkapan-ungkapan para salaf dengan apa yang
dinukilkan oleh kelompok Abdurrohman dari ungkapan-ungkapan Asy-Syaikh
Yahya dalam menjarh, niscaya akan jelas bagimu kelompok manakah yang
telah merubah dan berubah dari metode salafush sholih??!!! selesai

* Asy-Syaikh Muqbil : berkata sebagaimana di “‘Ilamul Ajyal…” hal
355-356:
(( ألحّ عليَّ في الرد على القرضاوي مراراً حتى سمعت ما لا يجوز أن يُسكت
عنه, وسميت الرد “إسكات الكلب العاوي يوسف بن عبد الله القرضاوي” سيقول
بعض الحزبيين: عالم من العلماء, وسميت كلباً عاوياً. أما هذه فكبيرة يا
أبا عبد الرحمن عالم من العلماء ومفتي القطر؛ اسمعوا إلى قول الله عز
وجل: ﴿ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا
فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
* وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى
الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ
تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ
الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ
لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴾ [الأعراف : 175 ، 176] و ﴿ مَثَلُ
الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ
الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ
كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ ﴾ [الجمعة : 5] )) [البركان 109][5]

“Aku berkali-kali diminta untuk membantah Al-Qordhowi, sampai akhirnya
aku mendengar ucapannya yang tidak boleh didiamkan lagi, aku menamai
bantahan itu “Iskatul Kalbil ‘Awi Yusuf bin ‘Abdillah Al-
Qordhowi” (artinya: “Mendiamkan Anjing yang Menggonggong Yusuf bin
‘Abdillah Al-Qordhowi”), sebagian hizbiyyun akan mengatakan:”Seorang
‘Alim dari Ulama, kamu menamainya Anjing yang menggonggong?!, adapun
ini wahai Aba ‘Abdirrohman (kunyah Asy-Syaikh Muqbil :) , adalah
kabiroh (dosa besar), seorang ‘Alim dari Ulama dan dia juga seorang
mufti negara”, (beliau : berkata): Dengarkanlah perkataan Alloh
subhanahu wa ta’ala
﴿ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ
مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ * وَلَوْ
شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ
وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ
عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ
الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ
يَتَفَكَّرُونَ ﴾ [الأعراف : 175 ، 176]

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami beri ayat-
ayat kami kemudian dia meninggalkannya, lalu dia diikuti oleh Syaithon
maka jadilah dia termasuk dari orang-orang yang sesat. dan kalau kami
menghendaki sungguh kami akan mengangkat (derajat)nya dengan ayat-ayat
tersebut, namun ia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa
nafsunya, maka jadilah perumpamaannya bagaikan anjing jika kamu
menguasainya ia menjulurkan lidahnya dan apabila kamu membiarkannya
dia (juga) menjulurkan lidahnya, demikian itulah permisalan orang-
orang yang mendustakan ayat-ayat kami. maka ceritakanlah kisah-kisah
itu agar mereka berfikir.”

Dan (perkataanNya:)
﴿ مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا
كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ
الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ ﴾ [الجمعة : 5]

“Perumpamaan orang-orang yang dibebankan untuk mengamalkan At-Taurat
kemudian mereka tidak menunaikannya adalah bagaikan keledai yang
membawa kitab-kitab tebal, amat buruk perumpamaan kaum yang
mendustakan ayat-ayat Alloh dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada
kaum yang zalim.” Selesai

*Asy-Syaikh Robi’ -hafidzohulloh- berkata pada muqoddimah beliau
terhadap kitab “Ijma’ul Ulama ‘alal Hajr wat ‘Tahdzir min Ahlil Ahwa”
karya Kholid Adz-Dazufairy:
الفصل الثاني: الشدة على أهل البدعة منقبة وليست مذمة، ذكر فيه  من قيل
فيه من السلف كان شديدًا في السنة أو شديدًا على أهل البدع والأهواء وذلك
ردًا على من يأمر بموادعه أهل البدع أو من وصم السلفيين بالشدة عليهم
وذكر فيه أكثر من أربعين أنموذجًا على ذلك ، هذا مع العلم أن أهل البدع
يطلقون وصف الشدة على من ليس كذلك بقصد التنفير منه ومن الحق الذي يدعون
إليه ويذب عنه. اهـ

“Pasal kedua: (Sikap) keras terhadap Ahlul Ahwa adalah keutamaan dan
bukanlah hal yang tercela, dia menyebutkan padanya siapa yang
dikatakan dengan “keras/kuat” dalam (memegang) sunnah atau tegas
terhadap ahlul bida’ dan ahwa dan demikian itu sebagai bantahan
terhadap siapa yang menyeru untuk mengurangi sikap keras terhadap
ahlul bida’ atau yang menghukumi salafiyyin dengan “syiddah” terlalu
keras terhadap mereka lalu beliau menyebutkan padanya lebih dari empat
puluh contoh tentang itu, disamping itu ahlul bida’ itu melontarkan
ucapan ini terhadap siapa yang tidak demikian halnya dengan maksud
melarikan manusia darinya, dan dari al-haq yang ia menyeru kepadanya
dan membelanya. selesai.[6]

Beliau juga mengatakan ketika menanggapi sindiran Abul Hasan Al-Mishry
berkata:
وقد شنع السلف على أهل البدع وكتبهم مشحونة بذلك على الأفراد والجماعات
فقد لا يدفع شرّهم إلا بهذا السلاح، وقد أمر رسول الله صلى الله عليه
وآله وسلم حسَّاناً بهجاء أعداء الله وقال: (إنه أشد عليهم من وقع
السهام)، ولست أمنع من استعمال اللين والحكمة، كما لا أمنع من استعمال
الشدة مطلقاً ولكل مقام مقال، فالشدة على أهل الباطل قد تصل إلى الجلد
وقد تصل إلى القتل وقد تكون تعزيراً بالكلام، ولشيخ الإسلام في هذا
التفصيل كلام جيد. (“انتقاد منهجي”/”مجموع الردود”/ ص310-311)

“Dan para Salaf telah mencerca keras ahlul bida’, dan kitab-kitab
mereka penuh dengan cercaan keras terhadap individu-individu dan
jamaah-jamaah. Terkadang tak bisa kejahatan ahlul bida’ ditolak
kecuali dengan senjata ini. Dan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah memerintahkan Hassan untuk menyerang musuh-musuh Alloh
dengan syairnya, dan beliau berkata: “Sesungguhnya syair tersebut
lebih keras bagi mereka daripada tusukan panah-panah.” Dan bukannya
aku melarang orang untuk bersikap lembut dan hikmah, sebagaimana aku
tidak melarang untuk menggunakan kekerasan secara mutlak. Dan pada
setiap tempat ada perkataan yang sesuai dengannya. Maka kekerasan
kepada ahlil batil terkadang bisa sampai pada cambukan, dan terkadang
bisa mencapai tingkatan pembunuhan. Dan terkadang hukuman itu bisa
dengan ucapan. Dan Syaikhul Islam dalam bab ini ada perincian yang
bagus.” (“Intiqod Manhajiy” /Majmu’ur Rudud/hal. 310-311) –dinukil
dari terjemah Al-Akh Abi Fairuz -hafidzohulloh-
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

[1] Lihat juga “Mukhtashor Bayan” hal. 73 ,atau alih bahasa “bongkar
tuntas” hal.176.

[2] Lihat “Ijma’ul Ulama ‘alal Hajr wat Tahdzir min Ahlil Ahwa” hal.
55

[3] Padahal kebanyakan contoh-contoh yang ia datangkan untuk
membuktikan bentuk keterlaluan Asy-Syaikh dalam menjarh Ahlul Bathil,
mereka tidak memiliki dalil sedikitpun padanya!! karena seringnya
beliau mencukupkan diri dengan menyebut satu atau dua sebab (saja)
dalam menjarh!! Hanya saja kebathilan itu membutakan dan menulikan!!.
[Al-Akh Abu Hatim Al-Jazairy -hafidzohulloh-].

[6] Ana nukil dari malzamah Al-Akh Al-Jahdari -hafidzohulloh-.

http://isnad.net/bersikap-keras-terhadap-ahlul-bidah-bukanlah-perselisihan-wahai-salafiyyun

-- 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Untuk mengirim tulisan baru gunakan: 
[email protected]
Arsiip Milis:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Audio/Artikel Belajar Manhaj dan Aqidah Yang Shahih :
www.ISNAD.net
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kirim email ke