بسم الله الرحمن الرحيم

Telah dikabarkan kepada kami pada hari Selasa, 12 Sya’ban 1432H dari
Abu Hazim ( ketika ada sebagian ikhwah menanyakan perihal jalur
pengambilan ilmu tajwid Al-Qur’an Abu Hazim –semoga Alloh menjaganya
dan memberikan kebaikan-) Berkata:

Bismillahirrohmanirrohiim, Alhamdulillah segala puji bagi Alloh Robb
Semesta Alam, Sholawat dan Salam kepada Junjungan kita Nabi Muhammad, -
shallallahu 'alayhi wasallam-  Keluarga dan Shohabat-nya.

Karena banyaknya ikhwah yang meminta kepadaku untuk menyebutkan
Silsilah Guru-guru Al-Qur’an yang aku belajar kepada mereka, walaupun
sebenarnya aku tidak ingin menyebutkan, tetapi sesuai dengan Firman
Alloh Subhanahbu wa ta’ala “Wa amma bini’mati robbika fahaddits” (Dan
terhadap Nikmat Robbmu, maka hendaklah kamu menyebut-menyebutnya) maka
aku sebutkan berikut ini:

Alhamdulillah sejak kecil aku sudah belajar Al-Qur’an karena Ayahku
yang menjadi Imam Masjid, waktu itu banyak yang datang ke masjid, aku
belajar bersama dengan mereka, disamping itu aku senan mendengar
lantunan al-Qur’an di Radio. Dengan karunia Alloh aku bisa meniru lagu-
lagu mereka, sehingga tatkala ada lomba MTQ ditingkat Kecamatan maka
aku dikirim perwakilan SDN Sidorejo 1 untuk ikut lomba itu, waktu itu
aku  kelas 5. Alhamdulillah aku menjadi juara 1 tingkat kecamatan.
Setelah menyelesaikan SD, aku masuk ke SMPN 1 Plaosan – Magetan,
diwaktu itu ada lomba MTQ tingkat SMP, Alhamdulillah aku menjadi juara
1. Selanjutnya aku melanjutkan pendidikan ke Madrosah ‘Aliyah
Muro’atuddin, Magetan. Disana aku pertama kali diperkenalkan belajar
lagu-lagu Al-Qur’an dan belajar di  Masjid Agung Magetan. Guruku
bernama Muhammad Marqiddin asli Ngawi, Alhamdulillah dalam tempo
sebentar aku bisa mengikuti lagu-lagu dengan baik, sehingga tatkala
ada lomba MTQ tingkat kabupaten, akupun mengikutinya. Dan dengan idzin
Alloh aku juara 1, kemudian aku dikirim ke tingkat propinsi dan sudah
dimaklumi bahwa tingkat propinsi agak berat, karena Maqro’ panitia
yang menentukan dan harus bisa membuat lagu-lagu sendiri, dan akupun
yang baru setahun belajar lagu-lagu sehingga aku tidak mendapatkan
juara, hal tersebut tidak membuatkan patah semangat untuk terus
belajar, sampai 3 tahun aku belajar kepadanya. Waktu itu saya sering
diminta untuk membacakan Al-Qur’an dipertemuan-pertemuan besar dan
acara-acara resepsi pernikahan. Aku juga sudah mulai mengajar seni
baca al-Qur’an di Kampungku. Adik-adikku juga belajar, sehingga
tatkala MTQ tingkat Kabupaten, kedua adikku yakni Abu Arqom dan Ummu
‘Affan juara 1 untuk tingkat putra-putri. Kemudian aku belajar kepada
Qori Nasional bernama KH. Syahrur Munir.  Waktu itu mempelajari surat
Al-Ahzab.

Kemudian aku melanjutkan pendidikan ke IAIN Ponorogo, disamping
belajar di IAIN, aku belajar di Pondok Pesantren Manba’ul Hikmah,
dibawah asuhan KH. Maghfur Hasbulloh, di pondok pesantren itu aku
ditugaskan menjadi Mu’adzdzin di Masjid Jami. Setiap shubuh aku pergi
belajar Al-Qur’an kepada KH. Husain ‘Ali asli demak pengasuh Pondok
Pesantren Tahfidzul Qur’an, aku belajar kepadanya dari Surah Al-
Baqoroh sampai Al-Isro’, pagi sampai siang kuliah di IAIN, sore hari
aku mengajar di Madrosah Manba’ul ‘Ulum, Singosaren Ponorogo. Waktu-
waktuku sangat padat disamping banyak sekali undangan untuk membaca Al-
Qur’an dipertemuan. Tiap malam ahad aku belajar seni baca kepada
guruku Nafi’ asal kediri, ketika ada delegasi perwakilan antar IAIN se
Jawa Timur aku dikirim ke surabaya untuk mengikuti pelatihan seni baca
Al-Qur’an dibawah asuhan Qori’ Nasional KH.Thoha Hasan. Alhamdulillah
aku juga sering mengikuti pelatihan dibawah asuhan Qori’ Internasional
KH. Abdulloh Abdul Hamid, sambil tetap belajar kepada guruku Nafi’.
Alhamdulillah walapun dengan kesibukan yang ada aku termasuk 7 orang
yang lulus pada angkatan pertama kali di IAIN Ponorogo, diakhir-akhir
masa belajar di IAIN, mulailah aku mengenal dakwah Ahlus Sunnah, aku
sering mengikuti majelis-majelis ilmu Ja’far ‘Umar Tholib di
jogjakarta , sempat pula mengikuti majelis Syaikh Yahya Silmy.

Selesai kuliah di IAIN aku kembali belajar kepada guruku Asmuji,Lc di
Takeran, Magetan selama 2 tahun,dan saat itu aku masih aktif mengikuti
MTQ sehingga aku kembali ikut perlombaan  MTQ di Kabupaten Magetan dan
menjadi juara 1 golongan dewasa. Lalu ada pengumuman MTQ RRI-TV
tingkat Propinsi Jawa Timur, berangkatlah aku ke sana, sudah ikut
perlombaan disana aku sudah pesimis dalam benakku tidak mungkin akan
menang dalam MTQ tingkat propinsi, karena sainganku adalah para qori’
ternama, sehingga aku pulang ke guruku Asmuji, ternyata namaku sering
diumumkan di televisi saat itu untuk mengikuti semi final, namun aku
tidak mengetahui, hingga hari terakhir pengumuman ada seseorang yang
memberitahu kepadaku tetang pengumuman itu, waktu sudah tidak mungkin
bisa dikejar hanya tersisa 4 jam, sementara jarak Magetan ke Surabaya
sekita 4,5 jam. Tapi mungkin ada hikmahnya, karena ada panggilan
belajar ke Darul Hadits Dammaj- Yaman, maka pada tahun 1997 aku
berangkat ke sana, saat itu ada 7 orang yang berangkat, maka aku tidak
lagi bergelut dengan seni baca Al-Qur’an.

Di Darul Hadits Dammaj Yaman, aku belajar kepada al-‘Allamah Imam
Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy dan al-Muhaddits Abu ‘Abdirrohman Yahya bin
‘Aly al-Hajuri, disamping juga belajar mengambil ilmu dengan puluhan
guru untuk belajar Aqidah, Al-Qur’an, Al-Hadits, Nahwu, Mushtolah,
Fiqh dan disamping belajar juga menghafal. Adapun ilmu bacaan Al-
Qur’an aku belajar khusus kepada Abu Hafsh al-Maghriby. Waktu itu
banyak teman-teman dari Indonesia yang juga ikut belajar, namun
tatkala praktek membaca mulai Al-Baqoroh sampai An-Naas hanya tersisa
8 orang, dari indonesia saya sendiri. 7 lainnya ahlul yaman termasuk
adik Syaikh Ahmad al-Wushoby bernama Kholid sekarang Imam di Masjidil
Khoir Markiz Syakh Muhammad ash-Shoumaly di Shon’a-Yaman. Waktu itu
sebenarnya guruku Abu Hafsh al-Maghriby hendak memberikan ijasah sanad
sampai Nabi –shallallahu ‘alayhi wa sallam- namun Qoddarulloh beliau
ditangkap polisi Yaman dan di pulangkan kenegaranya. Selanjutnya aku
belajar qiro’ah kepada Abu Hafsh Ibrohim al-Faqih ash-Shon’any,
belajar qiro’ah Syu’bah, Qolun dan Warsy. Lalu aku belajar qiro’ah
lagi ke Sulaiman at-Tuhyaty melalui 14 cabang qiro’ah, di Darul Hadits
Dammaj aku diberi amanat untuk menjadi Mu’adzzin sekitar 5 tahun,
kadang menjadi Imam Sholat rowatib, belajar disana hampir 10 tahun.
Alhamdullillah. –selesai-

-- 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Untuk mengirim tulisan baru gunakan: 
[email protected]
Arsiip Milis:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Audio/Artikel Belajar Manhaj dan Aqidah Yang Shahih :
www.ISNAD.net
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kirim email ke