بسم الله الرحمن الرحيم

Ditulis: Abu Abdil Malik Abdul A’la -semoga Alloh mengampuninya-

Ketahuilah –semoga Alloh memberikan manfaat dari ilmu yang kita
pelajari- bahwa kemuliaan suatu ilmu pengetahuan adalah bergantung
kepada mulianya perkara yang diketahui. Jika yang dipelajari adalah
sesuatu yang mulia maka seluruh penjabaran dan pembahasan tentang
perkara tersebut akan menjadi ilmiah dan sangat berbobot.

Permasalahan Tauhid adalah pelajaran yang paling mulia dan paling
berharga bagi seluruh umat manusia. Mengingat pelajaran tersebut
berkaitan dengan keagungan dan kebesaran Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Alloh berfirman:

هَـذَا بَلاَغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِ وَلِيَعْلَمُواْ أَنَّمَا
هُوَ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ

(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan
supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka
mengetahui bahwasanya Dia adalah Sesembahan yang Maha Esa dan agar
orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrohim;52)

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ
وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ
وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan yang
haq) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa)
orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui
tempat kamu beru saha dan tempat kamu tinggal. (Muhammad;19)Berkata
Syaikhul Islam (Fatawa 9/142):

ولهذا كانت الأقيسة العقلية البرهانية المذكورة في القرآن من هذا الباب،
كما يذكره في دلائل ربوبيته وإلهيته ووحدانيته وعلمه وقدرته وإمكان
المعاد، وغير ذلك من المطالب العالية السنية، والمعالم الإلهية التي هي
أشرف العلوم وأعظم ما تكمل به النفوس من المعارف، وإن كان كمالها لابد
فيه من كمال علمها وقصدها جميعًا، فلابد من عبادة الله وحده، المتضمنة
لمعرفته ومحبته والذل له‏.‏

Dan dalam Fatawa 17/132:

ولهذا قال الشيخ أبو مدين  رحمه اللّه‏:‏ أشرف العلوم علم التوحيد، وأنفع
العلم أحكام العبيد‏.

‏Ukuran ilmiah suatu pembahasan adalah dikembalikan kepada al-haq atau
al-bathil. Karena pengetahuan tentang alhaq dan pengamalannya itu
adalah intisari dan tujuan utama dari seluruh ilmu pengetahuan dalam
agama ini.

Alloh berfirman:

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ
فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ
الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al
Quran Itulah yang haq dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk
hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk
bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (Al Hajj;54)

وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن
رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu
yang diturunkan kepadamu dari Robbmu Itulah yang benar dan menunjuki
(manusia) kepada jalan Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
(Saba’;6)

لْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Robbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
termasuk orang-orang yang ragu. (Al Baqoroh;147)

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ
هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu
dari Robbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-
orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Ar Ro’d;19)

أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ هَذَا
ذِكْرُ مَن مَّعِيَ وَذِكْرُ مَن قَبْلِي بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا
يَعْلَمُونَ الْحَقَّ فَهُم مُّعْرِضُونَ

Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah:
“Tunjukkanlah hujjah kalian! (Al Quran) ini adalah peringatan bagi
orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang
sebelumku”. Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang haq,
karena itu mereka berpaling. (Al Anbiya’; 24)

وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن
رَّبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ

Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata:
“Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu
kebenaran dari Robb Kami, Sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-
orang yang membenarkan(nya). (Al Qoshosh;53)

وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن
رَّبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ

Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Ad Dukhon;39)

Ukuran ilmiah suatu pembahasan dikembalikan kepada dalil Al Kitab dan
As Sunnah. Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdy:

بسم الله الرحمن الرحيم
اعلم رحمك الله أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل: الأولى: العلم. وهو معرفة
الله، ومعرفة نبيه، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة.

Berkata Syaikhul Islam 8/366:

ولهذا هؤلاء يحبون بلا علم، ويبغضون بلا علم، والعلم ما جاء به الرسول،
كما قال‏:‏
‏{فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنْ الْعِلْمِ‏}
‏ ‏[‏آل عمران‏:‏ 61‏]‏، وهوالشرع المنزل؛

Pembahasan yang ilmiah bukan hanya dilihat dari gaya serta tata cara
pembawaan melainkan dilihat dari benar atau tidaknya, kejujuran
ataukah kedustaan yang menjadi latar belakangnya. Karena sesungguhnya
betapa banyak kebathilan dimuka bumi ini yang dihiasi dengan manis dan
indahnya perkataan.

في زخرف القول تزيين لباطله      والحق قد يعتريه سوء تعبير

Kalimat kasar dan kekerasan jika benar dan diletakkan pada tempatnya
maka hal itu adalah merupakan perkara yang sangat ilmiah. Tidakkah
kita melihat bahwa didalam Al Qur’an banyak terdapat hal yang demikian
itu? Alloh berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَـكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى
الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ
عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ
الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ
يَتَفَكَّرُونَ

Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya
dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan
hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika
kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya
dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian Itulah perumpamaan orang-
orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada
mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Al A’rof;176)

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ
لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ
يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ
كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan
dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai
mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-
orang yang lalai. (Al A’rof;179)
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا
كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ
الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian
mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-
kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan
ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang
zalim. (Al Jum’ah;5)

Begitu pula didalam Assunnah.
عن جابر: … فأقبل رسول الله صلى الله عليه وسلم على معاذ. فقال “يا معاذ!
أفتان أنت؟ اقرأ بكذا. واقرأ بكذا”. رواه الشيخان.
عن عائشة: أن رجلاً استأذن على النبي صلى الله عليه وسلم، فلما رآه قال:
(بئس أخو العشيرة، وبئس ابن العشيرة).رواه البخاري 5685

Begitu juga kalam para salafunas sholih:
120-وقال الفضيل بن عياض من عظم صاحب بدعة فقد أعان على هدم الإسلام ومن
تبسم في وجه مبتدع فقد استخف بما أنزل الله عز وجل على محمد صلى الله
عليه وسلم ومن زوج كريمته مبتدع فقد قطع رحمها ومن تبع جنازة مبتدع لم
يزل في سخط الله حتى يرجع .
130-وقال الفضيل بن عياض آكل مع يهودي ونصراني ولا آكل مع مبتدع وأحب أن
يكون بيني وبين صاحب بدعة حصن من حديد .شرح السنة للبربهاري
186-سمعتُ أبي يقول من قال لفظي بالقرآن مخلوق هذا كلام سوء رديء وهو
كلام الجهمية قال له أن الكرابيسي يقول هذا فقال كذب هتكه الله الخبيث.
السنة لعبد الله بن أحمد

Menyebutkan celaan dan penghinaan terhadap siapa saja yang berhak dan
layak untuk dihinakan adalah perkara yang sangat ilmiah.

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي
الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ إِلاَّ جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ
مِنْهُمْ سَخِرَ اللّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

(Orang-orang munafik itu) yang mencela orang-orang mukmin yang memberi
sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak mempunyai
(untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, Maka orang-orang
munafik itu menghina mereka. Allah menghinakan mereka, dan untuk
mereka azab yang pedih. (At Taubah;79)

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى
الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ

Dan Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi
mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, Maka mereka
disambar petir azab yang
menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (Fushshilat;17)

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ
طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُم بِهَا
فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ
فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنتُمْ تَفْسُقُونَ

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka
(kepada mereka dikatakan): “kalian telah menghabiskan rezki kalian
yang baik dalam kehidupan duniawi kalian (saja) dan kalian telah
bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kalian dibalasi dengan
azab yang menghinakan karena kalian telah menyombongkan diri di muka
bumi tanpa haq dan karena kalian telah fasik” (Al Ahqof;20)

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَاباً مُّهِيناً

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah
akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya
siksa yang menghinakan. (Al Ahzab;57)

Karena itu tulisan kami ini akan berisikan penghinaan dan celaan
sebagai balasan yang setimpal dengan kejahatannya, sesungguhnya
balasan adalah sesuai dengan jenis amalan.

لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً
إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً
جَزَاء وِفَاقاً

Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat)
minuman, Selain air yang mendidih dan nanah, Sebagai pambalasan yang
setimpal. (An Naba’24-26)

الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ
فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُواْ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى
عَلَيْكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ
الْمُتَّقِينَ

bulan Haram dengan bulan haram dan pada sesuatu yang patut dihormati
berlaku hukum qishaash. oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang
kalian, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadap
kalian. bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta
orang-orang yang bertakwa. (al-Baqoroh:194)

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ
فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

dan Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang
siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan)
Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dholim. (asy-
Syuura:40)

إِنَّ السَّاعَةَ ءاَتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ
بِمَا تَسْعَى

Segungguhnya hari kiamat itu akan datang, aku merahasiakan (waktunya)
agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas sesuai dengan apa yang ia
usahakan.

Berkata Syaikhul Islam (Fatawa 20/471):

أما الاستهزاء والمكر بأن يظهر الإنسان الخير والمراد شر، فهذا إذا كان
على وجه جحد الحق وظلم الخلق فهو ذنب محرم، وأما إذا كان جزاء على من فعل
ذلك بمثل فعله كان عدلا حسنا، قال الله تعالى‏:‏ ‏{وَإِذَا لَقُواْ
الَّذِينَ آمَنُواْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْاْ إِلَى
شَيَاطِينِهِمْ قَالُواْ إِنَّا مَعَكْمْ إِنَّمَا نَحْنُ
مُسْتَهْزِؤُونَ‏}‏‏[‏البقرة‏:‏14‏]‏؛ فإن الجزاء من جنس العمل‏.‏ وقال
تعالى‏:‏ ‏{وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا‏}‏‏[‏النمل‏:‏50‏]‏
كما قال‏:‏ ‏{إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا وَأَكِيدُ كَيْدًا‏}
‏‏[‏الطارق‏:‏15، 16‏]‏
وقال‏:‏ ‏{كَذَلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ‏}‏‏[‏يوسف‏:‏76‏]‏
وكذلك جزاء المعتدي بمثل فعله؛ فإن الجزاء من جنس العمل، وهذا من العدل
الحسن، وهو مكر وكيد إذا كان يظهر له خلاف ما يبطن‏

sumber: 
http://isnad.net/memuji-dan-mencela-dengan-kitabulloh-dan-sunnah-ar-rosul

-- 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Untuk mengirim tulisan baru gunakan: 
[email protected]
Arsiip Milis:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Audio/Artikel Belajar Manhaj dan Aqidah Yang Shahih :
www.ISNAD.net
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kirim email ke