MEREKA HANYA MENDUGA-DUGA

(disertai Nasehat dari Syaikhuna YAHYA BIN ‘ALI Al-HAJURY
Hafizhohulloh)
Ditulis oleh: Abu Ja’far Al-Andalasy
-semoga Alloh memaafkan kesalahannya-
www.isnad.net

Dammaj,Yaman 25 Shofar 1434

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، وبه نستعين، والصلاة والسلام على سيد المرسلين،
وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد:

Telah lewat beberapa tahun semenjak munculnya fitnah hizbul ‘Adeny,
banyak orang yang terjerembab, banyak yang berusaha bangkit dan tobat,
dan yang hanyut dibawa gelombang hizbiyyah, termasuk yang paling
banyak korbannya adalah ikhwah di Indonesia.

Banyak perdebatan yang mereka munculkan, namun kesimpulannya tak jauh
beda: Mereka hanya menduga-duga. Membangun kesimpulan di atas was-was
dan falsafah. Ooo Syaikh U bilang begini, Eeee Syaikh W bilang begitu
…. maka jadinya begini, maksudnya begitu … Karena itulah banyak sekali
ditemukan kaidah-kaidah mereka yang saling bertolak belakang

Perlu diyakini bahwa kebenaran itu cuma satu tidak berbilang, dan
kebenaran tidak bakal baku-pukul, bertolak belakang. Bahkan adanya
bentuk pertentangan dalam satu pendapat menunjukkan kekeliruan
pendapat tersebut. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh
mengatakan: “Aku tidak mengetahui seorangpun yang keluar dari Al-Kitab
dan As-Sunnah, dari seluruh pengguna ilmu kalam dan falsafah, kecuali
mesti bertolak belakang (pada kaidah yang dibangunnya), sehingga dia
menghukumi mustahil pada perkara yang semisalnya dia wajibkan, dan dia
mewajibkan sesuatu pada perkara yang semisalnya dia hukumi mustahil.
(Hal itu) karena perkataan mereka bukanlah sesuatu yang datang dari
sisi Alloh. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا

“Kalaulah Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat
pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS An-Nisa’ 82) [Majmu’ul
Fatawa 13/305]

Sebagian mereka mengatakan: “Syaikh Yahya disikat Syaikh ‘Ubaid dan
Wushoby, tapi diam saja, ini menunjukkan kekeliruannya, karena tidak
memiliki hujjah untuk membantah”.

Jika kaidah mereka ini diterapkan, maka konsekwensinya mereka harus
menerima penghizbian ‘Abdurrohman Mar’i dan saudaranya, karena sudah
banyak bukti didatangkan tapi mereka diam seribu bahasa.

Ketika DR ‘Abdulloh Al-Bukhory mencela Syaikh Muqbil apakah Wushoby
dan lainnya –yang mereka bangga-banggakan sebagai murid Syaikh Muqbil-
bangkit membela kehormatan sang Imam, membersihkannya dari kedustaan?.
Ketika itu DR ‘Abdulloh Al-Bukhory  yang benar ataukah yang diam
membisu??

Akan tetapi namanya saja kaidah “suka-suka” …. Kaidah yang tak lebih
dari sekedar dugaan, was-was dan falsafah, dipakai untuk mengalahkan
lawan debat, padahal akal sehat saja bisa membuktikan kebatilannya.

Selengkapnya:
www.isnad.net

-- 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Untuk mengirim tulisan baru gunakan: 
[email protected]
Arsip Milis:
http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Audio/Artikel Belajar Manhaj dan Aqidah Yang Shahih :
www.ISNAD.net
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kirim email ke