Dari milis tetangga, barangkali berguna.

Three Cups of Tea: Merebut Hati Himalaya

Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Greg Mortenson 

Tak perlu rudal dan bom untuk “menaklukkan” kaum militan. Cukup dengan 
menyediakan sekolah. 

Tiga cangkir teh di Himalaya. Cangkir pertama adalah sambutan untuk tamu asing. 
Cangkir kedua menandakan si tamu sudah dianggap teman. Nah, pada cangkir 
ketiga, “Kau bergabung dengan keluarga kami dan karenanya keluarga kami siap 
berbuat apa pun, bahkan mati, demi dirimu.” 

Makna tiga cangkir teh itu disampaikan Haji Ali Korphe, kepala desa di Gunung 
Korakoram, kepada Greg Mortenson, 51 tahun. Lelaki asal Montana, Amerika 
Serikat, ini telah bertahun-tahun mondar-mandir di labirin pegunungan Himalaya. 

Sahib Greg, begitu dia dipanggil, mulanya adalah pendaki gunung. Tahun 1993, 
dia mendaki K2, puncak tertinggi di Korakoram, Himalaya. Sial, dia tersesat. 
Tubuhnya nyaris membeku. Kematian berjarak seujung kuku. 

Setelah berhari-hari dihajar beku salju Korakoram, Mortenson diselamatkan orang 
gunung. Dia dirawat di rumah Haji Ali Korphe. Cangkir demi cangkir teh 
dihidangkan. Mortenson telah menjadi bagian dari jantung Korakoram. 

Jatuh hati dengan ketulusan warga, Mortenson berjanji akan membangun sebuah 
gedung sekolah untuk desa ini. Janji yang sungguh tidak mudah. Desa-desa di 
pucuk gunung itu tak mudah diraih. Alam yang keras membentengi mereka dari 
dunia luar. 

Mortenson muda, ketika itu 37 tahun, kembali ke Amerika. Dia terkaget-kaget 
mendapati kenyataan bahwa menggalang dana sama sekali tidak gampang. Ada 580 
surat permintaan dana dilayangkan, tapi hanya ada satu surat balasan dengan 
lampiran cek US$ 100. 

Jean Hornie, seorang jutawan yang sedang sekarat, kebetulan mendengar kisah 
Mortenson dan memberinya US$ 20 ribu. “Ini tak seberapa dibanding uang yang 
bisa dihabiskan mantan istriku dalam sehari,” kata Hoerni, “Bangunkan aku 
sebuah sekolah di Himalaya.”

Menembus alam yang ganas, diakali orang-orang culas, dikenai fatwa haram oleh 
ulama kolot, bahkan disekap tentara Taliban adalah menu yang harus dihadapi. 
David Oliver Relin, penulis yang mendampingi Mortenson, menyajikan drama nyata 
di pegunungan Himalaya ini dengan narasi menarik. Maka, buku ini terhitung 
sebagai buku terlaris versi New York Times selama 74 pekan, sejak diterbitkan 
akhir 2007. Bulan lalu, Three Cups of Tea sudah diterjemahkan dalam bahasa 
Indonesia oleh penerbit Hikmah. 

Kesulitan tak membuat Mortenson patah arang. Gedung sekolah berhasil dia 
bangun. Tak hanya satu, tapi ada 55 gedung sekolah di sepanjang perbatasan 
Pakistan dan Afganistan. Sebuah pencapaian luar biasa. 

Pencapaian yang didapat dengan melibatkan masyarakat. Penduduk wajib berunding 
jika ingin desanya dibangunkan gedung sekolah. Mereka harus menyediakan tanah 
dan tenaga untuk proses membangun. Walhasil, ketika ada pasukan Taliban 
mengganggu ketenteraman sekolah, penduduk desa berada di barisan paling depan. 
“Kami akan bela sampai mati,” kata Haji Ali Korphe. 

Lebih dari sekadar membangun gedung, Mortenson adalah contoh tentang bagaimana 
merangkul sesama manusia dengan tulus. Kerja humanitarian yang tidak membuat 
orang menadahkan tangan, tapi menempatkan orang yang ditolong dalam posisi 
bermartabat. 

Di pedalaman Himalaya, Mortenson menyaksikan betapa kelompok radikal rajin 
merekrut remaja belasan tahun. Hanya dengan imbalan US$ 300, anak-anak itu 
menyerahkan hidup mereka kepada Taliban. Ibu-ibu yang berpendidikan, menurut 
Mortenson, lebih kuat melindungi anak mereka dari godaan untuk bergabung dengan 
kaum militan. “Itu sebabnya, mendidik perempuan sangat penting,” katanya. 

Kerja keras Mortenson membuktikan bahwa pendidikan adalah cara jitu menekan 
fundametalisme, bukan bom dan bukan rudal. Seperti tonik, dia memberi darah 
baru bagi masyarakat yang miskin dan terabaikan. Pendidikan sanggup membuka 
cakrawala di tempat sedingin dan setinggi Himalaya. 

Melalui buku 348 halaman ini, Mortenson meyakinkan dunia bahwa pendidikan jauh 
lebih efektif dan murah ketimbang jurus militeristik ala pemerintahan George 
Bush. Satu misil Tomahawk, misalnya, berharga minimal US$ 500 ribu. Uang 
sebanyak itu bisa untuk membangun selusin sekolah di Himalaya. Letnan Kolonel 
Christopher Kolenda, perwira Amerika yang bertugas di Afganistan, memuji kerja 
Mortenson. “Saya yakin, solusi jangka panjang di Afganistan adalah pendidikan,” 
katanya. 

Sebuah solusi yang, tentu saja, berlaku tak hanya untuk Afganistan tapi juga 
untuk negeri ini.

Mardiyah Chamim

*) Resensi ini ditulis Mardiyah Chamim, wartawan Tempo, dan dimuat di Majalah 
Tempo edisi 10-17 November 2009

Kirim email ke