Hihihi.....
Saya juga jadi pengen share. Awalnya hy ingin sebagai "pengamat" saja.
Tapi kok......lama2 jd ingin ikutan urun pengalaman.

Saya setuju dengan pendapat Mbak Maya.
Kebetulan saya adalah ibu dari anak2 yg sudah SD (kls 5 dan kls 3) juga 
keponakan2 ku byk yg usianya hampir sama.
Dan diantara keponakan ku, ada satu yg sampai skrg (kls 4, usia 9thn) msh sulit 
utk beradaptasi secara mental dan emosional dgn segala macam tugas dan 
pelajaran sekolah.
Dia lahir tgl 2 nov. Dan dimasukkan SD nya kurang usia. Secara akademik dia 
pandai. IQ ok. Saat TK A sdh lancar calistung. Tp sampai saat ini, dia msh 
butuh bimbingan penuh dari orang tua dlm hal "mematangkan" mental nya. Berbeda 
dgn anak2 saya. 
Anak2 saya sdh mampu utk bertanggung jawab dan mengerjakan segala tugas sekolah 
secara mandiri.
Kelas 4 SD, anak2 dituntut utk mandiri selama proses belajar mengajar dikelas. 
Sementara dia masih sulit utk melakukan hal itu. Akhirnya.....sepulang sekolah, 
ibunya harus membimbing selayaknya guru di kelas. Kakak sy harus menerangkan 
lagi pelajaran yg sdh diterima nya oleh guru dikelas. Lalu kakak sy membuat 
soal2 utk melatih si anak belajar. 
Utk efektifitas proses belajar mengajar dirumah, kakak sy hrs mempelajari gaya 
belajar anaknya dlm menyerap pelajaran. Misalnya.....dlm tiap mata pelajaran, 
si anak hrs diulang berkali2. Klu mau ulangan minggu dpn, dia harus diulang 
setiap hari selama seminggu wlupun hy setengah jam tiap hari.

Si ibu juga harus aktif bertanya pada guru2 nya atau wali kelasnya ttg materi 
pelajaran, tugas atau situasi si anak di kelas. Untungnya sampai saat ini, 
selalu mendapatkan wali kelas yg kooperatif dgn orang tua. Klu ada hal2 
penting, wali kelas akan menghubungi kakak sy tanpa diminta.
Sementara kita tahu........lebih byk guru yg hy "menunggu" dihubungi orang tua 
dibandingkan yg mau menghubungi orang tua lebih dulu.
Beruntungnya, kakak ku sdh berhenti bekerja. Bayangkan......klu ternyata ibunya 
tetap harus bekerja.
Jadi dia bisa full mengajarkan si anak belajar dirumah dan setiap saat bisa 
berhubungan dgn guru2nya juga bisa setiap saat datang ke sekolah.

Situasi seperti itu, byk juga dijumpai di sekolah anak2ku (SD Madania). Byk 
murid2 nya yg memang kurang usia saat masuk SD.
Hanya.....perbedaannya, system belajar di Madania berbeda dgn system belajar 
mengajar dgn sekolah2 konvensional lainnya.
Anak2 dibimbing utk belajar mandiri secara step by step. Hal itu juga ditunjang 
dgn situasi kelas dan jumlah murid yg sedikit (maks 20 anak) dgn 2 guru tiap 
kelasnya.
Jadi kesulitan2 si anak dlm "mematangkan" emosi nya agar mampu menerima 
pelajaran dgn sewajarnya, bisa diminimalisasi.

Jadi.....kesimpulannya.....jika ingin memasukkan si kecil ke SD dlm usia nya yg 
blm genap, sebaiknya dilihat system belajar mengajarnya. Jika anak yg blm cukup 
usia tp si ibu sdh ingin memasukannya ke SD, 
sebaiknya dihindari SD dgn system konvensional. Karena SD konvensional akan 
menambah stres si anak. Apalagi beban pelajaran SD sekarang ini sangat berat.

Ma'af jika kurang berkenan


Regards,
YUSRI
email: [email protected]
YM: yusri_smpn1

Sent from my BlackBerry® wireless device

-----Original Message-----
From: Maya Siswadi <[email protected]>

Date: Thu, 8 Jan 2009 07:36:34 
To: <[email protected]>
Subject: [Ayahbunda-Online] Re: Masuk sekolah dasar


Dear moms...
boleh saya ikutan share ya...
hihihi...tadinya udah gak pengen ikutan share
tapi baca sharenya mom Ayu...jadi pengen ikutan juga
tergelitik dg kata2nya mom Ayu yg ini "Toh usia kan bukan satu-satunya jaminan 
untuk menilai kecerdasan anak...." 

Memang sih, usia bukan satu2 jaminan menilai kecerdasan anak. Tapi yg 
dibutuhkan untuk masuk disini kan untuk sekolah dasar ya, tentu yg dibutuhkan 
pihak sekolah bukan sekedar anak-anak yg pintar saja. Tapi juga anak-anak yg 
matang secara mental emosional. Itu sebabnya pemerintah mensyaratkan usia masuk 
SD sebenarnya 7 th, karena secara mental emosional anak seusia itu sudah cukup 
matang untuk menerima pelajaran SD, rentang konsentrasinya sudah cukup panjang, 
kemampuan menangkap perintah sudah cukup bagus, dsb, yang dibutuhkan untuk bisa 
belajar optimal dan tanpa banyak masalah di SD.

Mom, perlu diingat, pelajaran SD itu berat sekali lho, bayangkan dari tadinya 
di TK anak2 cuma belajar sambil bermain, nyanyi2, nari, bikin prakarya, dsb, 
mendadak begitu dia masuk SD sudah dihadapkan pelajaran yg membutuhkan uraian, 
penjelasan, dsb. Ada ulangan, PR (jika ada), tugas, dsb. 

Makanya banyak SD yg bukan mempermasalahkan umur atau kecerdasannya, tapi 
masalah mental emosional. Saya ingat, guru di sekolah anak saya cerita, tahun 
lalu ketika tahun ajaran baru, hampir semua guru dibuat pusing, karena murid 
kelas I  banyak yg mondar-mandir ketika guru menerangkan, berteriak2, main-main 
ketika guru sedang menerangkan, atau ada yg masih pipis di celana, pup gak 
ketahuan, main2 ke kelas sebelah ketika pelajaran berlangsung.

Setelah ditelusuri, memang banyak yg usianya di bawah 6 th. Jadi tahun ini 
sekolah tdk lagi mau menerima siswa2 belum cukup umur ini, walaupun tes 
kecerdasannya lulus!

Jadi mom, kalo kembali lagi ke anaknya. Kalo memang anaknya cukup cerdas, tapi 
terlihat belum siap secara mental emosional untuk masuk SD, jangan dipaksakan 
ya, kasihan lho...maaf jika tidak berkenan, saya memandang dari sisi psikologis 
si anak.

Saya juga ingat, bbp tahun lalu ketika saya sedang mencari2 TK yg tepat utk 
anak saya, saya pernah bertemu dg seorang ibu yg sedang kebingungan mencari TK 
utk anaknya. Ketika saya tanya, ibu ini bercerita, bahwa anaknya sudah lulus TK 
B, tapi menurut guru TKnya, usianya masih terlalu muda utk langsung ke SD, 
selain itu secara mental emosional guru TKnya melihat anak tsb belum terlalu 
siap utk masuk SD tahun itu juga. Gurunya menyarankan agar si anak mengulang TK 
B lagi, tapi jgn di sekolah yg sama, agar si anak tdk merasa rendah diri karena 
teman2nya yg lama sudah tdk ada, berganti teman baru yg tdk dikenal, sementara 
dirinya masih di TK yg sama. Akhirnya si ibulah yg kesana kemari mencari TK yg 
tepat untuk anaknya ini, sampai akhirnya ketemu.

Sejak itu saya jadi terinspirasi. Masalahnya mental emosional ini memang tdk 
sama pd tiap org, ada yg bisa matang lebih cepat, ada yg lebih lambat. Mungkin 
kita bisa mengusahakan agar buru2 matang, tapi kadang sesuatu yg dipaksa matang 
lebih cepat itu tdk selalu bagus kan? Yah...kayak buah di karbit gitu deh, 
tentu lebih enak makan buah yg matang secara alami kan?

Maaf ya mom jika tdk berkenan,
Maya Siswadi - Bunda 3F
http://bunda3f.blogspot.com
http://bunda3f.multiply.com



___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke