Menulis tentang dukungan saya terhadap ASI merupakan kebanggaan tersediri. Sebagai perempuan yang pernah menjadi bayi (terima kasih ibuku) dan kelak menjadi ibu (terima kasih anak-anakku), emosi yang saya tuangkan murni kepedulian saya bukan karena caleg atau mencari tambahan suara. Bagaimanapun ada hal-hal dalam hidup yang bersifat prinsip dan tak tergoyahkan; salah satunya adalah kodrat perempuan yaitu menjadi ibu.
Saya belum mempunyai anak tapi saya memberi perhatian terhadap pentingnya ASI bagi bayi karena mempunyai pengalaman terkait dengan hal ini. Keluarga terdekat melahirkan buah hatinya yang pertama di luar negeri. Keluarga kecil ini menetap beberapa tahun di luar negeri untuk mengikuti sang ayah yang sedang menempuh pendidikan. Di negeri yang sudah berkembang itu, kondisi ibu dan bayi sangat diperhatikan serta dipantu oleh pihak medis. Saat si bayi menginjak usia dua bulan, bobotnya sudah melebihi rata-rata bayi seusianya (menurut ukuran medis di negara yang bersangkutan) sedangkan menurut aturan kesehatan bayi setempat, bayi tidak boleh overweight (kelebihan berat badan). Pihak medis kemudian meminta si ibu untuk menghentikan ASI dan menggantinya dengan makanan bayi kaleng dan susu formula. Bayi yang semula gemuk dan sehat hanya dengan minum ASI akhirnya menjadi agak kurus setelah berhenti mengonsumsi ASI. Walaupun bayi tampak bertambah cerdas tetapi kelincahan dan kesehatan fisiknya yang prima terlihat agak menurun. Ayah si bayi yang seorang dokter, tidak sependapat dengan pihak medis negara tersebut. Menurut pengetahuan dan pengalaman beliau selama ini, ASI sangatlah penting dan wajib diberikan minimal sampai bayi mencapai usia satu tahun. ASI merupakan investasi jangka panjang bagi si bayi kelak dan jauh lebih bergizi dan efektif dibandingkan vitamin serta vaksin apapun. ASI juga merupakan elemen penting yang mendukung sistem kekebalan tubuh (imunitas) anak sehingga tidak rentan terserang penyakit. Makanan pengganti dan susu formula yang diberikan sebanyak apapun tak dapat mengganti unsur-unsur alamiah yang kaya terkandung dalam ASI. Kelak, sekembalinya ke Indonesia, keluarga kecil ini mendapat tambahan dua anak lagi. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kedua orangtua muda ini mendukung ASI eksklusif. Walaupun si ibu bekerja, kedua anaknya tetap disusui sampai usia masing-masing anak satu tahun. Bila dibandingkan dengan kakak sulungnya, kedua adiknya secara fisik lebih besar dan jarang sakit sampai memasuki usia remaja. Pengalaman di atas hanya sekelumit kecil tentang pentingnya ASI. Saya percaya ibu-ibu lebih berpengalaman dan paham karena mengalami dan terlibat langsung di dalamnya. Menyusui adalah pilihan terbaik dan ibu yang baik pasti memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Marleynda Mariko Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Caleg DPR RI (Pusat) No. 3. Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) 1: Flores, Alor dan Lembata. [email protected]
