Daftar Buku Terbaru Syir'ah Media Jejaring
Bisa anda dapatkan di 50% books event.......Pus Nas, Senayan

1.Judul       : Mohammad Zamroni
                 Tokoh Kunci Angkatan `66
  Pengantar      : Salahuddin Wahid
  Tebal  Hal       : XXIV + 272 Hal. 15 x 22 cm
  ISBN            : 979-3244-12-7
  Harga            : Rp. 37.500      

Dalam sejarah Indonesia, cerita tentang angkatan mempunyai daya
pikat tersendiri. Angkatan bukan sekedar konsep yang sarat nilai
kemuliaan, tapi terlanjur berkembang menjadi mitos. Lahirnya
angkatan '66 bisa jadi digerakkan oleh mitos "tokoh" atau "alih
generasi", karena adanya angkatan `28 atau angkatan `45 yang
berhasil memimpin negeri. Dan mitos itu kembali menggerakkan
lahirnya Angkatan `97 dalam era reformasi.
        Salah satu tokoh yang mencuat di era `66 adalah Mohammad
Zamroni. Ketokohannya adalah miniatur budaya yang telah mengalami
pencerahan, menggantikan mitos dengan ilmu, ideologi lama dengan
ideologi baru, teologi lama dengan teologi baru. Meski datang dari
komunitas sektarian, Zamroni dapat mencitrakan diri sebagai sosok
multikultur, rasional, menjadi pemimpin bangsa yang bisa diterima
oleh semua pihak, teguh berpendirian, moderat sikap dan
pandangannya, serta bersahaja gaya hidupnya. Sebagai eksponen
Angkatan `66, Zamroni layak mendapatkan tempat dalam sejarah.
      Buku ini menjelaskan eksistensi Zamroni dalam spektrum
politik Indonesia modern pada awal berdirinya imperium Orde Baru
yang dimotori oleh suatu kekuatan yang di kemudian hari dikenal
dengan Angkatan `66. Buku ini dibagi menjadi dua bagian, bagian
pertama menelusuri jejak sejarah Zamroni dan masa-masa
perjuangannya. Di bagian kedua mengorek kesaksian para sahabatnya
melalui tulisan. Tersebutlah Cosmas Batubara, Sofjan Wanandi, Jacob
Oetama, Mar'ie Muhammad, Fahmi Idris, Slamet Effendy Yusuf, A.
Muhaimin Iskandar dan masih banyak lagi. Hasilnya adalah sebuah buku
yang menarik yang disuguhkan untuk penikmat sejarah baik dari
akademisi, politisi, pengusaha, birokrat, mahasiswa, sampai kalangan
awam. 

2. Judul       : DEKONSTRUKSI EPISTEMOLOGI MODERN
              Dari Posmodernisme, Teori Kritis,
                  Poskolonialisme, Hingga  Cultural Studies
   Penulis      : DR. Akhyar Yusuf Lubis
   ISBN            : 979-3244-11-9
   Tebal Hal      : XV + 264 hal. 14,5 x 21 cm
   Harga       : Rp. 40.000,-            

Melalui  buku ini, Akhyar Yusuf Lubis -sang penulis, mencoba
memaparkan bagaimana teori-teori baru seperti Posmodernisme, Teori
Kritis, Poskolonialisme dan Cultural Studies menyediakan dasar-dasar
pemikiran bagi kajian sosial budaya kontemporer. Berangkat dari
kegelisahan atas hegemoniknya tradisi positivisme, teori-teori batu
ini mencoba meruntuhkan batas kaku bidang ilmu pengetahuan dan
membuka jalan bagi kajian inter/transdisipliner. Secara
epistemologis, mereka juga menolak paradigam positivisme yang
mengandalkan bahwa ilmu pengetahuan adalah ilmu yang tanpa pamrih
(bebas nilai). Jelas ilmu pengetahuan tidaklah tanpa pamrih,
melainkan sarat dengan kepentingan. Pemahaman ini kemudian digunakan
oleh teori-teori tersebut untuk menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan
tidak selayaknya hanya berorientasi untuk ilmu. Akan tetapi bisa
digunakan untuk memperbaiki kondisi sosial budaya yang tidak adil
dan tidak manusiawi. Buku ini tidak seperti buku-buku wacana
filosofis yang mengulas secara rumit dan bahasa yang susah. Buku ini
disusun dalam bahasa populer dan terkesan ringan dicerna. Pembaca
akan merasa buku ini adalah bekal yang penting untuk memahami
perkembangan wacana pengetahuan sosial mutakhir.      


3. Judul       : MENDUNG DI ATAS SENAYAN
   Penulis      : Arief Mudastir Mandan
   ISBN            : 979-3653-20-5
   Tebal Hal      : XVII + 382 hal. 15 x 22 cm
   Harga       : Rp. 50.000,-


Buku ini merupakan buku pertama yang mengungkap secara blak-blakan
dan apa adanya mengenai apa yang terjadi pada DPR selama empat belas
bulan (1 Oktober 2004-31Desember 2005). Di tulis oleh seorang
aktivis yang `hadir dan terlibat langsung' dengan menampilkan simpul-
simpul persoalan yang sudah mengemuka menyangkut pelaksanaan tugas
dan fungsi DPR. Meski juga menjadi anggota DPR dan ketua partai
terkemuka di negeri ini, penulis tidak canggung mengungkap dengan
terbuka bahwa DPR memiliki sedikit point keberhasilan dan banyak
kasus kegagalan. Penulis merekam dengan baik apa yang belum
terungkap di luaran perihal pemilihan pimpinan DPR, Rapat paripurna
yang alot, pimpinan MPR yang dipilih secara paket sampai nasib
koalisi kebangsaan setelah Akbar Tanjung lengser. Di buku ini juga
diungkap bagaimana peliknya rencana pergantian panglima TNI,
persoalan Aceh, geger seputar kenaikan BBM, dan juga isu kocok ulang
pimpinan komisi di DPR. Semuanya dingkap dengan terbuka dan blak-
blakan. Hasilnya satu kesimpulan, bahwa ternyata mendung masih
menggantung di atas senayan.

4. Judul      : MEMBARANYA BATUBARA
                Konflik Kelas dan Etnik
                  Ombilin-Sawahlunto-Sumatera Barat (1892-1996)
   Penulis      : Erwiza Erman
   Pengantar    : Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto      
   Tebal Hal      : XXIV + 516 Hal. 14,5 x 21,5 cm2
   ISBN            : 979-3596-06-6
   Harga      : 84.000,-

Dunia Pertambangan di Indonesia tidak saja menunjukkan betapa
kayanya sumber daya alam nusantara, namun juga menorehkan bara
konflik yang terus membara, sejak zaman kolonial hingga sekarang
ini. Buku yang semula merupakan disertasi penulis untuk meraih gelar
Ph.D di Universitas Amsterdam ini, secara holistik memaparkan
situasi tersebut dalam perspektif sejarah sosial dan pertambangan,
yang membentang dalam rentang masa lebih dari satu abad (1892 –
1996). Dengan mengambil fokus perhatian pada aspek produksi dan
dunia sosial politik penambang, penulis menelusuri dunia
pertambangan dalam konteks perkembangan ekonomi dan sosial politik
baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Hasilnya?
Gambaran yang benderang mengenai aspek perubahan dan kontinuitas
kehidupan dunia tambang yang begitu kompleks. Dan dalam kompleksitas
kehidupan tambang tersebut, konflik kelas dan etnik menjadi warna
dominan yang mewarnai sejarah pertambangan Indonesia.

5. Judul       : PEREMPUAN MULTIKULTURAL
                Negosiasi dan Representasi
   Editor      : Edy Hayat dan Miftahus Surur
   Pengantar      : Donny Gahral Adian
   Tebal Hal      : XVIII + 308 Hal. 14,5 X 21,5
   ISBN            : 979359601-5
   Harga      : 46.000,-

Membicarakan perempuan sepertinya tidak cukup dengan hanya
melibatkan kecanggihan pola pikir feminisme yang mengobrak-abrik
kemapanan asumsi tentang hubungan timpang antara laki-laki dan
perempuan dalam tataran teoritik. Ia juga membutuhkan ketersajian
subjektifitas sebagai cara memandang sekaligus kais resistensi untuk
bertahan dari gempuran konstruksi luaran yang cenderung hegemonik.
Sebagai perbincangan diskursif yang relatif baru, tema perempuan
multikultural yang diangkat buku ini berupaya mengungkap sekaligus
mencermati keragaman hidup perempuan yang sesak dengan spesifik-
spesifik pengalaman dan kesadaran yang berbeda-beda.


6. Judul       : Srinthil Seri 8 2005
                 Perempuan dan Sastra Poskolonial
   Tebal  Hal       : 180 Hal. 15 x 23 cm
   ISSN            : 1412-274X
   Harga      : 15.000      

Studi tentang perempuan seringkali berwangi-wangi tentang benturan
budaya antara laki-laki (patrarkhi) dan perempuan (matriarkhi).
Dalam konteks tempat dimana budaya patriarkhi begitu kuat, perempuan
merasa diposisikan lebih rendah, dan laki-laki berada pada puncak
superior. Tetapi kajian tentang perempuan tidak lantas berhenti pada
peng-oposisian secara biner. Jurnal Srinthil edisi 8, mencoba
menyajikan perempuan dalam dunia sastra poskolonial. Kajian ini
dimulai dengan semakin menyeruaknya tokoh "perempuan" yang dominan,
pasca kisah tentang kartini dan siti nurbaya. tak dipungkiri juga,
kini, perempuan-perempuan penulis tak kalah banyaknya daripada
penulis laki-laki. Adakah kini masa di mana perempuan berd(j)aya di
kancah dunia sastra dan menunjukkan eksistensinya?  Kajian ini
mencoba menelusuri, bahwa ternyata, superioritas laki-laki terhadap
perempuan tak lebih konstruksi budaya yang ditingggalkan oleh
kolonial. Dengan pembacaan sastra poskolonial, maka kita bisa
mencermati perjuangan para perempuan dalam bidang politik dan sosial
yang kerap gegap gempita, tetapi ternyata perjuangan perempuan yang
paling tampak adalah dominasi atas karya sastra.


7. Judul       : Hak Minoritas
                 Dilema Multikulturalisme di Indonesia
   Tebal  Hal       : viii + 350 Hal. 15,5 x 23 cm
   ISBN            : 979-99992-0-0
   Harga      : 74.500

Buku ini merupakan sebuah pembuka sajian untuk memahami komunitas-
komunitas lokal yang tersebar di seantero bumi persada ini. Buku ini
memang tidak secara dokumentatif memotret semua komunitas lokal di
Indonesia, tetapi beberapa saja yang beberapa kurun terakhir ini
aktif melakukan perjuangan panjang untuk bernegosiasi dengan
komunitas yang dianggap modern dan kota. Komunitas lokal yang
disuguhkan dalam buku ini adalah komunitas Sedulur Sikep Bombong-
Bacem, Patih, Jawa  Tengah; Masyarakat Adar Wet  Semokan alias
komunitas wetutelu  di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat; Masyarakat
Dayak Pitap alias komunitas dayak meratus, Kalimantan Selatan;
Komunitas orang wana  di kayupoli, Sulawesi Tengah; dan Komunitas
Kajang di Tanah Toa, Sulawesi Selatan. Mereka seringkali dianggap
indigeneus people, bukan orang minoritas, sehingga kerap tidak
banyak didiskusikan atau bahkan dianggap "tidak ada". Mereka selalu
bergulat dalam perebutan ruang kontestasi untuk mendapatkan hak dan
harga diri, serta keberadaan mereka sebaga pemilik tanah air. Satu
hal yang kemudian bisa memunculkan pesoalan-persoalan
kewarganegaraan. Buku ini mencoba membuka celah untuk mendebatkan
kembali multikulturalisme di negeri beribu pulau dan kebudayaan ini.


8. Judul       : RITUS MODERNISASI
                 Aspek Sosial & Simbolik Teater Rakyat Indonesia
   Penulis       : James L. Peacock
   Tebal  Hal       : xxii + 310 hal. 15,5 x 23 cm
   ISBN            : 979359602-3
   Harga      : 50.000,-


Melalui  buku ini, Peacock tidak hanya melihat seni pertunjukan
sebagai serangkaian ungkapan verbal dan panggung dengan warna-warni
linguistik dan artistiknya. Lebih jauh dari itu, ia menatap ludruk
sebagai sebuah ritus moderninasi, pengembangan dari "Ritus
Peralihan"-nya Arnold van Gennep, yang dapat dijadikan model
alternatif kajian kesenian di Indonesia. Lebih dari itu, buku ini
sekaligus menjadi titik pijak perubahan yang amat penting dalam
perkembangan model kajian seni pertunjukan yang sebelumnya
terperangkap dalam kutub perspektif parsial yang menjadikan itu
tidak lagi utuh sebagai bagian dari diri pendukung dan dinamika yang
menyertainya. Ritus modernisasi, boleh jadi kini telah menjadi
kajian klasik, meski demikian ia tetap memiliki relevansi di zaman
yang sudah memasuki fase `ritus resistensi' sekarang ini.       

Hub, Hamim NH/Popon Julaikha
Jl. Asem Baris Raya M Kav No.08, Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan
12830
Telp.021-8281053

atau
Noviyana/Desantara
Jl. Pemuda No.35 Depok 16431
Telp.021-7775425










================= Bacayo.NET - Segalanya tentang buku =================




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke