|
Resensi
For God and Country Korban
Paranoid Amerika Oleh James
Yee
Penerbit: Dastan
Books, Maret 2006 Resensi
Republika (Minggu, 14 Mei 2006) Ironi
Kemanusiaan dari Guantanamo Kampanye perang melawan
teroris yang dilancarkan AS menyusul peristiwa 11 September tak habis
mengundang penderitaan bagi banyak orang. Sejak itu penguasa AS seolah
dihinggapi paranoid terhadap Islam. Masyarakat muslim AS pun
tak dapat menghindar dari dampaknya. Mereka terus diawasi. Ketakutan pun
merebak di intern militer AS. Mereka khawatir ada kekuatan asing yang menyusup
ke dalam tubuh militer. Adalah Kapten James Yee
yang ditangkap atas tuduhan melakukan kegiatan mata-mata dan penyalahgunaan
informasi rahasia. Melalui pengakuannya, terungkap berbagai praktik penekanan
yang dilakukan para sipir penjara di Guantanamo terhadap para tawanan dengan
melecehkan simbol-simbol Islam. Buku berjudul For God and
Country, Korban Paranoid Amerika, terbitan Dastan Books berisi penuturan
lengkap Yee atas penderitaan yang dialami selama menjalani masa tahanan. Bagai
sebuah buku biografi, runtutan kisahnya terperinci sehingga pembaca akan lebih
mengetahui hal-hal yang selama ini mungkin masih belum terungkap ke permukaan. Buku setebal 335 ini
kemudian mengungkap peristiwa 11 September yang membuat kehidupan orang-orang
Islam menjadi bulan-bulanan. Segera Amerika menyerang Afghanistan serta menawan
banyak orang dengan tuduhan teroris. Mereka pun dikirim ke penjara di
Guantanamo, Kuba. Tak diduga, Yee mendapat tugas di sana. Di tempat itu, Kapten Yee
membuat azan terdengar lima kali sehari ke seluruh sudut penjara lewat pengeras
suara. Kalau mengalami kerusakan ia sendiri yang melantunkan azan lewat sebuah
mikrofon. Selain itu, sudah jadi bagian tugasnya, katanya, untuk menengahi
kesalahpahaman antara para tahanan dan pejabat penjara. Yee mengungkapkan
penderitaan yang dialami para tahanan. Mereka bukan dianggap tahanan perang
tapi teroris karenanya tidak mendapatkan perlindungan Konvensi Jenewa.
Tendangan dan kepalan tinju merupakan hal lumrah yang didapatkan tahanan saat
diinterogasi. Namun, yang paling
menyedihkan adalah penodaan terhadap Alquran guna memancing emosi tahanan. Para
petugas misalnya sering menggunakan Alquran untuk membersihkan lantai (hlm.
171). Ketika Yee hendak bertemu
keluarganya, 10 September lalu, petugas militer menangkap di suatu tempat di
Florida dan menahannya di sebuah markas militer di South Carolina. Sejak itu ia
terus diperiksa atas kecurigaan melakukan kegiatan mata-mata di Guantanamo. Yee pun dipenjara di
Jacksonville. Di sana dia menerima perlakuan kurang manusiawi, seperti dikurung
di sel isolasi, bertelanjang di hadapan orang lain, tidak diberi makanan,
pengaburan panca indera, dan masih banyak lagi, dan juga tidak diperbolehkan
salat. Meski begitu, dia tetap bertahan pada keyakinannya akan kekuasaan Allah
SWT. “Aku terus berusaha
menjaga keyakinan, sebagaimana Islam mengajarkan bahwa Tuhan memiliki rencana
dan di balik semua peristiwa pastilah terdapat hikmah, tujuan, dan
makna,” tegas Yee (hlm. 242). Buku ini juga mengangkat
ironi pada kehidupan masyarakat AS yang begitu mengagung-agungkan hak asasi
manusia. Apa yang terjadi di Guantanamo, menurut pandangan Yee, justru
berkebalikan dari semangat tersebut. Dia merasakan ketidakadilan yang hebat,
pengabdiannya terhadap negara, tidak dipedulikan. Begitu pula penahanan
atasnya yang tidak memedulikan belum adanya dakwaan resmi. Di balik semua perlakuan
tersebut, buku ini mengajarkan nilai-nilai ketabahan yang menjadi landasan
keyakinan. Melalui perjuangannya untuk membela kebenaran, Yee akhirnya mampu
melalui segala cobaan meski banyak hal dia korbankan. Karier maupun utang yang
cukup besar. Meski demikian, kuasa dan pertolongan Allah SWT akan senantiasa
tercurah pada umatnya yang beriman. ================= Bacayo.NET - Segalanya tentang buku =================
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
| |||||||||||||||||||
Title: For God and Country


