|
Oleh:
Stefano Giovanardi La
Republica Judul: Love,
Murder & Betrayal in Almayer Inn Penulis: Alessandro
Baricco New
York Times Bestselling Author Penerbit:
Dastan Books Harga:
Rp 39.900 Laut Selalu Melambangkan Kesinambungan Sensasi dalam
Dirinya Sendiri Orang selalu membicarakan Umberto Eco dan Susanna
Tamaro, namun karya “bermasalah” Alessandro Baricco tidak kalah
bagusnya: novelnya yang “kurang berhasil” di pasaran (debutnya,
Castelli di rabbia – Puri Amarah), hingga kini telah terjual jutaan kopi,
dan novel-novel berikutnya terjual secara perlahan juga di kisaran jutaan kopi.
Sebuah angka yang luar biasa untuk sastra Italia, yang tentunya menimbulkan
kecemburuan. Contohnya, dikatakan bahwa sukses karya sastra tersebut hanya
merupakan akibat sukses di televisi, sementara mereka lupa bahwa Baricco tidak
pernah memperkenalkan ‘Stranamore’ (Cinta Aneh) atau
‘C’è posta per te” (Ada Surat Untukmu). Jadi, jalan karya-karya Baricco menuju bestseller
tetap menjadi misteri, dan OCEAN SEA (belasan juta kopi telah terjual hingga
kini) merupakan bukti yang paling nyata. Siapa yang menyangka sebelumnya jika
cerita tentang seorang profesor yang bermaksud untuk mencari ujung laut, atau
tentang seorang pelukis yang melukis hanya dengan menggunakan air laut sambil
mengabadikan pemandangan-pemandangan samudra di atas kanvas yang tetap putih,
bisa meyakinkan sedemikian banyak pembaca? Mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda.
Dalam OCEAN SEA, Baricco bekerja dalam sebuah mitos sastra yang beraliran lama,
mitos laut, namun sambil mencari makna-makna baru: apakah dalam cerita sastra
dunia, dari Odissey hingga Moby Dick, laut selalu melambangkan--dalam berbagai
cara--kelangsungan sensasi dalam dirinya sendiri, batas-batasannya sendiri,
suasana-suasananya sendiri, alamnya sendiri, dan kemudian menjelma menjani
permohonan akan kefleksibelan yang lebih, penemuan dunia yang berisiko dan
kejam bahkan lain dari dirinya? Dan di sini Baricco berhenti untuk melukiskan
sebuah tempat khayalan (yang justru hakikatnya non-tempat), di mana beberapa
tokoh penting yang kebingungan dan putus asa sedang mencoba mencari jati diri
mereka masing-masing. Untuk tamu-tamu Penginapan Almayer, laut tidak membuka
kaki langitnya dengan cara apa pun, bahkan membatasi dengan wilayah yang tak
dapat dilalui, dengan sebuah ruang sangat sempit, yang kemudian menjadi ruang
individu masing-masing. Itulah gerak ombak menuju pantai, yang mengejar daratan
dan mengindikasikan tanpa belas kasihan sejenis pandangan alam yang tak
tertandingi, untuk menangkap khayalan Baricco. Belantara simbol yang diciptakan sang penulis
menyeret kita perlahan-lahan ke dalam dimensi asing di alam bawah sadar kita,
dalam kedangkalan dan kebersamaan, kita tak dapat menemukan hubungan yang
enigmatis dan sementara. Sebaliknya Baricco dengan tangan kosong telah
menciptakan dunia bagi kita, dan telah menggambarkan ke hadapan kita
seolah-olah dunia itu nyata. Ia memberikan kepada kita kemungkinan untuk
berkelana di atas kapal remang-remang yang begitu menakutkan namun menarik,
untuk bertemu orang-orang, untuk beristirahat dalam ruangan-ruangan itu, dan
untuk mencoba sebuah kehidupan yang pada akhirnya mungkin membebaskan kita pada
sebuah kebenaran yang hakiki tentang diri kita sendiri. Dalam salah satu wawancara yang jarang dilakukannya,
sang penulis bersikeras tentang kebutuhan “mempersulit kehidupan”,
alih-alih memberikan penjelasan ia justru membuat pertanyaan-pertanyaan,
meneteskan kesadaran agar tidak “mengetahui lebih jauh”, namun mengetahui
“bahwa ada hal-hal yang perlu
ditemukan”. Dalam novel OCEAN SEA, Baricco telah menghadirkan
dengan sempurna hal-hal yang berhubungan dengan analisis perjalanan psikis
manusia. Apakah ini yang menjadi kunci keberhasilan buku ini?
Siapa tahu… namun mudah-mudahan tidak diperlukan banyak pertanyaan:
mungkin cukup kekuatan sugestif yang berasal dari Penginapan Almayer dan dari
para tokoh yang tertipu olehnya. Sang Karya Penginapan Almayer pada hakikatnya merupakan sebuah
“tempat yang non-tempat”, yang menghadap ke non-laut, dalam sebuah
non-waktu; semua itu membentuk sang Tempat yang sempurna, titik awal sebuah
kelompok suratan nasib yang berada pada zaman sejarahnya dan pada stigma
alaminya, ingin melarikan diri. Dengan memberikan ruang pada sebuah urat nadi
surealis, Alessandro Baricco mengukuhkan novel ini pada tahun 1993. Ia adalah
salah seorang penulis muda Italia yang paling menarik dan dewasa. Hantu-hantu
mental yang menghuni novel OCEAN SEA menguasai mantra untuk menjadi nyata,
sambil memyampaikan sebuah paradoks vital yang membentuk karakter para tokoh
seutuhnya, juga dalam bentuk metafora eksistensial yang asing. Para pembacanya
niscaya merasa terlibat dalam perasaan yang begitu kuat dan penuh emosi,
seolah-olah diharuskan mengerti sesuatu dari dirinya sendiri yang mungkin lebih
baik jika tetap tidak dipedulikan. Ocean
Sea “Novel ini harus dinikmati baris demi baris,
dan sarat dengan ide-ide bagus bahkan secara linguistik, sarat dengan dialog
suara sinematografika, sarat dengan deskripsi sugestif dan emblematis.” Giuseppe Pederiali – Il Giorno “Baricco membuat kita berpikir, dari waktu ke
waktu, mulai dari Kafka hingga Céline, Perec hingga Palazzeschi dan bahkan
hingga Calvino, namun pada akhirnya, tak dapat dipungkiri lagi, akan selalu
lebih menjadi dirinya sendiri, ahli penghias dan simfoni”. Giovanni Giudici – l’Unità “Semua tokoh luar biasa, kepada masing-masing
tokoh tersebut Baricco mempercayakan sebuah rahasia tidak mungkin terjadi yang
membuat mereka berjanji untuk menjaganya dengan kecemburuan.” Angelo
Guglielmi – l’Espresso “Membuat kalian merasa berada di antara
Stevenson, Melville dan Conrad, yaitu panggilan hidup untuk menuliskan kisah
yang memperkuat ketegangan metafisika yang samar-samar yang ditimbulkan oleh
mitos kelautan.” Stefano Giovanardi – la Repubblica “Baricco memilih untuk menantang langit.” Geno Pampaloni – il Giornale “Buku ini penuh dengan kelelahan dan kekalahan,
yang mengumpulkan konsep-konsep warisan yang paling suci dan terkutuk dari
penulis tentang kelautan, yang berhasil mempertahankan alur keceriaan,
kenyamanan dan keceriaan musik ala Mozart.” Lorenzo Mondo – La Stampa – Tuttolibri “Benar-benar masa kejayaan mitos. Laut itu
sendiri sebenarnya tidak lebih dari fatamorgana. Dan Alessandro Baricco tak
lebih dari seorang penyair.” Le Figaro “ L’Express “Sekali lagi, Sinopsis Di Penginapan Almayer yang terpencil di tepi pantai,
seorang pelukis mencelupkan kuasnya ke air laut untuk melukis gambar laut.
Seorang ilmuwan menulis banyak Ketika orang-orang yang menderita gangguan psikologis
ini bertemu, takdir mereka mulai terjalin satu sama lain. Bagi mereka, laut
adalah tempat menemukan kepingan yang hilang dari diri masing-masing.
Penginapan Almayer menjadi tempat di mana nasib dan hasrat bergumul untuk
saling mengalahkan. Liar, provokatif, dan amat dalam. Kecantikan yang rapuh, butuh bakat dan imajinasi yang
tinggi untuk menggagasnya. --The New York Times Baricco menghipnotis kita dengan bahasa eksotis dan
jerat erotis... --The New York Times Book Review Mengagumkan. Tema Baricco mencerahkan. --Newsday Inilah penulis yang [karyanya] harus dibaca karena
keelokan dan kegembiraan yang dikandungnya.
--The Mengagumkan... Tiap [bab memiliki] denyut jantung. -- Tema Baricco mencerahkan... Baricco menyuguhkan
kebenaran versus kehidupan... --The --Kirkus Reviews Alessandro Baricco adalah seorang novelis yang
merajut kata-kata menjadi bahan yang sehalus kain Venezia. -- Tour de force yang elok [dan] permata sastra yang
memesona. --The Sunday Times Sangat kuat dan cerdas... --The Daily Telegraph Kisah tentang obsesi ini adalah sebuah meditasi di
laut. --Publishers Weekly ================= Bacayo.NET - Segalanya tentang buku =================
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___ |
[bacayo] Alessandro Baricco & Umberto Eco: Ocean Sea--dari Odissey hingga Moby Dick, novel fenomenal
Title: Oleh: Stefano Giovanardi

