Enterpreneur itu nikmat dan bermartabat; Siapa bilang sulit dan menakutkan ?
Oleh : Hendra Kholid *)
Sebuah kesuksesan dapat dihasilkan diatas 99% kegagalan (Soichiro Honda)
Menjadi enterpreneur
(wirauswastawan) muda sukses, itulah cita-cita yang pantas untuk diperjuangkan oleh setiap anak negeri ini. Lihatlah keberhasilan Sanders yang melahirkan Kentucky Fried Chicken; Ray Kroch yang memunculkan Mc Donald; Devos dan Andel yang mensukseskan sistem penjualan berjenjang (MLM); Bill Gates merajut Microsoft; Steve Jobs menciptakan personal komputer; Jeff Bezos menciptakan toko buku terbesar di dunia Amazon.com; Soichiro Honda menciptakan Honda; Tirto Utomo melahirkan air dalam kemasan merk Aqua; Sosrodjojo menghadirkan Teh Botol Sosro; Joger membuat Pabrik Kata-Kata di Bali; Djoenaidi Joesoef melahirkan Konimex; Martha Tilaar menghadirkan Sari Ayu; AA Gym mempopulerkan MQ; Ary Ginanjar menhadirkan ESQ; A. Khoerussalim Ikhs mengembangkan Country Donuts dan tentunya masih banyak lagi enterpreneur sukses lain yang setidaknya mampu menggugah anak-anak negeri ini untuk tidak hanya sekedar bangga menjadi pengawai kantoran dan pekerja yang hanya
diupah dan digaji.
Tapi ironisnya menjadi enterpreneur di negeri ini masih dilirik setengah mata dan belum menjadi cita-cita utama sebagian besar anak-anak muda negeri ini. Salah satu fakta yang mendukung adalah tingginya angka pencari kerja dan tingginya minat anak-anak muda mengikuti CPNS (Calon pengawai negeri sipil) pada tiap tahun. Padahal kualitas dan taraf hidup yang dinikmati oleh para enterpreneur umumnya lebih bagus ketimbang kaum pegawai kantoran dan profesional. Kita dapat dengan mudah menemukan fakta bahwa kaum enterpreneurlah yang membuka peluang kerja bagi sejumlah pegawai dan profesional di bidang tertentu. Enterpreneur pula menjadi majikan yang memberikan imbalan kepada pegawai dan profesional yang bekerja padanya. Jadi, wajar saja kalau enterpreneur itu
nikmat dan bermartabat sebab ia menikmati kualitas dan taraf hidup yang lebih baik.
Bicara soal entrepreneur adalah bicara soal mental bukan gelar akademik dan karenanya seorang entrepreneur mutlak memiliki mental fighting spirit (semangat bertarung). Oleh karena itu wajar saja bagi mereka yang tidak memiliki mental semangat bertarung menganggap menjadi entrepreneur sesuatu yang mungkin sulit dan menakutkan. Dianggap sulit, boleh jadi karena tidak punya modal atau belum mencoba dan dianggap menakutkan, karena harus berhadapan dengan risiko yang tidak pasti yaitu boleh jadi untung, impas atau rugi dan menurut Richard Cantillon, pencetus istilah "entrepreneur" di abad ke 19 bahwa menanggung risiko itu merupakan inti
dari kegiatan entrepreneur sendiri dan ini pula tentunya yang membedakan seorang pengawai dan entrepreneur yaitu dimana seorang pengawai akan bekerja bila ia diupah dan seorang entrepreneur akan senantiasa berusaha karena jika berhenti berusaha maka ia akan kehilangan kesempatan mencarai untung yang akan berdampak pada kegagalan usaha yang ditekuninya.
Tahu dan sadarkah anda bahwa semenjak lahir anda, saya dan kita semua telah diilhami mental semangat bertarung yang dimiliki para entrepreneur dan bukankah kita terlahir kedunia ini melalui perjuangan yang sangat berat. Kita lahir setelah bersaing dengan ratusan juta sel sperma yang memburu sel telur, dan yang berhasil hanya satu, yaitu anda, saya dan kita. Jadi, kita sudah bertarung begitu berat tanpa kita sadari. Inilah
modal awal menjadi seorang entrepreneur muda sukses yang telah anda, saya dan kita semua miliki.
Kesimpulannya, semua orang tentunya bisa menjadi enterpreneur dan mempunyai bisnis yang dapat berkembang menjadi bisnis yang besar, tidak peduli apapun latar belakang pendidikan maupun tingkat sosialnya. Menjadi entrepreneur muda sukses adalah impian setiap orang. Anda pasti bisa menjadi entrepreneur sukses sama seperti seorang bayi yang pasti dapat berjalan
Dalam konteks berikutnya yaitu bagaimana menjalankan bisnis yang baik yang tidak hanya selalu mengedepankan akal dan emosional tapi juga mampu memberikan kebahagian kepada setiap
orang yang terlibat dalam berbisnis, Zamhari Hasan terpanggil dan terdorong menulis buku yang mengedapankan sisi spritualitas dalam bisnis yaitu Berniaga dengan Iman; Kiat-kiat Agamis menjadi Saudagar Sukses. Karya Zamhari ini, hemat saya, merupakan jawaban langsung atas kelangkaan dan keterbatasan literatur bisnis yang mengedepankan sisi-sisi spritualitas. Kehadiran buku ini sangat tepat bagi mereka yang ingin membangun pondasi bisnis berbasis spritual yaitu memiliki nilai manfaat dan barokah yang lebih dari sekedar mencari keuntungan dan tentunya buku ini juga sangat signifikan untuk memperkokoh basis akademik bagi dunia bisnis dan sekaligus mendorong anak-anak muda untuk memulai bisnis sejak dini sebagai upaya meningkatkan kualitas kemajuan ekonomi di Indonesia. Wallahu alam bi al-shawab.
*) Staf Pengajar Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Entrepreneur muda. Dinukil dari Kata Pengantar untuk Buku Berniaga dengan Iman: Kiat-Kiat Agamis Menjadi Saudagar Sukses (beredar di Gramedia dan toko buku lain)
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail. __._,_.___
================= Bacayo.NET - Segalanya tentang buku =================
SPONSORED LINKS
| Writing book | Writing a book | Book writing software |
| Writing and publishing a book | Creative writing book |
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___

