Kapten Yee: Korban Paranoid Amerika
 
Pelecehan terhadap kitab suci umat Islam kerap terjadi di Penjara
Guantanamo. Polisi militer di penjara sering menggunakan lembaran
Alquran untuk membersihkan lantai. Saya sering menemukan sobekan lembar
Alquran di lantai.
 
***
 
Mereka tidak peduli pangkat saya kapten, lulusan West Point, akademi
militer paling bergengsi di Amerika Serikat. Mereka tidak peduli agama
saya melarang telanjang di hadapan orang. Mereka tidak peduli belum ada
dakwaan resmi terhadap saya. Mereka tidak peduli istri dan anak-anak
saya tidak mengetahui keberadaan saya. Mereka pun jelas tidak peduli
kalau saya adalah warga Amerika yang setia dan, di atas segalanya, tidak
bersalah.
 
***
 
Itulah sekelumit cuplikan dari buku berjudul FOR GOD AND COUNTRY: Korban
Paranoid Amerika karya Kapten James Yee. Apakah 'perang melawan
terorisme' yang digagas Amerika Serikat (AS) benar-benar perang yang
ditujukan untuk melawan ekstremisme demi tegaknya demokrasi? Ataukah
label itu hanya bungkus bagi perang melawan Islam? Para pejabat AS di
lingkaran Bush bersikeras bahwa agenda mereka bersifat politis, bukan
religius. Namun faktanya, retorika dan tindak-tanduk AS di lapangan
mengubah perang melawan terorisme menjadi perang melawan Islam.
 
James Yee adalah seorang mualaf lulusan West Point, akademi militer
paling bergengsi di AS. Mulanya, ia adalah pemeluk Kristen Lutheran. Ia
memilih untuk memeluk Islam ketika ke Suriah setelah lulus dari West
Point dan bertemu dengan seorang wanita bernama Huda yang kemudian
menjadi istrinya. James Yee lulus dari West Point pada tahun 1990,
mengabdi di Angkatan Darat AS selama empat belas tahun, termasuk tugas
di Arab Saudi pasca-Perang Teluk I. Setelah memeluk Islam pada tahun
1991, ia belajar Islam dan bahasa Arab di Damaskus, Suriah selama empat
tahun. Ia telah dua kali menunaikan ibadah haji ke Makkah.
 
James Yee dibesarkan di New Jersey dan-seperti ayah dan kakak-
kakaknya-ingin mengabdi pada negaranya. Ia memutuskan untuk masuk US
Army Chaplain Corps (Korps Ulama Angkatan Darat AS) sebagai salah
seorang ulama Muslim pertama. Kisahnya ini dituturkan dengan amat
memikat, menyuguhkan pandangan orang-dalam tentang kondisi di Teluk
Guantanamo, tempat Yee ditugaskan pada tahun 2003. Tugasnya adalah
melayani kebutuhan spiritual para tahanan di sana, dan karenanya ia
lebih memahami kondisi mereka ketimbang orang lain. Namun, karena itu ia
malah dijuluki `Taliban Cina', disindir, dicerca, dan difitnah
macam-macam.
 
Yee didakwa telah melakukan spionase dan diancam dengan hukuman mati.
Namun semua itu tidak terbukti; seluruh dakwaan terhadapnya dibatalkan.
Sayangnya, karier militer dan reputasinya telah lebih dulu hancur.
Bahkan hingga kini statusnya masih `dalam pengawasan'.
 
Ketika tiba di Guantanamo, Yee menemukan banyak sekali kebrutalan yang
dilakukan terhadap orang-orang Muslim yang menjadi tahanan di sana.
Namun karena awalnya ia menganggap kebrutalan ini dilandasi oleh
ketidaktahuan, Yee justru memandang kondisi ini sebagai tantangan
baginya. Yee tidak hanya ingin memberikan pelayanan spiritual kepada
para tahanan, namun ia juga ingin mendidik para personel militer AS
tentang Islam.
 
Sayangnya, hal inilah yang menyeretnya ke dalam kubangan masalah. Karena
memperlakukan para tahanan dengan hormat dan bermartabat, bicara yang
baik-baik tentang Islam, serta memimpin kegiatan- kegiatan keagamaan,
Yee malah dipandang sebagai teroris, dipandang sebagai musuh.
 
Karena James Yee seorang Muslim, ia dicurigai dan diperlakukan
semena-mena olah para prajurit lain. Para prajurit itu mengabaikan
perintah-perintahnya sebagai Kapten Angkatan Darat AS. Ini merupakan
tindakan indisipliner, namun tak ada tindak lanjutnya. Ini membuktikan
bahwa seorang Muslim tidak bisa menjadi tentara sungguhan di AS, apalagi
menjadi perwira.
 
Sebagian besar kebrutalan yang dilakukan terhadap James Yee dan para
tahanan lain di Guantanamo merupakan tanggung jawab Jenderal Geoffrey
Miller, orang yang berkuasa di Guantanamo. Jenderal Miller sepertinya
punya dendam dan kebencian pribadi terhadap Yee dan kaum Muslim. Entah
apa motifnya.
 
Keyakinan Kristen Miller sendiri yang radikal dipercaya ikut andil dalam
segala tindak-tanduknya di Guantanamo. Namun, sayangnya, James Yee-lah
yang menghadapi dakwaan kriminal, buka Miller. Yee-lah yang terpaksa
mengundurkan diri, bukannya Miller. Padahal Miller-lah- beserta sejumlah
perwira senior lainnya-yang seharusnya dipecat dengan tidak hormat dari
dinas militer.
 
Inilah kisah yang mengungkap sisi gelap perang terhadap terorisme yang
berlebihan dan tanpa aturan, yang menebar bahaya di mana-mana dan
mengakibatkan seorang patriot Amerika sejati diperlakukan layaknya
musuh. Bukannya mendapat penghargaan atas jasa-jasanya, Yee malah
dihukum. Reputasi Amerika sebagai negara hukum yang adil ikut tercoreng
bersamanya. Begitu banyak yang Yee tuangkan dalam bukunya ini. Tak pelak
lagi, buku Yee ini sarat dengan pengungkapan rahasia. Rahasia yang
niscaya membuat kita muak dengan kebijakan-kebijakan AS di bawah Bush
dengan segala tindak-tanduk primitifnya yang mengacak- acak peradaban
dan nilai-nilai kemanusiaan.

Kirim email ke