http://dirgaa.com/archives/for-god-and-country.html For God And Country Judul: For God And Country Penulis: James Yee Penerbit: Dastan Books Tebal: 356 Hubungan Islam dan (negara-negara) barat belakangan memang menjadi pelik, entah siapa yang kurang pandai menempatkan dirinya. Hal yang pasti adalah jika Amerika dengan hegemoninya sebagai simbol barat masih tetap enggan untuk mengoreksi kebijakannya, maka akurnya hubungan kedua kutub adalah mimpi belaka. For God And Country (FGAC) adalah sebuah memoar seorang prajurit muslim Amerika, sebuah cerita dari begitu banyak cerita mengenai kekejaman konspirasi berlatarbelakang skeptisme terhadap sebuah golongan. Ya, saya menyebutkan skeptisme bukan sekedar paranoid. James Yee adalah seorang warga Amerika keturunan cina, memutuskan masuk West Point dengan prinsip bahwa Amerika menjanjikan kesempatan yang sama pada semua orang untuk mendapatkan kehidupan yang luar biasa, tanpa memandang siapa dan dari mana mereka berasal. Interaksi intensnya dengan Islam dimulai setelah membaca buku Understanding Islam: An Introduction to the Muslim World dan pada 9 April 1991 memutuskan untuk mengucapkan Syahadat, masuk Islam. Setelah lulus dari West Point dia memutuskan untuk memperdalam Islam dengan belajar di Damaskus, Suriah dengan didorong oleh sebuah cita; mengabdi kepada negara sebagai ulama militer. Sebuah cita yang `mustahil' karena belum pernah ada chaplain bagi militer muslim waktu itu. Pada bulan Oktober 2000, saat bergabung kembali dalam jajaran militer, Yee menerima penugasan yang dicitakan sebagai ulama militer. Salah satu penugasannya menempatkan dia di penjara Guantanamo (Gitmo). Layaknya ulama militer, memberikan penyuluhan bagi militer muslim yang bertugas dan juga pada tahanan yang ada di Gitmo. Namun tetap tidak boleh terlalu dekat dan melakukan kontak emosional yang terlalu dalam terhadap para tawanan. Cerita mengenai penyiksaan dan pelecehan tawanan di Gitmo yang banyak beredar bukanlah isapan jempol karena Yee juga memaparkan banyak mengenai hal ini. Dia menolak cara-cara ini dan selalu mengajukan keberatannya. Dia berprinsip harusnya permasalahan ini diselesaikan dengan pendekatan pemahaman terhadap Islam itu sendiri, namun apa yang bisa dilakukan oleh seorang kapten? Tidak banyak! Pada September 2003 di akhir penugasannya dari Gitmo dia ditangkap dan ditahan tanpa tuduhan (pada awalnya) selama 76 hari. Awalnya dituduh melakukan kegiatan spionase dan membantu musuh, kemudian diubah menjadi pelanggaran terhadap masalah administrasi dan kegiatan pornografi. Semuanya tidak mampu dibuktikan dan Yee di putuskan bebas dari semua tuduhan, namun tidak ada pihak yang merasa perlu meminta maaf terhadap Yee dan mengakui kesalahannya. Yee kembali ke militer, namun reputasinya terlanjur hancur. Konspirasi untuk tidak memberi ruang bagi Yee di militer terlanjur mengakar. Yee memutuskan keluar dari militer dan tetap menuntut keadilan terhadap `kesalahan' ini. Yee (dengan dibantu Aimee Molloy) menuturkan memoarnya dengan sangat baik, pastinya juga terbantu dengan proses penerjemahan yang mencukupi oleh Soemarni sehingga kita selayak menikmati film-film Hollywood yang bertutur mengenai konspirasi negara pada warganya. Banyak hal yang membuat kita geram, namun toh kita tidak mampu berbuat apapun. Jika Anda berniat mendokumentasikan salah satu keculasan Amerika terhadap warganya yang juga menunjukkan bahwa Amerika adalah tempat menyandarkan mimipi bagi siapa saja namun bukan untuk golongan yang tidak disukainya (baca: muslim) serta hendak menunjukkan dukungan terhadap Yee, maka buku ini layak dibaca dan dikoleksi.

