Maulana M Syuhada 
   Dengan Angklung Menaklukkan Eropa 
     
 Maulana M Syuhada bersama 35 temannya menjelajahi berbagai negara di belahan 
Eropa. Misinya hanya satu: Ekspand the Sound of Angklung (ESA). Memperkenalkan 
alat musik tradisional Sunda yang bisa membawakan berbagai lagu ini merupakan 
pekerjaan menantang bagi Maulana. 
     September 2007, buku tentang pengalaman mereka diluncurkan di Bandung: 40 
days in Europe. ''Seusai melakukan penjelajahan budaya ke beberapa negara di 
Eropa ini, saya menilai, pengalaman ini tidak boleh terhapus oleh waktu. 
Pengalaman ini sangat berharga,'' jelas pria kelahiran Bandung, 14 Juni 1977, 
ini. 
     Mereka telah berkelana di Eropa pada 22 Juli 2004-30 Agustus 2004. Misi 
mereka awalnya hanya untuk mengikuti Aberdeen International Youth Festival, 
salah satu even budaya terbesar di Skotlandia. Peserta festival ini bukan hanya 
kelompok seniman dari Skotlandia, tapi hampir seluruh kelompok seniman dunia. 
     Tapi, ibarat pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, alumnus SMA 
Negeri 3 Bandung angkatan 1996 ini bertekad upaya melanglang buana mengenalkan 
angklung tak cukup hanya berlabuh di Skotlandia. Sebagai pimpinan rombongan, 
Maulana bersusah-payah mencari tahu berbagai festival dan even budaya yang 
digelar di berbagai negara Eropa dalam kurun waktu yang tak jauh berbeda. 
     ''Festival dan konser itu dicari selama satu tahun. Lalu di set up. Selama 
mencari berbagai even dan festival itu, saya harus bolak-balik Paris, Berlin, 
Brussel, dan mencari berbagai festival melalui internet, telepon, maupun kopi 
darat,'' tutur jebolan program Master (S2) Manajemen Produksi Technische 
Universitaet Hamburg, Jerman. Alhasil, dua festival lain bisa diikuti oleh tim 
ESA pimpinan Maulana ini. Yaitu, International Festival of Highland Folklore di 
Zakopane, Polandia, dan International Folklore Festival di Kostelec, Republik 
Czech.
     Berbagai pertunjukan 'gratisan' juga digelar ESA di berbagai negara dan 
kota, mulai dari Bremen, Berlin, Muenchen, Paris, Frankfurt, Hamburg, hingga 
Brussels. Dalam setiap pertunjukan, Maulana dan tim ESA sering menampilkan 
lagu-lagu daerah dan keroncong. ''Penampilan angklung dengan membawakan 
lagu-lagu klasik, seperti karya Bach dan lagu-lagu opera seperti Opera Carmen, 
cukup mendapatkan apresiasi hangat dari para penonton,'' jelas kandidat PhD 
Ilmu Manajemen  Lancaster University  Management School, Inggris, itu. 
     Hampir di setiap pertunjukan, penonton bahkan juga juri memberikan 
standing applaus. Tidak hanya itu, berbagai penghargaan pun diraih ESA dan 
tentu saja Maulana. ESA meraih juara pertama di festival mendapat di Kostelec, 
Republik Czech.
     Di festival Zakopane, Polandia, selain meraih juara pertama, mereka juga 
mendapat penghargaan tertinggi, yaitu Ciupaga. Padahal, di festival itu Maulana 
dan ESA hanya berstatus sebagai bintang tamu. Sebenarnya, Maulana dan kelompok 
ESA tidak berhak ikut dalam kompetisi folklor karena tidak mewakili jenis 
kebudayaan folklor dataran tinggi. Tetapi, lantaran performa ESA dinilai sangat 
berkualitas, tim juri akhirnya tetap memutuskan penghargaan tertinggi itu 
berhak diraih ESA dan Maulana. 
     Aktualisasi Diri
   Sebelumnya, Maulana adalah peranakan Sunda yang tak begitu mengenal 
angklung. Perkenalannya dengan angklung terjadi saat mengikuti orientasi siswa 
baru di SMAN 3 Bandung. Saat itu, kata dia, Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 
(KPA 3) membawakan soundtrack film McGyver yang saat itu tengah ngetren. 
     ''Ternyata, angklung itu alat musik tradisional yang bisa digunakan untuk 
membawakan lagu-lagu Top 40, bahkan soundtrack Mcgyver,'' kenang mantan 
Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia di Jerman (IASI) ini. 
Hingga lulus dari SMAN 3 Bandung dan belajar di Teknik Industri ITB, Maulana 
belum juga memainkan angklung. Alat musik bambu itu baru ia pelajari justru 
saat dirinya belajar di Jerman, tepatnya di Hamburg University of Technology, 
pada 2001.
     Maulana memainkan angklung dengan segala keterbatasannya, mulai dari 
sarana hingga personel. Dia dan rekan-rekan mahasiswa yang sama-sama berasal 
dari Indonesia, hanya memainkan angklung pada saat digelar International 
Student Evening. 
     Sambutan dari para penonton saat dia dan kelompok mahasiswa Indonesia 
bermain angklung sangat luar biasa. Bahkan, para penonton terlihat begitu 
antusias. Atas kepuasan penonton itulah, Maulana mengaku bahwa angklung menjadi 
semacam bentuk aktualisasi dirinya. Lewat angklung pula, ia merasakan 
pencitraan positif tentang Indonesia. ''Faktor ini yang menyebabkan saya tidak 
berhenti bermain angklung,'' jelas alumnus Pondok Pesantren Darul Arqam 
Muhammadiyah, Garut, Jawa Barat, ini. 
     Dengan segala ketekunannya, Maulana menghimpun rekan-rekannya untuk serius 
mempelajari angklung. Maulana dan rekan-rekannya pun mendirikan Angklung 
Orchester Hamburg pada 2002. Kini, kata dia, terdapat puluhan anggota Angklung 
Orchester Hamburg yang berasal dari 10 negara, yaitu Meksiko, Venezuela, 
Vietnam, Thailand, Ethopia, Elsavador, India, Austria, Rusia, dan Jerman. 
     Mengambil program doktoral di Inggris, Maulana tetap bermain angklung. Di 
Lancaster University Management School, Inggris, kata dia, pesertanya, 100 
persen orang Inggris. Maulana yakin bahwa mengenalkan angklung di luar negeri 
merupakan upaya yang sangat efektif untuk diplomasi, khususnya dalam bentuk 
pencitraan. ''Lewat seni, Indonesia memiliki nilai yang sangat tinggi,'' tegas .
     Bersama 35 orang, Maulana telah menundukkan Eropa. Senjata mereka 
angklung. ''Ini merupakan pengalaman yang luar biasa,'' kata mantan presiden 
Angklung Orchester Hamburg, Jerman, itu. (Rfa)
     Sumber:
   http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=309667&kat_id=405
     
 
 Telusur juga perjalanan grup angklung ini di:
   SCTV 16 sep
   http://liputan6.com/sosbud/?id=147647
    
   Radio DEUTSCHE WELLE 3 okt (mp3)
   http://www.sabilulungan.org/dw.htm
    
   PERCA 27 sep
   http://www.perca.blogspot.com/
    
   

Bentang Pustaka, Jl. Pandega Padma No. 19 Yogyakarta 55284, Telp. 0274-517373, 
Faks. 0274-541441, E-mail: [EMAIL PROTECTED], Blog: 
klub-sastra-bentang.blogspot.com, Groups: [EMAIL PROTECTED] 

  Untuk pemesanan, silakan hubungi: 
Mizan Media Utama (MMU), Telp. 022-7815500, Faks. 022-7802288, E-mail: [EMAIL 
PROTECTED]

       
---------------------------------
Catch up on fall's hot new shows on Yahoo! TV.  Watch previews, get listings, 
and more!

Kirim email ke