Saat Wall Street Coba Taklukkan China
Oleh Chaerul Arif
Pegiat Lembaga Kajian SINERGI Yogyakarta (LKSY)
(Sumber: Media Indonesia, Sabtu, 15 Desember 2007)
Judul Buku : Mr.China (Kisah Dramatis tentang Kejatuhan Jutawan Wall
Street
di Negeri Tirai Bambu)
Penulis : Tim Clissold
Penerbit : Alvabet Jakarta
Penerjemah : Yanto Musthofa
Editor : Aisyah
Cetakan : I, September 2007
Tebal : 368 halaman
China menjadi fenomena yang menarik sekaligus menakutkan bagi negara-negara di
dunia, bahkan Amerika Serikat (AS) pun kawatir dengan perkembangan China.
Dalam jangka waktu yang relatif singkat, China menjelma dari negara miskin
menjadi salah satu pusat kekuatan kapitalisme global. Bahkan pertumbuhan
ekonomi China tiga kali lebih cepat ketimbang AS.
Dalam kurun 25 tahun, China mampu memperbaiki perekonomiannya, sehinga banyak
produknya membanjiri pasar internasional, mulai dari produk elektronik, produk
kosmetik sampai obat-obatan.
Pada 1990-an, muncul gelombang baru di bidang perekonomian di China, dengan
membuka diri terhadap investasi asing. Atas peluang itu, Wall Street turut
ambil bagian dalam praktik bisnis di Negeri Tirai Bambu tersebut. Ketika
para bankir dari New York, yang kebanyakan bergelar MBA dari Universitas
Harvard, siap negosiasi dengan para Kader Senior (China), panggung pun
tercipta bagi berlangsungnya bentrokan serius antara dua kebudayaan yang
berbeda. Sistem keuangan Wall Street berjibaku melawan salah satu kebudayaan
tertua di dunia tersebut.
Di balik kesuksesan China, ternyata ada kisah tragis dari seorang bankir Wall
Street yang mengalami kerugian besar dalam usahanya membangun kerajaan bisnis
di sana. Penyebabnya, struktur sosial dan kultural China yang jadi acuan bagi
lakon bisnis kaum tirai bambu tak bisa akur dengan kaidah-kaidah ekonomi
negara Barat yang diterapkan sang bankir, yang mengira bisa menaklukkan China
tanpa mengerti apa yang harus dilakukannya.
Dalam buku Mr. China ini, Tim Clissold menceritakan bagaimana susahnya
memulai karir bisnis di China. Clissold sudah sembilan belas tahun tinggal dan
bekerja di China, bahkan dia telah mengunjungi sebagian besar wilayah Negeri
Tirai Bambu ini. Clissold sampai menyempatkan diri belajar bahasa
China-Mandarin selama dua tahun sebelum akhirnya turut mendirikan sebuah
kelompok pemodal swasta yang menanamkan sahamnya di China.
Menyusul perjalanan pertamanya ke China, pemuda Inggris ini melepaskan
posisinya di sebuah konsultan besar di London untuk kembali ke Beijing dan
belajar tentang China. Dua tahun kemudian, pemuda ini lebih fasih berbahasa
dan tidak lagi buta tentang budaya China.
Dengan semangat baru, dia bertekat kembali ke China untuk memulai pertempuran
dengan pola pikir yang baru. Memang tidak semua masalah dapat ia selesaikan dan
tidak pula semua pertempuran ia menangkan. Tetapi pertempuran itu membawanya
pada kesadaran baru tentang bagaimana berhubungan dan berbisnis di negara
China. ia pun kembali ke pekerjaan lamanya untuk ditempatkan di Hong Kong.
Eforia investasi ke China di awal 1990-an membuat para pemilik modal menumpuk
jutaan dolar untuk dana-dana China di Hong Kong tanpa tahu mau diapakan.
Pat, sang bankir investasi Wall Street, dan Ai Jian, mantan pejabat
pemerintahan China, berupaya mempertemukan Clissold dengan kedua partner
mereka untuk mencari proyek investasi. Dengan karisma dan pengalamannya di
Wall Street, Pat mengumpulkan lebih dari 400 juta dolar dalam waktu singkat.
Dalam kurun dua tahun, konsorsium ini berubah menjadi perusahaan dengan 20
bisnis dan lebih dari 25 ribu pegawai.
Naif terhadap realitas negara berkembang seperti China, Clissold dan
kawan-kawan awalnya menggunakan kacamata Wall Street di China. Mereka
bersandar pada cara-cara straightforward ala negara-negara Barat yang
mengandalkan pada staf ahli asing, kontrak tertulis, dan tentu saja polisi
serta sistem hukum. Namun, pada kenyataanya semua teknik yang mereka pelajari
di negara maju itu impoten di China.
Maka, impian kejayaan pun berangsur-angsur berubah menjadi mimpi buruk.
Problem muncul di mana-mana: mulai dari pekerja yang tidak mau memperbaiki
etos kerja yang buruk, pembelanjaan anggaran seenaknya tanpa perhitungan,
sampai penggelapan uang perusahaaan. Upaya menghadapi resistensi ini dengan
cara Barat melalui polisi, pengadilan, ataupun otoritas yang ada, bukannya
menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah.
Setelah kehilangan lebih dari US$15 juta dalam satu kasus, kesehatan
Clissold ambruk. Ia sadar masalah di China tidak bisa dihadapi dengan cara
Wall Street. Dalam proses pemulihan sakit, ia bertekad akan kembali bertempur
dalam the Chinese style, untuk memenangkan kembali kendali perusahaan dengan
strategi lokal. Di satu pihak, Clissold menggambarkan tentang keserakahan,
tipu muslihat, serta ambisi untuk menang. Tapi di lain pihak, ini adalah
tentang karakter manusia. Dan, Clissold termasuk pengamat yang cukup sensitif,
yang tidak terjebak dikotomi hitam-putih, jahat-baik, dalam menggambarkan
konflik yang dia hadapi.
Disadari atau tidak, itu semua adalah soal bertahan hidup di tengah
transformasi drastis di China. Dan, konflik-konflik yang dia hadapi jelas
memperlihatkan strategi bertahan yang berbeda-beda. Bagi pembaca awam tentang
China seperti saya, meskipun akhirnya tidak semua pertempuran itu dimenangkan
Clissold, namun bukanlah hasil akhir itu yang terpenting, melainkan bagaimana
cara Clissold menyiasati resolusi konflik itu. Inilah yang paling penting
dicermati bagi siapa pun yang ingin melihat realitas bisnis di China.
Petualangan Clissold dalam buku ini sangat menarik, karena bisa
menggambarkan bagaimana sisi lain dari kisah sukses China menguasai pasar
dunia. Dalam buku ini, sang penulis Tim Clissold menyajikan narasi yang bagus
dan menghibur, dengan penghormatan mendalam atas budaya, bahasa, dan sejarah
China. Penggambaran itu sangat berguna bagi pebisnis untuk mendapatkan
pelajaran bagaimana melakukan bisnis dalam iklim yang semrawut, yang
diperparah dengan perilaku birokrat yang menyebalkan.
Di sisi lain, membaca buku ini akan menumbuhkan optimisme bahwa bukan
mustahil bila Indonesia akan bisa mencapai sukses yang telah dicapai China.
Yang paling penting, para pebisnis Indonesia mestilah menyiasati kultur dan
tradisi masyarakat Nusantara agar tak berbenturan dengan kaidah-kaidah bisnis
modern ala dunia Barat. Tentu saja dengan syarat adanya usaha serius dari
semua pihak untuk mewujudkannya.
==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A,
Ciputat, Jakarta 15411 Indonesia
Telp. +62 21 7494032, 74704875 Fax. +62 21 74704875
Website: http://www.alvabet.co.id
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.