PERTUMPAHAN DARAH PERTAMA DI MASJID AL HARAM
Oleh Rusdi Mathari
Sumber: http://www.rusdimathari.wordpress.com
Perlu waktu dua minggu bagi tentara Arab Saudi untuk benar-benar
membersihkan pasukan Juhaiman dari areal mesjid dan tentu saja
Kabah. Itupun dengan mengerahkan pasukan elit, tank dan kendaraan
lapis baja, pesawat F 5, roket, peluru kendali, ribuan granat, satu
ton gas kimia beracun, dan bantuan tentara Perancis. Darahpun tumpah
di tanah haram itu bahkan mungkin adalah untuk kali pertama sejak
kawasan itu dinyatakan oleh Nabi Muhammad s.a.w sebagai wilayah
terbatas yang mengharamkan pertumpahan darah.
Judul: Kudeta Mekkah (Sejarah yang Tak Terkuak)
Penulis: Yaroslav Trofimov
Judul Bhs Inggris: The Siege of Mecca (The Forgotten Uprising in
Islam's Holiest Shrine and the Birth of Al-Qaeda)
Penerjemah: Saidiman
Editor: A. Fathoni Katamin
Penerbit: Pustaka Alvabet, Desember 2007
Halaman: x + 384 halaman
NAMANYA Juhaiman. Nama itu diberikan oleh Muhammad bin Saif al
Utaibi, sang ayah lantaran ketika lahir Juhaiman kerap menyeringai.
Saif lantas memberi nama untuk anak lelakinya yang lahir pada 1936
itu dengan nama "sang pemberenggut." Dalam Bahasa Arab pemberengut
adalah Juhaiman.
Lebih empat puluh tahun kemudian pada 20 November 1979 si
pemberengut itulah yang "menguasai" Komplek Mesjid Al Haram lewat
kekuatan bersenjata. Hari itu hari Selasa bertepatan dengan 1
Muharram 1399 (tahun baru Islam pada kalender Hijriah) atau enam
belas hari setelah mahasiswa revolusioner Iran menghancurkan dan
menduduki Kedutaan Besar Amerika Serikat, di Teheran, Iran. Dunia
Islam guncang. Dunia barat dan Uni Soviet terjebak dalam intrik
politik. Bagaimanapun Mekkah adalah jantung kaum muslim.
Perlu waktu dua minggu bagi tentara Arab Saudi untuk benar-benar
membersihkan pasukan Juhaiman dari areal mesjid dan tentu saja
Kabah. Itupun dengan mengerahkan pasukan elit, tank dan kendaraan
lapis baja, pesawat F 5, roket, peluru kendali, ribuan granat, satu
ton gas kimia beracun, dan bantuan tentara Perancis. Darahpun tumpah
di tanah haram itu bahkan mungkin adalah untuk kali pertama sejak
kawasan itu dinyatakan oleh Nabi Muhammad s.a.w sebagai wilayah
terbatas yang mengharamkan pertumpahan darah.
Korban dari pihak tentara sejauh itu menurut versi pemerintah
mencapai 60 orang meninggal dan 200 oang luka-luka, sementara dari
kalangan pemberontak 75 orang tewas, 170 ditangkap termasuk 23
perempuan dan anak-anak. Namun para pengamat independen percaya
korban dalam pertempuan dua minggu di Al Haram telah menelan korban
jiwa 1.000 orang, bahkan lebih. Di dalamnya termasuk ratusan jamaah
haji (termasuk asal Indonesia) yang masih bertahan di Mekkah hingga
1 Muharram.
Kenapa Juhaiman memberontak dan berusaha menguasai Al Haram,
meskipun dia tahu hal itu terlarang? Dendam dan latar belakang
politik pendirian negara Saudi adalah salah satu penyebabnya. Di
awal-awal pembentukan negara itu, Dinasti Saud menggandeng murid-
murid Syekh Muhammad bin Abdul Wahhâb yang kebanyakan berasal dari
suku pedalaman Badui popular dengan sebutan Wahhabi, ajaran ini
dikenal karena hendak memurnikan ajaran Islam agar sesuai dengan al
Quran dan Sunnah Rasul. Mereka telah berjuang membantu Abdul Azis
merebut kembali tahta Dinasti Saud di Arab pada awal 1900-an.
Namun tentara-tentara yang setia seperti bin Saif (ayah Juhaiman)
ituyang dijuluki sebagai Ikhwandi belakang pecah kongsi dengan
Abdul Aziz akibat perbedaan sikap: Kaum Ikhwan bersikeras menolak
kedatangan asing yang disebut sebagai kaum heretikdan orang kafir
di jazirah Arab sementara Abdul Azis tak mau mengambil risiko untuk
mengusir orang-orang Amerika Serikat dan Inggris dari jazirah Arab.
Belakangan kelompok Ikhwan itu banyak dibantai oleh keluarga Saud
hingga hanya tersisa puak-puak kecil termasuk puak Sajir, puaknya
Juhaiman. Dendam mereka semakin membuncah karena kelakukan pejabat
Saudi yang korup, mengusung seks bebas, menjadi pemabuk dan
sebagainya. Salah satunya yang paling menonjol dan banyak disorot
adalah kelakukan Gubernur Mekkah Pangeran Fawaz. Juhaiman sendiri
sebenarnya pernah menjadi anggota Garda Nasional namun keluar pada
1973 karena menganggap negara sudah tidak menerapkan ajaran agama.
Dia memilih menjadi mahasiswa dan pengkhotbah yang banyak membawa
ajaran Wahhabi.
"Semestinya kamu tahu bahwa menjadi pemerintah atau pemimpin Islam
itu harus memenuhi tiga perkara: Muslim, turunan Nabi Muhammad s.a.w
(Quraisy), dan menerapkan ajaran agama," kata Juhaiman dalam
risalahnya. Dan Dinasti Saud bahkan tidak memenuhi satu pun kriteria
itu.
Juhaiman menyelinap ke komplek mesjid pada sebuah subuh yang dingin
pukul 5.18. Shalat shubuh baru ditunaikan ketika rentetan tembakan
terdengar di areal mesjid. Juhaiman muncul ke depan, mendekati Kabah
dan dengan kasar menyergap mikropon dari Syekh Muhammad bin Subail,
Imam Mesjid Al Haram. Antara Subail dan Juhaiman sebenarnya saling
kenal: Subail adalah dosen Juhaiman. Namun si bekas mahasiswa itu,
tak lagi hirau kepada Subail. Jamaah kocar-kocir, sebagian tertahan
dan kemudian disandera oleh Juhaiman dan kelompoknya, yang lain
menyelamatkan diri keluar dari komplek Al Haram.
Mikropon yang direbut dari Subail dia serahkan kepada Sayid
(kakaknya). Di pagi itu, semua kebobrokan Dinasti Saud (penguasa
Arab Saudi) tersiar melalui tujuh menara mesjid seperti suara azan.
Dikatakan pula oleh Sayid bahwa Muhammad Abdullah (adik Juhaiman)
yang juga ikut dalam penguasaan mesjid sebagai Imam Mahdi dan para
jamaah diminta melakukan baiat atau sumpah setia kepada dia. Subail
memerintahkan menutup seluruh pintu masuk ke mesjid. Sejumlah
penembak jitu dan dan orang-orang dengan senjata mesin, dia
tempatkan di menara dan bagian atas bangunan mesjid.
Hingga pukul 8 pagi belum ada yang tahu pasti, apa yang sesungguhnya
terjadi di Al Haram. Para jamaah yang kebingunan karena tak bisa
masuk ke dalam komplek mesjid hanya bertanya-tanya kenapa pintu
gerbang mesjid ditutup. Sebuah jip patroli polisi yang mencoba
mencaritahu dengan cara melintas di depan mesjid malah ditembak oleh
penembak jitu. Kaca depan jip hancur, pengemudinya mengalami luka-
luka. Konvoi patroli berikutnya yang mencoba mendekat tak lebih baik
nasibnya dari patroli jip pertama. Dua perwira tewas dan 36 tentara
luka-luka akibat tembakan yang menyalak dari bagian atas mesjid.
Hanya Syekh Nasir bin Rasyid yang tahu persis apa yang sedang
terjadi. Pada pukul 6 pagi, dia mendapat telepon dari Subail yang
mengabarkan peristiwa memalukan itu. Subail berhasil menghubungi
atasannya itu lewat telepon di komplek mesjid setelah dia berhasil
menyelinap dan menyamar sebagai jamaah Indonesia, yang oleh
Juhaiman "tidak dibutuhkan" karena dianggap tidak berbahasa Arab.
Kabar itulah yang diteruskan Rasyid lewat telepon kepada Raja
Khalid, yang saat itu masih terkulai di ranjang karena flu. Hanya
dalam waktu sejam ada 30 kali sambungan telepon dari Mekkah-Jeddah
antara Rasyid ke Raja atau sebaliknya:.
Dua anggota penting kerajaan yaitu Fadh dan Abdullah sedang tak ada
di dalam negeri. Putra mahkota Fahd pagi itu masih terlelap tidur di
sebuah hotel mewah di Tunisia, Abdullah sedang menikmati liburan
akhir tahun di Marokko. Kerabat lain, Pangeran Turki Al Faisal yang
menjabat Ketua Muda Direktorat Intelejen Umum, juga sedang menemani
Fadh. Raja Khalid kemudian menugaskan dua saudara Fadh, Pangeran
Nayif (Menteri Dalam Negeri) dan Pangeran Sultan (Menteri
Pertahanan) untuk mengembalikan Al Haram kepada kedaualatan Kerajaan.
Dua pejabat itu tiba di Mekkah pukul 9 pagi ditemani saudara tiri
mereka Pangeran Fawaz, Gubernur Mekkah. Mereka membuat garis
pertempuran dengan kelompok Juhaiman dengan menutup semua jalan
masuk menunju komplek mesjid untuk memastikan tidak ada pasokan
logistik dan pasukan dari luar areal mesjid kepada kelompok
Juhaiman. Namun blokade itu semakin membuat banyak orang bertanya-
tanya: apa yang sebenarnya terjadi di Al Haram? Desas-desus tentang
kedatangan Imam Mahdi sang pembebas kemudian mengudara semakin
kencang secepat angin gurun pasir, melampaui wilayah Arab Saudi.
Seorang jamaah haji asal Maroko yang meloloskan diri ketika kelompok
Juhaiman mulai menyandera jamaah menjelaskan kepada atase militer
Kedutaan Marokko di Jeddah apa yang sebenarnya terjadi. Informasi
itu dikirim ke Marokko ketika Raja Hasan II sedang sarapan pagi
bersama Pangeran Abdulah. Tak suka dengan informasi yang mulai
menyebar, Kerajaan Saudi kemudian meminta perusahaan telekomunikasi
Kanada yang mengatur sambungan internasional Saudi untuk memutus
semua sambungan komunikasi menyebabkan berita soal penguasaan Al
Haram oleh Kelompok Juhaiman menjadi semakin sangat tertutup.
Namun para diplomat Barat (Eropa dan Amerika Serikat), justru
mengetahui kejadian di Mekkah dari putusnya sambungan telepon di
kantor-kantor keduataan mereka. Sebagian informasi didapat dari
seorang pilot helikopter Chinook berkebangsaan Amerika yang muallaf
yang pada Selasa nahas itu diminta menerbangkan dua pejabat militer
Saudi ke Mekkah. Washington ragu tapi para pejabat dari pemerintahan
Presiden Jimmy Carter tetap berbicara kepada media bahwa, "Mesjid
Mekkah diduduki orang-orang bersenjata yang diyakini berasal Iran."
The New York Time menjadikannya sebagai headline, pada Rabu pagi 21
November 1979.
Berita semacam itu lalu beredar luas di hampir seluruh dunia dan
menyulut sentimen anti Amerika: Negara itu dituduh berada di balik
aksi penguasaan Al Haram oleh Kelompok Juhaiman. Washington keliru
mengambil kesimpulan atas informasi yang belum benar-benar diketahui
oleh mereka.
Ada tiga gelombang penyerangan yang dilakukan tentara Saudi.
Penyerangan pertama dan kedua yang berlangsung hari Rabu dan Kamis
menelan banyak korban dan bisa dikatakan mengalami kegagalan.
Penyerangan ketiga dilakukan sepuluh hari kemudian pada Senin 3
Desember 1979 dengan mengerahkan kekuatan besar-besaran termasuk
memasukkan gas-gas beracun CB yang didatangkan oleh para perwira
GIGN dari Perancis. Gas-gas itu dimasukkan ke dalam lorong-lorong
bawah mesjid dan memaksa sisa Kelompok Juhaiman menyerah. Adik
Juhaiman, Muhammad Abdullah yang diklaim sebagai Imam Mahdi tewas.
Juhaiman menyerah bersama Sayid.
Beberapa hari setelah areal mesjid dibersihkan dari darah, mayat dan
kotoran, Juhaiman dihadapkan kepada Raja Khalid. Seorang tentara
dengan angkuh menyeret jenggotnya. Di dalam tahanan Juhaiman dan
pengikutnya disiksa tak kenal ampun termasuk disuntik dengan zat
kimia. Kepada Pangeran Tukri, Juhaiman menyesali perbuatannya dan
mencoba meminta grasi kepada Raja tapi ditolak. Pada 9 Januari 1980,
Juhaiman bersama 62 pengikutnya dipancung di di delapan kota yang
berbeda di Saudi. Juhaiman bersama Sayid dieksekusi di Mekkah tapi
Raja Khalid mencoba mengakomidir sebagian yang menjadi tuntutan
Juhaiman. Salah satunya dengan membiayai banyak pusat-pusat
keagamaan di Saudi termasuk untuk kelompok Wahhabi.
Ketika Uni Soviet menyerang Afghanistan pada 25 Desember 1979, anak-
anak muda Wahhabi dikirim untuk berperang di sana. Saudi dan Amerika
menjadi penyandang dana dan pemasok senjata. Usama bin Laden waktu
itu berumur 19 tahun dan terpikat dengan ajaran Juhaiman. Pada 2002
menyusul peristiwa 11 September 2001, hampir semua anak-anak muda
yang waktu itu dibiayai dan dipersenjatai oleh Amerika Serikat dan
Saudi untuk berjihad, diburu habis-habisan sebagai teroris, termasuk
anak-anak muda dari Indonesia.
Buku ini padat dengan informasi dan dituturkan dengan gaya penulisan
seorang wartawan. Yaroslav Trofimov, penulisnya memang pernah
menjadi wartawan The Wall Street Journal. Andai saja penyuntingan
atau mungkin juga penerjemahannya dalam versi Bahasa Indonesia
dilakukan dengan sedikit lebih sabar, buku ini mestinya akan sangat
menarik dan tidak akan melelahkan untuk dibaca. Tidak adanya daftar
isi dan cetakan buku yang kaku sehingga membuat halaman demi halaman
sulit disibak adalah cacat lain dari buku ini.
==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.