Resensi Buku
DILARANG JADI PEREMPUAN
Oleh Lisya Anggraini
Sumber:
Batam Pos, Minggu 15 April 2007
LAGI lagi tak mudahnya takdir diterima keadaan sering menjadi tema dalam
naskah novel. Takdir yang dipertentangkan itu dan harus disembunyikan dari
kenyataan, adalah perempuan. Perempuan dengan keperempuanannya tak jarang
menjadi sesuatu yang ditabukan, dipermalukan bahkan harus disingkirkan dari
keharusan nyata. Rupanya sudah menjadi sebuah kenyataan menjadi perempuan
selalu tidak mudah di banyak belahan dunia ini.
Di Cina kita pernah mengenal sejarah, bahwa memiliki anak perempuan adalah
sesuatu yang tak diinginkan. Di India, perempuan juga menjadi penghias yang
jika berlebihan jumlah maupun eksistensinya harus berhadapan dengan
penebasan. Baik haknya maupun kehadiran wujud dirinya. Di tanah air sendiri,
perempuan masih terus bergelut untuk menjemput jatidirinya sebagai bagian yang
mestinya tidak selalu menjadi ketersudutan keadaan. Ah, itupun hanyalah
sebagian kecil contoh sejarah, yang saya yakini dari banyak sejarah perempuan
di belahan dunia ini.
Mungkin kesadaran itu pula yang mendorong penulis Siba Shakib menggoreskan
cerita Samira dan Samir. Kisah perempuan di Afghanistan. Tepatnya, potret
perempuan Afghanistan yang disimak Siba Shakib lalu diolah menjadi kisah dengan
artikulasi bahasa yang hebat dilengkapi imajinasi yang kuat. Sehingga Siba
berhasil membangun potret kehidupan dalam kisah menarik karena keanggunan
bahasanya. Meski demikian, Siba bukan terlena dengan mainan bahasa-bahasa
indahnya yang kadang membuat puyeng pembacanya untuk menyimak makna yang
disampaikan. Karena bahasa indahnya mampu membangun layar kehidupan prihatin
ditampilkan puitis ketika pembaca menyimak bukunya ini.
Dan kisah Samira yang mesti menjadi Samir mengalir baik dalam buku ini.
Tepatnya, tentang takdir perempuan Samira yang harus ditukar menjadi
laki-laki. Samira terlanjur diimpikan sebagai Samir, oleh siapapun di
sekitarnya bahkan ketika benih dari ayahnya dititipkan dalam rahim sang ibu.
Karena itu kelahiran Samira menjadi sebuah kekalutan dan ketakutan bagi
ibunya. Dan kemurkaan bagi ayahnya. Lelaki sejati terlanjur dimaknakan adalah
lelaki yang mendapatkan seorang putera bukan seorang puteri.
Sehingga Ibunya menggerang ketakutan ketika wujudnya dilahirkan. Karena
penolakan sekitar, juga hadangan hukuman akan ditinggalkan, karena telah
menjadi perempuan yang tidak mampu memenuhi kehendak suami dan kehendak
sekitarnya. Perempuan yang tidak mampu melahirkan seorang putera bagi
suaminya, bukanlah seorang perempuan. Karena suaminya tidak lagi
membutuhkannya sebagai perempuan..
Atau siap dirontokkan giginya. Seorang istri yang tidak mampu berfungsi
sebagai perempuan, dapat menggunakan mulutnya untuk memuaskan nafsu suami.
(hal 23)
Perempuan yang berhak mendapatkan tempat yang layak dalam rumah tangga, adalah
yang mampu melahirkan anak pertamanya berjenis kelamin lelaki.
Memang ada pilihan lain, yakni menghapus naluri keibuan dengan membuang bayi
tersebut dan dianggap tidak pernah ada. Itulah deretan dosa yang ditimpakan
Samira untuk ibunya ketika ia dilahirkan.
Tapi Samira masih beruntung, karena sang ibu mendapatkan ketegaran untuk
menerima kehadirannya dan sang ayah menerima meskipun setengah hati. Namun
dengan itikad, sejarah seorang Samira tak pernah ada.Yang hidup dan punya
kehidupan hanyalah seorang Samir.
Karena itu, Samira mesti membuang takdirnya sebagai perempuan. Lingkungannya
adalah bergabung dengan anak laki-laki. Tidak boleh mudah menangis dan tidak
boleh berkumpul dengan teman-teman sejenisnya. Dan ia mesti siap menunggangi
kuda dan berjuang melatih diri demi untuk menjadi komandan mengganti sang ayah
kelak.
Samira memang berhasil meyakinkan kedua orangtua dan orang sekitarnya, bahwa
ia telah tumbuh menjadi seorang Samir. Berhadapan dengan lelaki setiap saat
adalah kemestian yang sudah dilaluinya.Kehidupan laki-laki juga telah pula
dilakoninya. Berburu, berkuda, menembak hewan dan menangkapnya dengan mudah.
Dan sejarah perempuan dalam dirinya hanyalah perubahan fisik yang juga harus
ditiadakan. Payudaranya mesti tidak boleh tumbuh mekar dengan cara ditutupi.
Juga kodrat perempuan remaja yang harus menjalani menstruasi tidak
menghalanginya untuk menjadi laki-laki. Cita-citanya pun telah bulat untuk
menjadi lelaki sejati dan akan menjadi kuchi (lelaki gunung) pengganti ayahnya.
Namun, apakah Samira bisa menepiskan gejolak hatinya, bahwa ternyata ia jatuh
cinta pada lelaki? Bashir lelaki yang telah menggoda perasaannya itu. Sekalipun
ia sudah menjadi seorang Samir. Tapi lelaki itu terus mengisi impian
malam-malamnya. Dan membuat senyumnya selalu berbunga-bunga. Akankah ia bisa
menepis perasaanya itu, padahal sudah begitu menyesak di dalam dada? Sedangkan
takdir yang dibangun dalam sejarah hidupnya adalah seorang Samir yang tidak
akan mungkin menjadi istri seorang Bashir, kecuali jika ia seorang Samira.
Bagaimanakah kelanjutan takdir Samira? Membaca buku ini adalah cara menemukan
terbaik, jawabannya.
*****************
Kisah selengkapnya dapat dibaca di buku berjudul:
SAMIRA DAN SAMIR
Karya Siba Shakib
Pustaka Alvabet
Cetakan I, Maret 2006
Cetakan IV, April 2007
Tebal 396 halaman
www.alvabet.co.id
==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.