Manusia Suci Oleh : Samaji
(Member of Para Pemikir Studies - www.parapemikir.com) Apakah agama itu? Agama adalah ideologi yang bersumber dari Tuhan? Apakah ideologi itu? Ideologi adalah serangkaian pengetahuan yang telah menjadi pedoman hidup? Apakah pengetahuan itu? Pengetahuan adalah kesadaran tentang eksistensi sesuatu? Apakah kesadaran itu? Kesadaran adalah agama! Serangkaian tanya jawab di atas belum dijadikan bahan renungan bagi manusia pada umumnya sebagai makhluk yang berakal. Padahal kesadaran bahwa manusia sebagai makhluk yang berakal pasti akan menggunakan akalnya untuk mengambil apa-apa yang bermanfaat untuknya dan menghindari apa-apa yang akan merugikan dan mencelakakannya. Dalam mengambil keputusan tentang pilihan-pilihannya tersebut tentunya diperlukan adanya kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi dan larangan-larangan yang harus dihindari, sehingga apa yang menjadi pilihannya benar-benar merupakan kesadaran atas kehendaknya sendiri bukan atas dasar keterpaksaan. Inilah agama, tidak ada paksaan dalam beragama, karena agama adalah sebuah keyakinan dari sederetan pengetahuan yang membentuk kesadaran yang tak terelakkan. Biarpun pada dasarnya manusia sadar ataupun tidak sadar selalu mengikuti-memiliki-suatu ideologi. Seperti Nitzsche misalnya dengan konsep "manusia unggul" yaitu manusia yang kuat dan mampu mengatasi segala sesuatu, bukan manusia yang 'cengeng' dan menyerahkan ketidakberdayaannya kepada Tuhan. Juga konsep tentang "absurditas-kesia-siaan hidup"-seperti Albert Camus, bahwa dunia ini adalah absurd, tidak ada nilai, tidak ada masa depan, dunia ini irasional tidak mampu menerangkan persoalan-persoalan hidup. Inilah ideologi dari sebagian para antiteis. Demikian pula para teis yang meyakini bahwa agama merupakan sumber ideologi yang diberikan Tuhan pencipta alam semesta beserta isinya. Tuhan telah memberikan agama sebagai ideologi-pedoman hidup-untuk manusia melalui para utusanNya. Namun pada kenyataannya dalam kehidupan ini terdapat banyak 'agama', dan setiap 'agama' pun mempunyai beragam sekte (aliran), dimana setiap aliran mempunyai ideologinya masing-masing. Dalam persoalan seperti ini yang menjadi pertanyaan adalah apakah Tuhan memberikan banyak agama atau satu agama? Kalau hanya satu, bagaimana membedakan antara 'agama' yang benar (asli) dan yang salah (palsu), mana aliran yang lurus dan mana aliran yang sesat? Keyakinan bahwa pada hakekatnya semua agama itu berbeda, hal ini didasarkan bahwa manusia pada suatu masa dan pada suatu tempat, berlainan dengan manusia pada suatu masa dan pada suatu tempat yang lain. Manusia pada zaman Adam berbeda dengan manusia pada zaman Ibrahim, manusia di Barat berbeda dengan manusia di Timur. Sehingga agama pada masa Adam tidak bisa diterapkan di masa Ibrahim, agama yang berlaku di Barat tidak bisa diberlakukan di Timur, agama untuk orang Israel tidak cocok untuk orang Persia, manusia zaman modern tidak bisa mengambil pelajaran sejarah dari manusia sebelum masehi, manusia di Barat tidak bisa berperilaku seperti manusia di Timur, orang Israel tidak bisa diperlakukan seperti orang Persia, karena memang pada dasarnya semuanya berbeda. Sehingga agama diturunkan sesuai dengan keadaan dan tempat yang cocok untuk manusia tersebut. Sedangkan keyakinan bahwa hanya satu agama yang benar, hal ini didasarkan bahwa pada hakekatnya manusia itu adalah sama, oleh karena itu tidak ada keterbatasan waktu dan tempat, agama berlaku universal. Karena agama berlaku universal, maka agama dimasa lampu sampai akhir zaman harus dapat diterima oleh manusia kapan saja dan dimana saja, karena bersumber dari Tuhan Yang Satu yaitu Tuhan Pencipta Alam Semesta. Terjadinya bermacam agama dan berbagai aliran ini disebabkan oleh adanya nafsu-kedengkian-kesombongan-kebodohan-manusia. Dengan berbagai kepentingan baik politik, ekonomi, sosial dan budaya, manusia memanfaatkan agama yang telah menjadi institusi yang mapan untuk memenuhi keinginan nafsunya. Dengan demikian orang-orang awam yang bodoh yang melihat agama hanya sebatas identitas dan institusi bukan melihatnya sebagai ideologi akan mengikuti para elit yang telah dipenuhi oleh nafsu setan. Agama para elit, agama para agresor dan agama para penindas, agama yang memaksa, agama yang eksklusif akan memanfaatkan para awam yang bodoh sebagai penyokong agama mereka, sehingga sebagian besar terkelabui. Hanya sedikit manusia yang menyadarinya. Hanya orang yang tercerahkan dan orang suci yang mampu membedakan mana agama (ideologi-aliran) yang telah dimanfaatkan oleh nafsu-nafsu manusia dan mana agama yang suci. Manusia seperti ini sanggup menerima dan mengakui agama yang disampaikan Tuhan melalui utusanNya baik dimasa lalu, sekarang maupun yang akan datang, manusia seperti ini setiap 'ditinggalkan' oleh seorang utusan akan selalu mengikuti wasiatnya dan pada saat munculnya utusan yang menggantikannya akan selalu menerimanya. Sekali lagi manusia seperti ini adalah manusia suci yang tercerahkan oleh nur Tuhannya. Bukan manusia yang ada motif-motif, pretensi-pretensi tertentu sekecil apapun selain hanya semata-mata karena kebenaran dan keadilan Tuhan Yang Suci, tidak dapat menjadi kekasihNya selain kesucian. www.parapemikir.com

