Berawal dari Mimpi dan Kebencian Oleh Efri Ritonga
Sumber:
Koran Tempo, Minggu, 03 Februari 2008
Judul Buku: Kudeta Mekkah: Sejarah yang Tak Terkuak
Penulis: Yaroslav Trofimov
Penerbit: Pustaka Alvabet
Penerjemah: Saidiman
Cetakan: I, Desember 2007
Awal Muharam 1400 Hijriyah, Kota Suci Mekkah terlihat tenang. Hari itu, 20
November 1979, saat fajar abad baru Islam mulai menyingsing, sekitar 100 ribu
anggota jemaah haji umrah dari pelbagai penjuru dunia membaur dengan penduduk
lokal. Berbondong-bondong mereka menuju Masjid Al-Haram untuk menunaikan salat
subuh.
Dengan kaki telanjang, jemaah merendahkan kepalanya, bersujud di lantai
masjid, melingkar menuju satu titik pusat: Ka'bah. Seusai salat, imam masjid
Muhammad bin Subail mengambil pengeras suara dan membaca doa. Persis saat sang
imam menutup doa dengan harapan akan kedamaian di muka bumi, tiba-tiba
terdengar bunyi letusan. Gelegar suaranya menggema menghantam tembok dan pilar
masjid.
Seorang pemuda dengan menggenggam senjata api laras panjang menyibak
kerumunan, melangkah maju menuju Ka'bah. Belasan pemuda lainnya menembak
kerumunan merpati yang bergerombol di atas bangunan plaza di luar Masjid
Al-Haram. Polisi masjid yang hanya bersenjata tongkat perlahan menjauh begitu
mengetahui dua penjaga pintu yang mencoba melawan tewas dihajar peluru.
Di tengah keributan, Juhaiman al-Utaibi, pemimpin gerombolan pengacau itu,
muncul dari dalam masjid. Matanya hitam memikat, rambutnya sebahu, dan
jenggotnya hitam berombak. Laki-laki Badui berumur 43 tahun itu memakai jubah
tradisional Saudi berwarna putih yang dipotong pendek di pertengahan kaki,
sebagai simbol penolakan terhadap kekayaan materi.
Diapit tiga anggota kelompok militan bersenjata bedil, pistol, dan belati,
Juhaiman menerobos kerumunan menuju Ka'bah. Rasa ngeri terpancar dari raut
wajah sang imam tatkala tanpa rasa hormat, Juhaiman mendorong gurunya itu ke
samping dan merebut mikrofon. Ulama itu mencoba bertahan, tapi hunusan belati
salah seorang perusuh memaksanya mundur.
Melalui mikrofon, Juhaiman memerintahkan anak buahnya mengepung masjid,
menutup semua jalan keluar, dan menaiki tujuh menara setinggi 89 meter. Dari
menara masjid bisa terlihat jantung Kota Mekkah dan memberi ruang bagi para
penembak jitu yang tersembunyi. Proses pengambilalihan tempat tersuci umat
Islam itu berlangsung cepat dan sempurna.
Saat berikutnya, pengeras-pengeras suara masjid mengabarkan pesan mengejutkan
bagi 1 miliar muslim sedunia. Diselingi suara tembakan, Juhaiman mengabarkan
bahwa ramalan yang ditunggu telah terpenuhi, Imam Mahdi yang dinanti telah
tiba dan sekarang menduduki Al-Haram. Sejak itu dimulailah peperangan yang
telah membuat Mekkah berlumuran darah.
Horor di Masjid Al-Haram itu dikenang dunia sebagai salah satu peristiwa
paling berdarah dalam sejarah Kerajaan Arab Saudi modern. Yaroslav Trofimov,
mantan wartawan The Wall Street Journal, mengangkatnya ke dalam buku yang
terjemahannya baru saja diluncurkan Alvabet pada pengujung tahun silam.
Supaya pembaca lebih memahami latar belakang pendudukan itu, Trofimov
melengkapi laporannya dengan sejarah hidup Juhaiman, pemimpin pemberontak yang
mendaulat temannya, Muhammad Abdullah al-Qahtani, sebagai Imam Mahdi yang
bakal menyelamatkan dunia.
Ayah Juhaiman adalah anggota Ikhwan. Kelompok ini dibentuk Abdul Aziz, dari
kaum Badui Najd yang nomaden, pada awal 1900-an. Kepiawaian tempur dan
kebuasan Ikhwan dipakai Aziz untuk menyatukan jazirah Arab. Setelah Abdul Aziz
berhasil menyatukan hampir seluruh jazirah, ia melarang Ikhwan mengganggu
peziarah Mekkah dan Madinah yang non-Wahhabi. Aziz juga memberi keleluasaan
kepada Syiah di pesisir timur serta melarang Ikhwan berjihad melawan kaum
bidah dan orang kafir. Ikhwan yang merasa dikhianati pada 1927 menyerang Irak
dan Kuwait yang diperintah Inggris. Dengan persetujuan Raja Abdul Aziz,
Angkatan Udara Inggris mengebom kemah Ikhwan. Ratusan pria, perempuan, dan
anak-anak terbunuh.
Yaroslav menyebut pendudukan Al-Haram sebagai akar sejarah terorisme global,
terutama yang dimotori Usamah bin Ladin dan Al-Qaidah. Ketika pemberontakan
itu meletus, Usamah muda, seperti kebanyakan muslim Arab Saudi dan sekitarnya,
sangat menolak pembantaian besar-besaran di Mekkah yang dibantu Barat.
Peristiwa ini pula yang kemudian meruntuhkan loyalitas mereka kepada Kerajaan
Arab Saudi.
Gaya penulisan buku ini yang cukup serius sebenarnya bisa dibuat lebih santai
dan ringkas dengan penghalusan teknik penulisan. Sebagai seorang jurnalis,
sangat disayangkan Yaroslav tidak menampilkan tulisan yang lebih hidup
sebagaimana layaknya laporan jurnalistik. Sebagai jurnalis, semestinya pula
Yaroslav mampu menampilkan laporan yang lebih berwarna, tidak linier, dari
berbagai sudut pandang, tidak hanya satu sudut pandang.
Begitupun, sebagai sebuah karya dokumentasi buah kerja keras pengarangnya
selama setahun menempuh 100 ribu mil perjalanan udara, buku ini sangat patut
dikoleksi. Setidaknya bisa menjadi referensi yang cukup padat untuk memahami
sebuah peristiwa sejarah.
==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.