PRESS RELEASE

PELUNCURAN DAN DISKUSI BUKU
BUNG TOMO SUAMIKU & BUNG TOMO MENGGUGAT
Auditorium Tugu Pahlawan, Gedung Juang 10 November 1945
Tanggal 28 Februari 2008, Jam 15.00 - 17.00 WIB



Bung Tomo selama ini "hanya" dikenal oleh generasi muda sebagai
pahlawan yang mengobarkan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Generasi muda banyak yang tidak/belum tahu bahwa Bung Tomo pernah
menjadi menteri (Menteri Urusan Veteran pada Kabinet Burhanuddin
Harahap) dan menjadi anggota DPR RI pada tahun 1950-an. Setelah itu,
Bung Tomo yang terkenal kritis terhadap penguasa (Bung Karno dan Pak
Harto) seolah-olah hilang begitu saja peranannya dalam sejarah Indonesia.

Di samping sebagai wartawan dan tentara dengan pangkat terakhir mayor
jenderal, Bung Tomo dikenal dekat dengan Panglima Besar Jenderal
Soedirman. Pemikiran dan tulisannya yang kritis selalu berpijak pada
nasihat Pak Dirman, yakni pemimpin jangan sampai tergoda dengan harta,
tahta, dan wanita. Jika sampai tergoda akan hancurlah kepemimpinan dan
kewibawaannya. Pada masa Orde Baru, Bung Tomo sempat mendekam di
penjara selama satu tahun (1978—1979), yakni di sebuah penjara yang
terletak di sekitar Kramatjati, Jakarta Timur. Dia dipenjara karena
sikap kritisnya terhadap pemerintah Orde Baru di bawah kepemimpinan
Jenderal Soeharto. Dan, hingga saat ini Bung Tomo belum mendapat gelar
Pahlawan Nasional.

Bung Tomo Suamiku

Bung Tomo Suamiku: Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawananmu adalah
sebuah buku yang di-rellease ulang atas karya Ny. Sulistina Sutomo
(Istri Bung Tomo) yang pernah diterbitkan pada tahun 1995. Buku ini
berisi romantika perjuangan Bung Tomo pada masa Revolusi Fisik
(1945—1949) hingga romantika kehidupan rumah tangga sampai Bung Tomo
meninggal dunia pada tahun 1981.

Bagaimana kisah cinta dua sejoli, pemuda Sutomo dengan pemudi
Sulistina pada zaman perang kemerdekaan terekam indah dalam buku ini.
Untaian surat cinta, pengorbanan, janji setia sehidup semati
bertebaran menghiasi kehidupan mereka. Kata-kata mutia terselip di
sana-sini. Intinya, cinta telah menyatukan mereka hingga mereka
menikah dan beranak-pinak, bahkan hingga salah satu di antara mereka
kembali menghadap Sang Khalik.

Jika dicermati lebih, jauh romantika percintaan mereka dengan
romantika perjuangan mereka dalam membela tanah air, membebaskan diri
dari belenggu penjajahan, kemudian mengentaskan rakyat dari kebodohan
dan kemiskinan, tampak sebangun, selaras, dan identik. Benang merahnya
adalah bahwa bagi sosok Bung Tomo dan Ny. Sulistina, cinta membutuhkan
perjuangan, pengabdian, dan pengorbanan secara total, serta tidak
dinodai dengan nafsu-nafsu rendah.

Bung Tomo Menggugat

Menembus Kabut Gelap: Bung Tomo Menggugat berisi dokumen-dokumen hasil
pemikiran, berupa tulisan, artikel, dan surat (baik resmi maupun tidak
resmi). Di antaranya ditujukan kepada Bung Karno, Pak Harto, Presiden
AS Eissenhower, anggota Partai Indonesia Raya, LVRI, dan sebagainya;
serta beberapa artikel tentang kepahlawanan dan persoalan
antargenerasi. Sebagian besar tulisannya merupakan kritik yang keras
dan tajam terhadap situasi dan kondisi pada zamannya. Kritik yang
tidak sekadar kritik. Selain mengritik, Bung Tomo juga memberikan
solusi atau cara-cara penyelesaian masalah, meskipun itu kesannya
masih sangat sederhana.

Kedua buku ini layak dibaca oleh seluruh warga negara Indonesia yang
merasa memiliki pahlawan. Dengan mengenal pemikiran dan
tulisan-tulisannya, diharapkan kita bisa mengetahui siapa Bung Tomo
sebenarnya dan pada akhirnya kita juga akan mengetahui sejauh mana
kualitas kepahlawanannya.

Selengkapnya: http://visimediapustaka.com

Kirim email ke