HIDUP SEDERHANA VS. HIDUP SELIBAT Dear Friends, tanya-jawab ini berasal dari milis SI <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>. Semoga bisa bermanfaat juga. (Leo)
+++ I = Mas I L = Leo I = Dearest Bros & Sis, Sidharta Gotama akhirnya berselibat (!!!). Murid2nya hidup berselibat (!!!). Para bhikku mau tidak mau harus berselibat (!!!). Apakah ada hubungan langsung Hidup Berselibat dgn realisasi Nibbana (???). L = Sidharta Gautama yang menjadi Buddha Sakyamuni itu seorang yang berjalan dari ekstrim ke ekstrim. Dia itu TELAH menjalani semuanya, dari SENSUALISME (hidup di istana), ASKETISME (menjadi pertapa), sampai akhirnya menemukan JALAN TENGAH. Jalan Tengah dari Buddha itu caranya dengan melepaskan segalanya satu persatu, walaupun hidup di dunia dijalani, tetapi TANPA KEMELEKATAN. Walaupun menikah, tetapi tidak melekat dengan institusi pernikahan. Walaupun menjalani tugas duniawi, tapi tidak melekat dengan keduniawian. Jadi, segalanya itu dijalani saja, dilihat saja, diamati saja datang dan perginya. Sidharta Gautama itu TIDAK memiliki konsep tentang Tuhan karena dia itu tahu bahwa yang namanya Tuhan / Allah / God itu cuma KONSEP DOANG. Semuanya itu bikinan pikiran manusia. Karena buatan pikiran manusia, akhirnya segala konsep itu BISA berubah. Dulu Tuhan / Allah itu "ikut berperang". Ada manusia yang dicintai Allah, dan ada manusia yang dibenci Allah. Nah, apakah itu Allah yang asli, atau Allah bikinan pikiran manusia ? Siddharta Gautama TAHU bahwa segala Allah yang PUNYA keinginan untuk ini dan itu adalah Allah buatan manusia. Allah yang MEMILIKI AGAMA atau yang MEMBUAT AGAMA adalah Allah buatan manusia, hasil dari pemikiran manusia sendiri. So, Siddharta Gautama akhirnya bilang LEPASKAN SEMUANYA. Lepaskan segala konsep tentang Allah itu, buang aja, gak ada gunanya. Masuk aja ke dalam diri sendiri, meditasi aja dan, bahkan, ketika dalam meditasi itu tidak usah mencari segala sensasi karena sensasi datang dan pergi. Segala sensasi akan datang dan pergi, tetapi KESADARAN (Consciousness) yang ada di diri kita itu tetap. Dan Siddharta Gautama tahu tentang itu. Nah, karena segalanya itu datang dan pergi, maka untuk apa terikat kepada mereka itu semua ? Kenapa harus terikat kepada pernikahan ? Kenapa harus terikat kepada kekayaan dan jabatan ? Kenapa harus terikat kepada syariat ? Segalanya itu datang dan pergi. Ketika manusia itu SADAR bahwa segala yang dilihatnya itu datang dan pergi, maka manusianya itu dibilang telah ELING (AWARE). Eling bahwa segalanya itu hasil dari PIKIRAN (the Mind) yang ada di manusia itu sendiri. Nah, sekarang bagaimana caranya supaya the Mind itu bisa mencapai SAMADHI. Dan kalau telah mencapai Samadhi, bagaimana untuk mencapai BEYOND SAMADHI ketika kita itu tidak ada apa2 lagi. Ketika kita itu hanya PURE AWARENESS ? Caranya adalah melepaskan segalanya itu satu persatu. Bukan dengan cara ekstrim, tetapi satu persatu. Buddha itu selalu menekankan JALAN TENGAH. Artinya, dijalani sebisanya. One thing at a time. Tidak perlu ambisius, tidak perlu ngotot masuk Nirvana atau Nibbana. Tidak perlu ambisius mengumpulkan pahala melalui amal dan ibadah. Yang penting bisa ELING (Aware) bahwa segalanya itu diciptakan oleh pikiran (the Mind) yang ada di diri kita sendiri. Ketika kita bisa melepaskan pikiran kita dari segala KETERIKATAN, maka kita telah mencapai satu tahap pembebasan (pencerahan) . Ada banyak pencerahan, pencerahan besar dan kecil, dan semuanya datang ketika saatnya tiba. One thing at a time, always one thing at a time. Dan disana itu ditaruh satu KONSEP yang namanya "Nibbana" ketika kita tidak lagi harus melepaskan pikiran kita dari satu kemelekatan karena sudah TIDAK ADA LAGI kemelekatan terhadap apapun disana, bahkan kemelekatan terhadap apa yang namanya "Nibbana". In light of that, apalah artinya segala esek2 yang cuma sesaat ? Kalau masih mau mengharamkan atau menghalalkan esek2, berarti masih tetap akan jalan di tempat saja. Esek2 is esek2, kalau mau ya esek2lah, kalau tidak mau ya sudahlah, tidak usah. Just that. Dan kita akan jalan terus, DIAM TERUS. Jalan itu artinya diam. Jalan terus artinya diam terus. Masuk ke dalam diri, ke dalam pikiran kita, sampai kita tidak lagi bisa melihat pikiran kita sendiri,... sampai kita itu menjadi PURE AWARENESS. I = Bukankah semua yg Anda dan Beliau paparkan adalah jg hasil dari pikiran Anda dan Beliau juga (???). L = Ya, I hate to say it, tapi saya HARUS bilang bahwa semua yang saya ucapkan/tuliskan merupakan hasil dari pikiran saya juga. Semua yang dikeluarkan oleh nabi2 itu dan akhirnya dikumpulkan menjadi kitab dan disebut KITAB SUCI, juga merupakan HASIL PIKIRAN. Hasil pikiran siapa ? Ya hasil pikiran si nabi itu sendiri, emangnya hasil pikiran siapa ??? Nah, si nabi itu bisa saja bilang bahwa Tuhan / Allah / Jibril / whomever blah blah blah... yang menyampaikan PIKIRAN itu kepadanya. Bisa pula dibilang ada Nur Muhammad, bisa dibilang ada Roh Kudus, dan sebagainya, blah blah blah... tetapi SEMUA itu sebenarnya merupakan hasil pemikiran dari si nabi itu sendiri. Ada yang namanya proses kehidupan dimana manusia itu bisa jatuh bangun dan jatuh bangun sampai akhirnya menemukan "pencerahan". I hate to say it also, tetapi yang namanya PENCERAHAN itupun merupakan HASIL PEMIKIRAN. Hasil pergulatan batin yang dikeluarkan berupa ayat2 yang kemudian bisa disucikan dan menjadi KITAB SUCI itupun merupakan hasil pemikiran. Malah, kalau mau lebih jujur lagi, segala istilah / nama yang digunakan oleh si nabi untuk merujuk kepada dirinya yang lebih tinggi itu sebenarnya cumalah ALAT BANTU. Cuma KONSEP ANTARA untuk menjelaskan tentang apa yang diolah oleh batin si nabi dan lingkungan sosial budaya dimana masyarakat si nabi saat itu berada. So, Buddha berbicara dengan idiom2 Hindu karena dia berada di lingkungan sosial budaya Hindu, 2,500 tahun yang lalu. Yesus berbicara dengan idiom2 Yahudi dimana dia hidup 2,000 tahun yang lalu. Begitu pula dengan semua MANUSIA BIASA yang sekarang disebut sebagai "nabi". Ya, the answer is YES. Semuanya itu HASIL PEMIKIRAN MANUSIA. Kalau yang sekarang digelari sebagai nabi2 bisa BERPIKIR dan mengeluarkan hasil pemikirannya, walaupun dengan merujuk kepada Jibril / Tuhan / God / Allah,... maka kita juga BISA melakukan hal yang sama. Kita masuk saja ke dalam diri kita, bisa dengan doa, wirid, meditasi, meneng, atau diam saja. Diam saja dan rasakan saja, and you'll KNOW who God is. When you know who God is, you'll know who you really are. +++ [Leonardo Rimba adalah seorang praktisi Psikologi Transpersonal. Bersama Audifax, Leo menulis buku "Psikologi Tarot" (Pinus, Maret 2008). Diskusi dengan Leo bisa dilakukan di Milis SI; to join just click: <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>. Anybody is welcomed to join.] Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

