Tak sedikit orang yang kalau ditanya kenapa tidak tertarik memulai 
bisnis sendiri, jawabannya selalu 'tidak punya modal uang untuk 
memulai'. Demikian juga, kalau ada orang atau kawan yang sukses 
membangun bisnisnya, cenderung mengatakan ' ya terang saja dia sukses 
karena dia punya modal uang yang cukup. Yang terang saja bapaknya dia 
kan anu, mertuanya begini begini... dan sebagainya". Pendeknya, 
banyak yang mengidap keyakinan bahwa modal uang adalah segalanya 
dalam kesuksesan membangun bisnis. Kunci suksesnya sangat ditentukan 
pada besarnya kepemilikan modal uang ini.


Sesungguhnya kalau kita tanya ke pengusaha sukses yang benar-benar 
sukses - bukan pengusaha karbitan -- modal uang itu memang penting, 
namun bukan segala-galanya. Modal bukan satu-satunya penentu sukses. 
Bahkan, dalam kenyataanya tak sedikit pengusaha yang sukses mesti 
tanpa dukungan modal yang cukup. Kenapa? Karena, bagi mereka, yang 
terpenting dalam bisnis adalah membangun nama baik dan trust ( di 
hadapan mitra bisnis, konsumen, supplier, mitra pemodal, dll). Sudah 
banyak bukti, banyak orang yang sebenarnya tidak punya uang modal, 
tapi karena punya keahlian pada suatu bidang dan ia dipercaya oleh 
orang alias ada orang lain yg trust kepadanya sehingga kemudian 
menawari modal untuk memulai usaha. Jadi bukannya meminta, malah 
ditawari modal. 


Sejauh pengamatan saya bertemu pengusaha sukses dari perlbagai 
kalangan, pebisnis yang punya pola pikir 'modal uang adalah 
segalanya' justru kemampuan untuk survive-nya lebih lemah dari yang 
lebih mengedepankan kerja keras dan membangun trust. Lihatlah bisnis 
anak-anak pejabat atau anak politisi yang biasanya hanya punya masa 
jaya ketika orang tua atau patronnya masih berjaya di politik atau 
pemerintahan. Ketika orang tuanya masih berjaya di panggung politik 
atau pemerintahan, si anak mudah cari modal. Bisa minta si A, Si B, 
menekan sana-sini, bahkan kalaupun pinjam kredit ke bank juga lebih 
dimudahkan. Namun ketika orang tua atau patronnya lengser, ia menjadi 
kehilangan separoh lebih daya saingnya (competitiveness) sehingga 
bisnisnya pun makin memudar. Saya kira banyak sekali contoh seperti 
itu, bahkan mungkin sangat dekat dengan lingkungan Bapak/Ibu sekalian 
atau mungkin malah kawan Bapak/ibu sendiri.  
 
Sebaliknya, saya punya beberapa relasi baik pengusaha yang modalnya 
hanya beberapa juta atau ratus ribu rupiah, namun bisa sukses karena 
pandai membangun trust dan mengedepankan kerja keras/tekun. Ada 
kenalan saya pengusaha, namanyaPak Rudy Suardana. Kalau orang 
Kalimantan Timur rasanya pasti akan kenal orang ini karena beliau 
adalah main dealer untuk Suzuki di seluruh propinsi Kaltim, baik 
untuk motor maupun mobil. Beliau juga pengembang (developer) yang 
membangun Sudirman Square di Balikpapan, Kariangau Trade Center, 
Perumahan Bumi Nirwana Asri, Sentra Samarinda Seberang, dll. 
Samekarindo Group biasanya orang Kaltim tahu. Nah, beliau waktu 
memulai usaha modalnya hanya dipercaya orang. Ada kawannya dealer di 
Surabaya yang meminta dia menjualkan motor Suzuki ke  relasi-relasi 
dia. Jadi polanya ia membawa dagangan, dititipin oleh kawannya itu. 
Dia tak pakai modal. Ini bisa terjadi karena kawannya itu sudah trust 
ke Pak Rudy sehingga berani menitipkan dagangannya untuk dijualkann 
Pak Rudy. Dari situlah ia kemudian berkembang menjdi pengusaha besar, 
padahal masa kecilnya dibesarkan di panti asuhan. Ia tak hanya di 
otomotif namun juga properti.

Ada relasi saya lagi, namanya Bu Winita Kusnandar, beliau adalah 
konsultan hukum bisnis terkemuka Jakarta yang perusahannya (Kusnandar 
& Co) termasuk dalam Indonesian 10 Largest Law Firm di Indonesia. 
Beliau sekarang juga punya bisnis pendidikan dan properti. Jangan 
pikir ketika dulu memulai usaha dia punya modal banyak uang. Dia dulu 
juga karyawan di perusahaan konsultan hukum pada umumnya yang 
kemudian ditawarin oleh seorang konglomerat yang menjadi kliennya 
untuk buka law firm sendiri. Jadi konglomerat yang jadi klien itu 
tahu reputasi Bu Winita dan kemudian menawari 'kenapa nggak buka law 
firm sendiri saja?" sembari menawari pinjaman modal uang untuk sewa 
kantor di Jl Rasuna Said. Dari situ Bu Winita pun sukses membangun 
law firmnya dan kini bisnisnya sudah merambah ke properti, sekolahan, 
hotel, konsultan manajemen dan keuangan, furnitur, dll. 


Disini pesannya, modal uang bukan segalannya. Dalam membangun bisnis 
yang lebih penting adalah memupuk nama baik dan trust. Anda boleh 
saja bangkrut dan kehabisan modal, tapi percayalah, Anda masih bisa 
bangkit bermodalkan nama baik dan trust orang lain kepada Anda. Saya 
kira sangat banyak contoh akan hal ini. Bagi yang ingin melihat lebih 
dalam bagaimana orang2 bermodal terbatas  bisa sukses menjadi 
pengusaha besar, silahkan baca buku '10 PENGUSAHA YANG SUKSES 
MEMBANGUN BISNIS DARI 0', disusun Sudarmadi dan diterbitkan Gramedia. 
Di dalamnya juga diulas ada kisah Pak Rudy Suardana dan Buku Winita 
Kusnandar yang sempat saya singgung tadi. 

Salam hormat dan semoga sukses untuk Bapak/Ibu sekeluarga. Amiin..

  







Kirim email ke