Sejarah memang milik penguasa. Namun kebenaran sejarah yang sesungguhnya belum tentu milik penguasa. Sebab kebenaran sejarah bisa dibelokkan sesuai keinginan politik sebuah rezim. Sebuah rezim bisa dengan bebas membelokan fakta sejarah dan mengabarkan fakta palsu kepada masyarakat. Nah, para pelaku sejarah yang berani membongkar fakta-fakta yang tersembunyi inilah yang kita butuhkan. Seperti halnya H. Maulwi Saelan, seorang wakil komandan Tjakrabirawa yang menuliskan kesaksiannya dalam bukunya Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66.
Sebenarnya banyak fakta sejarah yang belum terungkap dan serba tertutupi, terutama saat rezim Orde Baru berkuasa. Begitu rapinya, hanya segelintir orang yang mengetahui fakta dan kebenaran yang terjadi. Misalnya, berapa ratus orang tahanan politik (anggota PKI) yang dibunuh tanpa diadili. Bagaimana sesungguhnya peralihan kekuasaan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto terjadi, hanya sedikit orang yang tahu. Bagaimana pula nasib aktivis dan seniman Wiji Thukul yang lenyap tak berjejak. Maka sebenarnya, penyembunyian ataupun penyimpangan fakta sejarah yang sesungguhnya bisa menjadi preseden buruk bagi sebuah bangsa. Dan ini seringkali terjadi di Indonesia. selengkapnya: http://visimediapustaka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=58&Itemid=1

