Lampiran        : 1 berkas Press Release
Perihal         : Pemberitahuan

Kepada 
anggota milis yang baik, 



Dalam rangka Pesta Buku Jakarta (Jakarta Book Fair) 2008, Visimedia 
memberitahukan dan mengundang Anda untuk hadir pada acara Talkshow KESAKSIAN 
WAKIL KOMANDAN TJAKRABIRAWA: DARI REVOLUSI 45 SAMPAI KUDETA 66 bersama 
penulisnya, Bapak H. MAULWI SAELAN. Pada acara ini, beliau akan memberikan 
kesaksian dan mengungkap peristiwa sejarah masa itu dan audien bisa 
berinteraksi langsung dengan beliau. Keynote speaker acara ini adalah Bapak Dr. 
Asvi Warman Adam (ahli peneliti utama LIPI). Acara ini diselenggarakan pada :
Tanggal : 28 JUNI 2008
Waktu           : Pukul 16.00-18.00 WIB
Tempat  : Panggung Utama Jakarta Book Fair 2008, Istora Senayan 
Acara  ini didukung oleh berbagai kalangan yang peduli sejarah bangsa, serta 
media cetak dan elektronik. Oleh karena itu, kami mengharapkan kehadiran Anda 
untuk ikut memeriahkan acara ini. Kontak person yang dapat dihubungi: Yeka 
Johar (085 641 560 006)
Demikian pemberitahuan dan undangan kami. Atas perhatian dan kehadiran Anda, 
kami ucapkan terima kasih.                                                      
                                           
Jakarta, 2008
Hormat kami,


Yeka Johar
Promo Visimedia



-------------------------------------

Press Release

Bedah Buku
Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa:
Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66


“Saelan, percayalah! Saya yakin nanti sejarah
akan mengungkapkan kebenaran dan siapa yang sebetulnya benar, Soeharto atau 
Soekarno!”  (Bung Karno)



Buku setebal 504 halaman dengan judul Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: 
Dari Revolusi 45 sampai Revolusi 66 ini ditulis oleh seorang pelaku sejarah, H. 
Maulwi Saelan. Buku yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2001 dalam rangka 
memperingati 100 tahun Bung Karno ini, diterbitkan kembali oleh Visimedia 
dengan format dan wajah baru.
Ditegaskan penulisnya, buku ini bukan merupakan buku biografi dari orang 
terkenal atau merasa terkenal, tetapi sekadar catatan perjalanan hidup dengan 
romantikanya. Sebagai catatan perjalanan hidup, buku ini sangat lengkap dalam 
mengungkapkan fakta-fakta dari zaman revolusi fisik sampai pasca-Supersemar, 
yang dilihat dan dialami langsung oleh penulisnya.
Fakta-fakta yang selama ini tersembunyi (baca: disembunyikan) untuk kepentingan 
segelintir orang yang mengatasnamakan bangsa dan negara, dalam buku ini 
terkuak, terbuka lebar. Peran sejarah banyak pejuang yang selama ini 
dikesampingkan, di sini diungkapkan dengan objektif. Dengan demikian, generasi 
muda yang selama ini “dibutakan” oleh buku-buku sejarah satu versi, kini bisa 
membelalakkan mata dan bisa menilai letak kebenaran sejarah bangsanya.
Berikut penilaian Dr. Asvi Warman Adam dalam kata pengantarnya terhadap karya 
monumental ini.

DARI PENJAGA GAWANG SAMPAI PENJAGA PRESIDEN

Maulwi Saelan yang lahir di Makassar 8 Agustus 1926 hidup pada beberapa zaman, 
dari masa penjajahan Belanda sampai sekarang. Ia memberikan kesaksian mengenai 
beberapa peristiwa penting dan sekaligus perjalanan hidupnya dalam bingkai 
kronologi sejarah. 
        Bab kedua dan ketiga buku ini tentang sejarah Indonesia masa penjajahan 
Belanda dan Jepang. Era penjajahan Belanda dilukiskan melalui film dokumenter 
yang disiarkan VPRO-TV Belanda pada tahun 1976 dengan mewawancarai tokoh 
Indonesia (seperti Hatta, Nasution, dan Ruslan Abdulgani) serta  tokoh Belanda 
(Van Mook, Beel, dan Lovink). Zaman Jepang dikisahkan terutama dengan mengutip 
buku Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. 

Penjaga Gawang
        Di bab pertama buku ini Saelan bercerita tentang olahraga dan pengaruh 
sport  dalam kehidupannya. Ketika bersekolah dasar di Frater School Makassar, 
ia menonton film tentang Olimpiade Berlin, pada tahun 1936. Jesse (James 
Cleveland) Owens seorang atlet kulit hitam Amerika Serikat tampil memukau 
dengan menggondol empat medali emas. Ketika itu Saelan kecil bercita-cita untuk 
bisa tampil di arena olimpiade. Karena ia gemar bermain sepakbola, tentu yang 
dibayangkannya adalah bertanding dalam cabang olahraga ini di olimpiade. 
        Niatnya itu tercapai ketika ia berusia 30 tahun. Pada tanggal 17 
November 1956, ia menjaga gawang PSSI dalam Olimpiade XVI di Melbourne 
Australia. Tentu pada saat sekarang, usia tersebut sudah relatif tua bagi 
seorang pemain profesional sepak bola untuk tetap berada di bawah mistar. 
Kesebelasan Indonesia setelah lolos seleksi Asia bertanding langsung menghadapi 
Uni Soviet pada babak perempat final. Meskipun sudah diperpanjang 2 x 15 menit, 
Saelan bisa menjaga gawangnya tidak kebobolan, skor akhir tetap 0-0.  Waktu itu 
belum ada ketentuan adu penalti, sehingga pertandingan diulang 36 jam kemudian. 
Dalam pertarungan ulang itu barulah tim kita dengan beberapa pemain mengalami 
cedera, mengakui keunggulan lawan. 
Sebelumnya Saelan juga sudah ikut dalam PON (Pekan Olahraga Nasional) pertama 
di Solo pada tahun 1948.  Kegiatan itu diikuti oleh 13 keresidenan sepulau 
Jawa. Saelan sendiri sebagai atlet luar Jawa dimasukkan ke dalam kontingen 
Jakarta. 
Sebelum penyelenggaraan pesta olahraga itu, pada bulan Januari tahun 1947 
diadakan kongres olahraga pertama di Solo. Kongres itu diwarnai semangat 
perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan yang ingin kembali direbut oleh 
Belanda. Pada kongres itu diputuskan bahwa Indonesia harus berusaha menembus 
blokade Belanda dengan mengikuti Olimpiade 1948 di London. Namun, panitia 
olimpiade tidak dapat menerima Indonesia sebagai peserta penuh karena belum 
menjadi anggota PBB, tetapi boleh datang sebagai peninjau. Indonesia mengutus 
Sultan Hamengkubuwono IX, Letnan Kolonel Azis Saleh, dan Mayor Maladi (Menteri 
Olahraga pertama) untuk berangkat ke London. Namun, mereka urung pergi karena 
diminta menggunakan paspor Belanda. 
Setelah tidak berhasil mengikuti Olimpiade London, pemerintah RI menggelar PON 
pertama di Solo pada tanggal 9 September 1948 yang dibuka oleh Presiden Sukarno 
dengan upacara megah di Stadion Sriwedari. Stadion ini merupakan stadion 
pertama yang dibangun oleh bangsa kita sendiri (oleh Paku Buwono X) pada tahun 
1933. Untuk mengobarkan semangat olahraga bukan obor yang dibawa berlari oleh 
atlet, melainkan sang Merah Putih.  
Pada tingkat regional, Indonesia bergabung dengan India, Pakistan, Sri Lanka, 
dan Burma memprakarsai terbentuknya Komite Olahraga Asia (Asian Games). Saelan 
juga ikut serta dalam Asian Games pertama di New Delhi pada tahun 1951. 
Indonesia menyanggupi ketika ditawari menjadi tuan rumah Asian Games keempat 
pada tahun 1962 di Jakarta. Untuk kegiatan itu dibangun stadion dengan berbagai 
fasilitas olahraga yang kini dikenal sebagai Gelanggang Olahraga Bung Karno. 
Stadion itu dibangun dengan bantuan arsitektur dari Uni Soviet. Presiden 
Sukarno sendiri sebagai seorang insinyur sipil juga ikut andil dalam pengubahan 
bangunan stadion Utama. Rencana awal atap stadion utama yang dirancang arsitek 
Rusia menggunakan  dua deret tiang penyangga atas saran Bung Karno diubah 
dengan atap temu gelang yang ditopang satu deret tiang penyangga dengan 
kemiringan yang lebih besar. 
Dana pembangunannya bukanlah sumbangan dari Kremlin, tetapi dibayar dengan 
karet alam Indonesia yang lunas dalam tempo dua tahun sebesar 10,5 juta dolar 
AS.  Itulah bukti kesungguhan pemimpin Indonesia saat itu untuk memajukan 
olahraga nasional.  Setahun kemudian Indonesia, di tempat yang sama 
diselenggarakan Ganefo (Games of New Emerging Forces) yang diikuti oleh 51 
negara. Indonesia menjadi juara umum kedua setelah Jepang pada Asian Games IV 
dan menjadi juara ketiga (setelah RRC dan Uni Soviet) dalam Ganefo. Di samping 
bertugas sebagai Wakil Komandan Pasukan Tjakrabirawa, Saelan diizinkan Presiden 
Sukarno merangkap jabatan ketika terpilih menjadi Ketua Umum PSSI pada tahun 
1964.

Penjaga Republik 
Setelah Indonesia merdeka, Dr Ratulangi diangkat sebagai Gubernur Sulawesi 
berkedudukan di Makassar. Namun, dengan berbagai pertimbangan, ia tidak 
langsung menjalankan kekuasaan sebagai gubernur atau mengambil alih kekuasaan 
Jepang. Selama lebih satu bulan terdapat kevakuman kekuasaan. Akhir September 
1945 tentara Australia yang mewakili Sekutu mendarat di Makassar dengan membawa 
tentara Belanda (NICA). 
Sebelum kedatangan Sekutu, di Makassar dibentuk telah Pusat Pemuda Nasional 
Indonesia yang diketuai Manai Sophiaan dengan salah seorang penasihatnya Amin 
Saelan (ayah Maulwi Saelan). Belanda mencoba mendirikan sekolah Belanda di 
Makassar. Ini ditolak oleh kaum republiken yang mendirikan SMP Nasional dengan 
guru-guru berasal dari orang-orang pergerakan yang kepala sekolahnya Ratulangi.
Pada tanggal 28 Oktober 1945 Belanda menangkap Manai Sophiaan dan menahannya di 
Empress Hotel. Keesokan subuhnya, para pemuda termasuk Maulwi Saelan menyerbu 
hotel tersebut. Senjata mereka hanya sepucuk pistol dan dua buah granat tangan. 
 
Sebagian tentara Belanda masih tertidur nyenyak sehingga Manai Sophiaan bisa 
dibebaskan. Bendera Belanda diturunkan dan diganti sang Merah Putih. Namun, 
ketika  hendak melucuti senjata perwira Belanda, datanglah bala bantuan tentara 
Australia. Beberapa pemuda pelajar ditangkap, termasuk Maulwi Saelan yang 
disekap dalam penjara bersama Wolter Monginsidi. Dalam penyerbuan ke hotel itu, 
belakangan diketahui bahwa di antara anggota pasukan Sekutu itu konon terdapat 
seorang kapten   bernama Zia ul Haq yang kelak menjadi Presiden Pakistan 
(Harian Pedoman Rakyat, Ujung Pandang, 1 Juni 1982). 
Para tahanan Sekutu termasuk Maulwi Saelan atas upaya Gubernur Ratulangi 
dibebaskan pada tanggal 1 Januari 1946. Mereka langsung pergi bergabung dengan 
pasukan pemuda di luar kota. Kakaknya yang perempuan (Emmy Saelan) gugur dalam 
pertempuran dengan Belanda di suatu desa pada bulan Januari 1947. Sebagai 
catatan tambahan, Maulwi juga memiliki adik perempuan bernama Elly Saelan yang 
menikah dengan M. Jusuf yang kemudian menjadi Panglima ABRI dan Ketua BPK.  
Pada bulan Februari 1947 Wolter Mongisidi tertangkap oleh tentara Belanda. Ia 
diadili oleh pengadilan militer Belanda dan dijatuhi hukuman mati pada tanggal 
5 September 1949. Sebelum ditembak mati, ia menulis di selembar kertas, “Setia 
hingga terakhir di dalam keyakinan”.  Maulwi Saelan juga menyayangkan mengapa I 
Gde Anak Agung Gde Agung yang waktu itu menjadi Perdana Menteri NIT (Negara 
Indonesia Timur) yang sedang berada di Belanda untuk mengikuti Konferensi Meja 
Bundar (KMB) tidak tergerak hatinya untuk berbuat sesuatu menyelamatkan nyawa 
Wolter Mongisidi. 
Pada medio 1947 Westerling dengan dukungan satu batalyon tentara dari Belanda 
dan tiga batalyon KNIL melancarkan serangan terhadap laskar pejuang. Diputuskan 
sebagian gerilya tetap di Sulawesi sebagian hijrah ke Jawa. Maulwi Saelan dan 
beberapa kawannya ditugaskan mengawal Kepala Staf Divisi Hasanudin, Mayor Saleh 
Lahade. Dengan perahu phinisi mereka berjuang mengarungi laut yang bergelombang 
besar sampai ke Pulau Karimunjawa dan dari sini dengan perahu lain ke Tegal, 
Jawa Tengah. Maulwi Saelan ikut bergerilya di Sidobunder, Gombong, Jawa Tengah 
dan kemudian di Gunung Kawi Selatan, Jawa Timur.   

Penjaga Presiden
Pada tahun 1958 Maulwi Saelan menjadi Wakil Komandan Batalyon VII/CPM Makassar. 
Ia bertanggungjawab atas pengamanan Presiden Sukarno yang datang ke Sulawesi 
Selatan dari Manado. Ternyata Bung Karno sudah mengenal Maulwi Saelan karena 
penampilannya yang mengesankan sebagai kiper PSSI dalam Olimpiade Melbourne 
tahun 1956.
Setelah usaha percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno pada Idul Adha tahun 
1962 dan beberapa percobaan sebelumnya, seperti diuraikan dengan cukup rinci 
dalam buku ini, maka diputuskan untuk membentuk resimen Tjakrabirawa untuk 
mengawal keselamatan Presiden. Maulwi Saelan dipanggil dari Makassar dan 
diangkat menjadi kepala staf (kemudian menjadi wakil komandan). Tanggal 
kelahiran resimen khusus ini sama dengan hari lahir Bung Karno, yakni 6 Juni. 
Buku ini penting untuk meluruskan sejarah Pasukan Pengawal Presiden 
Tjakrabirawa. Saelan membantah pernyataan dalam buku Antonie Dake bahwa ia 
sudah datang ke Halim tanggal 29 September 1965 untuk mempersiapkan tempat 
istirahat  Bung Karno di sana. Saelan juga menolak keterangan Ulf Sundhaussen 
bahwa Saelan datang ke Lubang Buaya pada tanggal 3 Oktober 1965 diperintah 
Sukarno untuk menghilangkan jejak terbunuhnya para jenderal. Justru ia 
diperintah oleh Presiden untuk mengetahui keberadaan para perwira tinggi 
tersebut. Pada tanggal 1 Oktober 1965 patroli pasukan Tjakrabirawa menemukan 
seorang agen pilisi Kitman di depan kantor Penas, By Pass, dan membawanya ke 
markas untuk diinterogasi. Kitman dengan hasil pemeriksaannya diserahkan kepada 
Kodam Jaya dan selanjutnya dibawa ke Kostrad. Kitman adalah polisi yang 
kebetulan ditanggap ketika terjadi penculikan para jenderal dan dibawa ke 
Lubang Buaya.  Ada perbedaan versi mengenai penggalian tersebut antara Saelan 
dengan Kapten Bardi, ajudan Jendral Yani. Menurut Bardi mereka sedang  mencari 
lokasi di Lubang Buaya ketika Saelan datang kemudian. Versi Saelan adalah 
sebaliknya, mereka yang sudah dulu berada di sana.
Maulwi Saelan mengungkapkan bahwa yang menembak Arif Rahman Hakim pada tanggal 
24 Februari 1966 bukanlah prajurit Tjakrabirawa di depan Istana, melainkan 
anggota patroli Garnisun di Lapangan Banteng. Bahkan, sebaliknya ia menuduh 
Laskar Ampera Arif Rahman Hakim yang dibentuk setelah Kesatuan Aksi Mahasiswa 
Indonesia (KAMI) dibubarkan 25 Februari 1966 merupakan “tentara swasta” yang 
dibantu Kostrad. Laskar itu terdiri dari tujuh batalyon dengan menggunakan 
nama-nama pahlawan revolusi. Menurut Saelan, Laskar Arif Rahman Hakim itu sama 
saja dengan Angkatan Kelima yang ditolak mati-matian oleh Angkatan Darat. 
Laskar itu antara lain dipimpin oleh Fahmi Idris yang kini menjadi Menteri 
Perindustrian.
Pada bulan Maret 1966 para anggota Tjakrabirawa dikembalikan ke induk pasukan 
masing-masing, sedangkan tugas pengamanan Presiden diserahkan kepada Polisi 
Militer. Pada peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965 memang ada anggota 
Tjakrabirawa yang terlibat, tetapi tidak lebih dari satu kompi dari keseluruhan 
empat batalyon dan satu detasemen (sekitar 4.000 orang). Sempat dihilangkan 
pada masa Orde Baru,  untunglah sekarang sejarah Tjakrabirawa itu sudah 
dimasukkan dalam sejarah Pasukan Pengawal dan Pengamanan Presiden (Paspampres). 
   

Kasus Sze Tu Mei Sen
Sze Tu Mei Sen lahir di Sukabumi pada tahun 1928. Ia berkenalan dengan Sukarno 
sejak tahun 1946 di atas kereta api istimewa yang membawa rombongan Presiden 
untuk menghadiri sidang KNIP di Malang. Mei Sen saat itu menjadi wartawan 
yunior sebuah surat kabar. Kemudian ia menjadi penerjemah bahasa Mandarin jika 
Presiden Sukarno berbicara dengan tamu-tamu resmi dari RRC. Ia juga menjadi 
pemimpin umum sebuah surat kabar ibu kota berbahasa Mandarin yang diterbitkan 
bekerja sama dengan pemerintah daerah DKI Jakarta Raya. 
Karena berhubungan dekat dengan Presiden Sukarno, ia diteror setelah meletus 
Gerakan 30 September. Oleh karena itu Sze Tu Mei Sen berencana untuk pindah ke 
luar negeri. Seorang perwira berpangkat letnan kolonel mencegah 
keberangkatannya. Beruntung ia masih diberi kesempatan untuk menelpon Istana. 
Sukarno menyuruhnya kembali ke Istana untuk mendapatkan laporan. Bung Karno 
kemudian menulis disposisi kepada Pepelrada Jaya agar Sze Tu Mei Sen dapat 
berangkat ke Hong Kong.
Maulwi Saelan diperintahkan oleh Presiden Sukarno untuk mengawal Mei Sen sampai 
naik pesawat di Bandara Kemayoran esok paginya. Namun, Saelan berpikiran bahwa 
saat itu disposisi Bung Karno mungkin ditanggapi dengan curiga oleh aparat 
keamanan yang sudah berada di bawah kendali Suharto. Untungnya, Mei Sen yang 
berperan sebagai penerjemah namanya juga termasuk dalam Tim Kesehatan Presiden 
yang menerima bantuan dokter dari pemerintah RRC. Kebetulan hari itu dr. Lauw 
Ing Tjong, dokter pribadi Presiden Sukarno juga akan ke Eropa mencari obat bagi 
Sukarno. Maka, Mei Sen diberi surat tugas yang sama. Saelan berhasil 
menyelesaikan tugasnya dengan baik. Setelah mendarat di negeri Belanda, Mei Sen 
balik lagi ke tempat tujuannya di Hong Kong. Beberapa waktu kemudian ia pindah 
ke Makau dan mengadu peruntungan di koloni Portugis tersebut hingga sukses. 
Sebetulnya Mei Sen tidak terlibat apa pun dalam Gerakan 30 September, tetapi ia 
terpaksa menyingkir dari Indonesia karena ia adalah penerjemah Presiden 
Sukarno.   
Belasan tahun kemudian, tahun 1981 Presiden Suharto menugaskan Benny Murdani 
mencari Sze Tu Mei Sen. Mei Sen diperlukan rezim Orde Baru untuk mendekati RRC. 
Setelah mendapat jaminan keamanan dari Wakil Presiden Adam Malik, Mei Sen 
datang kembali ke Jakarta dan diterima Suharto di kediamannya, di Jalan 
Cendana. 
Mei Sen diminta untuk menemui pemerintah Bejing untuk menyampaikan pesan bahwa 
meskipun hubungan kedua negara belum dicairkan, Republik Indonesia hanya 
mengakui satu Cina. Untuk mendahului pencairan hubungan diplomasi, Suharto 
mengusulkan hubungan dagang langsung. Usul ini disetujui RRC. Maka, terjadilah 
perundingan awal antara Kamar Dagang Indonesia (KADIN) dan RRC di Singapura. 
Sejak itu mengalirlah karet, kayu, dan minyak kelapa sawit dari Indonesia ke 
RRC dan sebaliknya barang-barang made in Cina beredar di pasar Indonesia.

Kejatuhan Bung Karno 
Pengalaman Saelan dengan Tse Tu Mei Sen di atas menggambarkan bahwa 
pasca-Gerakan 30 September tahun 1965, kekuasaan Presiden semakin menyusut. 
Disposisi Presiden sendiri tidak dianggap oleh aparat keamanan. Di  dalam buku 
ini juga diceritakan betapa pahitnya perlakukan yang diberikan kepada Sang 
Proklamator. Ia harus meninggalkan Istana Merdeka sebelum tanggal 17 Agustus 
1967  hanya dengan piyama dan kaos oblong. Sukarno juga memerintahkan kepada 
anak-anaknya agar keluar dari Istana tanpa membawa sesuatu, kecuali buku 
pelajaran sekolah, pakaian, dan perhiasan sendiri. Harta benda lainnya, seperti 
radio dan televisi harus ditinggalkan.     
Keunggulan buku ini adalah menyertakan beberapa dokumen penting, misalnya 
inventaris barang-barang milik Soekarno berupa buku-buku, bahkan kekayaan di 
bank. Juga tidak kalah pentingnya adalah kesaksian Saelan tentang masa-masa 
akhir Bung Karno ketika menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso, Jakarta. Terdapat 
pula daftar obat (terutama vitamin) yang dikonsumsi Soekarno yang tampaknya 
dalam jumlah cukup banyak.
Dalam daftar harta yang ditinggalkan begitu saja di Istana Merdeka, terdapat 
banyak kemeja Arrow dan jam-jam Rolex. Ini memperlihatkan bahwa Bung Karno 
memperhatikan penampilan, tetapi di pihak lain, ia tidak kemaruk harta, artinya 
tidak membawa barang-barang itu ke luar Istana. Ada juga emas batangan yang 
ditinggalkan begitu saja. Sekian ratus buku tersebar di beberapa rak di 
beberapa kamar Istana. Pertanyaan ke mana sekarang barang itu?   
Kejatuhan Bung Karno juga diikuti dengan penangkapan orang-orang yang berpihak 
kepadanya. Pada awal Orde Baru, Maulwi Saelan sempat ditahan beberapa tahun 
sebelum akhirnya berkiprah dalam bidang pendidikan. Ia memimpin sekolah Islam 
Al Azhar melalui Yayasan Sifa Budi (di Bendungan Hilir dan Kemang Raya 
Jakarta). Setelah mengawal gawang kesebelasan Indonesia, mengawal kemerdekaan 
Indonesia, mengawal presiden pertama, pada hari tuanya Saelan berkonsentrasi 
mengawal pendidikan generasi muda. 


Jakarta, Mei 2008 

Dr. Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama LIPI






------------------------------------

================= Bacayo.NET - Segalanya tentang buku =================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bacayo/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bacayo/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke