Pada tahun 1923, terjadi perubahan secara radikal di Turki, dari
sebuah negeri yang “tradisional” menjadi negeri yang “modern”â€"untuk
itulah seluruh tradisi dihancurkan hingga ke akar-akarnyaâ€"agar bisa
dipandang benar-benar modern. 

Hubungan Islam dan tradisi Arab dengan masyarakat Turki yang telah
berkait-erat selama berkurun-kurun, diputus. Bahasa dan tulisan Arab
perlahan-lahan mulai dihapuskan, dan diganti dengan versi abjad Latin. 

Justeru dalam kondisi itu, seorang gadis bernama Rikkat yang memiliki
kecintaan luar biasa pada kaligrafi, menghadapi hari-hari dan karirnya
yang mulai diremehkan penguasa Turki yang baru. Bersama
seniman-seniman kaligrafi tua lainnyaâ€"yang berasal dari warisan
penguasa lama: sultanâ€"mereka dipecat, dan sekolah-sekolah mereka
ditelantarkan. 

Kecintaanya terhadap kaligrafi dibayar mahal: segala yang ia miliki:
sebagai istri dan ibu nyaris terampas habis. Emosinya dicurahkan pada
kegiatan menulis dengan meniupkan seluruh nafas hidupnya pada
huruf-huruf agar kaligrafi menjadi seni yang abadi, lebih manusiawi
dan modern. 

Inilah novel tentang cinta pada kesenian yang tengah sekarat, di
sebuah wilayah yang serba aneh dan mistis dengan Turki kontemporer
yang mulai terseret arus modern Barat, Yasmine Ghata menulis sebuah
roman yang indah dan penuh ilham yang berasal dari kisah nyata. 

Novel Seniman Kaligrafi Terakhir Jakarta: Serambi, 2008; 206 halaman)
yang merupakan terjemah-an buku “La Nuit des Calligraphes”  karya
Yasmine Gatha. Buku aslinya diterbitkan oleh Editions Fayard (Paris,
2005, 181 halaman) dan Editions de Poche (Paris, 2005, 153 halaman).


Waktu dan tempat

Diskusi ini akan diadakan di Teater Utan Kayu (TUK), Jl Utan Kayu
No.68H, Jakarta, Rabu 16 Juli 2008, pukul 19.00 WIB


Narasumber

Ida Sundari Husein (Penerjemah dan Dekan FIB UI 2004-2008)

Nur Rofiah (Alumnus Universitas Ankara, Ankara, Turki)

 

Tentang Yasmine Gatha 

Yasmine Gatha dilahirkan di Paris pada tanggal 6 Agustus 1975, sebagai
anak keempat dari ibunya, Vénus Khoury Gatha, penulis dan penyair
keturunan Libanon, dan putera pertama ayahnya Jean Gatha, dokter
peneliti keturunan Turki. Mungkin karena semasa kecil, ia dikelilingi
benda-benda produk seni-budaya negeri nenek â€"moyangnya yang dibawa
ayah- nya sepulang dari perjalanan ke berbagai negara,  kemudian
Yasmine Gatha memilih studi Sejarah Kesenian Islam di Ecole du Louvre
dan Universitas Paris III, Paris, untuk mempelajari arsitektur,
benda-benda seni, tekstil dan kaligrafi. 

Panggilan darah membuatnya tertarik pada kesenian Otto-man. Namun,
desakan untuk menulis baru muncul setelah ia melihat karya nenek-nya,
Rikka Kunt, dalam sebuah pameran di ruang Richelieu, Museum Louvre,
Paris, pada tahun 2000. Dengan penuh semangat ia mencari dokumen
tentang sang nenek, dan menemukan dengan penuh kekaguman bahwa ia
adalah seniman kaligrafi yang terkenal dengan huruf hiasan emasnya.
Penemuan itu memberinya inspirasi untuk menulis La Nuit des Calligraphes.

La Nuit des Calligraphes adalah bukunya yang pertama (2005). Buku itu
mendapat sukses, dan telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa, belum
termasuk terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, serta mendapat
penghargaan: Prix de la Découverte (Prince Pierre de Monaco), Prix
Cavour (Italia), Prix Kadmos (Libanon), dan Prix des Lecteurs
d’Herblay 2005. Bukunya yang kedua adalah “Le Tar de Mon Père” (2007),
kisah dengan latar belakang Iran.

Yasmine Gatha merupakan salah seorang pengarang Prancis keturunan
asing yang menulis dalam bahasa Prancis karya dengan berlatar-belakang
negeri asal orang tua atau nenek-moyangnya. Kesusastraan Prancis masa
kini diperkaya oleh karya-karya sejenis berkat para penulis tersebut.
Sebagai contoh lain kita dapat menyebut Amin Maalouf keturunan
Libanon, yang salah satu karyanya, Le Rocher de Tanios, telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Cadas Tanios dan
diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 1999.

Kirim email ke