Behind the Scene Janji Sepasang Kekasih dari Dinasti Ming
Setelah ditulis hampir dua tahun akhirnya buku ini selesai dengan sangat memuaskan. Novel ini mengalami proses yang panjang. Ide ceritanya sudah pernah diutarakan Ernest sejak 5 tahun yang lalu sebelum novel pertama dan keduanya terbit. Kenapa aku ingin menuliskan Behind the Scene dari novel ini. Karena menurutku proses pembuatan novel ini berbeda dengan dua novel sebelumnya. Aku melihat betapa Ernest terlibat secara emosi dalam penulisan novel ini. Selain itu dia banyak menghabiskan waktu untuk melakukan penelitian, survey, riset dan perjalanan untuk mendukung cerita dalam novel ini. Dan berulang kali ia menulis ulang sehingga memerlukan 2 tahun untuk menuntaskannya dengan perasaan puas. Dia juga sampai harus mengunjungi Malaka- Malaysia, China, dan Kelenteng Sam Pho Kong di Semarang. Kebetulan aku diminta Ernest untuk menemaninya ke Malaka melakukan survey lokasi dan mencari informasi mengenai keberadaan Cheng Ho, serta beberapa lokasi seperti kompleks kuburan china terbesar di Asia Tenggara `Bukit Cina', kelenteng Cheng Ho dan tempat-tempat yang dijadikan setting dari novel ini. Baik aku maupun Ernest belum pernah ke Malaka. Tetapi aku tahu kalau Ernest telah mencari informasi di internet mengenai Malaka dan bagaimana caranya menuju kesana. Kami ke Malaka melalui Singapore, karena menurut Ernest setting novel ini sebagian besar berada di Singapore dan tokoh dari novel ini juga akan berkunjung ke Malaka. Sesampainya di terminal bis di Malaka, kami masih bingung mencari hotel tempat kami menginap. Karena menurut informasi yang diperoleh Ernest di internet, kami harus berhati-hati dalam tawar menawar dengan sopir taksi. Akhirnya kami dihantar oleh sopir taksi sampai di hotel, hotelnya tua dan antik. Aku yakin dia sengaja memilih tempat penginapan di daerah Heritage agar dekat dengan pusat-pusat kebudayaan seperti baba house, museum cheng ho, the fountain, Bukit Cina, dan kelenteng Hang Li Po. Aku masih ingat ketika kami mengunjungi makam di bukit cina, makam itu sangat luas dan berbukit-bukit, banyak pohon-pohon besar, ada jalan setapak yang dijadikan jogging track. Konon, orang-orang Tiongkok yang pertama kali tiba di Bandar Melaka pada masa dinasti Ming (1406-1459) dimakamkan di sana. Kami berdua menyusuri jalan setapak dan ingin tahu berakhir dimana ujungnya. Terus terang aku agak takut, karena jalannya licin sebab habis hujan, sepi dan seakan-akan perjalanan kami tanpa ujung, kiri-kanannya makam orang china jaman belanda, dengan batu nisan yang besar-besar terbuat dari batu pualam dan tidak terawat, serta suara-suara dari gesekan ranting yang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Tetapi kami tetap terus berjalan, setelah satu jam kami tetap belum menemukan ujungnya, dan kulihat Ernest sangat menikmati perjalanan ini sambil sekali-kali berhenti dan membaca nama diatas batu nisan. Begitu melihat dibawah ada jalan raya aku langsung mengajak Ernest untuk keluar dari area itu. Dan aku merasa lega ketika kami telah sampai di sebuah jalan raya. Kami menghabiskan waktu tiga hari untuk berkeliling di Malaka. Dan ketika mengunjungi Museum Cheng Ho, Ernest beruntung dapat bertemu dengan petugasnya yang sangat ramah dan diperkenalkan dengan direktur Museum Cheng Ho, orang yang mengerti sejarah Cheng Ho di Malaka, dan mengenai orang-orang peranakan di Malaka. Aku dapat melihat betapa seriusnya Ernest dalam pembicaraan tersebut. Pertama conversation itu dalam bahasa Inggris lalu berubah menjadi bahasa Chinese dan aku Cuma bisa mengikuti 5% dari pembicaraan mereka. Tetapi aku tahu kalau direktur museum itu kagum dengan kemampuan berbahasa Ernest dan kecerdasannya dalam memahami apa yang dituturkan direktur museum. Beliau mengajak kita untuk keliling museum dan menjelaskan satu persatu dan beliau juga menunjukkan sebuah sumur yang telah berusia hampir 600 tahun. Sumur kuno yang dahulu digunakan oleh armada Cheng-ho untuk mendapatkan air bersih, dan ajaibnya hingga kini sumur tersebut tidak pernah kering. Sebuah lonceng besar yang tergantung dalam taman musium juga menarik perhatian Ernest, membuat dia termenung berlama-lama di sana. Selain melakukan survey lokasi, Ernest juga melakukan riset mengenai reinkarnasi, dan past life. Dia banyak membaca buku mengenai reinkarnasi dan past life, juga melakukan diskusi mengenai renkarnasi dengan beberapa ahli. Salah satu yang didiskusikan antara lain; Kemanakah arwah kita setelah meninggal? Apakah seseorang bisa reinkarnasi menjadi hewan atau tidak? Dan lainnya yang berhubungan dengan hal tersebut. Dia juga banyak membaca buku dan menonton dvd tentang otak manusia dan mempelajari kasus-kasus cedera otak dan keadaan orang yang coma . Dia tidak hanya melakukan riset melalui buku atau melakukan diskusi tetapi menginterview orang yang pernah mengalami coma. Terus terang itu semua membuat aku kuatir, semakin lama dia melakukan riset, berarti semakin lama buku ini akan terbit. Aku jadi bertanya-tanya sebenarnya dia itu mau membuat novel atau karya ilmiah atau buku sejarah. Dan itu membuat aku agak frustasi. Aku sempat berpikir "Apakah dia ingin membuat science fiction atau roman sejarah? Tetapi aku tidak ingin mengganggu kebebasannya dalam berkarya. BersambungÂ…Â….. Poedjiati Tan, M.Si Direktur EnerJik Kharisma Publishing

