Friends, Saya diminta untuk menjadi seorang pembicara dalam Seminar "Spiritualitas Manusia Modern" yg akan diadakan di Hotel Sahid, Surabaya, pada tanggal 15 November 2008. Topik yg dipilihkan untuk saya adalah "Spiritualitas Modern dan Tantangan2nya". Saya meng-iyakan saja, walaupun menurut saya saat ini adalah masa POST MODERN. Bukan modern lagi, melainkan PASKA modern. Masa modern berakhir kira2 awal tahun 1970-an ketika wanita2 mulai berontak dan bilang bahwa emangnya dunia milik pria saja. Dan, WOMEN'S LIBERATION ternyata berhasil. Tanpa mengucapkan bismillah ternyata wanita2 di negara2 Barat berhasil menggaet tempat yg sederajat dengan pria di segala bidang. Dan itu pertanda bahwa era POST modern telah mulai. Post Modernisme memang cuma istilah saja, karena yg menentukan adalah PARADIGMA yg dipakai. Kalau paradigma yg dipakai adalah KESETARAAN GENDER, maka era-nya adalah Post Modern. Kalau paradigma yg dipakai adalah pria sebagai "kepala rumah tangga", maka itu baru era modern. Di era Post Modern, kepala rumah tangga BUKAN pria, melainkan siapa saja yg mau dan bisa. Banyak rumah tangga di Era Post Modern memiliki dua kepala. Manusianya ada dua, maka kepalanya ada dua. Manusia dua orang yg mengepalai rumah tangga itu BISA berjenis kelamin pria dan wanita, bisa juga pria dan pria, dan bisa juga wanita dan wanita. Segalanya bisa saja, dan EKSPLORASI hal2 seperti itu merupakan tantangan yg dihadapi oleh mereka yg telah hidup di era post modern. Pertanyaannya sekarang, apakah Indonesia ini post modern atau modern ? ... The question could be asked in general, but the answer has got to be specific, karena kita akan menjawab TERGANTUNG. Tergantung manusia2nya sendiri. Kalau masih mau mengharapkan segalanya itu ditentukan oleh ROLE PLAYING dengan mengikuti paradigma modern, maka artinya kita MASIH hidup di era modern. Kalau mau mengikuti role playing dengan paradigma post modern, maka jadilah post modern. Post Modernitas ditentukan oleh kemauan. Kalau manusianya mau, maka jadilah itu. Kalau mau menikah, ya menikahlah. Kalau tidak mau, ya tidak usahlah. Dan itu berlaku bagi SEMUA, baik pria maupun wanita. Di era modern, yg namanya PILIHAN merupakan sesuatu yg merupakan "kemewahan" karena semua orang akan bilang bahwa kita DITENTUKAN. Segala pilihan2 di era modern itu ditentukan. Cara berpakaian ditentukan, cara berbicara ditentukan, bahkan cara berpikir itu ditentukan. Tetapi POST MODERN membalikkan paradigma itu dengan mengatakan bahwa segalanya itu adalah pilihan. Kalau seorang wanita merasa HARUS menikah, dan ternyata setelah menikah merasa bahwa pilihannya itu "salah", akhirnya si wanita akan BISA berbalik peran dan menjadi "pria". Secara SIMBOLIK menjalani peran sebagai seorang "pria", atau menjadi "maskulin". Menjadi seorang single parent adalah perbuatan yg sangat MASKULIN, contohnya... -- Banyak wanita yg single parent, sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak2nya. Feminin sekaligus maskulin walaupun, menurut saya sendiri, single parenthood itu lebih banyak maskulinitasnya. Pada pihak lain, banyak pula pria yg ternyata MANJA, mencari kasih sayang kemana-mana, dari satu wanita ke wanita lainnya TANPA memperdulikan tanggung-jawab. Nah, kelakuan seperti itu lebih banyak sifat FEMININ-nya walaupun manusianya itu sendiri straight dalam orientasi seksualnya. Walaupun 100% straight, kelakuan yg mencari tempat curahan hati dari satu wanita ke wanita lainnya merupakan sifat yg feminin. Maskulinitas dan Femininitas disini BUKAN merupakan sesuatu yg positif maupun negatif, segalanya itu NETRAL dan cuma merupakan kecenderungan2 saja. Kalau cenderung untuk mandiri dan assertive, maka artinya lebih banyak maskulinnya. Kalau cenderung cengeng dan mencari perhatian, maka cenderung feminin. Nah,... kalau pengertian JUJUR seperti itu yg kita pakai, maka akan tampaklah bahwa banyak wanita yg lebih maskulin daripada para pria. Dan banyak pula pria yg lebih feminin daripada para wanita. Lalu akhirnya bagaimana ? ... Ya, tidak bagaimana2. Ya dijalani saja. Kalau seorang wanita ENJOY untuk bersifat maskulin, ya jalani sajalah. There is nothing wrong about that. Bahkan, sebenarnya hal seperti itu sudah ada sejak jaman dahulu kala. Dari dahulu banyak wanita yg lebih mandiri daripada pria, tetapi TIDAK diakui atau bahkan ditekan oleh lingkungannya. Sekarang juga MASIH. Banyak wanita2 mandiri akan ditekan dengan segala macam cara oleh lingkungannya. Dan itu normal saja. Lingkungan sekitar selalu akan merasa TERANCAM oleh kemandirian seorang wanita. Dan lingkungan yg terancam seperti itu menandakan bahwa itu adalah lingkungan "modern". Kalau wanitanya itu mau TUNDUK terhadap desakan lingkungan yg berargumen segala macam, yg intinya bahwa wanita harus NRIMO "kodrat" blah blah blah... artinya wanita itu MASIH hidup dalam lingkungan modern pula. Kalau si wanita tidak mau menerima segala macam argumen berdasarkan "kodrat" yg notebene merupakan IDEOLOGI bagi pria dan untuk pria, dengan cara mengorbankan wanita,... maka si wanita akan jalan terus saja. Dia akan bilang so what gitu lho ! ... Dan wanita2 yg seperti itu sudah cukup banyak di Indonesia, terutama di kota2 besar seperti Jakarta dan Surabaya. Lalu, apakah kita sudah masuk era Post Modern ? ... Sebenarnya SUDAH, tetapi tidak sekaligus. Era itu berganti melalui suatu PROSES, ada yg berjalan. Ada yg sudah masuk, dan ada yg masih tertinggal. Ada yg tertinggal sedikit, dan ada yg tertinggal banyak. Dan itu sah saja, normal saja. Kenapa harus memaksakan diri ? ... Kalau diri sendiri merasa sudah berada di era Post Modern, ya jalan saja. Mengapa kita harus MENGKHOTBAHI orang2 lain yg masih harus berkutat dengan perjuangan GENDER. War of the sexes blah blah blah... yg sebenarnya tidak perlu. Tinggalkan saja, and live your own lives. Terakhir, apakah benar bahwa segala PERSEPSI dan PERILAKU merupakan spiritualitas juga ? Sure, of course. Memangnya spiritualitas itu apa menurut anda ? Spiritualitas itu BUKAN agama, melainkan hal bagaimana kita menjalani hidup kita masing2. Segala sesuatu yg berkaitan dengan kesadaran kita sebagai manusia, jatuh bangun kehidupan kita sebagai manusia, dan rasa KONEKSITAS kita dengan sesuatu yg kita anggap sebagai Allah (God in many of His/Her names) merupakan spiritualitas. Dan spiritualitas TIDAK harus berkaitan dengan agama2. Kalau mau dikaitkan, tentu saja bisa. Kalau mau TIDAK dikaitkan juga bisa. Kalau mau dilepaskan TOTAL dari agama2 juga bisa. Inilah era Post Modern dimana spiritualitas itu BISA dilepaskan dari agama2. Di era Modern, kebanyakan orang BELUM berani untuk melepaskan spiritualitas dari agama2, karena TAKUT akan kehilangan arah. Ternyata kita sekarang telah membuktikan sendiri bahwa spiritualitas itu BISA (dan maybe harus) dilepaskan dari agama2. Post Modernitas itu memiliki paradigma berupa PILIHAN (CHOICE). Banyak pilihan diberikan kepada kita, dan hal memilih itu merupakan "ruang kelas" bagi kita untuk belajar menjadi manusia seutuhnya. Kalau harus utuh melalui jatuh bangun, ya jatuh bangunlah. Bilang aja so what gitu lho ! Bila ada rekan2 yg mau SHARING tentang tantangan2 yg dihadapinya dalam menjadi seorang insan spiritual di era Post Modern, please jangan ragu2 untuk menulis kepada saya. Bisa via JAPRI di <[EMAIL PROTECTED]>. Bisa juga langsung tulis di Milis Spiritual Indonesia di <http://groups.yahoo.com/group/spiritual-indonesia>. (Leo) Stress relieving meditation as a SYMBOL of post modern spirituality. Kalau stress ya meditasi saja. Ada BANYAK macam meditasi, dan yg paling populer memang meditasi untuk menenangkan diri. Kalau mumet, ya meditasi saja. Abis meditasi terus bisa sauna, whatever blah blah blah... It's also spirituality walaupun masih jenis yg POPULER. Ada yg kelas berat juga, seperti Meditasi di Mata Ketiga, ikhlas dan pasrah, en so on, en so forth. Tapi, kalau masih enjoy jenis ringan2, ya diteruskan sajalah. Nanti juga akan bergerak sendiri. Makin lama makin heavy (heavy metal kaleh !), makin menjadi diri sendiri, makin apa adanya saja, makin TIDAK perduli orang lain mau bilang apa. That's Post Modernity in its fullest. We become ourselves, menjadi diri sendiri saja TANPA memperdulikan segala macam "cetakan" yg ditawarkan dengan memaksa atau setengah memaksa oleh agama2 dan tradisi2. New Email addresses available on Yahoo! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

