JENGHIS KHAN, MENZIARAHI YANG DIPILIH LANGIT ABADI
Oleh Katamsi Ginano*
Sumber: Ruang Baca Koran Tempo (Edisi 57, Januari 2009)
MONGOLIA adalah hamparan padang rumput sejauh mata memandang. Tersuruk di
jantung Asia, berbatasan dengan Rusia di Utara dan Republik Rakyat Cina di
Selatan, wilayah ini bukanlah kawasan yang ramah dihuni. Dikepung pengunungan
di Barat dan Utara serta Gurun Gobi di Selatan, mayoritas penduduknya menjalani
kehidupan pengembara sebagai pengembala dan pemburu.
Alam yang keras menempa orang-orang Mongol. Siksaan lalat yang menyerbu di
musim panas, atau gigil menembus sumsum di musim dingin, hanya ujian kecil bagi
ketangguhan mereka. Di banyak kisah, orang Mongol dilukiskan sangat mahir
menunggang kuda dan melesatkan anak panah dari busur berujung lengkung paduan
tanduk, kayu, dan otot hewan.
Dari hamparan padang rumput yang kini dikenal sebagai Avraga (di kaki
pengunungan Khenti, dialiri dua sungai, Onon dan Kherlen) di Mongolia Tengah,
di bawah pimpinan Temujin yang kelak dikenal dengan nama Jenghis Khan--atau
Genghis Khan--lebih delapan abad silam para prajurit Mongol menyerbu wilayah
sekitar. Menancapkan kekuasan, mendirikan kerajaan daratan terbesar yang pernah
dikenal peradaban, yang di abad ke-21 ini meliputi negara-negara di Asia
Tengah, Cina, Tibet, Rusia, Iran, Afganistan, Turki, Syiria, Ukraina, Hungaria,
hingga Polandia.
Apakah rahasianya karena busur yang di zamannya tergolong temuan jenius dipadu
kepiawaian menunggang kuda? Ketangguhan hasil tempaan budaya padang rumput?
Ataukah bangsa Mongol, lewat Temujin, memang ditakdirkan oleh kekuasaan Langit
Abadi menjadi penguasa dunia? Berbekal manuskrip Sejarah Rahasia Bangsa Mongol
(The Secret History of the Mongols) yang diperkirakan ditulis pada 1228 oleh
Shigi, di musim panas 2002 sejarawan dan travel writer Inggris, John Man,
menjejak ibu kota Mongolia, Ulan Bator, lalu ke Avraga mengawali napak-tilas
jejak Jenghis Khan dan sejarah penalukkan yang dipatri bangsanya.
Di kalangan yang meminati studi tentang Mongol dan Asia umumnya (terutama
Cina), Man adalah sejarawan dan penulis yang dihormati. Buku-buku yang dia
tulis, semisal Gobi: Tracking the Desert (Yale University Press, 2001) atau
Gutenberg: How One Man Remade the World with Words (Wiley, 2002), dipuji karena
penulisannya yang menjalinkan masa lalu lewat riset pustaka saksama dengan
kenyataan in situ hari ini di mana peristiwa sejarahnya terjadi. Boleh
dibilang, di tangan Man fakta sejarah tetap dingin dan rigid, tapi peristiwa
yang mengiringinya menjadi hidup dan berwarna.
Jenghis Khan: Legenda Sang penakluk dari Mongolia ditulis dengan pendekatan
yang kurang lebih sama. Man memang menjadikan Sejarah Rahasia Bangsa Mongol
sebagai rujukan utama, namun dengan ditopang sejumlah literatur kredibel,
termasuk riset terakhir pemetaan DNA yang tersebar di seluruh Eurasia. Dan yang
terpenting: napak-tilasnya menelusuri jejak Temujin dari bayi yang lahir dengan
segumpal darah di tangan, menjadi Jenghis Khan, hingga kematian dan makamnya
yang tetap jadi misteri.
Man membawa kita memasuki dunia Mongol dan padang rumputnya, tempat Temujin
dilahirkan sekitar 1206 dari pasangan Yesugai dan Hoelun, dengan menggambarkan
langit biru tenang yang sesekali dipecah oleh nyanyian burung skylark,
sekumpulan ger (tenda khas Mongol), kuda-kuda, dan hewan gembalaan. Yang
makanan terlezat adalah Kaserol Marmut dipadu vodka.
Kehilangan ayah yang tewas diracun di usia delapan tahun, Temujin bersama lima
saudaranya hanya diasuh sang Ibu dalam tekanan kemiskinan dan kelaparan. Begitu
miskinnya, bahkan hanya karena memperebutkan burung lark dan ikan kecil
tangkapannya, diusia 11 tahun Temujin tega membunuh saudara seayahnya, Begter.
Di usia 12 tahun dia nyaris tewas saat melarikan diri dari penahanan suku
lawan. Keberuntungan yang sama berulang saat berusia 20 tahun sukunya diserang
salah satu suku terkuat, Merkit. Kendati Temujin berhasil meloloskan diri,
istrinya, Borte, ditangkap dan ditawan.
Peristiwa itu menjadi titik balik lahirnya Jenghis Khan, yang dalam pelariannya
mendaki puncak Burkhan Kaldun, mengakui, “Aku adalah seekor kutu.... Tapi aku
dilindungi.” Sang “Kutu” inilah yang lalu mengumpulkan pengikut dan menyerang
balik Suku Merkit, memorak-porandakan mereka, membebaskan Borte, dan
mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin klan kedua terkuat di Mongolia di usia
30 tahun.
Setelah itu Temujin bagai tak terhentikan. Bersama para sekutu dia menaklukkan
dan menyatukan klan-klan lain lewat pertempuran yang sekali lagi hampir
membuatnya terbunuh. Penyatuan inilah yang kemudian manahbiskan dia sebagai
pemimpin tertinggi bangsa Mongol dengan gelar Jenghis Khan.
Sukses menyatukan seluruh suku di Mongolia, Jenghis Khan memalingkan sasaran ke
Kerajaan Xi Xia, yang terletak di sisi lain Gurun Gobi. Sejaran mencatat, kutip
Man, penaklukkan Xi Xia adalah etnosida sangat sukses karena nyaris berhasil
menghilangkan jejak apa pun yang berkaitan dengan kerajaan ini, termasuk
bahasanya.
Usai memapas Xi Xia, Jenghis Khan melabrak Kerajaan Jin yang berpusat di
Beijing. Bergerak cepat dengan kuda-kuda kecil tapi gesit, bersenjata panah
busur lengkung, pasukan Mongol mendesak penguasa Jin melarikan diri,
meninggalkan kota-kota yang porak-poranda dan tumpukan mayat menggunung.
Dari Beijing, Jenghis Khan menoleh ke dunia muslim yang ketika itu berpusat di
Baghad, ke kerajaan yang dikenal dengan nama Khwarezm (saat ini meliputi
sebagian besar wilayah perbatasan antara Uzbekistan dan Turkmenistan serta
sebagian Iran dan Afganistan). Tak terhentikan, terutama karena kebodohan dan
kepongahan penguasa, tentara Mongol menginvasi kota-kota utama pusat peradaban
Islam: Samarkand, Bukhara, Urgench, Khojend, Merv, Nishapur, dan Gurganj.
Di Merv pasukan Mongol bukan hanya membumi-hanguskan kota ini, tetapi juga
membantai tak kurang dari 1,3 juta penduduknya. Jumlah yang kurang lebih sama
juga menimpa Urgench. Begitu besarnya jumlah manusia yang tewas, dengan
motivasi bukan karena ras atau agama, melainkan bersifat lokal dan strategis,
Man mendifinisikan pembantaian jutaan pemeluk Islam itu bukan genosida,
melainkan urbisida.
Setelah menaklukkan Khwarezm, Jenghis Khan berpaling ke Eropa, menginvasi
kota-kota utama di Rusia, Polandia, dan Hungaria, mendominasi wilayah yang
membentang dari Samudera Pasifik hingga Laut Kaspia. Hanya kematiannyalah
(diperkirakan terjadi pada 1227) yang sejenak menghentikan operasi penalukkan
Mongol -- kemudian dilanjutkan pewarisnya, Ogedei, kemudian cucunya, Kublai
(Khubilai) Khan, yang nantinya menjadi pendiri salah satu dinasti terbesar
Cina, Dinasti Yuan.
Kematian dan juga tempat Jenghis Khan dikuburkan diakui Man tetap merupakan
teka-teki tak terpecahkan. Konon dia tewas oleh sebab luka tikam dari perempuan
yang dipersembahkan untuknya. Versi lain menyebut Jenghis Khan pralaya karena
diare akut.
Penyebab kematian Jenghis Khan tak beda dengan kesimpang-siuran letak makamnya.
Salah satu versi menyebutkan, kemungkinan dia dikubur di Ordos, di sebelah
selatan lengkungan besar Sungai Kuning, di mana saat ini berdiri Mausoleum
Jenghis Khan. Spekulasi lain adalah di Burkhan Khaldun.
Misteri di balik kematian dan makamnya justru memperkokoh kepercayaan orang
Mongol, terutama para penganut “Sekte Jenghis Khan”, yang kini memujanya
sebagai Nabi atau Manusia Setengah Dewa. Mengutip teolog Sekte Jenghis Khan,
Sharaldai, Man menulis: “Jenghis Khan adalah ruh bagi kita semua. Kita
diciptakan oleh Langit Abadi. Jika kita mengikuti jalannya, kita semua akan
menjadi abadi.”
Man, tak pelak, memang mengajak kita bertamasya memahami Mongolia, budaya,
spiritualismenya, dan akhirnya menemukan jawaban mengapa “sang Kutu” Temujin
akhirnya bermetamorfosis menjadi Nabi Langit Abadi. Mengapa Jenghis Khan
menjadi sejarah, legenda, mitos, hingga dongeng bukan hanya bagi bangsa Mongol.
Mengapa dia jadi sosok paradoksal: antara kejam, disiplin, cerdas, ahli
strategis, sederhana, bersahaya, dan visioner. Dan mengapa Rusia dan Cina yang
bergantian menguasai Mongolia modern tak kuasa mengurangi pengaruh Jenghis
Khan, berabad setelah kematiannya.
Dari kualitas riset, buku ini belum sebanding dengan 1421: Saat China Menemukan
Dunia (Alvabet, 2007) yang ditulis Gavin Menzies. Namun keunggulan Man adalah
pada pilihan gaya penulisan yang membuat buku ini sama indahnya dengan sejarah
Nabi Muhammad yang ditulis Martin Lings, Muhammad (Serambi, Cetakan V, 2008)
atau riwayat penderita skizofrenia penerima Nobel Ekonomi 1994, John Forbes
Nash, Jr., karya Sylvia Nasar, A Beautiful Mind (Gramedia Pustaka Utama, 2005).
Keunggulan lain Man adalah dia masih terus mengekplorasi Jenghis Khan dan para
penerusnya. Yang terakhir--semoga tak lama lagi beredar dalam edisi
Indonesia--tentang sang cucu pendiri Dinasti Yuan, Kublai Khan, yang
diterbitkan Bantam Press pada 2007.
* Katamsi Ginano, praktisi komunikasi dan business development, juga pecinta
buku.
_________________________________
DATA BUKU:
Judul : JENGHIS KHAN
Legenda Sang Penakluk dari Mongolia
Penulis : John Man
Penerjemah : Kunti Saptoworini
Editor : Indi Aunullah
Genre : Sejarah
Cetakan : I, November 2008
: II, Desember 2008
Ukuran : 13 x 20 cm
Tebal : 576 halaman
ISBN : 978-979-3064-71-0
Harga : Rp. 89.900,-
==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id