Judul
Buku : Honeymoon With My Brother
Penulis
: Franz Wisner
ISBN:9789790241015
Rilis:2008
Halaman:486p
Penerbit:Serambi
Bahasa:Indonesia
Harga
: Rp.64.900
--------------------
Dear
Franz Wisner,
Aku sudah membaca
bukumu Honeymoon With My Brothers, terimakasih telah
mengunjungi negeriku Indonesia. Kamu telah memberiku gambaran tentang
apa yang ada dibenakmu tentang tanah airku ini. Aku belum pernah
merasakan traveling keliling dunia seperti yang pernah kamu lakukan,
mengunjungi berbagai negara dengan segala kelebihan dan
kekurangannya, mengenyam pengalaman bersama backpaker yang pola
hidupnya sungguh mengejutkan,bercinta dengan model di Praha, dan
masuk ke Suriah karena bantuan sebuah foto.
Dari caramu bertutur
dalam tulisanmu, aku tahu kalau kamu orang yang serius, dan detail,
sedangkan adikmu Kurt Oscar Wisner lebih santai. Peristiwa Annie
meninggalkan kamu saat seminggu sebelum pernikahanmu padahal kamu
sudah menjalani hubungan dengannya selama 10 tahun dan bulan madu
yang sudah melambai-lambai tentu sebuah kabar yang sangat buruk. Aku
bisa merasakan kepedihannmu karena akupun pernah patah hati.
Dan karirmu yang
turun sebagai pelobi, eksekutif humas dan sekretaris pers pemerintah
di The Irvine Company menambah panjang daftar kesedihanmu.
Perjalananmu dengan
adik yang tidak begitu dekat tentu pengalaman yang sungguh luar
biasa. Aku senang membaca kabar terakhirmu bahwa kamu sudah menikah
dengan Tracy Middendorf, setidaknya kamu sudah tidak larut dalam
patah hatimu, dan nenek tirimu LaRue Bocarde Daulton yang begitu
menyayangimu tentu akan sangat bangga di alam sana. Cucu tercintanya
sudah bisa menapaki hidup baru, apalagi Annie sudah menikah juga
dengan pria pilihannya.
Sekarang mari kita
mulai cerita perjalananmu selama dua tahun keliling dunia yang kau
tulis dengan sangat bagus dan menyentuh, tidak ada promosi hotel atau
restoran seperti yang kamu bilang karena itu adalah produk jualan,
tapi kamu banyak menggunakan kata sifat. Bersulang untuk
bukumu....cheerss....
Simpan cerita
tentang Annie, Rusia adalah negara pertama tujuanmu, dan kamu tahu
bahwa mengantre dengan begitu banyak orang di bandara dan minimnya
petugas imigrasi adalah hal sangat-sangat menyebalkan sekaligus
melelahkan. Setelah berlari-lari berebut tempat antrian petugas
bandara, kamu akhirnya bisa menikmati sekelumit hidup di bekas negara
komunis itu.
Setelah Rusia kalian
jelajahi, Swedia adalah tujuan berikutnya dengan mobil pilihan Kurt
Saab yang telah menanti di pabriknya. Dan negara berikutnya yang
kalian jelajahi dengan Saab adalah Budapest, Rumania, Bulgaria, Turki
dan berhasil masuk Suriah, karena kamu menunjukkan foto asli bersama
George Bush, karena petugas di perbatasan mendukung Bush menjadi
presiden AS, sementara kamu juga menyimpan foto bersama Al Gore..:)
Berikutnya adalah
perjalanan ke Asia Tenggara, dan Bali adalah pulau yang kamu kunjungi
saat di Indonesia. Bali yang sudah hiruk-pikuk,centang
perenang...tidak membuatmu betah berlama-lama di sana, kamu memilih
kehidupan yang natural dan damai di Gili – Lombok. Sayang aku belum
pernah ke Lombok jadi tidak bisa memberikan pendapat balasan soal
ceritamu. Di sana kamu bertemu dengan kehidupan backpacker dari
negerimu yang terbiasa menghadapi penduduk setempat, dan
berminggu-minggu bahkan tahunan hidup di jalan, ck..ck..ck...
Negara berikutnya
yang kamu singgahi adalah Vietnam dan Thailand.
Setelah berkeliling
Asia tenggara, kamu melanjutkan ke negara-negara di bagian Amerika
Utara dan Selatan. Negara pertama di wilayah itu yang kamu masuki
adalah Caracas kemudianTrinidad, Equador, Galapagos, Peru dan Brazil.
Di Brazil banyak
sekali yang kamu ceritakan tentang banyaknya pengangguran, dan tentu
saja tentang sepak bolanya...
Dan perjalananmu
yang terakhir adalah ke benua hitam Afrika...
Di selingi beberapa
travel warning terhadap Indonesia beberapa tahun belakangan ini,
tentu kamu akan bisa menceritakan tentang negeriku ini dengan baik
dan jujur. Aku mengandalkan kamu Franz untuk bercerita kepada
orang-orang yang kamu temui tentang Indonesia.
Essai mu yang
berjudul “Dunia Kita Yang Miskin” membuka mataku bahwa begitu
banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan di luar sana, maka
bersyukurlah dengan makanan yang ada di depanmu, nikmati dan jangan
dibuang sia-sia. Kalian yang membaca resensi ini, yang membaca buku
bagus ini, adalah orang- orang yang masih punya pilihan.
Bayangkan dengan
anak-anak dan orang tua di Zimbabwe- Afrika yang dengan
kemiskinannya, Aids yang masih menghantui, mereka masih bisa
tersenyum. Dan betapa bobroknya pemerintahan yang membuat rakyat
miskin semakin miskin yang membuat kita mual meski hanya membaca
ceritanya saja.
Aku tidak berharap
kamu akan patah hati lagi untuk bisa berkunjung lagi ke Indonesia,
tapi jika kamu ingin menghilang, di Asia Tenggara seperti yang kamu
tulis untuk nenek tirimu LaRue, Lombok mungkin bisa jadi pilihan.
“Jika kami
menghilang, kau mungkin akan bisa menemukan kami di pulau Gili, di
pesisir Lombok. Pulau-pulau di sana memiliki perpaduan yang tepat
untuk sebuah pelarian-tidak ada mobil, tidak ada jalan, tidak ada
listrik dan air bersih hanya ada di tempat-tempat tertentu.
Pondok-pondok di pantai disewakan seharga empat dolar semalam..untuk
berdua..sudah termasuk mangga, pisang, dan kue dadar yang disajikan
saat sarapan. Dan, tempat tidur gantung yang tersedia menolongmu
dalam melahap buku yang selalu ingin kau baca.” (hal. 249)
Sungguh sebuah
tempat pelarian yang sempurna.
Terima kasih kepada
Berliani M. Nugrahani yang telah menerjemahkan dengan begitu baik.
Aku akan ingat semua
ceritamu Franz, dan aku juga ingin melihat visualisasi dari bukumu
ini di film kelak, yang telah dibeli oleh Sony hak pembuatannya.
Mungkin di versi film sisi romance kisah cintamu dengan Annie akan
mendapat porsi yang besar, seperti biasa karena itu untuk produk
jualan, dan semoga Gili nanti bisa menampilkan keindahannya di Film
itu.
Ngomong-ngomong
kapan kamu akan ke sini lagi Franz?
Dengan iri,
-Eviwidi-
Blog of EVIWIDI:
http://eviwidi.wordpress.com