AGROMEDIA ==Untuk menghasil belut yang sempurna, tentu pemeliharaannya pun
harus optimal. Di antaranya ialah pemberian pakan yang mencukupi kebutuhan gizi
bagi perkembangan belut. Dalam Buku Pintar Budi Daya & Bisnis Belut karya
Drs. Ruslan Roy, M.M. dijelaskan bagaimana membuat aplikasi pakan dan budi daya
belut, yaitu sebagai berikut.
A. Aplikasi Pakan Belut
Belut merupakan hewan karnivora yang membutuhkan pakan mengandung protein
sekitar 6570%. Namun, pakan yang dimaksud bukan apa yang diberikan sebagai
rutinitas dengan memberikan pelet setiap hari, tapi harus diselingi dengan
pemberian pakan hidup, misalnya aneka jenis ikan atau bekicot. Hal ini berguna
untuk menghindari pengaruh produktivitas belut yang tidak maksimal akibat
pemberian jenis pakan secara terus-menerus.
Di dalam media budi daya juga bisa diletakkan beberapa pakan hidup seperti
kecebong, cacing, larva ikan, dan belatung. Selain itu, belut untuk kegiatan
pembesaran juga dapat diberi pakan mati berupa cincangan bangkai ayam atau
cincangan bekicot. Namun, pakan bangkai tersebut sebaiknya telah direbus
sebelum diberikan agar belut terhindar dari penularan penyakit atau
mikroorganisme yang menjangkit hewan tersebut.
Adapun jumlah pakan yang diperlukan untuk menambah berat badan belut disebut
nilai ubah atau convertion rate (FCR) ialah sebagai berikut.
FCR = Jumlah pakan yang dimakan selama interval waktu tertentu
Pertambahan berat badan selama interval waktu tersebut
Ini berarti, semakin kecil rasio konversi pakan, semakin cocok makanan tersebut
untuk menunjang pertumbuhan belut. Sebaliknya, semakin besar rasio konversi
pakan, kemungkinan besar pakan yang digunakan tidak efektif dalam memacu
pertumbuhan belut.
Perbandingan antara 1 kg berat daging belut dengan jumlah berat pakan yang
dibutuhkan disebut koefisien konversi berat. Jadi, untuk menambah berat 1 kg
daging belut dibutuhkan 2 kg pakan, ini berarti koefisien konversi berat pakan
adalah 0.5. Apabila koefisien konversi berat itu dikalikan dengan 100%, akan
diperoleh efisiensi konversi berat.
B. Pakan Hidup yang Bisa Dibudidayakan
1. Cacing Sutra
Cacing sutra (Tubifek sp.) umumnya berwarna merah darah dengan panjang
10-30 mm. Cacing ini biasa hidup di selokan atau saluran-saluran dangkal yang
banyak mengandung zat organik. Mereka biasa hidup berkoloni atau bergerombol.
2. Cacing Tanah (Lumbricus rubellus)
Cacing tanah biasanya terdapat di tanah humus, tempat pembuangan sampah, atau
tepian sungai yang bercampur dengan sisa sampah.
Cara membudidayakan cacing sebenarnya cukup mudah, cukup dengan menyiapkan
kotoran sapi secukupnya, sisa sayuran atau sampah yang membusuk, tanah, dan
serbuk gergaji. Semua bahan tersebut dicampur menjadi satu. Campuran tersebut
kemudian dimasukkan ke dalam wadah dan disusul dengan memasukkan benih cacing.
Dalam beberapa minggu, biasanya cacing sudah berkembang biak.
3. Bekicot
Bekicot di alam sering menjadi musuh petani karena memakan tanaman padi atau
sayuran. Padahal, daging bekicot sebenarnya dapat digunakan sebagai pakan belut
karena mengandung protein yang cukup tinggi.
Untuk budi daya bekicot, buatlah wadah kandang berupa rumah-rumahan atau gedek
dari bambu berukuran 1 x 1 cm dan tinggi 60--70 cm. Selanjutnya, masukkan
limbah sayur-mayur, cincangan batang pisang, dan batang pepaya, diamkan selama
1 minggu. Setelah bahan-bahan tersebut membusuk, masukkan bibit bekicot
sebanyak 20 indukan. Bekicot akan bertelur setelah satu bulan. Agar bekicot
tetap hidup, jangan lupa memberikan cincangan batang pisang dan sayur mayur
setiap hari.
4. Keong Mas
Daging keong sawah dan keong mas sebenarnya bisa digunakan untuk pakan belut,
asalkan jangan terbawa masuk dengan cangkangnya. Sebaiknya, daging keong mas
dicincang terlebih dulu sebelum diberikan kepada belut. Keong sawah dan keong
mas mudah ditemukan di sawah-sawah. Untuk kebutuhan yang lebih besar, Anda bisa
dengan mudah membudidayakannya.
5. Kutu Air
Daphnia dan Moina termasuk kutu air dari jenis udang renik. Sering dijumpai di
perairan yang mengandung banyak bahan organik. Selain hidup sebagai platonik,
kutu air juga banyak menghuni tempat-tempat lembap, seperti danau, waduk, rawa,
kolam, dan genangan air lainnya. Makanan utamanya adalah tumbuhan renik
(fitoplankton), hewan renik (zooplankton), dan detritus.
6. Belatung
Belatung sebenarnya merupakan larva dari lalat. Untuk mencarinya memang tidak
mudah, tetapi belatung bisa dihadirkan dengan cara mengumpulkan bahan-bahan
yang bisa mengundang lalat, misalnya ampas tahu, pupuk urea, dedak halus,
cincangan eceng gondok, dan tepung ikan asin. Bahan-bahan tersebut dicampur
menjadi satu dan diaduk rata. Setelah itu, diamkan selama beberapa hari di
tempat yang agak terbuka, lalu tutup dengan kain yang basah. Beberapa hari
kemudian belatung akan tumbuh subur di wadah tersebut.
7. Kecebong atau Berudu
Kecebong merupakan bahan pakan yang baik bagi belut. Kecebong dapat diperoleh
dengan cara mengembangbiakkan katak. Caranya, masukkan beberapa pasang ekor
katak jantan dan betina. Biarkan hingga katak hijau tersebut berkembang biak di
kolam. Telur katak yang berhasil menetas akan menjadi kecebong, dan kecebong
tersebut disukai belut.
=======================================
Spesifikasi Buku:
Judul : Buku Pintar Budi Daya & Bisnis Belut
Penulis : Drs. Ruslan Roy, M.M.
Ukuran : 19 x 24.5 cm
Tebal : vi + 126 hlm.
Penerbit : AgroMedia Pustaka
ISBN : 979-006-222-2
Harga : Rp 55.000
Selengkapnya: http://www.agromedia.net
------------------------------------
================= Bacayo.NET - Segalanya tentang buku =================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bacayo/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bacayo/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/