HTML clipboard st1\:*{behavior:url(#ieooui) } /* Style Definitions */
table.MsoNormalTable {mso-style-parent:""; font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman"; } p.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin-bottom:.0001pt;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
margin-left:0in; margin-right:0in; margin-top:0in}
Sepenggal Kisah tentang
Sebuah Teori
Resensi Buku Kafka on the Shore
(Haruki Murakami)
Surabaya Post | Minggu, 26 April 2009 | Oleh N. Mursidi*
SETIAP anak (laki-laki),
di
mata
Sigmund
Freud, memiliki kecenderungan kuat untuk tertarik secara seksual
terhadap ibu kandungnya. Ketertarikan
itu, anehnya, tidak berhenti sampai
di situ. Dalam lubuk hatinya, bahkan
ia memendam
rasa cemburu terhadap
sang
ayah. Tak salah jika percikan
rasa cemburu
itu membuat
sang anak ingin membunuh ayahnya
agar
ia bisa meniduri ibunya.
Dalam teori
Freud, kecenderungan seksual
itu dikenal dengan istilah
Oedipus
Complex.
Freud
juga melihat setiap anak lelaki memiliki kecenderungan sindrum
Oedipus
Complex, tapi lantaran
norma
di masyarakat kuat menghalangi, maka keinginan
itu tercekat sekadar jadi hasrat (dalam pikiran).
Teori
Freud
itu
rupanya memikat Haruki Murakami--pengarang kenamaan asal Jepang--untuk kemudian
mengeksplorasinya lebih jauh dalam bentuk
novel
yang diberi judul
Kafka
on
the
Shore. Jadi,
novel Haruki ini tak bisa ditepis merupakan sepenggal kisah tentang
sebuah teori.
KAFKA
on
the
Shore menuturkan kisah pengembaraan anak lelaki berusia 15 tahun
yang minggat
dari rumah.
Ia memilih minggat lantaran dikutuk ayahnya setelah
sang
ayah ditikam dendam pada ibu serta kakaknya
yang meninggalkannya saat anak
itu berusia 4 tahun. Tak mau ramalan
itu jadi kenyataan, tepat
di hari ulang tahunnya
yang kelima belas, anak lelaki
itu minggat
dari rumah, melanglang buana
ke Takamatsu untuk menemui takdir
lain. Untuk menghapus jejaknya,
ia lalu mengaku bernama
Kafka Tamura.
Di
kota
itu,
Kafka menginap
di
hotel
dan mengisi "waktu luang" dengan mengunjungi perpustakaan Komura.
Setelah jauh
dari rumah,
dia yakin bisa lepas
dari "kutukan". Tetapi suatu hari,
ia menjumpai peristiwa aneh. Sepulang
dari perpustakaan
ia tiba-tiba hilang ingatan. Saat sadar,
ia sudah
di semak-semak
dan tangannya berlumuran darah.
Uniknya, ketika
Kafka hilang ingatan
itu, ternyata
di tempat
lain
(di Nakano,
Tokyo), Nakata (seorang kakek tua
yang dikenal bodoh, menjalani hidup
dari subsidi
kota tetapi bisa berbicara dengan kucing) seperti "menggantikan"
kutukan
Kafka. Nakata tak bisa mengelak,
dan terpaksa membunuh Johnnie
Walker --lantaran punya kebiasaan sadis membunuh kucing. Anehnya
Walker tidak pernah hidup
di dunia. Maka, saat Nakata lapor
ke
pos polisi, Nakata justru dianggap sebagai
orang aneh.
Tapi lebih aneh, dua hari kemudian, Toici Tamura (pematung terkenal)
yang tak
lain adalah
ayah
Kafka justru ditemukan mati tertusuk sebilah pisau. Polisi lantas
mencari
Kafka
dan Nakata. Kejadian
itu membuat
Kafka
dan Nakata terseret misteri. Tanpa disadari, Nakata menumpang
truk Hoshino
ke Takamatsu.
Kafka
pun terpaksa meninggalkan
hotel
dan berpindah-pindah tempat, hingga
dia bisa tinggal
di perpustakaan, setelah Oshima (penjaga perpustakaan)
dan
Nona Saeki (kepala perpustakaan) mengangkatnya jadi pegawai
perpustakaan.
Jalinan cerita kian
"absurd" setelah
Kafka kenal dekat
Nona Saeki.
Di matanya,
Nona Saeki dibebani kenangan
masa lalu setelah
ia ditinggal mati oleh kekasihnya.
Dia
pun sempat hilang selama 25 tahun, lalu kembali
ke Takamatsu.
Dari cerita
itu,
Kafka menduga
Nona Saeki pernah dinikahi ayahnya.
Dan ketika
Kafka berusia empat tahun, wanita
itu kemudian pergi meninggalkannya.
Tapi, semua
itu tak menghalanginya untuk jatuh cinta pada
Nona Saeki. Apalagi setelah
ia kerap didatangi sosok gadis 15 tahun
yang mirip
Nona Saeki
ke dalam kamarnya, sekadar memandangi "lukisan
Kafka
on
the
Shore"
dan lantas bercinta dengannya. Anehnya,
di dunia nyata,
Nona Saeki tak menolak cintanya. Keduanya
pun bahkan bersetubuh. Selain meniduri ibunya,
dia ternyata tak bisa membendung hasrat menyenggamai Sakura,
yang tak
lain kakak perempuannya meski persetubuhan
itu lewat mimpi.
Rupanya, kutukan ayahnya jadi kenyataan.
Kafka membunuh ayahnya, lalu meniduri ibunya
dan kakak perempuannya. Tapi, rahasia
Nona Saeki tetap sebuah misteri. Karena satu-satunya bukti
yang meruntuhkan teorinya (berupa dokumen riwayat hidup
Nona Saeki) telah dibakar Nakata atas permintaan
Nona Saeki. Setelah
Nona Saeki meninggal, wanita
itu menjadi kenangan bagi
Kafka.
Kafka tak bisa melupakannya
dan tak pernah mendapatkan teori tandingan karena teori tandingan
itu telah hangus menjadi abu
dan terbang
ke langit tepat saat
Nona Saeki meninggal akibat serangan jantung.
Kafka mendapat warisan
dari
Nona Saeki lukisan
"Kafka
di Tepi Pantai"--yang
akan selalu dipandanginya jika
ia merindukan
Nona Saeki.
KISAH
novel
Kafka
on
the
Shore ini tak dipungkiri serupa kisah dalam kebudayaan Yunoni
Kuno,
Oedipus
Sang
Raja (karya
Sophocles). Dalam kisah
yang ditulis dramawan besar
itu,
Oedipus diramal kelak
akan membunuh ayahnya. Maka
sang
ayah
(Raja
Louis) membuang
Oedipus. Tapi, takdir berbicara
lain.
Oedipus tak mati. Kutukan
itu, menjadi kenyataan.
Oedipus membunuh ayahnya --tanpa
ia ketahui. Tragisnya,
Oedipus lantas menjadi
raja
dan menikahi
Jocasta. Setelah melahirkan 4 anak,
Jocasta baru tahu bahwa
Oedipus "anak kandungnya".
Jocasta bunuh diri.
Oedipus menusuk kedua matanya lalu meninggalkan kerajaan.
Cerita
Oedipus itulah
yang kemudian dikembangkan oleh Haruki Murakami dengan memaklumatkan
teori
yang digemakan
Sigmund
Freud. Tapi, Murakami tidak mentah-mentah mengadopsi kisah
Oedipus. Ia bahkan meraciknya lebih jauh,
juga mendalam. Haruki tak menyuguhi terang benderang kisah
Oedipus
dan teori
Freud
itu. Pengarang
yang telah mendapat banyak pernghargaan ini lalu memilih jalan
berliku, penuh misteri serupa labirin.
Sampai Haruki mengakhiri cerita
novel ini, dugaan
Kafka mengenai
Nona Saeki
yang dikira ibunya masih menyimpan teka-teki. Tak pelak, hipotesa
Kafka
itu merupakan sebuah teori. Sebagaimana diungkapkan Haruki ketika
Kafka "meminta jawaban"
Nona Saeki, ternyata
Nona Saeki menjawab, "Tidak
ada diriku
yang perlu kau ketahui." Haruki menegaskan, dugaan
Kafka bahwa
Nona Saeki adalah ibunya tidak lebih "sebuah hipotesa atau teori".
Karena merupakan teori, hipotesa
itu masih tetap berlaku selama belum
ada bukti (teori) tandingan.
HARUS diakui karya ini adalah
novel
yang sulit dipahami. Murakami tak menulis secara realis tapi memilih
surealis. Pembaca disuguhi absurditas
yang sulit "diterima akal", karena Murakami melumuri cerita dengan
teka-teki,
dan misteri. Teka-teki
itu disuguhkan Murakami lewat tokoh Nakata
yang bodoh tak bisa membaca
dan berhitung tapi dapat berbicara dengan kucing, batu
dan mampu mendatangkan hujan. Kemunculan gadis berumur 15 tahun (sebagai
bayangan
Nona Saeki), tokoh Johnnie
Walker, Kolonel Sarders, gagak
yang tidak
lain (bisikan hati)
Kafka, dua tentara pasukan
Napoleon pada 1812
dan Johnnie
Walker.
Selain
itu, Murakami kerap berkisah dengan latar
di luar batas dunia. Bahkan, pengarang menyelipkan pemikiran tentang
kenangan, pikiran
dan ingatan
yang diadopsi
dari
ide
dan pemikiran filsafat. Sementara "teknik cerita"
yang digelindingkan Murakami tidak kalah pelik. Berpilin, berliku,
dan tak berpusat satu tokoh utama, melainkan dua tokoh
(Kafka
dan Nakata).
Dari dua tokoh
yang tidak
ada titik temu
di awal kisah
itu, Murakami kemudian menjalin dalam satu bangunan cerita
di akhir kisah
yang ternyata menyisakan banyak pertanyaan.
Untungnya, meski Murakami menulis dengan
gaya surealis, tapi ia tetap bertutur dengan bahasa
yang ringan.
Dialog mengalir lancar, pendek, tidak menyusahkan. Jadi,
novel ini
pun masih bisa diikuti meski harus membaca dengan mengerutkan kening.***
*) N. Mursidi, cerpenis, tinggal
di Ciputat, Tengerang.
_________________________________________
DATA BUKU
Judul:
Kafka
on
the Shore
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Th Dewi Wulansari
Editor: A. Fathoni
Genre: Fiksi
Cetakan: I, Januari 2008
Tebal: 608 halaman
Harga: Rp. 69.900,-