Salam...

 
Seperti kita ketahui, eksistensi adalah satu dari 2 pokok bahasan utama ilmu 
hikmah/filsafat selain esensi. Dan yang menjadi pertanyaannya kita sekarang 
adalah apa aja sih yang dibicarakan orang di sekitar eksistensi ini?
Mari kita teliti….
Pembicaraan eksistensi ini dimulai dari telaahan tentang eksistensi dengan dua 
lawannya, yaitu tidak eksistensi dan esensi. 
 
Apa yang disebut dengan eksist? Apa saja bagian-bagian yang disebut eksist atau 
keberadaan (eksistensi) itu ? Karena pokok bahasan ini begitu strategisnya, 
tentu saja kita harus menyiapkan waktu khusus dan tempat yang memadai untuk 
membahasnya secara mendalam. 
Dan sebagai permulaan, diruang yang terbatas ini kita akan membicarakan 
persoalan ini secara bertahap. Sekarang kita mulai dari pengenalan terhadap 
bagian-bagian keberadaan (eksistensi) itu terlebih dahulu.
 
Orang-orang tua jaman dulu membagi pokok bahasan ini kedalam berbagai kelompok 
(spesies), seperti realitas objektif vs realitas mental, Realitas keniscayaan 
vs kemungkinan, realitas baru vs lama, realitas yang tetap vs yang berubah, 
realitas tunggal vs berbilang, realitas potensial vs aktual, dan realitas 
substansi vs aksiden. 
 
Untuk tahap awal tulisan ini, kita tidak akan membahas semua pembagian realitas 
‘ADA’ itu secara terperinci, tapi kita akan mulai dari pengenalan tentang 
apakah yang disebut dengan aksistensi qua material, Eksistensi qua kuantitas 
dan eksistensi qua eksistensi?
 
Bagaimana kita mengenal realitas yang ada, ini diperlukan study yang teliti 
karena masih banyak perbedaan pendapat juga dikalangan filsuf modern. Perbedaan 
pendapat ini terkadang lunak tetapi sering juga kita menemukan perbedaan mereka 
sudah sampai kedalam hal-hal yang prinsip. 
 
Kita ambil saja contoh seperti pembagian ganjil vs genap, hitam vs putih, kecil 
vs besar, serupa vs berbeda, tinggi vs rendah…, sekilas pembagian ini sudah 
sering kita hadapi dan lihat sehari-hari, tapi apakah keberadaan (eksistensi) 
‘ADA’ nya realitas itu termasuk ‘ADA’ yang ‘ADA’ (aksistensi qua eksistensi) , 
atau satu sama lain berbeda keberadaannya (eksistensinya) ?
 
Sebelum kita mengenal adanya realitas ‘ADA’ yang meliputi ‘ADA’ secara niscaya 
dan mungkin, baru dan lama, tetap dan berubah, tunggal dan berbilang, potensial 
dan aktual, substansi dan aksiden alam bawah sadar kita sering membimbing kita 
selalu kepersoalan ‘ADA’ secara YANG OBJEKTIF saja. 
Dan kalaupun sudah sedikit maju dan banyak baca buku-bukunya Pak Francis Bacon, 
Rene Descart dan buku-buku filsafat positivisme Auguste Comte, barulah kita 
terkadang sempat membolak balik kemungkianan ‘ADA’ yang lain , yaitu ada secara 
mental. Disinilah keterlambat dan sekaligus persoalan kita, sehingga sering 
timbul pertanyaan, apakah eksistensi ‘ADA’ yang dimaksud itu berubah-ubah 
tergantung dari sudut pandang sipeneliti?
 
Tentu saja kalau kita sudah memahami realitas dan bagian keberadaan 
(eksistensi) itu sendiri, pertanyaan seperti itu sudah tidak perlu lagi J 
karena bisa dengan mudah kita lihat dan masuk ke telaahan realitas eksistensi 
‘ADA’ yang TETAP dan ‘ADA’ yang BERUBAH-UBAH. Apanya yang berubah? Objeknya 
atau subjeknya? Ini akan menjadi pokok bahasan tersendiri dibagian realitas 
Tetap vs realitas Berubah.
 
Kembali ke contoh diatas, dalam contoh diatas seperti hitam vs putih dan 
seterusnya itu, tidak ada satupun yang bisa kita sebut sebagai eksistensi qua 
eksistensi, kecuali contoh tunggal dan berbilang yang agak mirip dengan 
eksistensi qua eksistensi, namun tetap kita tidak bisa menyebutnya sebagai 
eksistensi qua eksistensi. Contoh-contoh tersebut diatas adalah tidak lebih 
dari contoh-contoh eksistensi qua material dan eksistensi qua quantitas.
 
Jadi yang disebut eksistensi qua eksistensi itu seperti apa contohnya? 
Contohnya adalah seperti realitas Tunggal vs Berbilang dan Niscaya vs Mungkin J
 
Sampai disini saya rasa kita sudah bisa menjadi lebih jelas lagi, bahwa kita 
akan disodorkan kepersoalan aneka ragam pembagian eksistensi, dengan pengenalan 
secara umum ini saya rasa sekarang kita bisa menjadi lebih mudah lagi untuk 
memetakan persoalan filsafat J



Salam,



Iman K.
www.parapemikir.com 
 


      

Kirim email ke