QULTUMMEDIA   ==Islam sungguh sangatlah berbeda dengan ajaran lainnya, terutama 
ajaran-ajaran sistem materialistik. Sistem materialistik yang kini mulai 
berkembang di kalangan masyarakat, sekalipun mereka sendiri tidak menyadarinya, 
selalu menitikberatkan suatu permasalahan dengan hal-hal logika dan materi 
semata, sehingga mereka lupa bahwa karunia, rezeki, dan nasib manusia berasal 
dari Yang Maha Pemberi, yaitu Allah SWT.
        
Kita juga harus selalu sadar bahwa manusia adalah makhluk lemah. Oleh karena 
itu, sekalipun dengan kekuatan dan kemampuan yang telah dimilikinya, manusia 
kerap kali tidak berdaya dan bahkan tidak akan mampu melawan ketentuan Allah 
yang berupa qadha dan qadar. Allah SWT berfirman,

“Dan telah diciptakan manusia dalam keadaan lemah.” (QS An-Nisa`: 28)

Selain itu, di luar diri manusia ada banyak sekali kekuatan yang amat besar 
yang seringkali mendatangkan bahaya bagi dirinya dan ia tidak mempunyai 
kekuatan atau kemampuan untuk mengatasinya, seperti berupa penyakit, bencana, 
kerugian dalam usaha, dan kegagalan-kegagalan perencanaan. Karena itu, manusia 
membutuhkan pertolongan dari yang memiliki kemampuan (Qadiir) untuk 
mengatasinya. Tidak ada lagi yang memiliki kesempurnaan kemampuan mutlak itu, 
selain Allah SWT, untuk mengatasi seluruh permasalahan yang dihadapi manusia. 
Allah SWT berfirman,

“Dan jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang 
menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan 
kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa 
atas sekalian hamba-hamba-Nya.”  (QS Al-An'aam: 17)

Selain itu, setiap persoalan harus diselesaikan dengan ilmu, bahkan banyak 
persoalan yang dihadapi yang harus diselesaikan dengan ilmu yang amat banyak. 
Sedangkan, manusia hanya diberikan ilmu yang sedikit. Allah SWT berfirman,

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit."  (QS. Al-Israa': 85)

Dengan demikian, manusia memerlukan pertolongan dari Yang Maha memiliki ilmu 
yang amat banyak, yaitu Allah SWT. Sebab, hanya Dia-lah yang mengetahui apa 
yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.

“Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah 
Maha Mengetahui segala sesuatu."  (QS Al-Hujuraat: 16)

Juga, manusia menginginkan masa depannya lebih cerah, sukses, selamat, dan 
bahagia. Ada yang berharap dirinya menjadi kaya, menjadi pemimpin, pejabat, 
sejahtera, dan lain sebagainya. Sebaliknya, manusia tidak menginginkan masa 
depannya buruk, sengsara, dan penuh bahaya. Namun, keberuntungan, nasib baik, 
dan malapetaka yang akan menimpa, semuanya itu adalah harus terlebih dahulu 
atas seizin Allah.

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin 
Allah.” (QS At-Taghaabun: 11)

Oleh karena itu, untuk meraih masa depan yang lebih baik, lebih selamat, dan 
bahagia tersebut, manusia memerlukan pertolongan Yang Memberi izin untuk hal 
tersebut, yaitu Allah SWT Yang Maha Menentukan segala hal.

Dari semua keadaan di atas, baik dari pengaduan, harapan, maupun cita-cita, 
Allah SWT telah memerintahkan kita agar memohon pertolongan kepada-Nya melalui 
shalat. Hal ini tergambar dalam firman-Nya,

“Minta tolonglah kalian dengan kesabaran dan (mengerjakan) shalat; sesungguhnya 
shalat itu sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS 
Al-Baqarah: 45)

      Sungguh amatlah ‘sombong’ seorang muslim jika ia mengira tidak akan 
pernah membutuhkan pertolongan Allah, padahal manusia hanyalah makhluk yang 
lemah; tidak bisa berbuat apa-apa tanpa izin-Nya. Sudah selayaknya seorang 
muslim menggantungkan segala urusannya kepada Allah. Allah tidak akan bosan 
dimintai pertolongan oleh manusia. Bahkan meminta tolong kepada Allah hukumnya 
wajib, seperti yang tercantum pada ayat tadi. Walaupun khitab (objek) pada ayat 
itu ditujukan kepada Bani Israil, namun bukan berarti dikhususkan bagi mereka 
saja. 

      Ayat keempat puluh lima dari surat Al-Baqarah di atas mengisyaratkan 
bahwa Allah telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk meminta tolong 
tentang apa saja yang mereka inginkan baik dari segala kebaikan duniawi ataupun 
kebaikan ukhrawi, dengan media shalat disertai dengan kesabaran. Maksud sabar 
pada ayat ini adalah menahan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat, sehingga 
lanjutan ayat ini dikaitkan dengan melaksanakan ibadah, karena kebalikan dari 
maksiat adalah taat atau beribadah kepada Allah SWT, dan amalan ibadah yang 
paling utama adalah shalat.

Dan, secara spesifik, shalat hajat merupakan sarana untuk memohon kepada Allah 
SWT ketika menghadapi berbagai keluhan, pengaduan, dan permintaan.  Kenapa 
demikian? Rasulullah Saw telah bersabda, 

“Barangsiapa yang memunyai kebutuhan (hajat) kepada Allah atau kepada salah 
seorang manusia dari anak cucu Adam, maka berwudhulah dengan sebaik-baik wudhu. 
Kemudian shalat dua rakaat (shalat hajat). Lalu memuji kepada Allah, 
mengucapkan shalawat kepada Nabi Saw....” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Demikianlah, sebagaimana yang dijelaskan dalam buku “Keajaiban Shalat Hajat” 
yang ditulis oleh Ibnu Thahir. Buku ini memberikan jalan keluar bagai setiap 
permasalahan dan kebutuhan insan muslimin dan muslimat melalui sebuah pengaduan 
efektif dengan shalat hajat. 

=======================

Spesifikasi Buku:


Judul : Keajaiban Shalat Hajat - Membuat Keinginan Menjadi Kenyataan
penulis    : Ibnu Thahir
Ukuran    : 13 x 19 cm.
Tebal       : 230 hlm.
Cetakan  : 3
Penerbit : QultumMedia
ISBN        : 979-017-026

Blurb:
Buku ini mengupas tentang shalat hajat, baik dari sisi keutamaan, rahasia, 
maupun tata caranya. Mudah-mudahan sangat bermanfaat bagi mereka yang ingin 
mengadukan seluruh kebutuhan atau hajatnya kepada Allah secara komunikatif. 
Selain itu, mudah-mudahan juga sangat membantu mereka yang ingin mencari jalan 
keluar dari kesulitan dan permasalahan yang sedang dihadapi.

Sebagai pembuktian, di dalam buku ini, disebutkan kisah-kisah nyata dari bukti 
keajaiban shalat hajat. Salah satunya sebagaimana disebutkan dalam hadits 
berikut: Yakni seseorang yang buta matanya, setelah ia melaksanakan shalat 
hajat, matanya sembuh kembali seperti sedia kala.

Dari Utsman bin Hunaif bahwa ada seorang yang buta matanya menemui Nabi, lalu 
ia mengatakan, “Sesungguhnya saya mendapatkan musibah pada mata saya, maka 
berdoalah kepada Allah (untuk) kesembuhanku.” Maka Nabi saw bersabda,

“Pergilah, lalu berwudhu, kemudian shalatlah dua rakaat. Setelah itu, berdoalah 
(dengan mengucapkan): ALLAHUMMA INNI AS`ALUKA, WA ATAWAJAHU ILAIKA BINABIYYI 
MUHAMMADIN NABIYIR ROHMATI, YAA MUHAMMAD INNI ASTASYFA’U BIKA ‘ALA ROBBI, FII 
RODDI BASHORI (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dan aku menghadap 
kepada-Mu atas [perintah] Nabiku, Muhammad sebagai Nabi rahmat, wahai Muhammad, 
sesungguhnya saya meminta syafa’at kepada Tuhan-ku dengan dirimu agar Dia 
mengembalikan penglihatanku).”

Utsman bin Hunaif berkata, “Dalam waktu yang singkat, laki-laki itu terlihat 
kembali seperti ia tidak pernah buta matanya.” Kemudian Rasulullah saw 
bersabda, “Jika kamu memiliki kebutuhan, maka lakukanlah seperti itu (shalat 
Hajat).” (HR Tirmidzi)

“Seorang laki-laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalanan 
keledainya mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat.... Maka, 
keledai itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua telinganya.” (HR Baihaqi) 

“Ada orang buta menemui Nabi saw, lalu ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya 
mendapatkan musibah pada mata saya, maka berdoalah kepada Allah (untuk) 
kesembuhanku.’ Maka Nabi saw bersabda, ‘Pergilah, lalu berwudhu, kemudian 
shalatlah dua rakaat. Setelah itu, berdoalah....’ Dalam waktu yang singkat, 
laki-laki itu terlihat kembali seperti tidak pernah buta. Kemudian Rasulullah 
saw bersabda, ‘Jika kamu memiliki kebutuhan, maka lakukanlah seperti itu 
(shalat Hajat).’” (HR Tirmidzi)






------------------------------------

================= Bacayo.NET - Segalanya tentang buku =================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bacayo/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bacayo/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke