HTML clipboard
 
Optimalkan Potensi Organisasi
 
Resensi Buku Best Practices in Aligning People with 
Strategic Golas (Naresh Makhijani)


Seputar Indonesia | Minggu, 07 Juni 2009 | Oleh Herdis Herdiansyah*
 
 
 
Imbas dari turbulensi perekonomian global menjadikan 
kondisi ekonomi semua negara mengalami ketidakpastian. Pada saat yang 
bersamaan, 
episentrum krisis global tersebut memukul telak korporasi dunia. 
 

  
  Teraktual adalah bangkrutnya General Motors di Amerika 
  Serikat (AS), meski pemerintah setempat telah memberi berbagai upaya 
  penyelamatan dan stimulus dana yang sangat besar. Bahkan, pasca dinyatakan 
  bangkrut saja, Pemerintah AS kembali akan menyuntikkan dana sebesar 30 miliar 
  dolar. Saking didukung pemerintah, General Motors disindir menjadi Government 
  Motors. Upaya penyelamatan General Motors juga dilakukan dengan 
  restrukturisasi pegawai hingga berjumlah 21.000. General Motors pada 1991 
  memiliki jumlah karyawan 440.000. 

  

  Namun, jumlahnya terus berkurang, pada 2000 menjadi 133.000 dan 2006 menjadi 
  62.000. Pertanyaan paling mendasar, kenapa bisa perusahaan yang memiliki 
  sejarah sebagai salah satu industri otomotif terbesar di dunia jatuh dalam 10 
  tahun terakhir ini? Padahal, semua prasyarat menjadi perusahaan besar telah 
  dimiliki General Motors, mulai dari dukungan pemerintah (terutama saat-saat 
  krisis), manajemen andal, riset dan penelitian yang kuat hingga loyalitas 
  karyawan yang memiliki penghasilan salah satu yang terbaik di Amerika Serikat.

  

  Total aset General Motors sebelum dinyatakan bangkrut per 1 Juni 2009 sebesar 
  82,3 miliar dolar AS dengan total utang 172,81 miliar dolar AS, bisa jadi 
  hanya tinggal sejarah. Ilustrasi kebangkrutan General Motor di atas hendak 
  menjelaskan bahwa sebuah organisasi (korporasi) selalu berada dalam kondisi 
  ketidakpastian. Apalagi dalam tingkat persaingan yang sangat tinggi (D’Aveni 
  menyebutnya dengan hypercompetition, sedangkan teori manajemen menyebutnya 
  kondisi chaos) keberhasilan yang telah diraih bukan angka pasti, tetapi bisa 
  berubah menjadi kegagalan pada saat selanjutnya. 

  

  Karena itu, diperlukan beberapa strategi yang memampukan sebuah organisasi 
  bertahan dalam kondisi ketidakpastian ini. Ada banyak faktor bagaimana 
menjaga 
  organisasi selalu berada dalam rel yang tepat sebagaimana tujuan organisasi 
  yang bersangkutan. Salah satu yang pokok adalah dengan mengukur kinerja 
  karyawan secara berkesinambungan. Pada buku Best Practices in Aligning 
  People with Strategic Goals ini dijelaskan bahwa keberadaan sumber daya 
  manusia (SDM) bukan semata bekerja dalam konteks kewajiban atau karyawan 
  bekerja sebagaimana job desk yang bersangkutan. 

  

  Tetapi lebih dari itu, sebuah organisasi harus mampu meningkatkan kinerja SDM 
  sebagai tujuan utama keberhasilan organisasi. Artinya, segenap daya dan 
  kemampuan SDM pada prinsipnya adalah kemampuan mengoptimalkan 
  individu-individu dalam organisasi yang bersangkutan. Sekarang ini dan juga 
  pada masa yang akan datang, setiap pimpinan dituntut mampu inovatif 
menghadapi 
  perkembangan yang ada. 

  

  Dalam aspek keberhasilan sebuah organisasi, tujuan strategis bukan sebatas 
  tercapainya kesuksesan finansial perusahaan tersebut, tetapi juga kemampuan 
  bertahan dalam jangka panjang. Buku ini menjelaskan bagaimana sebuah 
  organisasi menyiasati segala kondisi dengan berpaku pada tujuan organisasi.
  

  

  Buku ini ditulis oleh tiga ahli manajemen, terutama manajemen SDM. Dari 10 
bab 
  yang ada, secara prinsip memberikan solusi-solusi praktis terkait dengan 
  pendayagunaan SDM. Pada bab kedua dijelaskan secara general kondisi 
  SDM organisasi di Indonesia. Jajaran manajer harus memahami komponen-komponen 
  dari strategic human resource management dan bagaimana memfungsikannya. 
  Bab ketiga dan keempat menjelaskan penggunaan balanced scorecard sebagai 
salah 
  satu alat pengukuran kinerja organisasi. 

  

  Balanced scorecard merupakan konsep yang dikembangkan oleh Kaplan dan 
  Norton dari Universitas Harvard pada 1992. Kedua tokoh manajemen organisasi 
  ini mengatakan kinerja keuangan sebuah perusahaan bukan merupakan 
satu-satunya 
  alat ukur keberhasilan organisasi dan bukan pula mekanisme pengukuran kinerja 
  real dan keberlangsungan organisasi pada masa yang akan datang. Balanced 
  Scorecard sebagai alat yang memerhatikan faktor nonfinansial, seperti 
  kemampuan inovasi, tingkat kepuasan pelanggan, market share, dan 
  kemampuan-kemampuan melakukan strategi-strategi inovatif. 

  

  Karena itu, balanced scorecard memberikan panduan bagaimana sebuah organisasi 
  juga fokus pada aset-aset yang intangible. Bab kelima, keenam, ketujuh, 
  kedelapan, dan kesembilan menjelaskan pengembangan SDM dalam sebuah 
organisasi 
  dituntut memiliki kapabilitas yang bisa dimunculkan dengan training dan
  coaching. Setelah itu, pembentukan karakter-karakter global leader dan 
  bagaimana mengembangkan high-performing culture. Kultur organisasi yang baik 
  menekankan pada keseimbangan tetapi tetap berfokus pada kerja berbasis 
kinerja.
  

  

  Secara umum, bab lima hingga sembilan memiliki misi menunjukkan bahwa SDM 
  mampu menyumbangkan secara signifikan keberhasilan pencapaian tujuan. Atau 
  dengan kata lain, kemampuan sebuah organisasi membina setiap individu dalam 
  organisasi merupakan salah satu garansi keberhasilan organisasi secara 
  keseluruhan. Pada bab terakhir, buku ini memberi kesimpulan akhir yang 
  menjelaskan bab-bab selanjutnya. Buku ini termasuk textbook praktis 
  dengan bahasa sederhana, sistematis, dan tidak bertele-tele yang bisa 
  dimanfaatkan oleh para pengambil kebijakan di organisasi. 

  

  Selain itu, buku bermanfaat karena secara spesifik mendeskripsikan 
  perkembangan manajemen SDM di Indonesia. Kekurangan buku ini terletak pada 
  ketiadaan konsep baru, meski kekurangan tersebut bisa dimaklumi karena buku 
  ini bukan buku teori tapi buku panduan. Bagi pembaca yang merasa asing 
  mengenai manajemen SDM dalam organisasi, setelah membaca buku ini, keasingan 
  tersebut bisa menguap dengan seketika.(*) 

 

  
  

  * Herdis Herdiansyah, Manajer Riset 
  Pusat Kajian Stratejik dan Pertahanan (CSDS), Pascasarjana UI
______________________________________ 
 
DATA BUKU
Judul                
: Best Practices in Aligning People with Strategic Goals
Penulis            
: Naresh Makhijani
Edisi/bahasa   
: Hardcover/Inggris
Genre              
: Manajemen SDM
Penerbit          
: Azkia Publisher (Kelompok Pustaka Alvabet)
Cetakan          
: I, Mei 2009
Ukuran            
: 16 x 24 cm
Tebal               
: 196 halaman
Suplemen        
: DVD
Harga              
: Rp. 197.000,-



==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21  7494032, 
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id




      

Kirim email ke