Untuk mencegah tampilnya orang2 yang membawa paham atheis, maupun orang2 yg 
bermasalah....
Maka Pilpres cukup satu putaran
dimana seluruh rakyat harus langsung pilih SBY-Boediono
Siapa yang pilih calon lain.. tidak berhak menikmati pembangunan
tidak berhak hidup di Indonesia
__________________________________________________
From: Hery Wardono <[email protected]>
Subyek: Awas Komunisme: Media Indonesia dkk perlu diperingatkan/ diberi 
pelajaran

Saya kira orang2 yg mengkritik kebijakan yg pro rakyat dengan memberikan 
kesejahteraan pada rakyat yg dilaksanakan oleh pak SBY, seperti BLT (Bantuan 
Langsung Tunai) ataupun gaji ke 13 untuk pegawai negara yang dilaksanakan pada 
bulan juni 2009 ini untuk memperkuat daya tahan masyarakat menghadapi krisis 
dunia, itu PERLU DIWASPADAI. Karena hanya paham komunis saja yang tidak suka 
rakyat makmur. Mereka manya rakyat ini susah, agar ideologi mereka dapat tumbuh 
subur di bumi Indonesia. Jangan2 memang mereka yg mengkritik pak SBY ini memang 
ber paham komunis..
_____________________________________
From: Arda Netadji PW <[email protected]>
Subyek: Media Indonesia dkk perlu diperingatkan/ diberi pelajaran

Saya kira, Media Indonesia dkk (termasuk juga media massa yang lain yang masih 
main2) perlu ditegur atau kalau perlu diperingatkan, karena berita semacam ini 
termasuk berita yang menyakiti hati rakyat dan mencemarkan nama baik 
pemerintah..
Sudah boleh terbitkan koran dengan oplah cukup banyak, dan tidak ada hambatan 
dari pemerintah seperti masa orde baru  kok masih memberitakan hal yang bisa 
menyesatkan rakyat..
untuk itu pemerintah perlu memperingatkan dan kalau masih berulah kalau perlu 
izinnya dicabut...
masyarakat diharapkan tidak membeli dan diharap kampanye serta melakukan 
tindakan yang dianggap perlu, agar Koran Media Indonesia (maupun media massa 
yang lain yang masih main2) tidak dapat beredar di masyarakat..
Agar Media Indonesia tau rasa bagaimana jika harus berhadapan dengan rakyat..

Salam
Arda Netadji Putrawardana
HP: 08155021064
_____________
Media Indonesia 10 Juni 2009

TERNYATA BLT PAKAI UANG UTANG
Pernyataan sejumlah pengamat dan LSM bahwa dana bantuan langsung tunai (BLT) 
diambilkan dari utang luar negeri ternyata benar.

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar Nasution mengonfirmasi hal itu, 
kemarin.

Seusai menyampaikan hasil pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah 
Pusat Tahun 2008 kepada DPR,

Pada 2008, pemerintah menggelontorkan Rp14,1 triliun untuk program BLT selama 
tujuh bulan. Dana itu dibagikan kepada 19,1 juta kepala keluarga (KK) dengan 
jumlah bantuan Rp100 ribu per KK setiap bulan.

Pada kampanye pemilu legislatif lalu, program BLT menjadi andalan Partai 
Demokrat untuk mendulang suara. Keberhasilan BLT dianggap sebagai sukses 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga Ketua Dewan Pembina Demokrat, 
dalam menjalankan pemerintahan prorakyat.


Dalam sebuah kampanyenya Maret lalu SBY membantah bahwa BLT dibiayai dengan 
dana utang. "Tidak benar BLT itu menghambur-hamburkan uang negara.

Bukan pula dengan jual aset, bukan dengan privatisasi.

Salah kalau mengatakan BLT dari utang." Kendati membantah BLT dari utang, 
Kementerian Koordinator Bidang Kesra mengakui bahwa Program Nasional 
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dibiayai dari utang Bank Dunia. Padahal, 
BLT termasuk kelompok (cluster) pertama PNPM.


Menurut Anwar Nasution, omong kosong bisa membiayai belanja tanpa utang jika 
penerimaan pajak tidak naik. Apalagi, saat ini potensi ekspor turun karena 
krisis ekonomi global. "Akan semakin banyak orang yang beradadi bawah garis 
kemiskinan. Ini akan menambah beban BLT, padahal BLT pun dengan utang." 
Masalahnya, strategi utang pun berubah menjadi sangat memberatkan. Pada saat 
Orde Baru, utang luar negeri dilakukan dengan meminjam secara langsung dari 
kreditur, seperti CGI dan IMF, dengan persyaratan lunak dan bunga hanya 4%-6%. 
Kini, strategi utang berubah menjadi melalui pasar dengan menerbitkan surat 
utang negara yang bunganya mencapai 12%-13%.


Dengan banyaknya program dan dana penanggulangan kemiskinan, lanjut Wahyu, 
seharusnya angka kemiskinan bisa turun antara 5%-6%. "Faktanya, kemiskinan 
hanya turun sekitar 1%. Padahal, beban utang kita hingga 2014 makin berat 
karena banyak utang jatuh tempo. Ini akan mengancam target pembangunan milenium 
pada 2015." (X-10) [email protected]


Kirim email ke