Mashen'ka adalah novel perdana Vladimir Nabokov (1899-1977), pengarang berdarah 
Rusia yang terkenal dengan novel kontroversial Lolita. Novel ini pertama kali 
terbit di Berlin dalam bahasa Rusia pada tahun 1926, tempat Nabokov tinggal 
bersama keluarganya setelah meninggalkan Rusia dan sempat menetap di London. 
Pada tahun 1970, bersama Michael Glenny, Nabokov menerjemahkan karya yang 
diterbitkannya menggunakan pseudonim V. Sirin ini ke dalam bahasa Inggris, 
dengan judul Mary. Edisi Indonesia novel ini diterbitkan penerbit Serambi Maret 
2009 dengan judul Maria.

Berseting tahun 1924 di Berlin, sesungguhnya Maria mengisahkan kehidupan tujuh 
emigran Rusia yang mendiami sebuah pondokan kotor yang terletak di dekat rel 
kereta api. Lydia Nikolaevna Dorn, janda seorang pebisnis asal Jerman yang 
adalah pemilik pondokan. Anton Sergeyevitch Podtyagin, penyair tua asal Rusia 
yang mengidap sakit jantung dan ingin pindah ke Paris. Klara, seorang perempuan 
montok yang diam-diam mencintai salah satu penghuni pondokan. Aleksey Ivanovich 
Alfyorov, seorang lelaki yang meninggalkan istrinya di Rusia setelah 1 tahun 
menikah dan tidak lagi mencintai negara asalnya. Sepasang penari pria: Alec 
Gornotsvetov dan Kolin, dan Leb Glebovich yang dipanggil Ganin.

Nama terakhir, Ganin, yang dikisahkan baru 3 bulan menghuni pondokan, menjadi 
karakter yang paling banyak disorot Nabokov. Karenanya, bukannya memberi judul 
yang menggambarkan pondokan kumuh dan para penghuni yang disebut sebagai `tujuh 
orang Rusia yang kehilangan jiwa', Nabokov memakai nama seorang perempuan yang 
mengusik minggu terakhir Ganin sebagai judul.

Setelah lima tahun meninggalkan Rusia, dan tinggal di Berlin selama satu tahun, 
Ganin memutuskan benar-benar meninggalkan Jerman. Sebelumnya, ia pernah 
beberapa kali ingin pindah, namun selalu berubah pikiran dan menunda kepergian. 
Namun, kali ini, pondokan yang tidak nyaman ini, tidak bisa menahannya lagi. 
Apalagi setelah satu hari minggu, Ganin terperangkap dalam lift yang macet 
bersama penghuni lainnya, Aleksey Ivanovich Alfyorov. Lelaki yang baru menghuni 
pondokan ini mengatakan jika istrinya akan datang dari Rusia. Mereka akan 
bertemu kembali setelah empat tahun berpisah. Istrinya akan tiba di pondokan, 
Sabtu mendatang. Dan, istri Alfyorov itu bernama MARIA.

Spontan, nama ini mengusik Ganin. Sebab, sembilan tahun lalu, ketika dirawat 
karena sakit tifus di sebuah pedesaan di Provinsi St Petersburgh, Rusia , ia 
mengenal perempuan cantik bernama sama, Maria. Percintaan mereka tidak berjalan 
dengan mulus karena Ganin harus ikut bertempur di Crimea setelah Revolusi 
Bolshevik, 1917-1919. Setelah dikeluarkan dari unitnya, Ganin meninggalkan 
Rusia, hingga akhirnya tiba di Berlin. Selama di rantau, `ia hidup tanpa 
memikirkan Maria' (hlm. 116) sampai Alfyorov menyebutkan nama yang sama. Ia 
segera kehilangan hasrat, menjadi pemurung insomnia yang tidak menyenangkan. 
Apalagi setelah mengetahui Maria istri Alfyorov adalah Maria yang sama dengan 
yang ditinggalkannya di Rusia.

Nostalgia cinta pertama yang penuh gairah itu seketika menimbulkan gagasan di 
benak Ganin. Ia pun memastikan benar-benar meninggalkan pondokan pada hari yang 
sama dengan kedatangan Maria. Dan berencana membawa Maria untuk kabur dan hidup 
bersamanya.

Akankah rencana Ganin ini terwujud? Saat ini ia sedang menganggur, uang yang 
tersisa hanya cukup untuk ongkos keluar dari Berlin. Selain itu, selama 3 bulan 
tinggal di pondokan, ia menjalin cinta dengan Lyudmilla Borisovna.

Meski menjadi judul novel, Maria tidak pernah hadir dalam waktu seminggu yang 
dijadikan latar novel. Perempuan yang disebut Alfyorov sebagai bunga musim semi 
berdaun lima ini hanya muncul dalam kenangan Ganin saja. Namun harus diakui, 
kendati hanya berasal dari masa lalu, Maria seolah-olah menjadi ruh dalam novel 
ini, menggerakkan si pemeran utama, Ganin. Membuat Ganin bisa menegaskan jalan 
hidup yang dipilihnya kendati tak urung pikirannya sempat teracuni. Kabarnya, 
karakter Maria ini didasarkan pada mantan kekasih Nabokov, Lyussa. Lima dari 
surat cinta Lyussa dikutip dalam novel ini.

Selain kisah cinta, novel ini juga memuat kisah emigran Rusia di Berlin akibat 
berkecamuknya revolusi di Rusia yang diwakili semua penghuni pondokan Frau 
Dorn. Di antara mereka ada yang masih mencintai Rusia meski merasa terluka oleh 
kondisi negara itu, namun ada juga yang lebih merasa bangga menjadi warga 
negara lain ketimbang warga Rusia, sekalipun masih bernama Rusia. Podtyagin, 
meski jauh dari tanah kelahirannya dan bermaksud tinggal di Paris, tetap 
mencintai Rusia. Sebaliknya, Alfyorov, kabur dari Rusia dan tidak pernah merasa 
bangga dengan negara asalnya itu. Nabokov, boleh dibilang, berhasil memotret 
situasi warga sebangsanya di perantauan.

Setelah menuntaskan kuliahnya di Cambridge, Inggris, tahun 1922, Nabokov 
mengikuti keluarganya ke Berlin. Di sana, ia berhasil menyelesaikan 8 novel 
yang ditulis dalam bahasa Rusia, termasuk Maria, yang ditulisnya setelah ia 
menikahi Vera Evseyevna Slonim tahun 1925. Semua tempat yang dilalui Ganin 
dalam hidupnya pernah bersinggungan dengan hidup Nabokov sendiri.

Novel yang telah difilmkan tahun 1987 dengan judul Maschenka ini memang tidak 
langsung melambungkan nama Nabokov, dan masih kalah indah dibanding Lolita 
(1955), namun sayang dilewatkan, terutama oleh pembaca karya-karya Nabokov 
sesudahnya. Setidaknya, dengan membaca novel ini, pembaca bisa mengetahui 
bagaimana perjalanan kepengarangannya dimulai, bisa melihat bagaimana tradisi 
memberi kejutan di akhir novel dirintis.


Data Buku
Judul: MARIA
Penulis: Vladimir Nabokov
Penerjemah: Santi Hendrawati
Tebal: 208 halaman; 13 x 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, Maret 2009
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

Jody
http://jodypojoh.blogdrive.com

Kirim email ke