HTML clipboard
Fragmen Sejarah
Majapahit dalam Sebuah Novel *
Resensi Novel
Pendekar Sendang Drajat (Viddy AD Daery)
Ruang Baca Koran Tempo | Minggu, 28 Juni 2009 | Oleh Yanto Musthofa
Pernahkan nama Tenggulun (Trenggulun) dibincangkan orang sebegitu heboh, bahkan
di tingkat intenasional, sebelum tragedi bom Bali 2002? Tidak, tentu saja.
Tenggulun sampai kini pun masih tetap sebuah desa yang cukup terpencil dari
jalur ekonomi utama Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Desa itu kini bagian dari
Kecamatan Selokuro, pemekaran dari Kecamatan Paciran.
Di
suatu masa menjelang punahnya kejayaan Mahapahit pada abad ke-16, terbetik
kabar
sekelompok pesilat muda meluruk wilayah Pringgoboyo. Dengan garang, mereka
membantai habis rombongan pendatang dari Eropa saat menyusuri anak sungai
Bengawan Solo dengan perahu Portugis. Para pesilat itu adalah abdi wilayah
perdikan Trenggulun, yang kala itu dikenal sebagai salah satu kantong
perlawanan
garis keras terhadap sisa-sisa kekuasaan Majapahit.
Kisah
itu memang tak ada dalam buku-buku pelajaran sejarah. Kisah itu hanyalah sebuah
fragmen dalam novel berjudul Pendekar Sendang Drajat, Pesisir Utara Majapahit
di Abad ke-16 (Pustaka Alvabet, Juni 2009) karya Viddy AD Daery.
Pendekar bernama asli Raden Ahmad itu adalah cucu Sunan Drajat dan Sunan
Sendang
Duwur. Dia anak seorang kyai pengasuh pesantren terkenal, tapi namanya lebih
terkenal di rimba persilatan sebagai penumpas kejahatan, walau dalam
pengembaraannya dia juga rajin berdakwah.
Dalam
kata pengantarnya, sang penulis, Viddy AD Daery, berterus terang bahwa
mula-mula
novel ini ditulisnya dengan lebih banyak mengandalkan cerita turun-temurun
leluhur, ditambah sedikit data sejarah. Selebihnya adalah imajinasi "bonek"
alias bondo nekat (modal nekat).
Namun,
belakangan dia memeroleh data-data sejarah yang "ternyata tidak bertabrakan"
dengan hasil imajinasinya, dan akhirnya memperkaya novelnya. Jadi, jelas bahwa
Viddy memaklumkan novel silat ini sebagai novel sejarah.
Anda
boleh setuju, boleh tidak. Tapi, bagi penyuka novel silat, yang telah cukup
lama
sepi dari karya baru, novel ini adalah pelepas dahaga yang layak direguk. Drama
konflik khas dunia persilatan yang diwarnai dendam, persaingan dan adu ilmu
kanuragan itu juga dibumbui kisah asmara. Viddy berhasil mengalirkan semua itu
dengan penuturan yang membuai.
Pun,
bagi Anda yang melirik novel ini karena genre sejarahnya, maka Anda akan
terenyak menatap sebuah potret geopolitik Pamotan-Tuban (kini Lamongan) di
pengujung masa Majapahit. Banyak desa kecil di Lamongan, yang kini hanya bisa
masuk koran atau televisi bila luapan Bengawan Solo menyapunya, dulunya adalah
pusat-pusat ekonomi yang telah berinteraksi intensif dengan mancanegara.
Bahkan,
anak sungai Bengawan Solo pun disinggahi perahu-perahu saudagar dari jazirah
Arab, Persia, Gujarat (India), dan Portugis.
Lamongan di masa itu menjadi benteng utara Majapahit dalam menghadapi musuh
dari
arah Laut Jawa. Lamongan juga menjadi andalan Majapahit dalam hal produksi
senjata (keris), perhiasan dan aneka kerajinan lain yang berkualitas tinggi.
Tapi, di Lamongan pula berkembang gerakan politik untuk melawan penindasan
terhadap rakyat oleh penguasa lokal, yang kian menjadi-jadi seiring kian
lemahnya pemerintahan pusat Majapahit.
Novel
Viddy memang bukan buku pelajaran sejarah. Tapi, seperti kata Langit Kresna
Hariadi, penulis pentalogi Gajah Mada, "Novel ini menempatkan kita lebih mudah
belajar sejarah tanpa berniat belajar sejarah."
* Judul resensi di atas telah mengalami perubahan oleh
redaksi Alvabet.
_____________________________________
DATA BUKU
Judul : PENDEKAR SENDANG
DRAJAT
Penulis : Viddy AD Daery
Editor : A. Fathoni
Genre : Fiksi Sejarah
Cetakan : I, Juni 2009
Ukuran : 11,5
x
18
cm
Tebal : 236 halaman
ISBN
: 978-979-3064-75-8
Harga : Rp. 37.000,-
==========================================
Pustaka Alvabet
Ciputat Mas Plaza Blok B/AD
Jl. Ir. H. Juanda No. 5A, Ciputat
Jakarta Selatan Indonesia 15411
Telp. +62 21 7494032,
Fax. +62 21 74704875
www.alvabet.co.id