Judul Buku: Bright Angel Time
Pengarang: Martha McPhee 
Penerjemah: Th. Ninung Pandamnurani
Tebal: 448 hlm; 13 x 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, April 2009
Penerbit: Serambi



"Musim panas yang lalu, pada hari orang-orang pertama kali mendarat di bulan, 
Papa meninggalkan kami. Padahal, pagi itu dia berjanji pada kami: akan menyetel 
TV kami di halaman menggunakan kabel panjang, jadi kami bisa mendongak menatap 
bulan sambil nonton tayangan TV dan menyaksikan bagaimana para astronot 
berjalan-jalan di sana. Papa janji akan menjelaskan kepada kami geologi bulan, 
tapi ternyata malah kabur bersama istri teman masa kecilnya dan membangun hidup 
barunya sendiri ". (hlm. 29). 


Kalimat di atas disampaikan oleh Kate Cooper, narator dari novel bertajuk 
Bright Angel Time, setahun setelah ayahnya, Ian Cooper, meninggalkan rumah dan 
tidak pernah kembali untuk melanjutkan pernikahannya. Dua puluh Juli 1969, Ian 
Cooper pergi dari keluarga dan kediamannya New Jersey, untuk hidup bersama 
dengan Camille, istri Brian Cain, teman masa kecilnya. 


Musim semi tahun berikutnya Eve, ibu Kate, jatuh cinta kepada lelaki karismatik 
bernama Anton Furey yang mampir di New Jersey sehubungan dengan pekerjaannya 
sebagai ahli terapi Gestalt. Karena Anton memiliki spesialisasi dalam menangani 
para istri kesepian (juga biarawati), tak heran Eve terpikat. Padahal Anton 
yang dulunya pastor Jesuit bukanlah seorang pria lajang. Ia sedang terikat 
pernikahan dengan seorang mantan biarawati kaya dan memiliki lima anak. Namun, 
Anton memang memiliki daya tenung yang mampu meluluhkan hati siapa pun, 
termasuk Kate dan dua kakaknya, Julia, dan Jane. 


Lebih dari sebulan Anton meninggalkan New Jersey, Eve memutuskan menyusulnya. 
Kebetulan, istri Anton telah pergi ke India dan masuk ke sebuah Ashram. Anton 
berjanji akan menikahi Eve. Maka, mengendarai mobil station wagon, Eve 
meninggalkan rumah bersama ketiga anaknya. Eve berniat mengejar cintanya, 
sedangkan ketiga anaknya, terutama Jane, bertekad melindungi ibu mereka. Demi 
Anton, Eve membiarkan anak-anaknya terlepas dari kenyamanan rumah dan membawa 
mereka ke dalam perjalanan yang tidak nyaman. Tujuan awal mereka adalah Esalen, 
di mana Anton sedang menghadiri lokakarya Cinta yang Romantis dan Kesetaraan 
Seks. Di sana, mereka bergabung dengan kelima anak Anton: Nicholas, Caroline, 
Sofia, Timothy, dan Finny. 


Dalam hatinya, Kate sebenarnya ingin pergi ke Grand Canyon. Sebelum Ian 
meninggalkan rumah, Kate hidup dalam pesonacerita ayahnya tentang peristiwa 
geologis yang terjadi di wilayah Barat dan Timur Amerika. Sebagai seorang 
geolog, Ian telah mengajari anak-anaknya mengenai geokronolig Grand Canyon, 
meski hanya Kate yang melimpahkan perhatian. Tadinya, Ian telah berjanji akan 
membawa keluarganya ke Grand Canyon, namun kaburnya dari rumah telah 
mengurungkan janjinya. Menurut Ian, peristiwa geologis di daerah Barat tetap 
aktif berlangsung, sehingga bisa disaksikan terjadinya, sementara di daerah 
Timur telah terjadi jutaan tahun silam. Tak terlupakan oleh Kate, salah satu 
bebatuan Grand Canyon yang kerap dinyanyikan sang ayah dengan gembira, "Bright 
Angel �nama itu sungguh indah, meskipun sebenarnya tidak sesuai untuk 
nama suatu batuan, suatu shale dari periode Cambrian yang menunjukkan bahwa 
usianya sudah jutaan tahun." (hlm. 89-90). 


"Oh, Kate. Kalau kita sudah sampai di tempat Anton, kita akan bisa melakukan 
apa pun yang kita mau. Kalau kita sudah sampai di tempat Anton, segalanya akan 
berbeda. Kau tahu, sayang, dia punya keluarga yang sangat harmonis. Tentu akan 
sangat menyenangkan."(hlm. 91) Demikianlah tanggapan Eve atas keinginan Kate 
untuk pergi ke Grand Canyon.


Ternyata keluarga yang harmonis menurut sang ibu adalah keluarga yang tidak 
punya tempat tinggal tetap, hidupnya berpindah-pindah di atas camper 
�sebuah Chevrolet Del Rey, di mana kebebasan melakukan hal buruk 
ditoleransi sang imam keluarga. Maka, manakala rombongan Kate berjumpa dengan 
anak-anak Anton, mereka diperkenalkan dengan aktivitas dan percakapan yang 
tidak biasa dilakukan anak-anak. Anak-anak Anton adalah anak-anak hippie, biasa 
minum bir dan merokok. Bahkan Finny yang paling kecil dan berumur sekitar 5 
tahun, jago menggulung bone �rokok mariyuana. Permbicaraan mereka pun 
melampaui dunia Kate, seputar masalah orang dewasa seperti aborsi, Vietnam, dan 
Nixon. 


Namun, kebiasaan anak-anak liar itu tidak menghentikan niat Kate dan 
saudara-saudaranya untuk menjalin persaudaraan. Apalagi, Eve, ibu mereka akan 
menjadi ibu anak-anak itu juga. 


Tinggal dalam satu naungan sebagai keluarga besar tidak jarang meletupkan 
pertikaian. Anak-anak Anton tidak sepenuhnya membiarkan diri mereka menghargai 
Eve. Suatu kali, masalah anak-anak itu memicu pertengkaran sengit antara Eve 
dan Anton, hingga Eve nyaris meninggalkan Anton. 


Meninggalkan Esalen, rombongan Furey dan Cooper tidak memiliki tujuan dalam 
peta. Perjalanan tanpa arah ini mengundang masuknya orang-orang asing ke dalam 
kehidupan mereka. Mereka membawa masalah, tetapi juga pencerahan. Salah satu di 
antara mereka memaksa Anton, sang pemimpin rombongan, memikirkan kembali 
kehidupan yang ia jalani dan kehidupan orang-orang yang berada dalam 
perlindungannya. "Akan kaubawa ke mana kami?" tanya Kate pada momen rawan yang 
terjadi (hlm. 402). 


Pada akhirnya, pertanyaan Kate itu menggerakkan kemudi menuju Grand Canyon, 
membuka jalan menuju harapan: masa Bright Angel �masa penuh berkat 
Tuhan, masa yang penuh janji. Tidak akan mudah, namun harapan tetap ada. 


Bright Angel Time adalah novel perdana Martha McPhee yang pertama kali 
dipublikasikan tahun 1997. Setelah novel ini, ia telah menulis novel Georgeus 
Lies (2002) dan L'America (2006). Pengarang yang tinggal di New York City dan 
mengajar di Universitas Hofstra ini juga menjadi salah satu penulis Girls: 
Ordinary Girls and Their Extraordinary Pursuits bersama kedua saudaranya Jenny 
McPhee dan Laura McPhee (2000). Begitu terbit, Bright Angel Time menarik 
perhatian khayalak dan menjadi salah satu "New York Times Notable Book".


Keistimewaan nomor satu novel ini sudah pasti terletak pada penggunaan narator 
bocah perempuan berusia 8 tahun. Dalam keluguannya, ia tidak hanya menuturkan 
apa yang terjadi dalam hidupnya (dan saudara-saudaranya) sepeninggal ayahnya. 
Tetapi juga mengangkat kehidupan orang dewasa di seputarnya yang hidup 
seenaknya dan mengabaikan tanggung jawab. Menenteng kesedihan dalam perjalanan, 
dibayang-bayangi kenangan sang ayah, Kate tidak terpuruk ke dalam kondisi 
kehabisan harapan. Sebagai seorang anak yang mulai bisa menyilih yang baik dari 
yang buruk, harapan menjadi modal penting bagi Kate untuk mengarungi hidup. 
Itulah yang tertangkap pada banyak tempat dalam narasinya. 


Keistimewaan nomor dua adalah karakterisasi yang unggul. Para karakter 
dipersiapkan dan dibangun dengan kuat, akan gampang menjadi sosok tiga dimensi 
bagi pembaca. Kate yang lugu dan sok tahu; Eve yang rapuh dan impulsif; Julia 
yang sok pintar dan cenderung lebih tenang dibanding Jane yang kritis sekaligus 
sinis; Anton yang bohemian, berjiwa bocah dalam tubuh dewasa.


Keistimewaan nomor tiga adalah latar Amerika masa lalu yang mungkin merupakan 
kenangan si penulis sendiri. Maka, walaupun dalam gaya penuturan masa kini, 
pembaca bisa meresapi suasana dan panorama masa lalu yang digeber dengan hidup.


Kekurangistimewaan novel ini adalah plot yang lambat dan kejutan yang nyaris 
nihil dari bab ke bab. Bahkan, pada momen menentukan, yaitu ketika Anton 
terperangkap dilema -terus hidup bohemian atau berubah, terasa ompong. Selama 
membaca, pembaca akan sering diliput keraguan menebak arah novel bermuara. 
Mungkin, jika pembaca langsung memosisikan novel ini sebagai 'road novel', 
pembaca akan lebih menikmati, apalagi dengan sentuhan humor yang lugu dalam 
narasinya. 


Bagian yang cukup menimbulkan pertanyaan adalah munculnya keluarga seorang 
novelis pada bab tujuh belas (Sebuah keluarga Utuh), dalam kilas balik. 
Kemunculan mereka terkesan janggal karena pada bab-bab sebelumnya tidak pernah 
disinggung. Lagipula, kehadiran mereka tidak berkontribusi signifikan terhadap 
perkembangan dan penutupan novel. 


Lalu, apa nilai tambah yang bisa ditambang dari novel ini selain narator, 
karakterisasi, dan latar yang mencuri perhatian? Pesan moralnya tentu saja! 
Bahwa segala hal di dalam kehidupan seorang anak yang belum dewasa dan mandiri, 
adalah tanggung jawab orangtua. Apalagi? Ya, hidup ini semestinya dijalani 
secara apa adanya, dan tetaplah berharap walau dalam kondisi terjepit.


Oleh Jody 
http://jodypojoh.blogdrive.com/archive/192.htm

Kirim email ke