Kekuatan Tekad Phileas Fogg Apa yang bisa mengalahkan kekuatan atau kemampuan fisik manusia? Bukan, jawabannya bukan kekuatan otot orang lain, tetapi lemahnya tekad dalam diri kita. Sebaliknya, kekuatan tekad dapat menjadi bahan bakar penyemangat bagi orang yang secara fisik lemah. Begitu banyak kisahentah itu nyata maupun rekaanyang memberi kita pelajaran tentang hal ini.
Begitupun pesan yang bisa saya ambil setelah membaca novel Delapan Puluh Hari Keliling Dunia. Sekilas, mungkin tidak ada yang istimewa tersirat dari judul itu. Apalagi dengan kemajuan teknologi transportasi zaman kiwari, manusia bisa mengelilingi dunia dalam tempo lebih singkat. Bahkan dengan Google Earth, kita bisa keliling-keliling dunia dalam hitungan detik atau menit saja. Namun, kita akan dibuat terperangah karena kagum mendengar cerita karya Jules Verne ini ternyata berlatar waktu tahun 1872. Ya, 137 tahun yang lalu, seorang pria Inggris bernama Phileas Fogg menyanggupi tantangan teman-temannya di Reform Club untuk mengelilingi dunia dalam 80 hari. Bukan hanya itu, tetapi lengkap dengan taruhan sebesar 20.000 pound sterling. Taruhan dilakukan setelah anggota perkumpulan yang terhormat itu membaca berita di koran The Daily Telegraph. Koran itu menyebutkan bahwa dengan beroperasinya lintasan kereta api yang menghubungkan ujung barat dan timur India, manusia (orang-orang Eropa) dapat mengelilingi dunia dalam 80 hari. Bahkan, koran itu memuat pula rute atau kota-kota mana saja yang disinggahi, alat transportasi, perkiraan waktu perjalanan antartitik tujuan. Misalnya, "Dari Yokohama ke San Francisco dengan kapal uap 22 hari." Phileas Fogg, sebagai lelaki Inggris sejati, pantang menolak taruhan. Maklum, bagi sebagian penduduk negara kerajaan itu, taruhan adalah "agama" kedua. Lelaki yang digambarkan sebagai sosok yang kalem dan penuh perhitunganbahkan dalam setiap langkah kakinyaitu pulang ke rumah untuk berkemas dan segera berangkat. Sekadar gambaran betapa dia penuh perhitungan, Fogg memecat pelayannya karena menyajikan air untuk bercukur kurang hangat dua derajat dari biasanya. Untuk menggantikan pelayannya itu, Fogg mempekerjakan seorang pria asal Perancis bernama Jean Passepartout yang patuh, keras kepala, dan cerobohsifat yang menjadi turunan dari keluguannya. Passepartotlah yang menemani Phileas Fogg mengarungi rute London, Suez, Bombay, Calcuta, Hongkong, Yokohama, San Francisco New York, dan kembali ke London. Namun, siapa sangka jika perjalanan mereka dibuntuti oleh Detektif Fix yang mengira Fogg telah merampok 50.000 ribu pound sterling dari sebuah bank di London. Fix yang tergiur oleh iming-iming hadiah besar mulai berusaha menangkap Fogg sejak di Suez. Dia harus berhasil menangkap buruannya itu di wilayah koloni InggrisIndia danHongkong sebelum Fogg sampai di Amerika. Namun, tanpa surat penangkapan dari Inggris, detektif yang tak sabaran itu tak ubahnya macan ompong. Jadi, dia mengatur siasat untuk menghalangi perjalanan Fogg sampai surat penangkapan diterimanya. Setiap kali Fix membuat perkara untuk menghambat Fogg, saat itu pula buruannya berhasil lolosmulai dari ditangkap polisi di Calcutta sampai ketinggalan Kapal Uap Carnatic menuju Yokohama di Hongkong. Di sini, Jules Verne tidak menyajikan cerita detektif yang penuh dengan aksi kejar-kejaran. Dia malah menghadirkan cerita "kucing-kucingan" yang kalem antara detektif dengan buruannya. Bahkan, salah satu bab menceritakan Fogg menolong Fix yang menyamar sebagai penumpang kere yang ketinggalan kapal uap menuju Yokohama. Namun, Detektif Fix bukanlah satu-satunya penghambat dalam perjalanan Fogg dan Passepartout. Buasnya alam, kerasnya budaya lokal, dan serangan suku Indian memaksa lelaki Inggris itu memutar otak dan menguras kantong. Sang penulis, yang sering dianggap sebagai pelopor penulisan fiksi ilmiah, dalam novel ini tidak menggunakan bahasa yang indah, tetapi dia menceritakan petualangan Fogg dengan bahasa yang mudah. Contohnya, ketika menggambarkan cuaca, dia menulis: "Cuaca menjadi buruk . Angin, yang terus-menerus berada di barat laut, berembus kencang dan memperlambat gerak kapal uap itu." Di sisi lain, Verne teperinci dalam perihal jarak. Mungkin ini dimaksudkan untuk mempertegas karakter Fogg yang matematis itu. Keseluruhan cerita dalam buku yang terbit pertama kali pada 1873 ini ditutup dengan Bab 37 yang di bawahnya tertulis keterangan "Phileas Fogg tidak mendapatkan apa-apa dari perjalanannya keliling dunia selain kebahagiaan" sebagai ganjaran bagi kekuatan tekadnya. *** Moh. Sidik Nugraha Identitas Buku Judul: 80 HARI KELILING DUNIA Penulis: Jules Verne Penerjemah: Rahmani Astuti Penerbit: Serambi Ilmu Semesta Cetakan: I, Juni 2008 Tebal: 307

