*Hadang Israel Masuk Jantung Telkomsel*

Gempa kecil melanda PT Telkomsel, beberapa pekan terakhir. Pemicunya adalah
tender pengadaan perangkat billing system Telkomsel, yang diduga kuat bakal
dimenangkan perusahaan Israel. Tender senilai Rp 1,2 trilyun itu memantik
masalah lantaran dianggap tidak transparan dalam pelaksanaannya. Salah satu
yang disoal adalah perlakuan tidak adil kepada peserta tender. Dalam
pelaksanaan prove of concept (POC) untuk peserta tender, misalnya, waktunya
sengaja dibuat sangat ketat. Hal ini dianggap menguntungkan dua vendor,
yaitu Convergyst dan Amdocs.

Convergyst adalah perusahaan asal Israel yang selama ini berpengalaman
menangani tagihan existing, sehingga dianggap telah menyiapkan segala
sesuatunya. Sedangkan Amdocs, yang juga disinyalir sebagai perusahaan
Israel, diberi kesempatan enam bulan sebelumnya untuk POC.

Tender yang dilakukan Telkomsel pun sengaja di-split untuk dua vendor,
masing-masing akan menangani online charging system (OCS) dan system control
point (SCP). "Padahal, sistem yang ideal apabila OCS dan SCP berasal dari
satu vendor untuk mendapatkan performa lebih bagus dengan harga murah," ujar
anggota komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi.
Sebelumnya, billing system PT Telkomsel ditangani kongsi Nokia-Siemens
hingga berakhir kontraknya pada tahun ini.

Heru mengingatkan, operator telekomunikasi yang dituding melakukan
kecurangan dalam proses tender itu harus berurusan dengan Komisi Pengawas
Persaingan Usaha (KPPU). "Meski itu urusan dapur operator, kami perlu
mengingatkan karena tender yang curang bisa menjadi objek pemeriksaan KPPU,"
katanya.

Tender besar yang digelar operator telekomunikasi seperti Telkomsel, Heru
menambahkan, sebaiknya dipaparkan secara terbuka demi menghindari tudingan
KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) serta persaingan usaha tidak sehat.
"Langkah pemerintah pakai e-auction (tender elektronik --Red.) bisa ditiru.
Panitia bagusnya tanda tangan pakta integritas," ungkap Heru.

Namun indikasi ketidaktransparanan tersebut dibantah oleh Direktur Utama
Telkomsel, Sarwoto Atmosutarno. "Itu hanya pernyataan dari peserta yang
sudah merasa kalah dalam tender," katanya. Menurut Sarwoto, sebentar lagi
pemenang tender akan diumumkan. Dan biasanya, kata Sarwoto, pihak yang kalah
tender sengaja memancing di air keruh.

Keikutsertaan perusahaan Israel, terutama Amdocs, dalam tender pengadaan
perangkat billing system Telkomsel itu sempat memantik polemik. Maklum,
Amdocs dianggap sebagai kaki tangan Pemerintah Israel yang dicurigai untuk
kepentingan spionase. "Dengan menguasai billing system, berarti Amdocs telah
menggenggam jantung perusahaan seluler terbesar di Indonesia itu," ujar
seorang pakar informasi dan telekomunikasi yang tidak bersedia disebut
namanya.

Secara historis, Amdocs adalah perusahaan yang didirikan di Israel oleh
Aurec Group, sebuah korporasi bisnis milik milyarder Yahudi, Morris Kahn. Ia
termasuk 10 besar orang terkaya di Israel. Perusahaan itu menyediakan
perangkat lunak (software) dan jasa untuk penagihan, customer relationship
management (CRM), sistem pendukung operasi (OSS), serta penyedia berbagai
perangkat telekomunikasi dan informasi lainnya. Perusahaan ini juga
menawarkan outsourcing layanan pelanggan dan operasi pusat data.

Pada saat ini, Amdocs bermarkas di Chesterfield, Missouri, Amerika Serikat.
Perusahaan itu memiliki lebih dari 17.000 karyawan, tapi hampir setengah
dari jumlah itu berbasis di Israel.

Amdocs juga tercatat di New York Stock Exchange dan beroperasi di lebih dari
50 negara. Amdocs pun memiliki divisi konsultan, yang disebut Divisi
Consulting Amdocs, dengan kantor-kantor di seluruh dunia.

Selain proyek-proyek bisnis, Amdocs mendirikan pula berbagai organisasi
nirlaba. Salah satunya bernama ALEA-Amdocs Employees Lema'an Hakehila,
sebuah organisasi yang, katanya, bertujuan membantu masyarakat. Eyal Ben
Amram, wakil presiden dan koordinator proyek Amdocs, mengatakan, "Kami
memutuskan untuk fokus pada pendidikan bagi pemuda dan anak-anak bermasalah
sebagai cara terbaik untuk mempengaruhi perubahan jangka panjang dalam
masyarakat."

Indikasi bahwa Amdocs adalah perusahaan Israel yang memangku kepentingan
negara zionis itu terlihat pada jajaran direksi. Terungkap di situs
www.reuter.com, beberapa direktur Amdocs tercatat pernah menduduki pos
penting di Pemerintah Israel.

Contohnya, Nehemia Lemelbaum, yang menjadi dewan direksi Amdocs sejak
Desember 2001 --merangkap Senior Vice President Amdocs Management Limited
dari 1985 hingga Januari 2005-- adalah staf di Kementerian Komunikasi Israel
dengan tanggung jawab untuk teknologi komputer di area business data
processing. Pada saat ini, Nehemia menjadi anggota eksekutif komite
teknologi dan inovasi.

Ayal Shiran, yang menjabat sebagai Senior Vice President dan Head of
Customer Service Business Group Amdocs Limited sejak 2008, adalah jebolan
Angkatan Udara Israel. Ia bertanggung jawab atas proyek pengembangan sistem
komputer untuk jet tempur F-15 dan pengembangan perangkat lunak untuk F-15
di Boeing.

Sedangkan Zohar Zisapel yang menduduki kursi dewan direksi Amdocs sejak Juli
2008 dan kini menjadi kepala komite inovasi dan teknologi pernah mengenyam
karier di Departemen Pertahanan Israel dari 1978 hingga 1982. Ia juga
menjadi Ketua Asosiasi Industri Elektronik Israel dari 1998 hingga 2001.

Di beberapa negara, kehadiran Amdocs sempat diboikot lantaran dianggap
sebagai kaki tangan Pemerintah Israel. Di Irlandia, misalnya, beberapa
politikus mengirim petisi agar Eircom selaku perusahaan "halo-halo" nasional
negeri itu menolak proposal yang diajukan konsorsium pimpinan IBM, lantaran
konsorsium tersebut membawa serta Amdocs untuk menangani billing system.

"Konsorsium yang menggandeng Amdocs kami persilakan mundur dari kontrak
dengan Eircom. Sebab perusahaan itu penyokong kebijakan pertahanan Israel,
yang membunuh 1.400 orang Palestina dalam invasinya ke Jalur Gaza," ungkap
Kevin Squire, juru bicara Kampanye Solidaritas Palestina-Irlandia (IPSC) dan
Gerakan Anti-Perang Irlandia (IAWM), seperti tertulis di www.swp.je.

GATRA (Dok. GATRA)

Akankah perusahaan Israel itu melenggang kangkung ke jantung Telkomsel?
Kecurigaan itu ditepis Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo),
Tifatul Sembiring. "Kami sudah meminta klarifikasi dari Telkomsel dan
Kedutaan Besar Amerika, ternyata Amdocs terdaftar di New York Stock Exchange
dan berkantor di Missiouri," kata Tifatul kepada Birny Birdieni dari Gatra.
Karena itu, Tifatul mempersilakan Amdocs terus mengikuti tender di
Telkomsel.

Sebelumnya, Tifatul melarang keterlibatan perusahaan yang tidak memiliki
hubungan diplomatik dengan Indonesia, termasuk Israel. Namun, belakangan,
Tifatul malah membuka jalan bagi Amdocs untuk melenggang ke kandang
Telkomsel, operator seluler terbesar di Indonesia. Meski demikian, Tifatul
berjanji, jika ada yang mencurigakan, pihaknya akan melakukan penyelidikan
lagi terkait status kenegaraan Amdocs.

Dikatakan Tifatul, Indonesia memang tidak punya hubungan diplomatik dengan
Israel. Karena itu, Indonesia tidak memiliki hubungan dagang dengan Israel
dan tidak ada kantor perdagangan Israel di Indonesia. "Tapi, kalau
berdomisili di Amerika Serikat, meski sahamnya dimiliki orang Israel, sulit
ditolak kehadirannya di sini," ujar mantan Presiden PKS itu. Jadi, selamat
datang Israel!

*Heru Pamuji
[Ekonomi, Gatra Nomor 11 Beredar Kamis, 21 Januari 2010]
Source :* http://www.gatra.com/2010-01-25/artikel.php?id=134219

Kirim email ke