Lanun - Lanun Karibia
Oleh: Mila Duchlun
ISBN : 9786028543583
Rilis : 2010
Halaman : 142p
Penerbit: Bisnis2030
Bahasa : Indonesia
Rp.39.600
Mila Duchlun Dan Kemaslahatan Selera
Membaca dan menelaah karya-karya puisi Mila Duchlun yang terhimpun dalam
buku puisi Lanun-Lanun Karibia, merupakan karya dari suatu pengalaman
jiwa yang berkolaborasi erat dengan kekayaan obyek pada kata-kata yang
disajikan di dalamnya. Adalah karakteristik yang berani dari seorang
Mila Duchlun, ketika beliau menjadikan kalimat dalam puisinya yang lugas
sebagai suatu perbandingan antara makna dan nilai, khususnya tentang:
reposisi rasa kepada suatu keestetikaan intrinsik dari persentuhan
manusiawi.
Bentuk penalaran kepada suatu kompleksitas dan corak kehidupan, yang
berbanding dengan kekayaan dalam kata demi kata untuk mengabstraksikan
suatu realita; hampir seluruhnya kita temukan pada puisi-puisi karya
Mila Duchlun. Salah satu dari baris puisi yang menarik untuk ditelaah,
adalah: “lhuru/cintamu itu/seperti ciuman sepasang hantu/membelah
otak membunuh waktu” (“Ihuru,” 2006). Puisi ini telah
mensubordinasikan rasa (subyek-tifitas yang terjadi) di bawah obyek yang
hendak dilukiskan secara definitif.
Kekuatan dari puisi-puisi karya Mila Duchlun, terletak pada: perihal
pengungkapan akan kondisi emosionalitas kemanusiawian, yang kerap
berkontradiksi dengan paparan situasional dan benda; tatkala harus
mendukung terjadinya suatu proses keindahan dalam puisi. Hal ini dapat
ditemukan dalam beberapa puisinya yang berjudul: “Gadis Kecil Berselimut
Langit Tebal,” “Menjajah Dinding,” “Ou, Bikini,” “Dunia Yang Besar,”
“Surat Hati Untuk Laut,” “Tapis Dara,” “The Pianist,” “Pejalan Laut,”
“Pada Selembar Angin,” “ Umbu,”
“Kulihat Namaku Di antaranya,” “Mannequin,” “Sajak Dewa,” “Akan
Kubongkar Hatiku,” “Pada Sebuah Cermin,” dan “Lanun-Lanun Karibia.”
Persentuhan romansa dalam puisi yang berjudul “Anggap Saja,” dapat kita
baca pada salah satu baris kalimatnya: “…bila nanti purnama tiba/kan
kujilati dindingnya/kupanjati sudutnya...” Telah terjadi suatu
proses hiperbolik dari puisi tersebut, demikian dengan beberapa judul
puisi lainnya, seperti: “Massal,” “Juni Bung Juni,” “Biarkan Aku
Berbicara Cinta,” “Burung Hantu,” “Seliku Way Kanan,” “Sekuntum
Kamboja,” “Pengembara Malam,” “Aku Tersesat Dalam Jiwa Ungu,” “Di
Petilasan Ken Dedes,” “Untuk Aku, Sudra,” “Di Putus Cinta,” “Pasir
Kekasih Hamba,” “Runtuh Bagai Debu,” “Hamba Perawan Laut,” dan “Jika Aku
Tak Sampai.”
Tentang situasi romansa yang dihiperbolisasi secara minim, akan
mengalami suatu perdebatan pada fase penalaran dengan situasi empiris.
Tentunya Mila Duchlun telah melalui titik krusial dalam proses
penulisannya, ketika kata dan kalimat harus berkesinambungan untuk
menghadirkan suatu makna.
Puisi yang berjudul “Orang-Orang Kesepian” dan “Kita Adalah Nusantara
Yang Terluka” adalah fenomena riil; ketika daya nalar telah menjembatani
kehadiran kata, dan menerjemah nilai yang harus tersirat oleh puisi.
“Bakat untuk memilih,” demikian yang pernah dituliskan oleh Delacroix.
Teori tersebut secara parsial telah terkejawantah melalui karakteristik
khas dari buku puisi Lanun-Lanun Karibia. Demikian dengan petikan
kalimat dalam puisinya: “...kau hanyut pada senar bassmu/aku larut
dalam dentum bitku...” (“Sepotong Simbal Untuk Wibi,” 2007). Adalah
suatu konsistensi pada bakat untuk memilih kalimat, dari beberapa
pilihan ide yang disajikan jamak.
Paradigma tentang kevulgaran suatu obyek, berbanding dengan eufemisme
dalam kata; tentunya akan berpengaruh pada cara pengungkapan bagi
kalimat dalam khazanah puisi tersebut. Puisi-puisi Mila Duchlun, jika
dilafalkan secara langsung akan terkesan cair selayak suatu prosa.
Namun, jika dilafalkan dengan mematah beberapa kata di setiap barisnya,
tentu akan menghasilkan intrepretasi ganda pada makna yang tersaji di
dalamnya. Contoh puisi yang cukup menarik, adalah: “Beta Punya Cinta”
dan “Indrasakti Melingkar Di Jemari.”
Hal dan latar yang mempengaruhi timbulnya “suatu hal” tersebut, adalah
pengalaman internal dari seorang penulis ketika membentuk (atau menata)
kata-katanya menjadi bangunan puisi dan syair. Demikian dengan puisi
liris dan epik dalam buku Lanun-Lanun Karibia, juga dipengaruhi oleh
struktur budaya yang merangsang terciptanya suatu ungkapan. “Entah
apa yang harus kutunggu di sini/Separuh hati di atas jalan sunyi...”
(“Utara Bintan,” 2007); adalah cara dengan hal dan persentuhan
emosionalitas, yang secara eksplisit harus berdiri kepada tataran
estetik puitika.
Keberadaan puisi-puisi dari karya Mila Duchlun lainnya dalam buku ini,
secara dinamis disampaikan dengan karsa yang memburu kemaslahatan suatu
selera. Persentuhan imaji dan gelanggang kecerdasan emosional, telah
membangun gaya dari tataran artistik jiwa setiap penulis karya sastra.
Karya-karya Mila Duchlun telah memenuhi tahapan dari kebutuhan jaman
oleh suatu karya sastra yang lebih teliti dalam menerjemahkan keberadaan
makna, hingga karakteristik khas kepada ragam pencitraan yang hendak
dilukiskannya secara indah dan inspiratif... Selamat membaca! ***
Jakarta, 2010
Leonowens SP
Esais & Sastrawan
---------------------------------------------------
Membaca rangkaian puisi Mila Duchlun bagaikan melakukan tamasya kata,
ada banyak hal yang dapat kita nikmati. Ada gelora cinta anak manusia,
persahabatan, cinta pada sang Khalik, keindahan alam, kondisi
sosial,dll. Semuanya dirawi secara puitis sehingga membuat kita
berkelana kemanapun sang penyair menorehkan pena imajinya .
Hernadi Tanzil,
book blogger & book reviewer
Mengenal Mila Duchlun akan menjadi lebih menarik dan memikat jika di
sertai dengan keinginan memahami lebih jauh dan dalam terhadap
puisi-puisinya, sisi lain dari karakter itu jika di ibaratkan seorang
penari Mila Duchlun telah mengaktualkan diri meretas dinamika terhadap
ruang, waktu, dan irama. Upaya merangkai rasa dan kata dalam Lanun-Lanun
Karibia pantas dan layak dinyatakan sebagai sebuah realita estetika
bahasa MD.
Said Parman,
Ketua Dewan Kesenian Kota Tanjungpinang
"Mila berhasil mengubah persoalan sederhana dengan bahasa yang juga
sederhana, menjadi penuh makna dengan metafor yang cukup memikat. Tak
banyak penyair yang bisa melakukan itu, dan Mila adalah salah satu dari
yang tak banyak itu..."
Hary B Kori'un,
Redaktur Budaya Harian Riau Pos
Membaca Sajak-sajak Lanun-Lanun Karibia menyirat berbagai tema. Limbai
kata-kata dalam sajaknya sederhana tetapi belaran bahasa yang
dikirmkannya telah mampu bersembang kepada bentuk rupa dan cahaya,
mengundang kita untuk mencari tahu siapa dirinya. Dan yang sungguh
istimewa sehingga aku patut mengagumi sajak-sajaknya seolah aku berada
pada tempat yang diceritakannya.
Muhtadi, Penulis Sajak Ungkal,
Bermastautin di Tanjungpinang
http://www.bookoopedia.com/daftar-buku/pid-31719/lanun-lanun-karibia.html
www.bookoopedia.com
Buy Globally, Pay Locally
Beli buku-buku Amazon dari Indonesia
No Credit Card needed, bayar rupiah